Mei 26, 2018

The Beauty of Sheikh Zayed Mosque

Setiap melihat postingan foto Instagram mesjid sangat indah di Abu Dhabi. ibukota United Arab Emirates (UAE) yang termasuk dalam 10 mesjid paling cantik di dunia, saya jadi ingin sekali mengunjunginya. Setelah mengunjungi Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di Arab Saudi, saya berdoa agar bisa mengunjungi mesjid-mesjid indah lainnya dan berusaha semaksimal mungkin untuk kesana. Allah Subhanahu wata'ala menjawab doa-doa saya. Tanpa ada rencana sama sekali malah bisa singgah ke UAE dan mengunjungi Sheikh Zayed Mosque.

Seperti yang saya ceritakan di postingan sebelumnya kalau saya menginap di rumah saudara di Abu Dhabi. Sekitar pukul 3.45 pagi, saya mandi dan bersiap untuk shalat Shubuh di Mesjid Sheikh Zayed. Keluarga saya juga mandi dan bersiap-siap ke mesjid agar bisa mengejar shalat berjamaah. Jam 4.30 pagi, kami turun ke parkiran dan naik mobil menuju mesjid. Bang Oka (abang sepupu saya) bilang kalau Masjid ini sangat luas sehingga parkiran mesjid pun memiliki banyak pintu. Udah mengikuti Google Maps, malah nyasar ke pintu yang tidak dibuka pada saat Shubuh. Akhirnya bertanya pada satpam Mesjid, baru ditunjukkan arah yang benar ke parkiran. Adzan Shubuh sudah berkumandang dan kami masih berputar-putar di jalan. Kata Bang Oka sih, jarak adzan Shubuh ke shalat sekitar 20 menit dan saya jadi was-was, takut tidak bisa mengejar shalat berjamaah.
Masjid tampak depan
Mobil diparkir dan saya kagum sekagum-kagumnya melihat keindahan mesjid yang dijuluki Mutiara Padang Pasir (Pearl of the Desert). Tapi tidak ada waktu untuk mengagumi masjid karena imam sudah bertakbir menandakan shalat sudah dimulai. Yang ribetnya, kami harus melewati pintu yang ada metal detector dan screening barang bawaan. Saya agak keheranan karena masuk mesjid aja harus diperiksa, tapi hal ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya ancaman yang tidak diinginkan. Duh, semakin memakan waktu di pemeriksaan ini itu, sedangkan imam sudah hampir ruku' (menyelesaikan satu rakaat)😨.

Masalah lainnya adalah, mesjidnya terlalu luaaaassss. Saya berlarian bersama Ike, Mama, dan tante untuk menuju ruang shalat wanita. Kami melepas alas kaki dan menaruh di rak, lalu jarak ke tempat shalat masih jauh. Imam sudah hampir menyelesaikan rakaat kedua. Kata Ike, kami nggak boleh shalat di lorong-lorong mesjid karena pasti diusir. Saya melirik ke kiri dan kanan untuk memastikan petugas nggak ada di lorong, ehhh ntah darimana petugas muncul dan menyuruh kami shalat di ruangan. Sampai ruang shalat udah ngos-ngosan dan imam hampir selesai shalat. Untung masih keburu di saat-saat terakhir. Ya sudahlah, daripada tidak sama sekali.
Interior di dalam mesjid
Indah sekali😍
Selesai shalat Shubuh, saya shalat Tahiyatul Masjid lagi. Setelah itu karena tempat shalat wanita sepi, saya langsung berbaring telentang diatas karpet yang super tebal dan empuk untuk menikmati keindahan setiap sudut mesjid. Masyaa Allah indahnya😍😍😍. Atapnya, dindingnya, lampunya, karpetnya, semua indah. Negara-negara Arab memang tidak tanggung-tanggung memperindah mesjid karena mereka memang kaya dan juga supaya para jamaah yang ingin shalat menjadi nyaman.
Dikala Shubuh
Selfi bersama Ike
Selesai mengagumi interior di dalam mesjid, saya keluar dan berfoto di setiap sudut ruangan sampai lampu mesjid dimatikan, pertanda fajar sudah terbit. Padahal lampu-lampu sangat cantik, jadi menyesal nggak terlalu banyak mengambil foto. Oh iya, karena hari itu adalah Jumat, maka mesjid harus dikosongkan untuk persiapan shalat Jumat. Para petugas mesjid sudah mengusir kami tapi kita masih pengen berfoto. Mereka sampai memberikan alasan kalau sebentar lagi Syuruq (batas waktu Shubuh) dan mereka belum shalat. Mereka harus memastikan kalau kami para jamaah sudah keluar dari mesjid, baru deh mereka bisa shalat. Kasihan juga sih, tapi gimana ya kita belum puas berfoto😌.
Foto keluarga
Kami disuruh berfoto diluar mesjid saja dan petugas niat banget mengikuti kemana kami pergi agar tidak masuk lagi ke mesjid😝. Walaupun demikian, seluruh sudut mesjid tetap fotogenik. Dimana pun kalian mengambil foto tetap indah. Sedikit sejarah, pembangunan masjid Agung Sheikh Zayed merupakan gagasan dari pendiri Negara UEA, Sheikh Zayed Al Nahyan sebagai bagian dari mimpi dia memimpin rakyat UEA dari sebuah Negara berkembang, tradisional menjadi sebuah Negara maju modern.
Kolam di depan mesjid
Setelah sheikh Zayed wafat pada tahun 2004, proses pembangunan masjid dilanjutkan oleh putranya. Penyelesaian proyek pembangunan masjid ini dibawah perintah langsung dari Sheikh Khalifa bin Zayed Al Nahyan, presiden Uni Emirat Arab, dibawah pengawasan saudaranya Jendral Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan, yang merupakan putra mahkota Abu Dhabi sekaligus sebagai wakil Panglima Angkatan bersenjata UEA. Dan dibawah supervisi dari Sheikh Mansoor bin Zayed Al Nahyan, Wakil perdana menteri dan menteri urusan kepresidenan.
Foto terusss
Masjid Sheikh Zayed di inspirasi oleh pengaruh arsitektural Mughal (India, Pakistan, Bangladesh) dan Mooris (Maroko). Dibangun dengan 82 kubah bergaya Maroko dan semuanya dihias dengan batu pualam putih. Lengkap dengan pelataran tengahnya sebagaimana di masjid Badshahi di kota Lahore Pakistan yang bergaya Mughal. Kubah utama masjid ini berdiameter 32.8 meter dan setinggi 55 meter dari dalam atau sekitar 85 meter dari luar. Merujuk kepada Turkey Research Centre for Islamic History and Culture, kubah ini merupakan kubah terbesar yang pernah dibuat dalam jenis yang sama. Secara keseluruhan arsitektural masjid Agung Sheikh Zayed dapat disebut sebagai gabungan dari arsitektural Mughal, Moorish, dan Arab.

Selanjutnya kita akan menuju Dubai. Stay tuned!
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip