Maret 18, 2018

WNI Tidak Boleh Menyetir di Pulau Jeju

Selesai melodrama imigrasi, saya dan adik harus melewati melodrama lainnya yaitu sewa mobil. Setelah ambil bagasi dan keluar dari bandara Internasional Jeju, kami menuju parkiran bandara yang tertulis Rent a Car Parking. Agak bingung sebenarnya dimana tempat pick up mobil, karena konternya nggak ada di dalam bandara. Berbeda dengan New Zealand dimana konter rental berada di dalam Airport, tinggal nunjukin passpor dan SIM Internasional, dengan mudahnya mereka memberikan saya kunci mobil.

Menurut informasi dari Rentalcars.com:
Name: AJ Rent A Car X Jeju ZE
Address: 723, Yongdam 2(i)-dong, Cheju, Jeju-do, South Korea
Tel: +82647263322
Where to pick up your car:
Please go to Rent a Car parking lot which is outside of arrival hall, you can find a shuttle bus for AJ Rent a Car in Area 3 Number 13.

Sudah menengok ke kiri dan ke kanan, nggak ada tuh nama perusahaan rental AJ Rent. Akhirnya saya bertanya pada petugas, lalu beliau menyuruh saya tunggu di parkiran. Lho, emangnya mobilnya langsung nyamperin kita gitu? Tiba-tiba ada shuttle bus datang. Petugas yang saya tanyai tadi menyuruh saya naik bus itu dan dia bilang, "To go to rent car." Saya masih kebingungan, tapi menurut saja untuk naik ke bus dan menyimpan koper di bagasi.

Bus mengantarkan saya dan adik menuju parkiran AJ Rent A Car yang berjarak sekitar 10 menit dari bandara Jeju. Disitu saya mulai paham kalau perusahaan rental tidak memarkir kendaraan di bandara. Mungkin takut parkiran bandara jadi penuh dan bandara Jeju tidak sebesar di Auckland. Saya duduk di kursi tunggu, sementara adik saya mengurusi administrasi untuk mengambil mobil. Sempat melihat-lihat mobil-mobil kece di parkiran dan saya jadi pengen menyewa super car lagi. Sayangnya kali ini duit terbatas, hahaha.

Tiba-tiba adik memanggil saya ke konter, "Kak, nggak bisa sewa mobil." Saya kaget dan bilang ke konter kalau saya sudah membayar lunas, kok nggak bisa diambil? Petugas dengan muka nggak ramah sama sekali langsung bilang, "Indonesia passport holder forbid to drive in Jeju, according to Korean government authority -  Pemilik passpor Indonesia nggak boleh menyetir di Jeju berdasarkan peraturan pemerintah Korea." Hah? Kok bisa begitu? Petugas konter bilang, "Nanti minta aja refund dari rentalcars.com. Thanks!" Seolah-olah kami diusir dari konter karena dia mau melayani pelanggan selanjutnya. Dih, menyebalkan banget petugasnya😡😡😡. Dikiranya kita nggak punya duit kali ya. Bete!

Saya dan adik jadi terdiam di parkiran mobil rental. Huff, mau nggak mau ke Seogwipo (tempat kami menginap) harus pakai taksi nih. Sengaja memilih penginapan yang jauh karena pada awalnya kami berdua mau menikmati pemandangan sambil menyetir lalu menginap di beda kota di pulau Jeju seperti dulu di New Zealand. Sambil menggerek koper, kami berdiri di pinggir jalan, lalu menyetop taksi yang lewat. Saya memberikan alamat hotel ke supir taksi, beliau manggut-manggut, saya masuk ke dalam taksi, dan mobil pun melaju kencang. Kalian nggak usah khawatir naik taksi di Jeju, karena semua taksinya oke banget dan supirnya mau aja mengantarkan kita ke jarak yang jauh dan pelosok. Ya walaupun nggak nyetir mobil, enak juga menikmati pemandangan Pulau Jeju yang bikin kangen sambil disetirin.
Peta dari bandara ke Seogwipo
Dari bandara Jeju ke Seogwipo memakan waktu sekitar 1 jam (bisa lihat di peta) dengan tarif 25000 won. Mahal banget sih, tapi mau 'gimana lagi karena kalau mau nungguin bus, udah nggak berada di stasiun bus dari awal. Walaupun agak syok dengan tarif taksi yang mahal, pemandangan sekitar cukup mengobati sakit hati. Saya bisa melihat deretan pertokoan Makeup Korea yang selalu ada bersebelahan. Aneh ya, mereka nggak takut bersaing satu sama lain. Kami juga melewati daerah Gunung Hallasan (bisa lihat di peta) dimana masih tebal banget saljunya dan udara dingin menusuk. Mana supir taksi enggak menutup jendela supaya ada udara masuk. Duh, udah lebih setahun nggak ngeliat salju, jadi antusias banget mengambil gambar. Apalagi, ini pertama kalinya adik saya melihat salju, sehingga kami berdua sama antusiasnya. Mungkin karena kita tinggal di negara 2 musim, sehingga salju adalah hal langka yang nggak bisa kita nikmati sehari-hari.
Pertokoan Makeup Korea
Kami tiba di Eins Hotel Seogwipo pukul 4 sore. Akhirnya bisa rebahan juga di kasur dan mandi. Udah seharian belum mandi nih. Setelah shalat, kami turun ke lobi hotel untuk bertanya pada resepsionis paket tur murah yang masih tersedia besok. Resepsionis memperlihatkan beberapa booklet tur dan saya memilih Yeha Tour karena sedang promo perorang 79000 won plus makan siang. Saya meminta tolong resepsionis hotel untuk membooking tur, kemudian dia memberikan telepon pada saya karena agen tur mau berbicara. Agen tur bilang kalau dia minta Down Payment (DP) 58,000 won untuk 2 orang. Sisanya nanti saya harus membayar di bus langsung kepada tour guide. Saya bingung 'gimana caranya ngasih DP? Ternyata dia minta nomor kartu kredit dan dia bilang kalau transaksi ini aman kok. Ya udah deh, saya percaya saja karena memang Korea Selatan adalah salah satu negara dengan Cyber Crime paling rendah di dunia.

Selesai melakukan DP, agen mengatakan kalau besok kami harus menunggu Tour Bus di Jeju Ocean Palace Hotel yang berjarak hanya 500 meter dari Eins Hotel tempat kami menginap sebelum jam 9 pagi. Wah, harus bangun pagi deh. Repot nggak ya jalan kaki sambil gerek koper? Eh, tapi kan aspal di Pulau Jeju bagus. Jadi nggak masalah mau gerek koper juga. Setelah DP selesai dan meeting point sudah ditentukan, saya kemudian menutup telepon. 

Sebenarnya agenda saya dan adik sore itu adalah pergi melihat salju. Saya bertanya pada resepsionis dimana bisa bermain salju dan beliau menyarankan untuk naik taksi ke Gunung Halla. Agar supir taksi nggak bingung, apalagi kebanyakan dari mereka nggak bisa berbicara bahasa inggris, resepsionis menuliskan sebuah note kecil berbahasa Korea untuk kami tunjukkan kepada supir taksi. Kata resepsionis, akhir Februari sebenarnya sudah masuk Spring. Padahal 2 minggu yang lalu masih turun salju sangat lebat sampai jalan-jalan ditutup dan sekarang udara sudah semakin hangat. Ya sehangat-hangatnya Jeju, suhu masih 9 derajat juga😦. Resepsionis berpesan kalau nanti di kaki gunung saljunya sudah agak berkurang, kita bisa sedikit menanjak masuk gunung dan harus ingat semakin ke atas, suhu udara semakin dingin. Apalagi semakin malam nantinya.

Saya juga bertanya dimana tempat makan yang enak di Seogwipo, juga pertokoan untuk belanja kosmetik. Resepsionis yang baik hati langsung membuka peta dan mencoret-coret daerah tempat makan di peta. Kenapa nggak pakai Google Maps? Ntah kenapa, Korea tidak terlalu bersahabat dengan Google Maps dan kemana-mana saya memakai Waze. Jadinya kami seolah kembali ke masa lampau, membawa peta kemana-mana agar nggak nyasar. Lucu dan aneh, tapi seru juga😁.

Alhasil, setelah semua pertanyaan yang ingin saya tanyakan pada resepsionis selesai, peta ditutup dan resepsionis bilang, "I hope you have good memory to memorize everything I've said about the places you've asked - Saya harap kalian bisa mengingat semua arahan saya dan tempat-tempat yang saya sebutkan." Saya bilang, "It's Ok, my memory is quite good. Please pray for us so we don't get lost - Santai aja, memori saya cukup baik. Doakan kami supaya nggak nyasar ya😁😁."

Destinasi pertama adalah Gunung Hall, stay tuned!
Reactions:

2 comments:

YeN mengatakan...

Wah mungkin karena setir mobil korea ada di sebelah kiri kali ya, makanya SIM indonesia ga boleh nyetir disana.

soulful^^~ mengatakan...

Waaaah kereeen banget bisa jalan-jalan di Jeju. Mupeng hehe.
Saya tunggu cerita selanjutnya mbak Mutia. Saya penasaran :D

Follow me

My Trip