Januari 29, 2018

Memiliki Sebuah Startup

Setahun yang lalu, saya pernah menulis postingan blog tentang Menjadi Pengusaha yang sukses dibaca ribuan orang. Bagi penulis seperti saya, tulisan dibaca sampai ratusan orang aja senangnya minta ampun, apalagi sampai ribuan? Nah, kali ini saya ingin menulis hal tentang dunia usaha (entrepreneur) dan topik yang ingin saya bahas adalah Startup. Saya rasa menulis artikel bisnis itu nggak bisa sembarangan. Kita harus riset dan membaca banyak artikel, baru berani mempostingnya. Bahkan postingan yang satu ini sudah menjadi draft berbulan-bulan lamanya sampai akhirnya di publish. Pada kenyataannya, walaupun udah riset dan baca, kalau nggak terjun langsung sih sama aja bohong. Karena saya salah satu pemain di dunia Startup, makanya saya berani menulisnya di blog pribadi. Baiklah, saya mau tanya dulu. Ada yang udah tau tentang Startup? Ayo ngacung!

Sebelumnya, saya akan menjelaskan apa itu Startup. Mungkin masih banyak orang yang belum paham dengan istilah ini. Termasuk saya juga pahamnya baru-baru aja. Kata Startup merupakan serapan dari Bahasa Inggris yang berarti tindakan atau proses memulai sebuah organisasi baru atau usaha bisnis. Menurut Wikipedia, Startup merujuk pada perusahaan yang belum lama beroperasi. Perusahaan-perusahaan ini sebagian besar yang baru didirikan dan berada dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat. Istilah Startup sendiri banyak dihubungkan dengan segala yang berbau teknologi, web, internet dan dunia digital.

Beberapa karakteristik perusahaan Startup tersebut diantaranya:
  • Usia perusahaan kurang dari 3 tahun
  • Jumlah pegawai kurang dari 20 orang
  • Pendapatan kurang dari $ 100.000/tahun
  • Masih dalam tahap berkembang
  • Umumnya beroperasi dalam bidang teknologi
  • Produk yang dibuat berupa aplikasi dalam bentuk digital
  • Biasanya beroperasi melalui website
Dari karakteristik tersebut mungkin nampak bahwa Startup lebih condong ke perusahaan yang bergerak di bidang teknologi dan web. Namun faktanya memang seperti itu, kini perkembangan perusahaan yang lazim dilabeli nama Stratup adalah perusahaan yang berkenaan dengan dunia teknologi dan online.

Sejak masih berstatus karyawan dua tahun yang lalu, saya sudah mulai googling tentang membangun perusahaan di dunia digital. Saya agak kurang suka dengan bisnis konvensional dengan tender proyek sekali pun proyeknya di bidang IT atau bidang lain dengan nilai uang yang sangat besar. Walaupun sekali dapat untung bisa milyaran rupiah, saya tetap kurang suka. Saya bisa bilang tidak suka karena memang pernah langsung terjun ke proyek, ngobrol bareng orang-orang terkait, membuat dokumen, survey, dan kebanyakan turun ke lapangan. Berhubung dulu Marketplaces saya sedang down, saya rela juga ikut proyek dan mau ngerjain apa aja untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Ternyata, bisnis yang saya suka adalah mengumpulkan uang receh, sedikit-sedikit lalu menjadi bukit. Selain karena resikonya juga nggak besar, mengurusi pembeli juga nggak ribet karena kita berhubungan dengan uang yang sedikit. Kalau pembeli meminta pengembalian uang (refund), ya tinggal dikembalikan aja karena nominalnya kecil dan nggak usah terlalu mikir. Coba kalau proyek, nilainya milyaran. Sekalinya customer (yang kebanyakan perusahaan) nggak puas, bisa pusing pala berbie untuk mengembalikan uang bernilai besar😂.

Sejak tahun 2015, saya memang sudah mendaftarkan banyak barang ke beberapa eCommerce seperti Mataharimall dan Amazon untuk berjualan. Kali itu saya lebih suka berjualan Makeup dan tanaman. Saya akan menceritakan sedikit tentang bisnis ini:

  • Berbisnis Makeup. Saya memutuskan berjualan kosmetik Korea karena waktu itu K-POP lagi ngehits banget dan dagangan saya laku keras. Sampai-sampai, ketika saya ke Korea, hampir setengah koper saya isinya kosmetik yang di PO oleh pembeli saya. Keuntungan dari kosmetik itu bahkan bisa membiayai makan dan jalan-jalan di Korea. Lumayan banget 'kan ke Korea hanya seperti membayar tiket pesawat aja, sisanya adalah hasil dari berjualan makeup.
  • Berbisnis Tanaman. Dulu saya nggak begitu suka bercocok tanam. Saya agak malas kalau tangan saya kotor. Sejak beli rumah dan halamannya seperti hutan belantara, baru deh berpikir untuk menanam bunga. Saya cari bibit bunga di Tokopedia dan juga saya beli beberapa pohon secara online. Awalnya saya merasa aneh kok bisa ya beli pohon lewat internet. Sewaktu pohon diantarkan oleh kurir ke alamat saya, saya takjub juga kok pohonnya dalam kondisi sangat sehat? Kok bisa 'gitu ya?
Dari 2 pengalaman diatas, dan sejalan dengan kecanggihan teknologi, saya akhirnya buka toko di beberapa Marketplace lokal dan internasional khususnya dibidang jual-beli bibit dan pohon (seeds, bulbs, and plants). Beberapa teman ada yang bilang, "Ngapain capek-capek kuliah jurusan Teknik Infomatika, tapi ujung-ujungnya jadi petani?" Awalnya merasa bener juga apa yang dikatakan teman saya. Sekarang saya berpikir, seandainya saya nggak kuliah di bidang IT, mungkin saya bakalan sangat gaptek untuk mendaftarkan barang di Marketplace. Memang belajar mendaftarkan barang itu hanya sebentar. Tapi saya harus bisa mengerti banyak Marketplace dan membandingkan kelebihan yang satu dengan yang lain agar bisa mengoptimalisasi penjualan saya. Belum lagi laporan bisnis (business reports) yang bisa di download dari Marketplace international mirip dengan yang pernah saya kerjakan dulu ketika masih bekerja sebagai konsultan Oracle.

Seiring dengan berjalannya waktu, perusahaan Startup saya sudah berusia satu tahun dan sudah terlalu banyak hal yang di dapat ketika bersama tim termasuk pelajaran dan pengalaman yang berharga. Berbeda dulu kerja sendiri, dapat duit untuk diri sendiri, tapi saya merasa kurang berkembang. Satu hal yang mungkin harus kita garis bawahi yaitu Startup dibuat untuk menjadi solusi bagi masyarakat. Kenapa seperti itu? Kita ambil contoh perusahaan besar yang dimulai dari Startup yaitu Gojek yang pada awalnya didirikan untuk mencari solusi untuk mensejahterakan tukang ojek dan mengurangi kemacetan Jakarta. Lalu Tokopedia yang menjadikan wadah para penjual dan pembeli untuk bertransaksi online tanpa perlu sewa toko dan bisa dimanfaatkan oleh seluruh penduduk Indonesia dimana saja dan kapan saja asal terkoneksi internet. Belum lagi kalau saya harus menyebutkan beberapa Startup untuk mencari tukang bangunan dan asisten rumah tangga, mengerjakan kontrak hukum, mempermudah untuk belanja ke pasar tradisional, mengelola arsip rumah sakit, mengumpulkan donasi/sumbangan, dan berbagai macam hal lainnya.

Pada kenyataannya negara kita memiliki penduduk super duper banyak hingga hampir 270 juta jiwa. Banyak penduduk pasti banyak masalahnya. Tapi kalian juga harus yakin, masih banyak orang yang berpikir keras untuk mencari solusi dari berbagai macam masalah yang timbul. Kalau dikaitkan dengan bisnis saya, maka saya sedang mencari solusi untuk mengirimkan berbagai tanaman hidup dari petani ke seluruh Indonesia bahkan dunia. Termasuk juga mencari solusi agar semua orang bisa mengeksplorasi Indonesia secara mudah dan murah dengan agen yang terpercaya. Bagaimana cara risetnya? Wah, ini adalah hal yang paling butuh pengorbanan. Dimaki-maki petani pernah, ditipu agen trip pernah, dikasi penginapan beratapkan langit pernah, belum lagi saya tidak memiliki investor sehingga memulai bisnis dari nol banget. Masalah yang paling sering dihadapi ya duit pas-pasan, jadi harus irit-irit. Nggak boleh terlalu banyak mengeluarkan uang perusahaan.

Hampir seluruh perusahaan Startup punya investor, dan kebanyakan investor mau menanam saham di perusahaan digital. Dulu saya pernah mencari investor dan lumayan tergiur dengan nilai uangnya. Setelah berpikir agak takut juga pegang duit terlalu banyak, jadilah tidak pernah mencari investor lagi. Ada beberapa investor mendekat dulu, tapi tidak di follow up lagi karena saya agak takut dengan uang besar. Cara lain saya tempuh untuk mencukupi kebutuhan perusahaan yaitu mencari uang dari dunia maya juga. Banyak banget cara cari uang dari dunia maya seperti jadi reseller barang orang lain, affiliate program, spesialis SEO, menjadi freelancer, dan apa pun itu dengan mengumpulkan receh. Setelah cukup duit yang terkumpul, barulah saya merekrut karyawan yang profesional agar bisnis yang sebenarnya saya inginkan bisa dikerjakan.

Hal yang paling melelahkan dan juga menyenangkan adalah riset untuk membuka bisnis baru. Bisa sepanjang hari nggak tidur cuma untuk mikirin bagaimana bisnis bisa jalan. Semakin duduk di depan komputer untuk riset dan baca artikel, semakin lupa waktu. Kayaknya sehari 24 jam itu kurang untuk saya. Belum lagi kalau ngobrol dan berbagi ilmu dengan orang lain pasti nggak terasa waktu berjalan sangat cepat. Sampai rumah pun pikirannya masih mikirin pembahasan tadi di meeting yang seru banget sampai hampir nggak bisa tidur. Memang komponen utama dalam hidup adalah ilmu, bahkan beragama saja butuh ilmu, maka jangan bosan untuk menimba ilmu.

Salah satu doa saya kalau Rancupid sudah besar nanti adalah semoga bisa terus menjadi perusahaan yang menjadi solusi untuk banyak orang. Beberapa hari ini saya membaca artikel tentang perusahaan besar yang sudah jatuh, contohnya Yahoo!. Bahkan ada ungkapan there's no too big to fall (perusahaan sebesar apa pun tetap bisa jatuh). Mungkin di Indonesia sudah tampak beberapa perusahaan raksasa akhirnya jatuh seperti 7evelen, dan perusahaan retail (yang kurang raksasa apa lagi) menutup banyak gerai seperti Matahari. Tahun 2016 adalah masa jayanya Startup dan tahun 2017 satu-persatu runtuh dan sisa hanya beberapa saja.

Saya agak ngeri membacanya. Kebayang berapa jumlah karyawan yang di PHK, kebanyang betapa stress direkturnya, dan saya jadi agak takut. Belum lagi ada artikel menuliskan kalau ada perusahaan Startup yang sudah mengumpulkan puluhan investor, tapi hanya bertahan 3 tahun, lalu runtuh dan meninggalkan hutang US$400 juta😨😨😨. Mana kebanyakan Starup dijalankan oleh anak muda yang kebanyakan belum memiliki aset, saya tau banget betapa stressnya ketika harus berhutang sebesar itu. Mungkin memang manusia cuma bisa berikhtiar, dan sisanya memang doa yang bisa menjadikan Allah menjaga perusahaan kita agar tetap berjalan. Menurut saya, semakin besar perusahaan, mungkin karyawannya harus semakin shaleh/shalehah, agar apa pun cobaan bisa terus diberikan jalan keluar. Semoga Rancupid selalu dijaga sama Allah. Aminnn...
Walaupun banyak cerita Startup tumbang, bukan berarti kita harus takut. Kegagalan orang lain bisa jadi pelajaran berharga untuk menjadi batu loncatan untuk kita. Kalau udah membaca artikel tentang kegagalan, sebaiknya baca artikel kesuksesan juga agar kita termotivasi. Sudah tak terhitung juga banyaknya Startup lokal yang mendunia, padahal awalnya hanya hobi iseng CEOnya. Kalau dulu kalian hobinya memaki orang (kebanyakan pemerintah) di sosial media, saran saya kurangi waktu untuk bermain sosial media dan perbanyak riset. Mungkin sekarang bukan lagi jamannya menyalahkan pemerintah karena masyarakat juga mulai bergerak untuk menciptakan Indonesia menjadi negara yang paling menyenangkan untuk dihuni. Mari kita bangun lapangan kerja untuk memberikan solusi bagi masyarakat Indonesia agar kedepannya lebih baik lagi. Mari terus belajar dan bisa mengaplikasikan ilmu kita di kehidupan sehari-hari.

Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani).

Sumber:
Reactions:

5 comments:

CatatanRia mengatakan...

Makin maju ya mut rancupidnya,buku novelnya gak diterusin mut :D ? semoga makin sukses yaaa Aamiin

$cocoper6 mengatakan...

Baru tw ni soal Rancupid #kepo ah

Anonim mengatakan...

Nice Informasi, berbisnis tanaman yang Ok bu

Rezky Pratama mengatakan...

pengen nyoba bisnis yang satu ini
lagi naik daun,
cman nampaknya kudu banting setir deh

Celana Anak Murah mengatakan...

Jika memang startup yang Anda punya memiliki sebuah masalah yang didasarkan pada hal merugikan apa yang akan Anda lakukan? Thanks informasinya

Follow me

My Trip