Juni 11, 2018

Pamukkale Travertine Terraces & Hierapolis

Pagi hari di Pamukkale. Willy pamit duluan mau hiking ke bukit travertine sejak pagi. Katanya mau hunting sunrise, bahkan dia nggak sarapan dulu. Sarapan di hotel baru tersedia jam 7 pagi dengan menu sederhana yaitu telur, biskuit, buah zaitun, keju, tomat, timun, dan sebagainya, dengan minuman teh susu. Sarapan bergaya Barat seperti ini sebenarnya saya nggak begitu suka, tapi lama-lama jadi terbiasa.
Sarapan
Setelah sarapan, mobil tur sudah siap menjemput kami di lobi hotel. Hari itu mobil lumayan penuh dengan peserta tur lainnya dengan tur guide berperawakan tinggi besar khas orang Barat. Tur guide menghitung jumlah peserta dan ternyata kurang 1 orang. Saya bilang kalau 1 orang itu adalah Willy teman saya dan dia akan menunggu di pintu masuk Hierapolis nanti. 

Destinasi pertama, kami dibawa ke sebuah kolam (renang) air panas yang tampaknya biasa saja. Saya bahkan tidak memotret plang namanya dan tidak terlalu mendengar pengarahan tur guide ini tempat apa. Terlihat juga para peserta tur tidak terlalu antusias dengan tempat ini. Saya hanya berfoto di setiap pohon bunga mawar yang mekar sangat besar dan indah berwarna-warni. Kata tur guide, provinsi Denizli yang dilambangkan dengan ayam jago ini terkenal dengan bunga mawar yang tumbuh dimana-mana. Beberapa pohon masih menguncup. Mungkin kalau kami datang sekitar 2 minggu lagi, pasti semuanya sudah mekar dengan indah😍😍😍.
Di pohon mawar
Mawar besar
Pintu gerbang dari pohon mawar
Hierapolis
Jangan bosen belajar sejarah selama saya menuliskan postingan perjalanan ke Turki ya. Terlalu banyak reruntuhan di negara ini, sehingga saya mau nggak mau harus menuliskan sejarahnya paling nggak sedikit saja. Dari pintu masuk ke Hierapolis (kota suci) agak jauh sehingga kami harus berjalan kaki. Udah janjian juga dengan Willy untuk bertemu di pintu masuk. Oh ya, tadinya Willy jadi harus bayar tiket masuk sendiri karena pergi tanpa tur. Padahal dia sudah membayar penuh untuk tur. Tur guide kemudian mengembalikan uang tiket masuk pada Willy. Jadi fair ya.
Pemandangan bunga Poppy
Walaupun kami harus berjalan kaki menuju reruntuhan kota Hierapolis, pemandangan sepanjang jalan Masya Allah indahnya dimana bunga Poppy berwarna merah bermekaran dimana-mana. Sungguh indah dan cantik😍😍😍. Sekedar informasi, bunga Poppy ini mengandung penenang, jadi jangan dicium ya. Ntar kalian malah teler, hahaha. Tur guide juga bilang kalau bunga ini termasuk bunga suci di Pamukkale dan nggak boleh dipetik dan dirusak.
Bunga dimana-mana
Hierapolis adalah kota yang dibangun untuk spa di zaman Helenistik (masa yang berlangsung setelah penaklukan Alexander Agung dimana pengaruh budaya dan kekuasaan Yunani mencapai pada puncaknya di Eropa dan Asia), yang didirikan oleh raja-raja Attalid dari Pergamom pada akhir abad ke-2 SM. Mata air panasnya juga digunakan untuk menggosok/membersihkan dan mengeringkan wol. Bayangkan sebuah kota dimana para penduduknya menghabiskan waktu berendam di air panas yang muncul secara alami. Enak banget pasti.
Reruntuhan kota
Setelah ditaklukan bangsa Romawi pada tahun 133 SM, Hierapolis berkembang dan mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-2 dan ke-3. Kota ini pernah hancur oleh gempa bumi pada tahun 60 sebelum masehi dan dibangun kembali. Sisa-sisa reruntuhan periode Yunani-Romawi meliputi pemandian, reruntuhan kuil, lengkungan monumental, nymphaeum, nekropolis, dan teater. Saya tidak bisa bereksplorasi lebih banyak karena ada pagar yang melarang kita masuk. Untuk naik ke puncak bangunan pun dibutuhkan tenaga ekstra karena harus memanjat dan menaiki batu-batu besar yang sangat banyak. Belum lagi banyak kadal dan bunga Poppy dimana-mana.
Berfoto diantara reruntuhan dan bunga Poppy
Pamukkale (Cotton Castle)
Dulu saya pernah nonton di Trans TV tentang 7 fenomena alam yang unik tentang Pamukkale. Sebelum berangkat ke Turki, saya bahkan lupa kalau Situs Warisan Dunia UNESCO yang satu ini yang berupa travertine pemandian air panas malah berada di Turki. Saya kira berada di suatu negara mana yang belum akan saya kunjungi dan saya dibuat takjub dengan pemandangan bukit putih dari travertine dengan kolam air panas berundak-undak yang Subhanallah indahnya😍😍😍.
Kolam air panas
Perjalanan melewati Hierapolis membawa kami ke titik tertinggi travertine. Kalian bisa melihat kota Pamukkale sejauh mata memandang. Bahkan saya bisa mengetahui letak Sahin Hotel yang terlihat sangat kecil dari sini. Malah jadi agak serem sehingga saya sangat berhati-hati berjalan disini. Kalau kesini dipagi hari, balon udara bisa sejajar tingginya dengan 'istana kapas' ini.
Ada balon udara
Kolam air panas
Air panas di Pamukkale terjadi karena kesalahan pergeseran lembah sungai Manderes dan bukit-bukit di Pamukkale. Mata air yang sangat panas kemudian muncul dengan kandungan mineral yang sangat tinggi (terutama kapur). Selain dari mineral yang sedikit radioaktif, kalsium dan hidrogen karbonat bereaksi yang kemudian terciptalah kalsium karbonat (juga dikenal sebagai travertine) dan batu kapur. Inilah yang membuat Pamukkale berwarna putih dan tercipta juga kolam berundak-undak.
Sangat tinggi
Hati-hati jatuh
Kita tidak boleh menggunakan alas kaki jika mau berendam di air panas atau sekedar berjalan-jalan di travertine. Kolam pertama disisi jalan sangat ramai pengunjung, jadi saya bersama adik dan Willy jalan sampai ke kolam paling ujung. Semakin ke ujung, pemandangan semakin cantik dan semakin sepi juga. Kalian harus hati-hati kalau berjalan disisi travertine karena ada bagian yang licin. Kan serem kalau terpeleset jatuh ke jurang😣.
Duduk sambil menikmati aliran air panas di kaki
Yeay, sampai paling ujung!
Saya nggak ikutan berendam seperti yang dilakukan para turis disini. Palingan hanya membasahi kaki saja, lalu tangan. Airnya memang hangat tapi menurut saya tidak terlalu panas. Lagian, matahari bersinar begitu teriknya di tempat ini dan pantulan cahaya ke travertine berwarna putih sangat menyilaukan mata. Saya malah berpikir, air hangat disini malah karena pemanasan matahari yang sangat terik, bukan dari sumbernya😅.

Sekitar dua jam bermain air hangat, berjalan sampai ke ujung, dan berfoto sepuasnya, saya kembali ke tempat Mama dan tante menunggu. Saya kehausan dan berkeringat. Untung Mama sudah membeli jus jeruk dan saya minum sampai habis saking hausnya. Padahal ini masih musim semi. Kebayang betapa panasnya kalau kesini di musim panas. Bisa sekalian untuk berjemur kali ya.
Bukit tempat paragliding
Oh iya, kalian bisa bermain paralayang (paragliding) disini dengan harga sekitar $70. Saya sih pengen banget, hanya saja takut kesorean karena kami masih harus mengejar mobil tur ke Izmir. Perjalanan dari Hierapolis ke tempat paralayang mungkin sekitar 30 menit, ditambah sejam terbang, dan 30 menit untuk kembali lagi. Bisa-bisa tur berakhir jam 4 sore, sedangkan mobil ke Izmir kami book pukul 2 siang. Waktu itu saya salah membeli tiket pesawat ke Kayseri dari Izmir, padahal di Denizli juga ada bandara dan bisa juga terbang ke Kayseri. Jadi terbuang waktu yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk paragliding.

Okelah, nanti saya lanjutkan lagi ceritanya. Semoga bermanfaat. Sampai jumpa!

Beberapa foto dari kamera Iphone 8 plus milik saya dan kamera Fujifilm Willy Sebastian (Instagram : willyarrows)

Sumber:
https://en.wikipedia.org/wiki/Hierapolis
https://whc.unesco.org/en/list/485
https://wikitravel.org/en/Pamukkale
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip