Juni 06, 2018

What's on Ephesus?

Selamat pagi dari kota Selçuk. Setelah kemarin tidur nggak nyaman di pesawat dan di minibus, bahkan nggak tidur sama sekali di Dubai, baru semalem akhirnya bisa benar-benar tidur nyenyak. Saya bangun ketika adzan Shubuh berkumandang (kebetulan mesjid dekat dari Nicea Hotel), lalu tidur lagi dan bangun lagi untuk mandi. Selesai mandi, kami sekeluarga turun ke ruang makan untuk menikmati sarapan yang disediakan hotel.
Ruang Makan di Nicea Hotel
Sarapan di hotel bergaya Eropa dengan roti, keju, telur, buah zaitun, daging asap, dan berbagai macam makanan lainnya. Saya mengambil dua telur rebus, beberapa daging asap, roti, selai nutella, dan juga roti yang digoreng dengan telur. Untung aja bawa sambal ABC sehingga bisa makan telur, daging asap, dan roti dengan lahap. Saya dan keluarga sarapan banyak banget pagi itu seolah-olah kami lapar berat. Padahal nggak lapar-lapar banget, cuma mau mencicipi ini itu mumpung hari pertama di Turki.
Menu 1
Menu 2
Selesai sarapan, kami naik kembali ke kamar untuk bersiap-siap. Saya ke toilet, kemudian mengambil tas kecil, dan memakai sepatu. Tidak lama kemudian ada telepon dari resepsionis yang mengabarkan kalau tur guide kami sudah datang. Kita langsung bergegas turun agar tur guide tidak menunggu lama. Hari itu kami akan berkeliling Ephesus, ditambah dengan Şirince Village dengan paket tur seharga 45 EURO. Resepsionis hotel bilang kalau harga yang kami bayar termasuk mahal karena kalau book di hotel ini, kalian bisa mendapatkan harga 35 EURO saja. Well, berhubung saya sudah book paket tur secara online dari Indonesia setelah browsing sana-sini dan paket tur ini yang paling murah. Eh ternyata kalau langsung book di Nicea hotel malah lebih murah lagi😓. Oh iya, saya book tur ini di selcukephesus.com sekalian book shuttle bus dari Bandara Izmir ke Selçuk.
Pohon Sunkist di depan Hotel
Sebagai informasi, Selçuk adalah sebuah kota yang paling sering dikunjungi turis karena banyak sekali sejarah dan reruntuhan bangsa Romawi kuno disini. Kota ini juga pernah dikunjungi oleh Ibnu Batuta (salah seorang Muslim pengembara yang pernah berkeliling dunia) pada abad ke 14. Mungkin postingan kali ini akan bercerita banyak tentang sejarah karena kalau nggak diceritakan asal-muasalnya, nanti malah nggak nyambung. Menulis postingan seperti ini agak lama karena saya harus membaca beberapa sumber dan mengingat-ingat lagi apa yang dikatakan oleh tur guide. Baiklah, ada beberapa destinasi yang akan kami kunjungi selama di Selçuk. Mari disimak:

House of Virgin Mary
Maryam Alaihassalam atau bunda Maria adalah wanita suci dalam 2 agama langit : Islam dan Katolik. Dalam sejarah ditulis kalau Maryam sebelum meninggal dibawa oleh nabi Yahya ke Stone House (salah satu rumah disini terbuat dari batu) yang kemudian Stone House ini digunakan sebagai tempat berdoa (chapel) umat Katolik Roma. Walaupun agak tidak sejalan dengan sejarah islam, tapi begitulah sejarah yang diceritakan oleh tur guide. Benar apa enggaknya Wallahu 'alam.
Plang di depan
Stone House
Saya sempat masuk ke Stone House dan melihat ada gambar Bunda Maria di dalamnya. Kalian bisa mengambil lilin dan menaruhnya di sebuah tempat berpasir sekaligus berdoa (untuk umat Katolik). Saya hanya melihat-lihat isi Chapel yang tidak terlalu besar, lalu keluar dan berfoto diantara lilin-lilin kecil. Di sekitar lilin juga banyak bunga cantik yang membuat saya ingin berfoto disetiap sudut.
Tiup lilinnya🎂
Ada bunga-bunga🌹🌸🌷
Kalau kalian familiar dengan gembok cinta yang ada di Seoul Tower, Paris, dan Bandung juga ada, nah di House of Virgin Mary ada Wishing Wall (dinding harapan). Kalian bisa menuliskan harapan di sebuah kertas tisu dan disangkutkan ke dinding Wishing Wall sebagai doa agar suatu hari bisa terkabul. Yang nggak enaknya adalah kalau kertas akan basah dan benyek jika terkena air hujan. Jadi banyak banget kertas yang sudah benyek dan bersatu dengan kertas lainnya di dinding itu. Kebayang kalau kita satukan semua kertas dan di daur ulang, lumayan bisa dibikin kertas buku, hihihi. Hilang deh harapan orang-orang😅.
Kertas tisu
Pose dulu
Kami sempat bertemu dengan rombongan Aceh yang kebetulan mampir juga kesini. Kita ngobrol dan mereka agak heran kalau kita bisa pergi dadakan ke Turki dengan persiapan hanya seminggu sebelum berangkat. Yang agak aneh sewaktu mereka bilang, "Oh kalian backpackeran ya ke Turki?" Hmm, saya kurang setuju dengan kata backpacker karena kita semua pakai koper dan terkesan nggak punya duit. Saya bilang mana mungkin backpackeran bawa Mama.
Patung Bunda Maria
Pemandangan indah
Selesai dari House of Virgin Mary, kami kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan menuju Ephesus. Di tengah jalan, tur guide sempat memberhentikan mobil agar saya dan keluarga bisa mengambil foto Bunda Maria yang terbuat dari emas dengan pemandangan yang indah dan menakjubkan. Sejauh mata memandang, kalian bisa melihat hamparan padang rumput dan perbukitan hijau. Saya berfoto dan merekam video disitu, lalu kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan.

Ephesus
Tempat ini adalah kota super kuno yang pernah dikuasai 3 kerajaan besar pada masa itu yaitu Yunani, Romawi, dan Persia, yang masuk dalam UNESCO World Herritage. Epheses atau Efes dalam bahasa Turkiye sebetulnya hanya merupakan reruntuhan sisa-sisa dari sebuah kota kuno, namun keindahan itu masih jelas tergambar. Tur guide sempat menunjukkan sebuah buku yang dibuat oleh kumpulan arkeolog dimana potret reruntuhannya disimulasikan menjadi bangunan utuh pada masa jayanya. Bayangkan betapa megahnya kota ini pada masa kejayaan bangsa Romawi yang meliputi lautan dan pertanian. Bayangkan juga bagaimana cara mereka membangun kota ini dan bagaimana penduduknya? Sungguh sejarah panjang dari sebuah peradaban.
Mari ke kota Ephesus
Reruntuhan kota
Jujur aja, sebelum ke Ephesus, saya sama sekali tidak membaca sejarahnya. Jadi agak pusing juga ketika tur guide menerangkan banyak hal tentang tempat ini. Berasa ikut field trip di sekolah pada pelajaran sejarah. Dulu saya nggak suka sejarah karena banyak hafalan. Tapi karena sekarang sering mengembara (kata tante saya, saya adalah seorang pengembara😂), jadi suka dengan sejarah karena bisa melihat langsung peninggalannya. Tur guide mengajak kami berjalan berkeliling kota untuk melihat beberapa bangunan yang masih tersisa. Diantaranya sebuah pintu yang ada gambar Medusa (dewi cantik yang dikutuk jadi memiliki rambut ular dan menyeramkan) dan toilet pada masa itu. Di kesempatan ini saya jadi tau banyak merek-merek terkenal seperti Hermes dan Nike adalah nama dewa-dewi Romawi. Kami juga sempat berfoto di puncak tertinggi kota dimana hampir seluruh Ephesus terlihat dari tempat itu. Ada juga sebuah jalan dimana pertokoan barang mewah dijual dan dinding batu yang bolong, tempat mengikat kuda.
Ada patung medusa di pintu
Toilet pada masa itu
Puncak tertinggi kota
Kami terus berjalan menyusuri kota dan tiba di Celsus Library. Perpustakaan yang satu ini dahulu kala adalah sebuah perpustakaan terbesar ketiga pada masanya. Bangunan ini memang sudah tidak utuh, namun bentuk depan dengan pilar-pilarnya masih berdiri kokoh nan megah. Ornamen patung dewa-dewi menghiasi beberapa dinding bagian luar, sementara bagian dalamnya yang merupakan tempat menyimpan koleksi buku-buku hanya tersisa ruang kosong. Perpustakaan ini didedikasikan kepada seorang senator Romawi pada masanya yaitu, Tiberius Julius Celsus Polemaeanus. Kebayang betapa orang pada jaman dahulu sudah suka membaca buku, makanya pada pinter-pinter, sehingga bisa membangun kota sekeren ini.
Celsus Library
Satu tempat lagi yang paling terkenal di Ephesus adalah Grand Theatre, dimana sering diadakan perlombaan pertarungan (persis sama dengan yang sering kita tonton di film-film Barat) dan pementasan seni. Entah bagaimana gegap gempitanya suasana di Grand Theatre pada masa kerajaan Romawi dulu, karena saat ini saja kemegahannya masih begitu kentara. Terletak di punggung sebuah bukit, teater ini berbentuk setengah lingkaran dengan undakan-undakan tempat duduk layaknya stadion dan di bagian tengahnya terdapat sebuah tempat panggung pementasan. Kalau kalian berdiri diatas panggung dan memanggil seseorang, suara kita akan terdengar menggema ke seantero teater (jaman dahulu nggak ada mic, jadi amphiteater memudahkan suara menggema ke seluruh penonton). 
Grand Theatre
Seolah-olah sedang jadi penonton
Kami menghabiskan waktu hampir 2 jam disini sekedar untuk berkeliling dan mendengarkan cerita dari tur guide. Untung masih musim semi jadi anginnya dingin. Saya agak menyesal pakai sweater karena matahari bersinar terik (mewajibkan kita memakai kaca mata hitam) dan saya jadi berkeringat. Nggak kebayang kalau kesini di musim panas, bisa gosong deh. Saran saya pakailah alas kaki yang enak karena jalannya sangat berbatu (reruntuhan) dan banyak tanjakan juga turunan. Lumayan banyak membakar kalori jika kita ke tempat ini. Beberapa cerita lain tentang tempat ini bisa kalian baca saja di internet ya. Kalau saya tuliskan semua, bukan blog lagi namanya tapi jadi wikipedia, hahaha😁.

Temple of Artemis
Sebelum ke tempat ini, tur guide bercerita kalau ada sebuah kuil bernama The Temple of Artemis yang juga dikenal sebagai Temple of Diana. Kuil Yunani ini didedikasikan untuk Dewi Artemis (dewi dalam mitologi Yunani anaknya Dewa Zeus). Begitu terkenalnya sampai masuk ke Tujuh Keajaiban Dunia pada zaman kuno (Seven Wonder of the Ancient Age). Saya langsung antusias bagaimana bangunannya dan disana pasti banyak orang. Nyatanya, saya hanya melihat hanya 'satu' pondasi yang tegak berdiri. Satu doang dan saya merasa agak zonk!😅
Satu pondasi di tengah
Sejarah mengatakan Temple of Artemis telah hancur sekitar tahun 401 Masehi. Kuil ini pernah dibakar pada 21 Juli 356 SM oleh Herostratus sebagai jalan menuju ketenaran pribadi (istilahnya seperti nggak ada angin nggak ada hujan malah dibakar kuilnya oleh si Herostratus). Kuil ini dibangun kembali setelah kematian Alexander Agung (yang anehnya lahir pada 21 Juli 356 SM), dan kemudian dihancurkan lagi pada 262 M oleh kaum Goth. 
Seharusnya beginilah Temple of Artemis pada masa lampau
Sangat sedikit sisa Artemesium (Artemis Museum). Lokasinya ditemukan pada tahun 1869 oleh arkeolog dan sejak saat itu penggalian terus dilakukan sampai sekarang. Beberapa artefak disimpan di British Museum di London. Saya dan keluarga hanya mampir sebentar di Temple of Artemis karena memang nggak ada apa-apa lagi disini yang bisa dilihat selain satu pondasi dan beberapa reruntuhan saja.

Huff, akhirnya selesai juga postingan yang membuat saya membuka banyak tab di laptop agar tidak salah dalam menuliskan sejarah. Terlalu panjang sejarah yang saya harus tulis membuat postingan kali ini harus saya stop dulu. Nanti saya akan menuliskan lanjutannya di postingan selanjutnya ya. Sabar-sabar, pasti dituliskan semua. Sampai jumpa 😊

Beberapa foto dari kamera Iphone 8 plus dan Gopro 6 Black Edition milik saya dan kamera Fujifilm Willy Sebastian (Instagram : willyarrows)

Sumber:
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip