Mei 01, 2018

Sleeper Train to Agra

Jam 2 siang, kami sudah bersiap di Backpacker Panda Hostel untuk menunggu jemputan. Petugas Hostel memesan 2 taksi online untuk mengantarkan kami ke stasiun kereta. Mobil kecil yang datang ternyata tidak bisa menampung semua koper sampai harus ada yang ditaruh di atas mobil. Bahkan koper saya sendiri harus dipangku. Seperti biasa, saya menyalakan Gmaps dan Waze supaya bisa melihat arah dan nggak dibawa kemana-mana. Alhamdulillah perjalanan ke stasiun hanya 20 menit dan kami sampai dengan selamat. Udah 3 kali naik taksi di New Delhi, alhamdulillah aman-aman saja. Saya jadi merasa berdosa su'udzan terus ke orang lokal. Seharusnya kalau taksi online sama aja seperti di Indonesia, semuanya bisa di track dari kantor pusat, dan mereka pasti nggak bisa macam-macam kepada penumpang.
Stasiun kereta
Saya dan teman-teman menunggu satu mobil taksi online lainnya. Setelah semua tim komplit, barulah kami masuk ke stasiun. Mulailah terlihat suasana yang kurang menyenangkan. Orang berlalu-lalang, bersliweran dengan membawa barang masing-masing. Ada yang memanggul di kepala, ada yang menjinjing barang, sambil membawa anak yang banyak, dengan pakaian saree yang nggak se-simple itu (bayangkan udah suasana ruwet, masih pakai saree dengan bahan 7 meter, apa nggak gerah ya?). Ada yang duduk di jalan sambil makan, ada yang lari sana-sini, dan kepala saya pusing😵😵😵. Terlalu ramai orang, terlalu banyak gerakan, terlalu berisik, dan saya sedang menguatkan diri mengikuti teman-teman mencari sleeper train yang tertera pada tiket.
Sleeper Train
Kereta kami akhirnya ketemu, persis seperti kereta ekonomi jaman dahulu tanpa AC dan agak tua. Saya terdiam, berusaha santai, dan mulai masuk ke gerbong kereta tempat saya duduk. Ada dua tingkat kursinya karena memang namanya sleeper train, jadi untuk tiduran. Pertanyaannya, siapa yang mau tiduran di kereta seperti ini😞? Saya dan teman-teman mulai duduk di kursi bawah berhadap-hadapan. Orang lokal satu demi satu mulai naik dan saya jadi parno sendiri. Saya nggak mau ada orang lain yang duduk di sebelah saya. Beberapa saat kemudian saya melihat ada bapak dan ibu tiba-tiba langsung duduk di kursi saya dan dihadapan saya juga. Ternyata dia sudah beli tiket dan nomor kursinya juga disitu. Seharusnya dua orang diantara kami harus duduk di kursi atas, tapi kita nggak ada yang mau. Jadilah ada orang lain yang menduduki kursi atas. Ntah bayar tiket, ntah enggak. Bahkan sampai dua orang duduk di atas. Saya jadi takut kursi atas ambruk menimpa saya😰. Di sisi lain, Kris dan Mba Septa nyobain duduk di kursi atas supaya lebih privasi dan mau mencari sensasi baru😲.
Kris dan Mba Septa
Kereta pun berjalan. Saya masih berusaha tenang, walaupun tenggorokan sudah gatel banget dan suara agak serak. Serasa mau batuk tapi saya tetap menahan. Saya pakai lapisan kerudung untuk menutupi hidung (menyesal nggak bawa masker). Ketika berhenti di stasiun berikutnya, banyak banget orang naik dan rebutan duduk di kursi. Saya, Mba Itha, dan Rezki menutup jalan ke kursi kami dengan menaruh kaki. Jadi nggak ada satupun dari orang yang naik bisa duduk di deretan kami. Kadang mereka malah naik ke kursi atas dan sebagian kakinya diturunkan ke tangga atau ke depan saya. Aduh, saya jadi kena bau kaki. Untung aja kerudung saya di cuci pakai pewangi yang tiap jam wanginya semakin memudar (kalah dengan bau di kereta).
Tempat taruh kaki😝
Bapak dan Ibu India di deretan kami mengeluarkan makanan dan mereka makan dengan lahap. Bau makanannya bercampur dengan bau suasana di kereta membuat saya pusing😵. Setelah selesai makan, si Bapak minta jalan untuk naik ke kursi atas. Mungkin dia mau selonjoran. Nah, si Ibu menyuruh Abby pindah ke sebelah saya (yang kosong tempat si Bapak), karena dia juga mau selonjoran. Yah berhubung kita orang luar, nurut aja deh. Yang membuat saya kaget adalah, si Ibu tiduran dengan menopang kepala selama berjam-jam tanpa pegel. OMG, kok dia kuat😱? Saya aja berusaha untuk nggak tidur, jadinya main hp (karena ada colokan di kereta jadi nggak takut habis batre) sambil menghabiskan paket data yang hari ini terakhir. Saya juga sekalian membooking hotel Umaid Bhawan, salah satu herritage Hotel di Jaipur. Sengaja memilih hotel enak supaya bisa tidur nyenyak untuk beristirahat karena saya sepertinya sudah mulai sakit.
Tidur sambil menopang kepala berjam-jam😯😮
Di tengah suasana kurang mengenakkan, saya jadi bisa melihat kehidupan orang-orang India setiap kereta berhenti di sebuah stasiun. Kadang mereka berlari mengejar kereta melangkahi rel demi rel tanpa takut kalau kereta lain bakalan melintas. Seolah pertaruhan nyawa disini terlalu sepele. Saya juga melihat seorang wanita sedang memompa air, lalu memasukkan ke dalam gentong. Setelah kereta berhenti dan penumpang turun, datang segerombolan laki-laki menyuruh wanita itu minggir dan mereka menikmati air dari pompa dengan mencuci muka, bahkan sampai menampung di tangan dan meminumnya. Sungguh hidup begitu keras disini, tapi tetap matahari terbenam yang saya lihat dari jendela kereta sangat indah. Masya Allah~~

Hari sudah malam dan sudah 3 jam berlalu sejak dari stasiun pertama. Saya mengecek Gmaps dan ternyata kami sudah masuk Agra tapi nggak tau turun di stasiun mana. Untung Kris mengirim Whatsapp dan bilang kalau sebentar lagi kami harus siap-siap untuk turun. Stasiun kota Agra langsung terlihat sangat berbeda dengan stasiun lainnya yang ukurannya sungguh besar. Berbeda dengan beberapa stasiun yang baru kami lewati tadi yang mungkin hanya di kota kecil. Saya dan teman-teman turun dan berkumpul dengan yang lain (Kris, Mba Septa, Mba Carla, dan Mba Any) yang duduknya terpisah. Berbeda dengan kami, Kris dan yang lain merasakan keseruan perjalanan karena membaur dengan orang lokal. Sebelum Kris melanjutkan bercerita dengan detail, kami semua keluar dulu dari stasiun untuk mencari transportasi ke Bedweiser Backpackers Hostel. Kita jadinya sewa mobil perorang 200 rupee sampai besok ke Taj Mahal, keliling kota, dan diantar ke terminal bus. 

Sampai ke Hostel, kami menaruh barang terlebih dahulu. Untung ada cowok-cowok, jadi bisa dimintain tolong angkat koper (Hostel biasanya nggak ada lift) karena saya mulai agak sesak napas dan suara semakin serak. Jadi nggak kuat angkat yang berat-berat. Kali ini saya memilih kamar privat dan bukan bunkbed. Sebenarnya kalau shared room tapi teman-teman semua sih saya nggak masalah dan hostel di Agra masih lebih bagus dari yang di New Delhi. Yang saya agak heran kenapa AC nggak mau nyala? Saya bilang ke resepsionis dan katanya nanti dinyalain. Ya udah deh percaya aja.

Karena sudah kelaparan, saya dan teman-teman mencari makan dulu keluar. Kami mampir di sebuah Cafe yang cuma 50m dari Hostel dan banyak turisnya. Pelayan Cafe dengan Sok Kenal Sok Dekat (SKSD) menyambut kami dan mengantarkan kami ke kursi. Kami memesan mie goreng yang terlihat lezat 4 porsi untuk disantap bersama-sama. Kris mulai cerita kalau tadi dia dan teman-teman berbaur dengan orang lokal di kereta. Bahkan Mba Any, Mba Septa, dan Mba Carla diajarin cara pakai saree yang benar oleh seorang ibu-ibu. Ibu itu bilang kalau harga saree kita kemahalan, padahal kita aja udah merasa murah. Mba Any bahkan bisa minta tethering hotspot dengan salah seorang cowok India yang duduk di kursi atas. Mereka juga sempat-sempatnya selfie. Disitu saya jadi berkesimpulan, mungkin orang lokal yang nggak punya maksud mencari keuntungan ke turis (seperti calo tiket, supir tuk-tuk, dan yang kita udah temui selama di Delhi) sebenarnya pada baik hati. Mereka mungkin sama seperti kita yang nggak enak menyapa turis, tapi kalau kita disapa duluan pasti menjawab dengan ramah. Saya jadi merasa bersalah su'udzan terus, astaghfirullah...
Diajarin pakai saree
Bersaree
Selfie dengan orang lokal
Bersama orang lokal
Cowok diatas lagi santai kayak di pantai🌊
Makanan kami agak lama datangnya sampai-sampai kami pun protes. Setelah makanan datang, ntah cuma 5 menit kami menghabiskannya, lalu kami pulang. Sebelum pulang kami dibagikan air mineral perorang secara gratis oleh pelayan resto ntah kenapa. Ya kalau ada yang gratis, kami sih mau menerimanya dengan senang hati, hihihi. Kami kembali ke hostel dan AC belum nyala juga di seluruh kamar yang kita pesan. Saya protes lagi ke resepsionis dan saya bersikeras untuk meminta AC dinyalain. Resepsionis dengan santainya bilang kalau kata bosnya ACnya nggak bisa nyala. Saya ngomel-ngomel terus sampai akhirnya dia menghidupkan switch AC di seluruh kamar kita. Suara saya jadi tambah serak deh. Haduwh, kenapa begini sih? Selesai AC nyala, eh malah air panas yang nggak nyala. Karena udah keringetan parah, jadilah saya mandi air dingin sampai kedinginan. Selesai mandi, saya kerja sebentar, lalu mengobrol dengan Mba Itha sampai tengah malam. Baru deh tidur karena besok pagi kami harus bangun pagi untuk mengejar sunrise di Taj Mahal jam 6 pagi.

Setelah saya renungi sepulang dari India, mungkin mencoba transportasi lokal adalah hal wajib di India buat kalian yang memang berjiwa petualang. Sebenarnya saya nggak berjiwa petualang-petualang amat dan masih lebih memilih perjalanan tipe fancy dimana bisa makan enak dan tidur nyenyak. Tapi ketika menaiki kereta dalam perjalanan dari New Delhi ke Agra, saya jadi banyak berpikir. Di dunia ini saya masih punya kesempatan untuk melihat orang-orang yang tingkat ekonominya masih jauh dibawah Indonesia, sehingga kehidupannya lebih keras. Saran saya selagi naik kereta atau bus di India, berusahalah menikmatinya dan jauhkan pemikiran negatif seperti saya kemarin. Ketika sisi negatif dipikiran mulai menjauh, kalian jadi bisa menikmati keindahan India seperti matahari tenggelam, bahkan diantara suasana yang nggak nyaman😇.

Penasaran bagaimana indahnya Taj Mahal? Nanti saya tulis lagi ya. Sampai jumpa!
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip