Mei 08, 2018

One Day in Jaipur

Karena badan udah nggak enak, saya kebangun tengah malam dan merasa sudah waktunya shalat Shubuh. Selesai shalat, baru sadar kalau masih tengah malam. Kenapa nggak lihat jam dulu ya😓? Saya tidur lagi, baru bangun pas Shubuh dan shalat. Setelah itu tidur lagi. Sekitar jam 8 pagi, saya bangun, berberes sejenak, baru kemudian berendam di bathub. Rasanya nyaman, tapi kepala masih pusing dan terus batuk berdahak. Seharusnya kalau dahak sudah menguning seperti ini harus ada antibiotik dan saya nggak bawa sama sekali.

Selesai mandi, saya naik ke rooftop untuk sarapan. Abby dan Rezki sudah lebih dahulu berada disana. Makanannya banyak, tapi saya nggak mood, dan kebanyakan adalah makanan yang ada 'masala'-nya. Jadi tambah nggak mau deh. Cuma sarapan sekedarnya saja. Di hotel Umaid Bhawan ini, baru terlihat para orang India yang kaya dan cantik. Kebanyakan bajunya udah lebih casual dan warna kulitnya putih. Ada juga yang memakai saree tapi terlihat sangat cantik. Pasti perawatannya super mahal jadi nggak dekil😅.

Selesai makan, kami balik ke kamar masing-masing dan mengabarkan resepsionis untuk late check out. Mau tidur lagi dan kalau bisa sih shalat Zuhur-Ashar di hotel aja. Saya kerja sejenak, kemudian tidur lagi sampai jam 12 siang. Saya mengunci koper, shalat, baru kami check out. Berhubung pesawat dari Jaipur ke Kuala Lumpur masih lama banget yaitu pukul 23:15, jadinya masih ada waktu kalau mau berkeliling kota Jaipur. Kami menitip koper, lalu menyetop tuk-tuk untuk berkeliling kota.

Ada beberapa destinasi yang bisa di kunjungi selama berada di kota Jaipur. Saya akan jabarkan satu-persatu. Nggak semua destinasi ini saya kunjungi karena saya udah sakit jadi nggak kuat banyak jalan (orang asma kalau sakit malah nggak bisa terlalu banyak gerak), tapi teman saya yang lain mengunjunginya. Mari disimak:

1. Jalmahal Palace
Jal Mahal berjarak 4 km di utara Jaipur dan terletak di jalan utama Amer-Jaipur. Sebutan lainnya adalah Istana Air karena posisinya mengapung di tengah sungai Man Sagar. Istana yang satu ini sempat diperluas pada abad ke 18 oleh Maharaja Jai Singh II.
Jalmahal
Pemandangan megah dan cantik ini menjadikan istana Jal Mahal adalah yang paling banyak difoto (photo friendly). Sayangnya kita tidak bisa puas bereksplorasi istana karena tempat ini akan diubah menjadi restoran yang sangat eksklusif. Katanya dulu ada perahu seperti di Dal Lake yang bisa dikendarai sehingga kalau berfoto semakin indah pemandangannya. Sayangnya udah nggak ada lagi.

Saya tidak mengunjungi Jalmahal dan foto ini dari kamera Kris.

2. Amer Fort
Kalau sudah ke Jalmahal, kalian pasti akan ke Amer Fort karena letaknya sangat berdekatan. Seperti yang kita ketahui kalau Fort berarti benteng. Benteng megah ini terdiri dari kompleks istana yang luas, dibangun dari batu pasir kuning pucat dan merah muda, marmer putih, kemudian dibagi menjadi empat bagian utama, masing-masing dengan halamannya sendiri. Katanya sih, para wisatawan bisa naik gajah di benteng ini. Tetapi pecinta hewan telah mengkritik pemeliharaan gajah di Amber karena dianggap eksploitasi terhadap hewan. Banyak gajah punggungnya jadi luka karena membawa penumpang.
Pintu masuk Amber Fort
Dari atas benteng
Benteng ini cukup cantik untuk berfoto karena warna struktur dindingnya. Hanya saja, Jaipur terlalu panas dan saya nggak kuat banget kalau mau jalan kaki menjelajahi seluruh tempat di Jaipur karena lagi sakit.  Sebagai alternatif, kita dapat naik tuk-tuk ke atas biar nggak capek. Jangan lupa menawar harga tuk-tuknya ya.
Dari bawah benteng
Saya tidak mengunjungi Amer Fort dan foto ini dari kamera Kris.

3. Albert Hall Museum
Salah satu museum paling tua di Jaipur, Albert Hall Museum juga berfungsi sebagai museum utama di distrik Rajasthan. Bangunan ini merupakan contoh arsitektur Indo-Saracenic dan dirancang oleh Sir Samuel Swinton Jacob, dibantu oleh Mir Tujumool Hoosein. Museum dibuka untuk publik pada tahun 1887.
Museum paling cantik😍
Raja Ram Singh awalnya ingin bangunan ini menjadi balai kota, tetapi penggantinya Madho Singh II, memutuskan bahwa itu harus menjadi museum untuk seni Jaipur dan dimasukkan sebagai bagian dari Ram Nivas Garden. Museum ini memiliki koleksi artefak yang kaya termasuk lukisan, karpet, gading, batu, pahatan logam, dan bekerja dalam kristal.

Saya tidak mengunjungi Albert Hall Museum dan foto ini dari kamera Kris. Fotonya cantik banget karena pas sewaktu burung-burung sedang terbang. Saya tidak mengunjungi Albert Hall Museum dan foto ini dari kamera Kris.

4. Hawa Mahal
Nama lainnya adalah Istana Angin dan dibangun pada tahun 1779 dengan bahan dasar struktur bangunan adalah batu pasir merah dan pink sehingga terlihat warna bangunannya sangat cantik. Awalnya saya mengira istana yang satu ini dicat pink, ternyata memang struktur bebatuan bangunannya sendiri berwarna pink.
Dari depan Hawa Mahal
Kali ini saya memang masuk ke dalam Hawa Mahal, sehingga lumayan bisa bercerita ada apa di dalamnya. Kalian harus membayar 100 rupee untuk tiket masuk, lalu kita bisa berkeliling di dalam istana dan berfoto. Kebanyakan sih pintu dan jendelanya kecil-kecil, seperti istana liliput. Berhubung saya udah sesak napas, jadi nggak sanggup bereksplorasi seluruh sudut istana. Kalau teman-teman saya berfoto, saya hanya jadi fotografer saja. Mana cuaca super duper terik yang membuat kondisi saya tambah kacau.
Dari dalam Hawa Mahal
Pintu dan jendela kecil
Kalau kalian mau mendapat foto oke, lebih baik kalian ke Cafe yang ada di seberang Hawa Mahal banget. Saya dan teman-teman sempat makan siang di Wind View Cafe sekalian ngadem di ruang berAC. Awalnya saya meminta akses WIFI lebih dahulu tapi pelayan Cafe bilang harus pesan dulu baru dikasi password WIFI. Lho, udah jelas-jelas kita duduk disitu dan meminta menu, tapi mereka masih nggak percaya kalau kita bakalan pesan makanan.

5. Pink City
Sebutan kota merah muda ini tercetus karena pertokoan di sekitar Hawa Mahal semuanya berwarna pink. Tembok-tembok bangunan sengaja di cat berwarna pink pada tahun 1876 untuk menyambut kedatangan Raja Albert, suaminya Ratu Victoria. Sebenarnya Pink City ini adalah objek wisata yang paling banyak difoto oleh fotografer, tapi menurut saya warna pinknya sudah tidak secerah yang ada di Instagram kebanyakan. Malah beberapa bangunan cenderung sangat tidak terawat dan dekil.
Hawa Mahal dari bawah
Per-gelang-an
Pink City ini adalah tempat paling enak untuk belanja. Segala macam saree, aksesoris, kain,  bahkan alat rumah tangga semuanya ada disini. Balik lagi karena saya sedang sakit, saya jadi nggak mood belanja. Cuma ngikutin teman-teman aja masuk dari satu toko ke toko lainnya. Kebetulan ketemu Kris, Mba Carla dan Mba Septa yang lagi belanja. Kata Mba Septa, saree disini lebih murah daripada di Delhi sampai-sampai dia buka jastip (jasa titip beli barang) dan beli koper lagi😝.

Saya sempat mampir di sebuah Cafe di Pink City untuk ngemil, kemudian karena sudah sore kami memutuskan untuk balik ke hotel. Saya jadi sakit kepala melihat lalu lintas yang super duper crowded di area Pink City, asap kendaraan bermotor yang memperparah sesak napas saya sampai-sampai saya melilit jilbab jadi masker, dan cuaca sangat terik. Rasanya ingin cepat-cepat kembali ke Indonesia kalau sudah begini. Saya naik tuk-tuk ke hotel dan terasa banget lalu lintas yang super padat. Ditambah lagi suara klakson tiiinnnnnnnnnn panjang sehingga kepala tambah sakit😩.

Permasalahan lainnya adalah tuk-tuk kami nyasar. Ntah udah sejam di tuk-tuk berkeliling-keliling, nggak ketemu juga jalan ke hotel. Mana kami semua nggak ada paket data, supir tuk-tuk pun udah nanya sana-sini tetap nggak ketemu alamatnya. Akhirnya kami bertanya pada seorang cowok yang terlihat rapi dan bisa bahasa inggris dimana hotel kami. Dia langsung mengarahkan supir tuk-tuk dengan bahasa India dan bilang juga pada kami dengan bahasa Inggris. Alhamdulillah sampai juga ke hotel setelah lebih dari satu jam mutar-mutar kota Jaipur karena nyasar.

Semua tempat wisata diatas bisa kalian jalani dalam satu hari asal kuat dengan polusi, cuaca terik, lalu lintas padat dan sembraut. Banyak bangunan bersejarah yang photographer friendly di Jaipur dan menjadi surga untuk orang yang hobi memotret. Insya Allah kota ini lumayan aman karena Mba Septa aja jalan sendirian ke pertokoan untuk belanja saree. Tips-nya jangan membuat eye contact aja dengan orang lokal kalau berjalan sendiri dan jangan terlalu mencolok pakaiannya ya. Berpakaianlah yang sopan dan biasa saja.

Baiklah, nanti saya cerita lagi tentang kembali ke Indonesia. Beberapa foto dari Kamera Fujifilm Kristanto Nugroho (Instagram: kriz_nugroho) dan Iphone 8 plus milik saya.
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip