Mei 06, 2018

From Agra to Jaipur

Sekitar pukul 9.30 pagi, kami menyudahi eksplorasi Taj Mahal yang begitu berkesan. Mengingat masih belum check out hostel dan kita masih harus naik bus menuju Jaipur jam 3 siang nanti. Dengan agak ribet menggunakan saree, saya berjalan tergesa-gesa menuju pintu masuk/keluar Taj Mahal seraya diserbu anak-anak penjual souvenir. Saya beli juga sih karena murah, tapi dikejar-kejar itu nggak enak banget.

Kami kembali ke hostel, membuka saree, memasukkannya ke dalam koper (yang harus didudukin oleh Abby lagi supaya bisa nutup), dan check out dengan menurunkan koper menggunakan tangga. Saya udah sesak napas plus suara hilang, jadi nggak sanggup lagi untuk angkat koper. Untungnya banyak teman yang baik dan bisa dimintain tolong. Harga permalam hostel untuk private room cuma Rp. 180rb dibagi 2 jadi Rp. 90rb. Murahnyaaa😶. Setelah check out, cowok-cowok menaikkan koper ke atap mobil, lalu mobil pun meluncur. Pak supir sempat membawa kami ke toko souvenir yang harganya lumayan mahal dan penjualnya agak nyebelin, dan berakhir saya hanya beli magnet kulkas.

Kami kemudian dibawa ke Agra Fort yang berlokasi sekitar 2,5 km dari Taj Mahal dan merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO. Kalau punya tiket Taj Mahal, masuk Agra Fort bisa diskon. Tempat ini adalah sebuah benteng paling penting di India. Sultan Mughal terkenal seperti Babur, Humayun, Akbar, Jehangir, Shah Jahan dan Aurangzeb pernah tinggal di sini, dan memerintah negara dari sini. Pada masa itu, di dalam benteng ini disimpan kekayaan negara.
Agra Fort
Rame banget orang
Pose dulu
Karena udah nggak enak badan, cuaca super panas, lapar, ditambah harga tiket 550 rupee, dan waktu yang agak mepet, kami mengurungkan niat untuk masuk ke dalam benteng. Hanya berfoto saja di depannya, lalu melanjutkan perjalanan ke tempat makan. Kami dibawa ke sebuah resto lokal oleh Pak Supir dan dia promosi katanya makanan disini enak. Saya dan teman-teman melihat menu. Supaya pasti-pasti aja, kami memesan mie goreng dan Chicken Tikka. Kalian tau, makanan baru dihidangkan sejam kemudian. Sampai-sampai kami tertidur di meja (karena bangun kepagian) saking ngantuknya. Makan cuma 10 menit, rasa makanan biasa aja, dan membuat kami nggak kenyang. Alhasil, kami mampir ke Pizza Hut lagi untuk mengisi perut. Untung aja rasa pizza hut rasanya sama dimana-mana, jadi bisa makan dengan lahap.

Setelah kenyang, kami diantarkan ke terminal bus. Kami melihat bus yang bagus kelas eksekutif yang masih terparkir menunggu penumpang. Sayangnya, ekspektasi kami terlalu besar. Ternyata kami salah terminal dan harus berjalan kaki ke terminal yang berjarak 50 meter dari tempat bus eksekutif. Pemandangan tidak mengenakkan mulai terlihat. Nggak ada bus eksekutif, semuanya adalah KOPAJA. Saya merelakan koper dimasukkan ke ruang bagasi dibawah kursi yang kotor dan menghitam, dengan cara dibanting pulak😖😖😖. Saya naik ke bus, memakai kacamata hitam, menyesal nggak bawa masker, dan berdoa semoga diperjalanan sesak napas saya nggak bertambah parah. Saya duduk dekat jendela supaya bisa kena angin jadi nggak mual.
Suasana dalam bus
Pilihan duduk di dekat jendela nggak terlalu menolong. Debu kena ke muka sepanjang perjalanan sehingga saya harus menutup muka dengan jilbab. Belum suasana panas di bus, supir ugal-ugalan yang selalu muter balik di jalan satu arah, pedagang asongan yang naik ke bus silih berganti, dan drama kalau ada sapi lewat, supir akan menunggu sampai sapi ke pinggir tanpa diusir atau di klakson (pengen rasanya saya usir hush-hush si sapinya). Kadang malah sampai matikan mesin karena sapi nggak gerak di tengah jalan. Naik bus (kopaja) yang satu ini, kesabaran saya super duper diuji. Kadang saya melihat WC umum yang terlihat semua isinya dan orang lagi ngapain 😵 (tidak bisa diceritakan lebih lanjut karena saya bisa muntah). Belum lagi melihat sapi dan babi dimana-mana. Mana sapi di India gendut-gendut lho, cocok untuk kita Qurban di Idul Adha.😹

Sebenarnya saya udah nggak tahan lagi di dalam bus karena sesak napas. Perjalanan 5 jam terasa sangat lama. Saya batuk berdahak yang harus ditelan, kepala pusing banget, mata udah merah, dada sakit, untungnya nggak demam. Berdoa terus kepada Allah SWT agar jalan terasa singkat dan saya baik-baik saja. Tangan saya udah hitam dekil karena memegang bangku bus, ransel udah kotor, badan juga udah bau. Mungkin ada baiknya saya berzikir agar meringankan sakit kepala dan batuk.

Pukul 8 malam, alhamdulillah kami sampai di kota Jaipur. Saya turun dari bus (kopaja) dengan sempoyongan. Kami menyetop tuk-tuk untuk ke hotel. Saya berpisah dengan Mba Any, Mba Septa, Mba Carla, dan Kris sementara karena kita book penginapan yang berbeda. Sewaktu naik tuk-tuk, supirnya menawarkan hotel pada kita karena katanya hotel Umaid Bhawan tempat kita menginap itu kemahalan. Dia merekomendasikan hotel yang lebih murah. Mungkin saking kucel, butek, dan dekilnya, kami disangka nggak punya duit untuk membayar hotel Umaid Bhawan.

Sesampai di hotel, kami diantar ke kamar. Ekspektasi saya sudah sangat besar karena sengaja memesan hotel berbintang suite class pulak agar bisa istirahat. Alhamdulillah saya dan Mba Itha kamarnya sudah memuaskan, tapi kamar Abby dan Rezki kayaknya terlalu biasa untuk sekelas Suite. Saya menemani Abby komplen ke resepsionis. Awalnya resepsionis dengan santainya menjawab kalau nggak mau disitu, udah nggak ada kamar suite lainnya. Saya marah dan bilang kalau saya mau suite class yang luas seperti kamar saya no matter what. Akhirnya resepsionis memanggil manager dan bilang kalau ini herritage hotel jadi semua kamar itu berbeda. Iya beda, tapi bukan lebih kecil juga. Saya dan Abby ngomel-ngomel sampai kami minta diperlihatkan kamar deluxe yang notabene sama kecilnya dengan Suite Class punya Abby. Manajer hotel sampai memperlihatkan nomor kamar mana saja yang Suite Class termasuk punya Abby.

Karena kita komplen di depan resepisonis dimana tamu terus berdatangan, tiba-tiba di lantai dua langsung ada kamar Suite tersedia. Heran deh, mereka kayaknya nggak mau terlihat buruk di depan para bule' jadi menyudahi perdebatan dan mengeluarkan kamar Suite yang lain. Tadi bilang nggak ada, sekarang tiba-tiba ada, kan kesel ya😤😤😤. Udah kita lagi capek banget baru naik kopaja, sampai di hotel ada masalah begitu lagi, sudah cukup menguji kesabaran.

Urusan kamar selesai. Saya dan teman-teman mau makan dulu di rooftop restoran karena udah lapar banget. Ntah kenapa, semua pelayan hotel, manajer, dan resepsionis mendadak jadi super duper baik. Sampai-sampai ketika kami makan, mereka memastikan kalau makanan enak, semua kebutuhan kami terpenuhi, dan kami merasa nyaman. Bahkan ada khusus satu pelayan yang melayani makan malam kami. Semua barang kami juga dipindahkan ke kamar baru tanpa perlu di cek lagi. Rasanya emosi tadi hilang begitu saja.
Makan di rooftop dengan kondisi dekil
Setelah makan, saya masuk kamar dan menghapus makeup sebelum mandi. Saya syok melihat kapas yang baru saya oles di wajah hitamnya minta ampun. Sampai-sampai bagian olesan makeup remover lebih putih dari kulit wajah saya seluruhnya. Gila nggak? Selesai menghapus makeup, saya mengelap koper dan ransel dengan tisu basah agar sedikit lebih higienis. Bahkan saya nggak mau memegang baju dan jeans yang dipakai tadi naik bus (kopaja) karena saya merasa jijik. Kemudian saya mandi lamaaaa banget karena keramas dan menggosok badan sampai bersih. Sayajuga berusaha memuntahkan semua dahak yang membuat dada saya sakit. Saya jadi batuk panjang dan sakit tenggorokan gara-gara memaksa dahak untuk keluar.

Selesai mandi, saya berganti baju tidur dan masuk selimut. Enak banget deh tidurnya. Kamar gede, AC dingin, WIFI kenceng, kamarnya harum juga. Memang harga nggak pernah bohong ya. Baiklah, nanti saya cerita lagi tentang kota Jaipur. Sampai jumpa!

Beberapa foto dari Kamera Fujifilm Kristanto Nugroho (Instagram: kriz_nugroho) dan Iphone 8 plus milik saya.
Reactions:

1 comments:

Desonline mengatakan...

Ternyata ada juga bangunan lain yang tidak kalah kerennya dari taj mahal di India, karena selama ini saya tahunya hanya taj mahal :)

Follow me

My Trip