Maret 21, 2018

Walkthrough Jeju Island Part 1

Terlalu nyenyak tidur di Eins Hotel Seogwipo. Kasur empuk, udara dingin, dan kotanya hening. Duh, kalau bukan karena kewajiban shalat Shubuh, mungkin bisa tidur sampai siang. Setelah shalat Shubuh, saya tidur lagi selama 30 menit. Nggak bisa lama-lama karena saya berencana untuk keramas. Kalian tau, hotel tempat saya menginap menyediakan shampo, kondisioner, dan sabun dari aromaterapi yang wangiiiii banget. Apalagi mandinya pakai air panas dan showernya deras. Jadi berlama-lama mandi sampai saya sadar kulit mulai keriput karena kepanasan, hahahaha.

Pihak hotel juga menyediakan toner dan emulsion untuk wajah supaya nggak kering karena musim dingin. Emang sih kasihan banget sama kulit. Udah mandi pakai air panas, trus udara diluar dingin banget. Jadi harus mengoleskan body lotion ke seluruh tubuh sampai kulit wajah pun rangkaian skincarenya jadi diperbanyak. Sebenarnya untuk orang yang cinta banget makeup seperti saya, saya suka musim dingin karena wajah nggak berminyak dan makeup jadi stay longer. Bahkan sampai malam masih bagus banget.

Setelah dandan, saya bangunin adik dan menyuruh dia mandi. Cowok sih enak, mandi cuma sebentar dan nggak ada pakai rangkaian perawatan tubuh dan wajah. Setelah adik mandi, kami naik ke lantai paling atas untuk sarapan. Salah satu yang membuat saya memilih menginap di hotel ini adalah pemandangan ruang makannya yang spektakuler. Kalian bisa melihat pemandangan laut dan gunung selagi sarapan. Subhanallah sangat indah😍😍😍!
Pemandangan indah sewaktu sarapan
Saya mengambil sereal, roti, dan jus jeruk, lalu duduk menikmati sarapan. Jadi berlama-lama mengunyah karena terpesona dengan pemandangan yang sangat indah. Setelah makan, saya meninggalkan piring di meja makan. Pelayan resto langsung menegur dengan ramah dan sopan kalau kita harus menaruh piring bekas makan pada tempatnya. Saya baru membaca ada peraturan self service disana, kemudian langsung membereskan piring dan gelas.
Indah 😍
Selesai sarapan, saya dan adik balik ke kamar sebentar untuk membereskan koper. Kami harus langsung check out karena nanti malam akan menginap di hotel yang berbeda. Setelah semua koper beres, kami turun ke lobi, lalu menyerahkan kunci pada resepsionis. Saya bertanya pada resepsionis apa nggak sebaiknya naik taksi aja ke Ocean Palace Hotel karena agak malas menggerek koper. Resepsionis bilang kalau naik taksi nanggung banget karena jaraknya begitu dekat. Ya udah deh, kami memutuskan untuk jalan kaki aja.

Baru keluar dari hotel, tiba-tiba ada seorang cowok bertanya pada saya, "Saya mencari tamu bernama Meutia," dengan logat English-Korean-nya yang agak kurang jelas. Saya bilang kalau saya pemilik nama itu dan cowok itu memperkenalkan diri kalau dia adalah tim dari Yehatour yang ditugaskan untuk menjemput saya. Saya keheranan, bukannya harus berkumpul di Ocean Palace Hotel? Dia bilang kalau kita ikut rombongan yang berbeda, sehingga dia harus menjemput kami langsung ke hotel. Wah alhamdulillah, nggak usah menggerek koper. Koper-koper kami dinaikkan ke mobil, lalu saya ikut masuk ke mobil. 

Tim Yehatour bilang kalau perjalanan dari sini ke tempat orang-orang berkumpul memakan waktu sekitar 45 menit. Wuih, jauh juga ya. Dia kemudian memutar musik Korea yang musiknya 🎶🎵 enak banget sampai membuat saya tertidur.

1. Horseback Riding
Karena booking turnya juga dadakan, saya nggak membaca sama sekali itinerary tur mau kemana aja. Saya terbangun dan melihat kalau mobil sudah masuk ke peternakan kuda. Kepala masih belum konek, saya turun dari mobil, lalu disuruh masuk ke sebuah rumah kayu. Ada seorang tim Yehatour cewek memakaikan topi koboi kepada saya dan adik lalu menarik saya dengan buru-buru ke tanah lapang dimana disana ada beberapa ekor kuda. Tunggu, saya mau ngapain (diapain)?
Peternakan kuda
Ada seorang cowok (mungkin petugas di peternakan) menarik lengan saya dan membawa saya ke dekat seekor kuda gede dan tinggi. Hah? Saya disuruh naik kuda nih? Perasaan belum sembuh trauma saya digigit kuda sewaktu ke Bromo, ini harus naik kuda yang lebih besar, lebih kokoh, dan lebih tangguh. Saya masih terdiam saat disuruh naik ke tangga agar lebih gampang naik ke punggung kuda. Karena masih diam tak bergerak (saya sedang mengkonek kepala saya yang baru bangun tidur sebenarnya), saya didorong, kaki saya dinaikkan ke kuda, tangan saya dipaksa pegangan ke pelana, dan kuda pun mulai berjalan. Beberapa detik jalan, kuda kemudian berlari, dan saya berteriak, "NOOO!"

Berbeda dengan di Bromo dimana pawang kuda berjalan disebelah kita sambil memegangi kuda, ini pawangnya pakai scooter elektrik mengikuti dari belakang dan kuda dilepas berlari dengan sendirinya. Duh, saya deg-degan banget. Sampai-sampai memegang pelana sangat kencang dan beberapa kali berteriak memanggil adik saya, "AMAAAADD!" Adik saya sepanjang naik kuda tertawa terbahak-bahak terus menyadari kami sedang berada di atas kuda gede🏇, out of no where! Pake ada acara foto session dimana kuda saya dan adik tiba-tiba melipir sendiri dan ada fotografer mengambil foto kami. Pinter juga 'ni kuda. Sayangnya harus bayar kalau mau mengambil cetakan foto sebesar 30,000 won. Mahal bener, mending foto pakai hp aja. Jangankan mau selfie pakai hp, mengeluarkan hp aja nggak berani ketika berada diatas kuda, hahahaha.

2. Seongeup Folk Village
Setelah mengendarai kuda, kami masuk ke bus bergabung dengan peserta tur lainnya yang kebanyakan bule'. Saya langsung meminta itinerary kepada tur guide untuk memastikan tidak ada destinasi yang membuat syok lagi seperti tadi. Selanjutnya kami akan berkunjung ke Seongeup Folk Village yang pernah saya datangi 4 tahun yang lalu. Saya juga pernah menuliskan tempat ini di link Jeju Part 2 : Seongeup Folk Village. Jadi saya nggak usah tulis ulang ya.
Dewa di pintu masuk
Cuaca terik tapi dinginnn
Jalan-jalan dulu 
Rumah-rumah desa
Lompat bareng 
Peserta Yehatour
Yang membedakan kunjungan saya ke Seongeup Folk Village tahun ini dengan 2014 adalah kami bisa bertemu penduduk desa yang menjelaskan tentang cerita jaman dahulu desa ini. Beliau terlalu banyak bercerita dan saya agak susah mengingatnya. Selain karena bahasa inggrisnya agak bersliweran (mungkin karena logat Korea yang nggak bisa bilang 'R'), beliau juga bercerita terlalu banyak. Yang saya ingat adalah penduduk Jeju dan Korea kebanyakan itu berbeda. Di Jeju tidak ada pengemis, pencuri, dan orang jahat. Awalnya beliau menjelaskan pakai bahasa Inggris yang membuat saya mengernyit. Tiba-tiba beliau bilang, "Di Pulau Jeju tidak ada pencuri, tidak ada pengemis, dan orang jahat," dengan menggunakan bahasa Indonesia/Melayu yang lebih baik dari bahasa Inggris😅😅😅. Saya dan orang Malaysia yang ikutan tur jadi tertawa. 
Pose dulu
Awalnya bapak Kim (namanya panjang, tapi yang saya inget Kim doang😆) menyapa saya dengan Assalamu'alaikum untuk mencairkan suasana. Tapi sepertinya beliau memang lumayan bisa berbicara bahasa Indonesia/Melayu. Pak Kim bercerita kalau di Pulau Jeju, wanita lebih kuat daripada pria. Wanita mencari air berjalan berkilometer dengan memanggul gentong, sedangkan para pria cuma bisa berleha-leha di rumah. Masih kelihatan tidak ada kesetaraan gender di Pulau Jeju dimana para penyelam di salah satu situs UNESCO Seongsang Ilchulbong adalah para wanita yang kebanyakan umurnya sudah diatas 70 tahun. Tapi kata Pak Kim, sekarang para pria sudah giat bersekolah dan bekerja sehingga sudah ada kesetaraan gender dan taraf hidup juga semakin menaik.
Pose mini love💕
Pak Kim ini juga menjual souvenir 'Minyak Kuda' yang katanya bagus untuk menghilangkan kerutan di wajah dan membuat awet muda. Dia memperlihatkan wajah istrinya yang memang masih mulus banget. Korea memang terkenal dengan produk perawatan kulit, tapi kalau untuk pakai minyak kuda ke wajah? Errrr.... saya malas juga sih hahahaha. Saya cuma nyobain sedikit minyak kuda ke tangan. Yang beli para bule' untuk dibawa ke negara asalnya.

3. Makan siang
Berhubung sudah pukul 11.30 siang, tur membawa kami ke sebuah rumah makan. Menu dibagi dua yaitu khusus vegetarian dan black pork (daging babi hitam). Saya memang suka sayuran dan sudah biasa makan bibimbap atau kimchi. Berbeda dengan adik saya yang benci sayur tapi harus makan menu vegetarian, hahahaha😂. Mau bagaimana lagi, kalau nggak makan bibimbap, nanti dia kelaperan. Dan kita nggak mungkin makan black pork. Kasihan juga melihat adik saya mengaduk-aduk makanan dan memasukkan makanan ke mulut dengan terpaksa. Sabar ya Dek, sekali-kali kita detox.
Bibimbap
Side Dish
Yang saya sukai dengan makan makanan ala Korea adalah makanan pendampingnya banyak banget dan bisa diambil sesukanya. Kita bisa makan Kimchi, ikan teri, sayur rumput laut, dan lainnya sepuasnya. Seandainya boleh minta telur sepuasnya juga, hihihi😆. Saya, adik, dan dua orang bule' yang berasal dari Swiss duduk barengan. Saya kira mereka vegetarian juga, tapi ternyata mereka nggak mau makan black pork karena cara babinya tumbuh besar adalah dengan makan kotoran manusia💩. Jijik sih, tapi katanya black pork adalah salah satu makanan paling bernutrisi seantero Jeju. Mereka bilang, "We actually eating pork, but when we heard about how the black pork growing, it's not so nice", dan saya tertawa😂😂😂.
Menu vegetarian
Kebanyakan bule' yang ikut tur kita adalah orang tua dari atlit yang berlomba di Olimpiade Musim Dingin, Pyeongchang. Karena olimpiade sudah usai, mereka masih ingin jalan-jalan sekitar Korea, jadi memilih Pulau Jeju yang katanya indah banget. Mereka bahkan nggak ke Seoul karena menurut mereka kota dimana-mana sama. Mungkin karena mereka orang Swiss dimana negaranya juga memiliki pemandangan sangat indah, jadi malas ke kota kali ya.
Beli kopi Korea
Selesai makan, adik saya mencoba membeli kopi Korea yang menurut saya rasanya seperti Kopiko. Berhubung saya nggak suka kopi pahit, jadi saya suka suka aja sama kopinya. Tapi tur guide nggak suka banget sama kopi manis, jadilah dia nggak ikutan beli. Cuma para peserta tur aja pada beli untuk nyobain doang.

Selesai ini saya akan posting cerita lanjutan turnya ya, agar nggak kepanjangan di satu postingan. Sampai jumpa! 
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip