Mei 22, 2018

Dear United Arab Emirates, I'm Coming!

Setelah selesai postingan tentang India, saya akhirnya bisa juga menuliskan tentang negara lainnya yaitu United Arab Emirates (UAE). Sebenarnya perjalanan ke UAE tidak direncanakan karena memang pada awalnya saya ingin jalan-jalan ke Turki saja. Beli tiket pesawat Emirates ke Turki 2 minggu setelah pulang dari India dan baru sadar kalau ternyata waktu transitnya lumayan lama di Dubai. Sempat baca-baca blog orang lain ngapain aja di bandara Dubai tapi ternyata yang namanya bandara mana enak berlama-lama.

Akhirnya saya menghubungi beberapa kerabat yang pernah tinggal di Dubai seperti Ike, teman saya ketika sekolah dulu yang menikah dengan Bang Oka abang sepupu saya, dan juga Kak Selfi teman semasa di Bandung dulu. Ternyata Kak Selfi sudah pindah ke Kuwait dan alhamdulillah Ike bisa dihubungi. Ike bahkan antusias banget karena bakalan ada teman/saudara yang mau mengunjunginya. Apartemen Ike ternyata di Abu Dhabi dan perjalanan dari bandara Dubai ke Abu Dhabi sekitar 1,5 jam saja. Ike bilang Insya Allah dia dan keluarga bakalan dijemput di bandara.

Setelah dapat konfirmasi dari Ike, barulah saya mengajukan Visa dari website Emirates yang pernah saya tuliskan di postingan Dear UAE and Turkey, I'm Coming! yang lumayan bikin deg-degan karena mepet banget. Setelah Visa UAE dan Turki selesai, dimulailah persiapan berangkat. Saya bawa 2 koper, satu yang ukuran medium, satu ukuran kabin tapi bisa diperbesar (expandable). Tidak lupa bawa ransel laptop dan satu tas kecil untuk jalan-jalan. Berarti total saya bawa tas adalah 4😋, hahaha. Sebenarnya isi koper kabin hanyalah sepatu dan makanan seperti sambal dan popmie. Kayaknya kalau nggak bawa popmie tuh bukan travelling namanya. Karena di Turki masih dingin dan Dubai panas banget, jadilah saya bawa jaket thermal yang biasa (untuk suhu 5-10 derajat) dan baju yang enak dipakai. Sebenarnya di Turki juga sedang musim semi jadi nggak bawa jaket thermal untuk suhu dibawah 0. Nanti malah keringetan kalau pakai jaket seperti itu. Saya bawa beberapa sweater, rok (pengen pakai rok karena pas dengan musim semi), dan dress juga. Udah berencana beli jaket warna merah di Turki yang katanya keren-keren.

Sudah selesai semua persiapan termasuk obat-obatan yang masih lengkap karena setelah dari India saya sempat ke dokter paru. Saya juga sengaja istirahat sehari sebelum berangkat untuk memantapkan stamina. Pada hari H, saya naik DAMRI ke terminal 3 Bandara Soekarno Hatta untuk naik maskapai Malaysia Airlines. Sempat makan dulu di bandara supaya nggak lapar. Oh ya, karena banyak yang umroh, antrian imigrasi sangat panjang. Saya sebenarnya agak malas juga melewati imigrasi di Indonesia dan Malaysia karena kebanyakan pasti ditanyain, "Kapan pulang? Udah punya tiket pulang belom?" Beberapa orang dibelakang saya langsung berpindah ke autogate (scan passpor dan sidik jari tanpa perlu stempel passpor) dan saya ikut juga. Enaknya pakai autogate, udah nggak antri, prosesnya juga 30 detik, tanpa harus ditanya-tanya sama petugas imigrasi.

Akhirnya saya pun boarding ke Malaysia Airlines. Ntah kenapa, pesawat yang saya dapat hari itu kurang bagus. Saya berharap bakalan dapat pesawat enak karena naik maskapai milik negara, eh malah dapat yang begitu. Mana ke Kuala Lumpur turbulensinya parah banget lagi. Alhamdulillah mendarat dengan selamat di KLIA1. Saya lalu menelepon adik saya via Whatsapp untuk mengetahui keberadaan dia dimana di bandara. Saya juga menelepon Willy supaya bisa check in bareng. Setelah semua tim komplit, saya check in sebentar di konter Emirates dan mengatur tempat duduk agar bisa berdekatan karena kami berbeda kode booking biasanya pasti duduknya berpencar.

Urusan check in beres, Ike menelepon saya dari Dubai. Kami mengobrol, menceritakan jam berapa landing di Dubai, persiapan kesana, nanti nginap dimana, pokoknya seru banget sampai-sampai saya baru sadar tidak mengaktifkan roaming internasional. Saya juga baru sadar kalau Ike menelepon langsung dari nomor lokal Dubai ke nomor Indonesia saya dan saya sedang berada di Malaysia. Pulsa saya hilang 500rb😱. Tidak! Padahal udah diisi pulsa untuk beli paket data di Turki tapi hilang begitu saja. Ya sudahlah ya, sekali-kali mengobrol.

Baru selesai proses imigrasi dan screening barang kabin, pengumuman boarding pesawat Emirates langsung terdengar. Mungkin karena pesawatnya super besar, jadi boarding bakalan memakan waktu lama, makanya sejam sebelum jam keberangkatan sudah boarding. Jadi sedikit berlari menuju gate Emirates dan nggak sempat ke toilet dulu. Kesan pertama ketika saya naik Emirates adalah : betapa mewahnya pesawat ini😍. Jendelanya mewah, kursinya seperti sofa dan tempat kaki lapang banget, entertainment on flight komplit banget. Garuda Indonesia kalah jauh deh. Padahal saya beli tiket ekonomi. Gimana kalau yang bisnis atau first class yang penuh terisi di pesawat itu. Orang-orang kaya banyak banget sampai berebutan naik bisnis dan first class. Keren ya😲. Semoga suatu hari bisa begitu juga, aminnn! Take off pesawat juga nggak terasa sama sekali. Tanpa sadar, pesawat sudah melayang ke udara.

Selama di pesawat, saya tidur. Mungkin karena penerbangan malam dan untuk menghindari jetlag, saya lebih suka tidur. Rencananya sampai Abu Dhabi nanti dan menginap di rumah Ike, saya mau ngobrol aja semaleman. Makanya tidur dari sekarang. Penerbangan ke Dubai dari Kuala Lumpur sekitar 7 jam. Pada jam-jam tertentu kami disuguhi banyak makanan sampai saya kekenyangan. Tanpa terasa, pukul 22.30 waktu Dubai, tibalah kami di Dubai International Airport. Proses landing pesawat juga super mulus tanpa terasa. Sepertinya Emirates adalah maskapai terbaik yang pernah saya naiki. Walaupun saya belum pernah naik pesawat lain seperti Etihad, Singapore Airlines, dan lainnya untuk jarak sangat jauh. Insya Allah suatu hari nanti. Oke, selamat datang di Dubai!
Dubai

Kami mengantri turun dari pesawat yang super besar untuk naik ke bus menuju bandara. Di depan pesawat sudah bersiap beberapa bus berbentuk seperti kapsul yang super keren sedang menunggu para penumpang.  Kami naik ke bus dan langsung dibawa ke ruang tunggu untuk transit atau ke imigrasi. Negara kaya pasti direpresentasikan dengan bandara yang super mewah. Pilar-pilar besar, lampu mewah, atap tinggi dan megah, semua terlihat begitu menakjubkan bahkan baru berada di bandara saja. Saya berjalan menuju imigrasi sambil mengagumi kemewahan bandara dan tanpa terasa sudah harus mengantri imigrasi. Antriannya panjang, tapi cepat banget kok prosesnya. Apalagi kalau kita sudah punya Visa yang disponsori maskapai tertentu, lebih gampang lagi masuk ke Dubai tanpa ditanya apa pun. Bang Oka sempat menelepon untuk mengabarkan kalau dia sudah berada di Bandara. Ketika keluar imigrasi, saya bilang ke Bang Oka kalau kami menunggu di sebuah Cafe depan Metro agar dia mudah menemukan kami. Alhamdulillah tanpa menunggu lama, Bang Oka langsung samperin kita. Kami kemudian dibawa ke parkiran mobil.
Pilar-pilar indah
Atap megah
Karena cuma bawa ransel yang berisi baju ganti, sikat gigi, dan handuk kecil, jadi bagasi mobil cukup untuk menampung tas-tas kecil milik kita. Koper besar sudah berada di pesawat connecting flight ke Turki, jadi nggak usah bawa koper besar. Mulailah kami menyusuri jalanan Dubai yang super duper mulus. Kami akan menuju Abu Dhabi dan jalannya lurussss saja tanpa belok sama sekali. Jalanan sepi seperti tol, sehingga Bang Oka bisa menyetir sampai 120 km - 150 km per jam. Di jalan saya melihat lampu-lampu Burj Khalifa berkerlap-kelip. Ah, akhirnya saya sudah benar-benar sampai di Dubai. Nggak nyangka banget bisa dapat rejeki dari Allah mengunjungi negara super kaya ini. Tidak berhenti mengucap Alhamdulillah.
Burj Khalifa difoto dari dalam mobil yang melaju 150km/jam
Perjalanan ke Abu Dhabi dari bandara Dubai memakan waktu sekitar 1.5 jam seperti yang pernah saya sebutkan diatas. Saya sempat tertidur sejenak di mobil tapi kasihan juga Bang Oka nggak ada yang ajak ngobrol nanti malah ngantuk. Untung tante saya masih ajakin ngobrol. Setelah saya bangun dari tidur pun saya ngajak ngobrol sekalian bertanya banyak hal tentang UAE termasuk kenapa tidak menelepon saya paka Whatsapp call. Ternyata Voice Call dan Video Call via Whatsapp baru sajadi block di UAE dan warga lokal saja sampai protes karena tidak setuju. Makanya saya cuma bisa menghubungi Ike pakai chat di Whatsapp saja. 

Akhirnya sampailah kami ke apartemen Bang Oka. Hal yang pertama kali saya takjub adalah parkiran mobil apartemennya semuanya mobil mahal. Saya sempat norak berfoto dengan Lamborghini kuning yang banyak terlihat di parkiran. Katanya mobil mewah disini murah. Kalau di Indonesia seharga 4 M, di UAE cuma 1 M. Teteeep aja mahal😰! Saya dan keluarga masuk ke apartemen Bang Oka, disambut Ike yang sudah menunggu. Duh, senang banget rasanya bertemu Ike karena udah lama nggak ketemu. Apartemennya juga sangat cantik dengan ornamen artistik, dekorasi sederhana, dan perabotan yang efisien, sehingga membuat suasanya homy dan nyaman banget.
Berfoto dengan Lamborghini
Kami disuguhi teh Turki (kebetulan Ike juga baru pulang dari Turki), sambil mengobrol. Ike bilang, kami ke Dubai dalam waktu yang pas karena Bang Oka sedang masa libur (perusahaan minyak ada masa libur dan masa masuk kerja sampai 24 jam). Hanya saja kami kurang lama berada di UAE. Seandainya lebih lama, mungkin kita bisa main ke banyak tempat.
Apartemen Ike yang cantik
Mama dan tante saya tidur di kamar Zaki, anaknya Ike. Sedangkan Amad dan Willy di ruang tengah. Saya tidak tidur dan mengobrol lama bersama Ike dari malam sampai sejam sebelum adzan shalat Shubuh. Terlalu lama sudah tidak bertemu, terlalu banyak cerita yang bisa diobrolin bersama-sama membuat waktu jadi singkat. Sampai akhirnya waktu Shubuh pun menjelang...

Di postingan selanjutnya saya akan menuliskan tentang salah satu mesjid terindah di dunia di Abu Dhabi. Sampai jumpa!
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip