Juni 07, 2018

Berjalan-jalan di Kota Selçuk

Sepulang dari Ephesus, kami diantarkan oleh tur guide ke sebuah Resto. Ini pertama kalinya saya dan keluarga makan di resto khas Turki yang memang bekerjasama dengan tur. Makanan dihidangkan secara parasmanan, kalian bisa mengambil apa pun mulai dari nasi, lauk-pauk, dan kue-kue. Yang harus kalian beli adalah minuman (air mineral, minuman bersoda, dan lainnya) sesuai harga yang tertera. Saya kira hanya disitu saja sistem makan siangnya begitu. Tapi selama di Turki, semua tur menyediakan makan siang tanpa minuman. Mana minuman harganya lumayan mahal. Paling murah air mineral kecil seharga 4 lira. Lebih baik sekalian beli minuman 1,5 liter seharga 10 lira untuk berlima.

Setelah makan siang, kami melanjutkan ke destinasi selanjutnya selama tur. Mari disimak:

1. Şirince Village
Desa Şirince adalah sebuah perkampungan Ortodoks yang cukup tua ini terletak 12 km dari Ephesus dan 8 km di Timur kota Selçuk. Dulunya bernama Cirkince ("jelek") karena para penduduk tidak ingin diganggu oleh orang asing atau untuk berbagi keindahan desa mereka. Kalau kita sebagai turis mendengar sebuah desa 'jelek' pasti mengurungkan niat untuk pergi.
Plang nama desa
Desa di gunung
Setelah bertahun-tahun, para pengunjung mulai mengerti bahwa desa tersebut tidak jelek sama sekali dan pemerintah provinsi Izmir kemudian menamakan desa ini adalah Şirince ("cantik"). Lokasi desa terletak di puncak gunung. Perjalanan menuju desa saja kita akan menikmati pemandangan kebun anggur dan buah persik yang mengesankan dalam perjalanannya. Pertama kali menginjakkan kaki disini, hal yang pertama saya rasakan adalah klasik. Seperti desa-desa dalam game RPG yang pernah saya mainkan dulu. Perumahannya beratap rendah, ada cerobong asap, desanya padat pengunjung, kerajinan tangan yang mereka pajang di depan rumah, bunga dimana-mana, membuat pemandangan jadi sangat cantik😍. Kalau bukan karena terlalu padatnya pengunjung, saya betah berlama-lama disini.
 Itu cone es krim kok nggak roboh ya
Bunga mawar merah
Desa Şirince merupakan penggabungan sempurna antara budaya Turki-Yunani pada tahun 1920-an dimana setelah Perang Kemerdekaan, orang-orang bertukar antara Yunani dan Turki. Semua rumah bergaya Yunani sudah berubah bergaya lokal (Turki) meskipun mereka mempertahankan karakteristik aslinya. Bahkan kalian masih dapat melihat gereja Ortodoks yang direstorasi dengan baik. Desa ini kemudian terbuka untuk pengunjung dan menjadi salah satu destinasi wajib kalau kita berkunjung ke Selçuk. 
Kepadatan pengunjung
Kalian bisa melihat banyak pedagang wanita di jalan sempit di desa Şirince yang menjual berbagai macam kerajinan tangan, minyak zaitun, magnet kulkas, bunga, dan sebagainya. Saya sempat belanja banyak magnet kulkas cantik dan minum jus mulberry yang asamnya setengah mati. Untung nggak diare setelah minum jus itu. Meskipun perkembangan pariwisata di Desa Şirince sangat cepat, desa ini mampu mempertahankan keaslian bangunannya tanpa merenovasinya.
Jus Mulberry
Kerajinan tangan
Kerajinan Karpet (Carpet Maker)
Masih ada waktu 2 jam lagi sebelum akhirnya kami kembali ke hotel. Untuk menghabiskan waktu, tur guide bertanya apakah kita mau ke tempat pembuatan karpet dan keramik? Saya sih mau aja, mumpung dianterin mobil tur. Asal jangan jalan kaki aja😅.
Pengrajin karpet
Ada banyak tempat pembuatan karpet di Selçuk. Saya lupa nama tempat kerajinan karpet yang saya kunjungi karena tidak ada di itinerary. Saya dan keluarga hanya mengikut saja kemana tur membawa kita. Ada seorang bapak yang menemani dan menerangkan cara pembuatan karpet kepada kami.  Mulai dari mengambil benang dari ulat, dipintal, sampai cara menenunnya menjadi karpet. Kebayang salah satu karpet dibuat oleh satu orang menggunakan tangan dengan sabar dan sangat teliti. Jujur aja, saya nggak bisa sesabar itu. Belum lagi kita harus teliti agar pola dasar karpet tidak melenceng. Hasil dari kerajinan tangan memang sungguh sangat sangat sangat indah sekali. Subhanallah!
Karpet hasil kerajinan tangan yang indahhhhh😍😍😍
Mau tau harganya? Yang sebesar sajadah aja untuk hasil kerajinan tangan (handmade) dihargai $500. Kalau kalian mau beli yang besar dan sangat indah, bisa puluhan juta dengan ongkos kirim gratis sampai ke rumah kita. Sungguh indah memang, bahkan tak terkata saking indahnya😍😍😍. Tapi harga segitu bisa menerbangkan saya ke kota-kota di Eropa melebihi sekedar membeli karpet. Mungkin suatu hari, ketika saya sangat kaya (amin), saya akan kembali ke Selçuk untuk membeli karpet Turki.

Kerajinan Keramik (Ceramic Maker)
Setelah dari tempat kerajinan Karpet, kami dibawa ke tempat pembuatan keramik. Disini diperlihatkan cara pembuatan keramik oleh para pengrajin yang sudah puluhan tahun membuat keramik dalam berbagai bentuk dan detil. Sangat cantik motifnya, berwarna-warni, bahkan ukirannya dibuat dengan sangat teliti.
Keramik
Bagaimana dengan harganya? Kalau mangkuk-mangkuk kecil harganya sekitar ratusan ribu rupiah. Tapi sewaktu saya ke pasar-pasar kecil biasa, harga mangkuk hanya sekitar 20rban saja. Mungkin barang KW kali ya. Motifnya sama persis bahkan saya nggak bisa bedakan yang mana yang dikerjakan oleh pengrajin, yang mana yang diproduksi massal.
Mangkuk keramik
Berkeliling kota Selçuk
Waktu Ashar di Turki pukul 5 sore. Udah capek jalan-jalan tapi belum sore juga. Kita jadi merasa waktu sangat panjang di negara ini. Setelah tur usai, kami kembali ke hotel untuk shalat, lalu kami berencana berkeliling kota. Besok sudah pindah ke Pamukkale, jadi hari ini mau menghabiskan waktu bersantai sore di Selçuk. Tur guide bilang kalau di sore hari, ada bazar di pasar dan saya jadi tertarik untuk melihat-lihat.
Suasana pertokoan
Selçuk kota yang ramah dan adem. Begitu banyak orang yang menyapa kami dan mengucap salam selama saya dan keluarga berjalan-jalan menyusuri pertokoan dan Cafe. Bazar yang dibilang oleh tur guide persis seperti pasar kaget di Indonesia. Tidak ada barang yang menarik, sehingga kami langsung meninggalkan bazar dan berjalan menyusuri pertokoan yang lain. Saya suka banget dengan suasana dimana orang-orang banyak berjalan kaki dan naik sepeda. Tidak ada polusi, banyak bunga dimana-mana, dan pepohonan rindang. Sungguh suasana musim semi sangat terasa disini.
Jajanan
Suasana kota
Setelah berbelanja oleh-oleh sedikit, saya sempat duduk di halaman sebuah sekolah/universitas sambil memperhatikan anak-anak bermain. Saya paling suka memperhatikan penduduk lokal menjalani aktivitas keseharian mereka apalagi sedang berada di negara orang. Masih terus disapa orang-orang, kami menikmati udara dingin segar di sore hari yang sebentar lagi berganti malam. Waktu Magrib di Selçuk sekitar pukul 8 malam dan terasa lama banget malam hari. Biasanya kalau di Indonesia, setelah shalat Magrib baru makan malam. Ini udah capek jalan kesana-sini belum Magrib juga😅.
Duduk-duduk sore
Selçuk Pidecisi (Turkish Pizza)
Saya menelepon Willy yang sejak tadi berjalan-jalan sendiri di kota untuk mengambil foto dan mengajaknya makan. Kata Willy, ada Resto terkenal di Selçuk yang ternyata terletak di sebelah Hotel Nicea persis bernama Selçuk Pidecisi. Banyak banget turis yang memberikan review memuaskan di TripAdvisor tentang Resto ini yang membuat saya jadi ingin mencicipinya. Kami memesan 2 pizza (jangan tanya namanya karena tulisannya susah dibaca) yang direkomendasikan di menu, meatball, dan teh Turki.
Makan malam
Teh Turki
Meatball
Pizza enak
Makanan datang tanpa harus menunggu lama. Rasa pizzanya benar-benar enak dengan toping daging asap dan pedasnya pas. Selagi kami makan, eh tiba-tiba pelayan Resto memberikan roti dan salad gratis sebagai pelengkap menu. Wuih, jadi banyak deh makanan diatas meja. Pizza saya makan dengan sambal Indofood agar lezatnya lebih terasa dan bisa makan dengan banyak, hahaha.
Pizza dengan topping daging asap
Salad gratisan😅
Kami sekeluarga mengobrol seru sambil melihat koki pembuat pizza yang mengaduk adonan roti terus-menerus tanpa henti. Apa dia nggak pegal ya? Kan adonan roti berat😟. Udara mulai terasa sangat dingin karena sudah malam. Kami membayar sekitar 100 Lira, lalu kembali ke Hotel untuk beristirahat. Hari ini senang sekali dan besok kami akan menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam ke Pamukkale. 

Nanti saya akan cerita lagi ya. Sampai jumpa!

Beberapa foto dari kamera Iphone 8 plus dan kamera Fujifilm Willy Sebastian (Instagram : willyarrows)
Reactions:

2 comments:

Ayla mengatakan...

Hai mbak namaku Ayla. Aku ada kirim pertanyaan ni mbak di cerita mbak sebelumnya yg tentang Bebas Visa Korea. Tolong cek emailnya ya mbak. Lgi butuh bantuan jawab ni mbak trkait Visa itu. Terimakasih:)

Meutia Halida Khairani mengatakan...

hi ayla, uda di bls di postingan Masuk Korea Selatan Tanpa Visa. Thanks

Follow me

My Trip