April 28, 2018

From Khasmir to New Delhi

Tibalah hari terakhir di Khasmir. Nggak terasa, padahal udah 6 hari di Khasmir seolah hanya sebentar saja. Hari itu kami harus terbang ke New Delhi mengendarai pesawat pukul 14:55. Karena pesawat siang, kita masih bisa santai-santai dulu sebelum berangkat. Kami juga sengaja menyuruh Syafiq menyiapkan sarapan agak siang sekalian untuk brunch (breakfast lunch - mau sarapan kesiangan, makan siang kecepetan). Biar nggak usah makan siang dijalan sekaligus mengirit pengeluaran. Beberapa teman saya menghabiskan waktu dengan bermain UNO bersama Mushtaq, sedangkan saya sendiri sedang menghabiskan kuota hotspot milik Mushtaq seperti biasa untuk terakhir kalinya😜.
Bye Houseboat
Sekitar jam 11, sampan yang menjemput kami pun datang. Koper dikeluarkan semua dari Houseboat dan diangkat ke sampan. Agak ngeri melihat sampang bergoyang-gorang ketika koper ditaruh. Ttakut koper saya kecebur ke danau. Selesai semua koper selesai diangkut, barulah kami naik sampan setelah berfoto dan bersalaman dengan Syafiq dan beberapa orang-orang di Houseboat seraya mengucapkan salam perpisahan. Semoga suatu hari bisa kembali lagi kesini, insya Allah.
Pose dulu
Kami tiba di pinggir danau. Awalnya saya mengira koper bakalan diangkatin sama pengayuh sampan tapi ternyata nggak. Kami harus memasukkan koper sendiri ke dalam mobil. Mana saya udah duduk cantik di mobil, terpaksa turun lagi untuk mengangkat koper. Saya duduk di kursi depan bersama Abby pas dibelakang supir. 

Karena masih banyak waktu, Mushtaq menawarkan kami untuk mampir ke toko kerajinan pashmina Khasmir. Saya setuju aja berhubung belum beli pashmina sama sekali padahal banyak pedagang yang menawarkannya ke Houseboat. Saya takjub melihat sebegitu banyak pashmina indah di Khasmir dan beda banget dengan yang dijajakan oleh pedagang yang biasa kami temui di jalan atau Houseboat. Jadilah saya beli 2 lembar karena uang rupee sangat terbatas. Nggak bisa pakai kartu debit disini sehingga duit rupee harus diirit-irit. Padahal masih banyak banget pashmina yang mau saya beli karena cantik-cantik banget motifnya, halus bahannya seperti kain sutra, dan harganya murah.
Mba Itha berpose bersama kain-kain
Selesai berbelanja, meskipun agak ngantuk, saya memilih ngobrol dengan Abby supaya nanti di pesawat bisa tertidur pulas. Perjalanan dari toko kerajinan ke bandara lumayan jauh, sekitar 45 menit dan saya asyik mengobrol tentang bisnis. Saya merasa tenggorokan mulai nggak enak nih, semoga nggak sakit. Sampai di pintu pagar bandara, Mushtaq meminta passpor dan tiket pesawat salah satu dari kami (saya) untuk ditunjukkan ke penjaga. Mau ke bandara aja penjagaannya ketat banget. Sebelum masuk ke bandara, semua koper harus di screening dulu termasuk kami semua para penumpang pesawat. Jadilah harus turun dari mobil, memasukkan koper satu persatu ke bagian screening, dan kami harus melewati metal detector. Cewek dan cowok dipisah metal detectornya karena walaupun alat pemindai tidak berbunyi, tetap saja seluruh tubuh kami diperiksa dan diraba-raba. Paling nggak nyaman sewaktu dada diperiksa sampai detail banget. Kan risih ya dada diraba-raba walaupun sesama cewek😩. Mungkin orang India suka menyimpan sesuatu di bra, makanya pemeriksaan di bagian dada lebih intense. Ampun!

Mobil tur diparkir. Kami mengeluarkan koper dan menyalami supir sebagai tanda perpisahan. Mushtaq mengantarkan kami sampai pintu masuk bandara kemudian kita bersalaman juga. Bye Mushtaq, I hope everything going well in Khasmir. Kami harus melewati petugas lagi untuk pengecekan passpor dan tiket, baru bisa cek in. Sebelumnya, kami masih harus mengisi form yang sama seperti kami isi ketika tiba di Khasmir. Duh, ribet banget deh. Setelah isi form, baru bisa cek in pesawat. Ada beberapa dari teman-teman yang jadwal pesawat GoAirnya berbeda dengan saya, tapi kami cek in berbarengan.

Selesai cek in, barang-barang kabin kembali diperiksa dengan ketat. Disini saya agak bete karena tas saya dibongkar seluruhnya. Saya harus mengeluarkan semua barang di ransel sampai yang terkecil ke baki, baru dimasukkan satu demi satu setelah di cek seluruhnya. Urrgg sebel😡! Bahkan, laptop harus saya log in dan petugas memeriksa desktop saya. Kamera mirrorless dan action camera harus saya nyalakan juga untuk diperiksa. Belum lagi gunting kuku, hand sanitazer, pashmina yang saya beli, obat asma, bahkan pembalut pun diperiksa. OMG😓! Padahal Srinagar hari itu dingin, tapi saya jadi keringetan karena deg-degan takut kenapa-kenapa barang bawaan saya. Alhamdulillah pemeriksaan selesai dan barang di ransel yang sudah diubek-ubek di baki, harus saya masukkan dan rapikan lagi satu demi satu😩.

Saya melipat jaket thermal dan memasukkan ke ransel karena udah keringetan. Saya kemudian berkumpul lagi dengan teman-teman yang sedang mencemaskan saya yang lama banget diperiksa. Ini mungkin karena laptop Macbook yang terdeteksi ketika screening. Sewaktu di Pulau Jeju juga begitu, bahkan di Turki pun begitu. Saya duduk sejenak beristirahat, baru boarding pesawat. Akhirnya harus benar-benar mengucapkan selamat tinggal pada Khasmir. Selama di pesawat perjalanan ke New Delhi saya tidur dan baru bangun ketika pesawat sudah mendarat. Paket data saya langsung aktif dan saya jadi bisa internetan sepuasnya. Saya masuk ke ruang kedatangan, mengambil bagasi, lalu duduk menunggu Mba Itha, Abby, dan Mas Anton yang naik pesawat belakangan. Ntah karena delay, kami jadi menunggu mereka sampai lebih satu jam. Udah kelaperan duluan deh.

Ketika semua peserta trip komplit, kami keluar bandara untuk mencari alternatif kendaraan menuju hotel. Karena saya bawa koper dan malas ribet, saya selalu menyarankan untuk naik taksi. Sempat mencoba memesan Uber, tapi kok nggak bergerak mobilnya di aplikasi. Akhirnya membatalkan Uber dan naik taksi biasa dengan harga 500 rupee. Yang naik taksi hanya saya, Mba Septa, Mba Clara, dan Mba Any. Yang lain menitipkan koper pada kami agar nggak ribet ketika menaiki kendaraan umum. Karena taksi udah kepenuhan, jadilah saya menitip koper pada Rezki untuk dibawa pakai kereta bandara. Paling nggak, koper saya ringan, anti pecah, dan rodanya oke untuk digerek di jalan berbatu.

Postingan blog ini sudah lumayan panjang dan saya akan melanjutkan nanti. Kalian tau, drama di India lumayan banyak sampai-sampai saya jadi sakit. Mulai dari hostel nggak cocok untuk wisatawan yang membawa koper, kereta yang kami tumpangi jelek, kena scam, sampah dimana-mana, dan hal lain yang membuat saya pulang ke Indonesia dengan sesak napas dan harus ke dokter paru. Nanti saya ceritakan ya. Sampai jumpa!
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip