Januari 23, 2018

Tawaf dan Perbaikan Sumur Zam-Zam

Ketika saya berumroh di awal tahun 2017, saya dapat kapan saja melakukan Tawaf (mengeliling Ka'bah sebanyak 7 kali). Berbeda dengan umroh November 2017 kemarin yang sulit sekali bisa melakukan Tawaf. Perbaikan sumur Zam-zam membuat jamaah agak kesulitan masuk ke Mataf (lantai Tawaf) karena diberlakukan sistem buka-tutup. Kita nggak bisa secara leluasa masuk. Awalnya saya agak kebingungan melihat antrian di pintu 88 (kalau nggak salah) kok panjang banget? Nggak kepikiran juga kalau itu adalah antrian orang masuk Mataf yang panjangnya mengular. Cewek-cowok berjubel ingin masuk dan saya agak nggak kuat kalau harus membawa Mama ikut berdesakan. 

Saya sempat naik ke lantai satu Masjidil Haram untuk mempelajari caranya agar tidak berdesakan masuk ke Mataf yang memang hanya satu pintu saja. Jamaah masuk ke Mataf secara bergantian dan pintu masuk dijaga oleh banyak sekali polisi. Sempat berpikir untuk masuk ke Mataf melalui pintu Sa'i tapi kata adik saya polisi yang berjaga juga banyak banget di pintu Sa'i. Jadi agak malas Tawaf tapi berpikir karena waktu kami yang sempit di Mekkah dan takut nggak keburu Tawaf lagi. Akhirnya sehabis shalat Ashar, saya ajak Mama Tawaf. Waktu itu tante sedang ikut rombongan UTM untuk berumroh lagi, sehingga tanggung jawab saya cuma Mama doang. Awalnya saya mengantri dengan santai, karena apa pun yang terjadi saya usahakan tetap santai. Lumayan serem bersempit-sempitan bersama orang-orang yang badannya jauh lebih tinggi dan besar. Setelah sabar menanti, maka kami berhasil masuk ke pagar pembatas dan pintu masuk Mataf hanya beberapa meter lagi. Sayangnya terlalu banyak kerumunan orang dan beberapa polisi tidak sanggup membendung orang yang ingin masuk. Tidak berapa lama keluarlah banyak sekali polisi untuk menahan jamaah masuk.

Sambil menggandeng Mama, saya tetap berusaha berjalan masuk pintu. Yang menyeramkan adalah akhirnya kami dikeliling oleh polisi yang menghadang masuk. Mereka nggak berani menyentuh saya dan Mama, tapi penjagaan di pintu masuk berlapis-lapis. Jadi agak ngeri, apalagi ada polisi yang langsung menyuruh kami keluar. Kali ini nyali saya udah ciut, jadi saya keluar dari pagar pembatas. Agak takut juga nanti malah diteriakin sama polisinya.

Berhubung saya orangnya pantang menyerah, saya tetap mengantri kembali. Setiap ada celah, saya pasti berusaha masuk dan akhirnya saya berada di antrian depan pagar lagi. Yang diprioritaskan masuk adalah orang-orang yang berpakaian ihram, sedangkan cewek nggak ketauan yang mana sedang berihram atau bukan. Mana saya pakai baju bunga-bunga warna biru lagi๐Ÿ˜…, kayaknya nggak kelihatan seperti orang akan melakukan umroh. Alhamdulillah, ntah kenapa tiba-tiba pintu pagar terbuka sedikit dan tanpa melewatkan kesempatan, saya dan Mama masuk. Akhirnya bisa juga melakukan Tawaf di Mataf. Masih agak deg-degan takut disuruh keluar lagi, tapi alhamdulillah jalan kami lurus ke Mataf tanpa ada gangguang sedikit pun.

Kalian tau, niatan melakukan Tawaf tidak selalu mulus. Yang terakhir ketika Tawaf Wada' (perpisahan), kami sama sekali tidak bisa masuk ke Mataf. Mau bersabar mengantri, kami dikejar waktu untuk kembali ke Jeddah setelah Zuhur nanti. Mau nunggu sampai kapan? Sempat berpikir, ya udahlah nggak usah Tawaf Wada' karena hanya perkara sunnah dalam berumroh, bukan wajib. Kecuali ketika melakukan haji, maka Tawaf Wada' menjadi wajib. Yang menjadi konsen utama saya adalah kalau mau tawaf berarti ke lantai satu yang satu lingkaran tawaf sejauh 1 km. Saya berpikir berulang kali, masa' naik 2 gunung aja sanggup, tapi Tawaf dengan jalan lurus tanpa menanjak atau menurun, pakai AC lagi, bisa minum air Zam-zam juga, malah nggak sanggup?๐Ÿ˜•

Akhirnya dengan keyakinan kuat, saya memutuskan untuk Tawaf. Saya, Mama, dan tante menaruh sendal di rak, lalu kami mulai Tawaf. Mama dan tante saya tinggal di belakang karena saya mau berjalan cepat, biar nggak terasa Tawafnya. Adik saya malah naik ke lantai 2 agar tidak terlalu ramai. Setelah satu keliling, saya mulai terasa begitu jauh berjalan 1 km. Biasanya saya akan berhenti sejenak untuk minum air zam-zam. Di putaran ketiga dan keempat, saya sudah mulai bosan. Rasanya sudah habis doa dipanjatkan dan zikir diucapkan. Di putaran kelima, saya mulai main hp agar perjalanan terasa singkat. Di putaran keenam saya ketemu Mama dan Tante dimana mereka masih di putaran keempat. Setelah 2 jam, selesailah Tawaf saya. Duh rasanya capek banget, lutut keram, telapak kaki sakit, dan kebelet pipis karena kebanyakan minum Zam-zam.

Saya dan adik menunggu Mama selesai Tawaf. Sekitar 30 menit kami menunggu dan Mama belum terlihat. Kami mengirim sms untuk bilang kalau kami menunggu di bawah tulisan Tawaf Start Here, dan Mama membalas sms kalau beliau berada di pintu masuk pertama. Duh, saya udah sangat kebelet pipis.  Ketika bertemu Mama, saya bilang mau ke toilet dulu. Saya buru-buru ke tempat penyimpanan sendal dan keheranan karena sendal saya sudah hilang๐Ÿ˜–. Haduwh, padahal sendalnya lucu dan ntah kenapa saya menaruh sendal disitu karena biasanya saya pasti memasukkan sendal ke plastik lalu dibawa ketika shalat. Jadilah saya pinjam sendal adik dan berlari ke toilet Mall Zam-zam Tower (toiletnya enak banget, bersih, dan harum). Beberapa menit lagi adzan Zuhur dan Mall hampir ditutup, jadi saya harus berlari menuju toilet. Setelah selesai ke toilet, pintu masuk Masjidil Haram juga sudah ditutup dan saya terpaksa shalat diluar berpisah sama Mama yang shalat di dalam. Nggak apa-apa deh, yang penting udah lega karena udah ke toilet.
Mataf hanya sebatas warna putih saja, padahal seharusnya seluruh lantai di bawah itu bagian dari Mataf
Selesai shalat, saya harus mengembalikan sendal ke adik. Jadilah saya, Mama, dan tante pulang ke hotel dengan bertelanjang kaki (nyeker)๐Ÿ˜†. Agak takut juga kalau nanti di jalan ada batu kerikil atau benda tajam yang dapat melukai kaki. Sempat pakai kaos kaki sebentar tapi gesekan pada jalan beraspal membuat kaos kaki jadi bolong. Ternyata lebih enak nyeker dibanding pakai kaos kaki karena aspalnya bagus, nggak bikin kaki sakit. Saya juga menumpang mobil golf sampai ke hotel jadi mengurangi gesekan kaki ke aspal. Bahkan sampai makan siang pun saya tetap nggak pakai sendal. Mau naik ke kamar untuk ambil sendal dulu agak malas karena ruang makan di lantai bawah. Mending makan dulu baru naik ke kamar. Mau nyeker pun orang nggak ada yang perhatian karena baju gamis saya panjang sampai ke lantai.

Perbaikan sumur Zam-zam ini ditargetkan berakhir sebelum musim Haji 2018. Saran saya untuk yang mau berumroh, mending nanti aja setelah musim haji. Tawaf 7 km itu nggak gampang. Mama saya aja setelah itu sakit lutut sampai pulang ke Indonesia. Kalian akan berkeliling Ka'bah dalam waktu kurang lebih 2 jam dan pemandangannya hanya melihat orang-orang saja. Berbeda dengan naik gunung dimana semakin naik ke atas, pemandangan belum pernah dilihat, sehingga kita terus penasaran. 

Semoga Allah memberikan pahala lebih kepada orang-orang yang tetap bertawaf meskipun jaraknya jauh.
Reactions:

1 comments:

AuL Howler mengatakan...

Hikssss semoga suatu hari bisa beneran bisa berkunjung ke sana juga
Amiiin ya rabbb

Follow me

My Trip