Maret 25, 2018

Jeju Shopping Place

Setiap ke Korea, yang paling pertama terbersit di pikiran saya adalah belanja makeup dan produk perawatan kulit. 4 tahun yang lalu karena saya masih buka PO makeup, isi koper saya setengahnya adalah makeup Korea. Lumayan bisa membiayai perjalanan saya ke Korea sampai setengahnya😆. Nah, pas ke Jeju kemarin, karena memang nggak beli bagasi yang banyak, saya diam-diam aja sewaktu mau ke Korea. Paling teman-teman doang yang saya kabari dan mereka sudah pasti menitip Nature Republic Aloe Vera. Sayang, saya nggak cocok pakai produk Aloe Vera tersebut.
Mari berbelanja
1. Seogwipo
Sepulang dari Hallasan National Park, supir taksi menurunkan saya di persimpangan antara jalan Donghong-ro, Jeongbang-ro, Jungmun-ro, dan Jungjeong-ro. Supir bilang kalau antara jalan-jalan ini kalian bisa belanja dan cari makan malam. Agak bingung juga sih mau ke jalan yang mana terlebih dahulu. Saya menebak-nebak sambil melihat ke sudut salah satu jalan ada beberapa toko makanan berjajar. Saya jadi memutuskan untuk menapaki jalan itu terlebih dahulu. Mana anginnya kenceng dan udaranya dingin sekali malam itu.

Saya dan adik akhirnya menemukan Kyochon di Jungmun-ro. Paling nggak Kyochon sudah bisa dipastikan semua menunya adalah ayam. Sayangnya nggak ada menu nasi di Kyochon, sehingga saya dan adik memesan kentang goreng yang banyak dan ayam goreng manis dalam porsi yang (super) besar. Bayangin aja, ayam yang disediakan sampai menggunung dan harganya 17,000 won atau sekitar 200rb rupiah. Ayam macam apa ini mahal bener?

Awalnya kami optimis bisa menghabiskan makanan sebanyak itu karena emang laper banget. Tapi karena rasa ayam yang manis, jadi agak eneg. Akhirnya kami minta dibungkus aja untuk makan di hotel.

Selesai makan, waktunya belanja. Saya sudah browsing dimana Etude House terlebih dahulu dengan nebeng wifi di Kyochon. Ternyata kami hanya jalan kaki sekitar 3 menit saja untuk sampai ke tempat tujuan. Biasanya pertokoan kosmetik di Korea itu berderet-deret. Misalnya Etude House bersebelahan dengan Aritaum, Innisfree, dan lainnya.
Toko kosmetik bersebelahan (foto dari google)
Sesampai saya di pertokoan kosmetik, mulailah saya masuk ke semua toko satu demi satu untuk melihat produk baru, nyobain tester, dan mencari barang diskonan. Adik saya sampai males menunggu saya masuk ke 'semua' toko. Padahal karena diskonnya sedikit, satu toko paling saya masukin hanya dalam waktu 1 menit doang. Saya langsung berkesimpulan kalau dulu di Seoul lebih enak belanjanya karena diskonnya banyakkkk banget. Ini kok nggak ada diskon ya?

Akhirnya saya masuk ke toko Nature Republic yang memang lagi pada diskon. Saya beli beberapa Aloe Vera dan hand sanitizer untuk oleh-oleh. Setelah bayar, eh dapat sample cuma 2 biji doang toner dan emulsion. Perasaan dulu pas di Seoul, beli kuteks 2 biji aja, sample bisa dapat sampai 7. Kok di Jeju agak pelit ya? Hmmm...
Titipan seluruh umat manusia
Puas keluar masuk toko kosmetik yang berujung kecewa karena nggak ada diskon, saya memutuskan move on ke toko pakaian. Saya dan adik sempat masuk ke beberapa toko baju yang tertera tulisan diskon. Kebanyakan pada mahal-mahal lebih dari satu jutaan. Ada yang dua juta malah. Kecewa lagi. Dulu pas di New Zealand, kenapa saya merasa worth it beli jaket 2 juta, tapi kok di Jeju kayak yang kemahalan kalau 2 juta ya? Apa karena stigma saya tentang kualitas produk di negara barat lebih oke? Mungkin salah satu alasannya karena konter jaket di New Zealand emang keren banget dan nggak usah tawar-menawar seperti di pasar.

Kami selesai berbelanja sekitar pukul 21.30 karena banyak toko yang mulai tutup. Semula agak bingung ke arah mana jalan pulang. Ternyata di tempat-tempat umum kita dapat mengakses Jeju Free Wifi dan tinggal buka aplikasi Waze aja untuk mencari jalan pulang. Oh ya, setiap saya menyebrang jalan di zebra cross, semua mobil pasti melambatkan jalannya bahkan nyaris berhenti. Saya sempat takut ditabrak awalnya karena mobilnya kencang banget dari ujung jalan. Ternyata rem mobil pakem juga dan mempersilahkan saya jalan terlebih dahulu. Keren deh!

2. Jeju City
Ada dua pilihan tempat belanja di Jeju City, Pasar Tradisional Dongmun dan Jungang Underground Market. Saya awalnya naik taksi ke Dongmun karena mau melihat-lihat ada apa disana yang bisa di beli. Sayangnya, pasar tradisional ini hanya menjual makanan seperti jeruk, ikan asin (kering), bawang, sayuran, dan sebagainya. Saya pernah membaca kalau mau beli souvenir bisa di Dongmun karena harganya murah dan bisa ditawar. Udah jalan ke beberapa lorong di pasar ini tapi nggak ada tuh penjual souvenir sama sekali. Tapi memang pasar ini luas banget dan memiliki banyak pintu. Mungkin saya masuk ke pintu yang salah.

Sama seperti Dongmun yang memiliki banyak pintu, Pasar Bawah Tanah Jungang juga memiliki banyak pintu. Pemerintah Korea sengaja membuat pasar di bawah tanah agar mengurangi keramaian pasar di jalan. Kalau ada pasar biasanya bikin macet kan. Nah kalau pasar di bawah tanah sih enak, nggak perlu macet dan polusi. Seperti biasa tujuan utama saya adalah toko kosmetik karena mulai banyak teman yang menitip. Beberapa orang sih saya terima titipannya tanpa jasa-jasa titip yang lagi hits banget sekarang. Kalau saya posting di IG Story, pasti semua langsung suruh saya buka jastip. Saya sih malas beli bagasi dan malas juga beliin titipan orang kalau udah kebanyakan. Makanya kadang langsung saya tolak titipannya.
Toko kosmetik yang lagi buy 1 get 1
Selesai belanja kosmetik, saya mulai melihat-lihat barang di toko lainnya. Berharap bakalan menemukan toko yang menjual magnet kulkas lagi. Ketemu sih, tapi yang jual nggak ada ramah-ramahnya. Dan yang menyebalkannya adalah, dia nggak bisa bahasa inggris sama sekali. Dia sendiri bingung menyebutkan harga dan karena kebingungannya itu, dia nggak mau melayani saya lagi. Aneh ya, saya kan mau beli souvenir, masa' nggak dilayani hanya karena dia nggak bisa bahasa inggris. Mending penjual toko makeup yang tetap berusaha melayani saya. Teringat tahun 2014 yang lalu, belanja di pertokoan di Jeju memang agak kurang ramah. Saya jauh lebih suka di Seoul karena banyak pilihan, murah, pegawainya bisa bahasa Inggris, dan banyak bonusnya.

Saya sempat mencari resto halal untuk makan malam tapi malah tutup. Padahal masih belum begitu larut malam. Sepertinya memang kegiatan masyarakat Pulau Jeju selesai pada pukul 9 malam, sama seperti di New Zealand dulu. Akhirnya saya hanya bisa mampir ke Starbucks, duduk nongkrong sambil menikmati cemilan roti super besar. Yah cukuplah untuk mengganjel perut. Lagian, di hotel masih ada ayam Kyochon yang belum habis kami makan. Saya sempat memfoto tumbler Starbucks disana yang bagus banget, dan seperti biasa orang-orang pada nitip. Awalnya memang sengaja memposting untuk dititipin karena uang Won saya tersisa banyak. Daripada ditukerin ke money changer kurs-nya menurun, mendingan beliin titipan orang.
Tumbler Starbucks
Saya udah berencana mau beli tumbler di Starbucks dekat hotel aja sebelum ke bandara. Sayangnya malah hujan gedeee banget dan nggak mungkin mampir ke Starbucks lagi. Jadilah saya terpaksa menghabiskan uang Won untuk beli oleh-oleh dan makan di bandara. Saya bingung, kenapa ya orang-orang suka tumbler? Mau dipajang juga kan ngabisin tempat karena ukurannya gede.

Baiklah, ditunggu postingan selanjutnya. Sampai jumpa!
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip