Juni 09, 2018

What's on Pamukkale?

Selesai sarapan di Nicea Hotel Selçuk, sekitar pukul 11 siang, kami harus meninggalkan kota adem ini untuk melanjutkan destinasi berikutnya ke Pamukkale. Mobil jemputan sudah siap di depan hotel yang sudah kita book melalui tur guide ke Ephesus kemarin. Sebenarnya mau mencoba naik kereta antar kota. Tapi mengingat membawa orang tua dan takutnya agak ribet mengejar kereta, jadi kami memutuskan untuk naik mobil saja. Harganya nggak beda jauh (110 Lira perorang), langsung di jemput di hotel, dan nggak usah sambung-menyambung kendaraan.

Perjalanan ditempuh selama 2.5 jam sampai 3 jam (agak lupa berapa lama persisnya). Sempat mampir di rest area sekedar untuk ke toilet atau membeli souvenir. Kami tiba di Sahin Hotel, Pamukkale sekitar pukul 2, pas jam makan siang. Di seberang hotel sudah terlihat gunung batu kapur berwarna putih yang sangat populer. Sebenarnya kalau kalian mau ke kolam air panas bisa mendaki  gunung dari depan hotel, tapi itu agenda kami besok dan karena bawa orang tua nggak mungkin disuruh hiking ke atas😅.

Kami check in hotel Sahin, menaruh koper di kamar, dan makan siang di Hotel. Kami memesan 3 menu yaitu ayam, sapi, dan ikan trout. Menurut saya rasa makanannya biasa aja dan terlalu mahal untuk porsi yang agak kecil. Bahkan nasi hanya 2 sendok makan saja tapi disediakan roti yang boleh kita makan sepuasnya. Selagi makan siang, petugas hotel bertanya kita mau kemana aja hari ini dan besok? Saya bilang kalau hari ini belum ada rencana dan petugas hotel menawarkan paket tur milik temannya. Dia meminjamkan hp dan menyuruh kita untuk ngobrol sendiri dengan orang tur. Karena suara orang tur kurang jelas ditelepon, ditambah dengan logat English-Turkish, saya jadi kurang paham mereka ngomong apa. Alhasil, orang tur akhirnya datang ke hotel Sahin dan mengobrol langsung dengan kita. Dia menawarkan harga 270 Lira untuk tur keliling Pamukkale hari ini, besok, dan diantarkan ke hotel di Izmir. Berhubung saya dan keluarga tipe jalan-jalan santai dan mau nggak ribet, kita setuju aja membayar 270 Lira. Udah ditawar tapi nggak bisa😅.

Sebelum melanjutkan postingan tentang Pamukkale, saya akan menjelaskan sedikit tentang Travertine (travertin) yang mungkin akan sering saya sebut selama di kota ini . Travertin adalah bentuk batu kapur yang didepositkan oleh mata air mineral, terutama air panas dan paling terkenal di Pamukkale. Travertin sering memiliki penampilan berserat atau konsentris dan ada yang berwarna putih, cokelat dan biasanya berwarna krem​​.

Baiklah, saya akan menceritakan agenda saya hari ini di Pamukkale. Mari disimak:

Laodikeia
Mobil tur mengantarkan kami ke sebuah kota reruntuhan yang sangat luas membentang. Setelah kami turun, mobil tur malah pergi dan kita jadi seperti ditinggalin sendiri disana. Jadi teringat supir mobil tur kita setiap saya bertanya selalu menjawab dengan, "you know.... you know... bla bla bla... you know..." Dan ntah berapa kali saya menjawab, "Ye, I know.😩" Saya dan keluarga berjalan menyusuri jalanan setapak berbatu dan sampailah ketempat pilar-pilar yang sedang ada orang berfoto untuk acara pernikahan. Nggak enak juga kesini tanpa ditemani tur guide karena kami jadi nggak ngerti kota apa ini, kecuali baca sendiri di internet.
Jalan setapak
Reruntuhan pilar-pilar
Mari kita belajar sejarah Romawi (lagi). Saya dan keluarga kembali dibawa ke reruntuhan yang dulunya adalah kota metropolitan kuno di Phrygia Pacatiana yang dibangun di tepi sungai Lycus (Çürüksu), di Anatolia dekat desa modern Eskihisar Denizli, Turki. Kota ini semula disebut Diospolis, "Kota Zeus", dan kemudian Rhodas, lalu akhirnya menjadi Laodikea. Menurut sejarah, Laodikeia didirikan oleh Antiokhos II Theos, pada tahun 261-253 SM, untuk menghormati istrinya Laodice.
Pemandangan indah dan sunyi senyap
Pada zaman dahulu sering sekali terjadi gempa di tempat ini, makanya Laodikeia hancur berantakan. Sempat direstorasi berkali-kali tapi hancur kembali dan pada akhirnya ditemukan setelah menjadi ladang pertanian. Mungkin sewaktu para petani sedang menggali ladang, malah ditemukan banyak artefak pada jaman kuno. Penggalian Laodikeia telah mengungkapkan artefak yang berasal dari 3500 SM (Late Chalcolithic) hingga 3000 SM (Zaman Perunggu Awal). 
Indah
Pilar-pilar teater
Pada tahun 1970-an, Laodikea hanya merupakan area yang luas (5 kilometer persegi / 2 mil persegi) terdiri dari bukit-bukit yang tertutup rumput liar, dengan potongan-potongan reruntuhan di sana-sini, dan sama sekali tidak ada pengunjung. Beberapa teater cukup terlihat, tetapi sedikit yang bisa dibedakan satu dengan yang lainnya. Sampai sekarang pun ketika saya kunjungi, tempat ini masih sangat sepi. Bahkan saya mungkin tidak akan berani mengunjungi tempat ini di malam hari.
Teater lainnya
Pulang aja deh
Ada juga reruntuhan dibawah tanah yang agak sulit untuk difoto. Terdapat beberapa pilar-pilar dan patung yang tergeletak di tanah dan jalan yang (mungkin) bisa dilalui. Suasananya terlalu sepi dan saya kurang suka tempat ini. Sekitar 30 menit berkeliling, kami kembali ke pintu masuk. Kebetulan mobil turnya juga sudah datang kembali.
Cafe yang udah tutup di pintu masuk
Kaklik Magarasi
Pamukkale sangat terkenal karena travertin-nya. Begitu menakjubkannya gunung batu putih ini sehingga menarik lebih dari 2 juta pengunjung setiap tahun, menjadikannya sebagai tujuan wisata paling populer di Turki. Nah, ada tempat wisata unik lainnya yaitu "Underground Pamukkale", Gua Kaklik (Kaklik Magarasi). Terletak sekitar 45 km dari Pamukkale, gua itu ditemukan setelah runtuhnya struktur tanah diatasnya akibat gempa dan baru dibuka untuk umum sejak 2002.
Plang di depan gua
Tangga ke bawah
Pose dulu
Ketika kalian berjalan turun kebawah, mulai tercium bau sulfur yang sangat pekat. Hal ini dikarenakan air yang mengalir di dalam gua mengandung belerang dan sodium bikarbonat. Saya sempat mengambil airnya dan mengoleskan ke kulit yang gatal-gatal atau ada bekas gigitan nyamuk. Sewaktu pertama dioleskan sih nggak keliatan hasilnya. Tapi setelah pulang ke Indonesia baru kelihatan kulit jadi mulus dan bersih, hihihi😍. Lumayan perawatan kulit secara alami.
Air belerang
Air belerang dan travertin
Sudah ada tangga yang bisa ditapaki untuk turun ke dalam gua. Kira-kira 190 meter panjangnya, dan titik terdalam dari gua adalah sekitar 14 meter dari pintu masuk. Menurut saya pemandangan di dalam gua sangat cantik dengan lampu yang membuat travertinnya agak berwarna hijau cerah. Sayang banget Mama dan tante saya nggak ikutan turun padahal tangganya enak banget nggak terjal sama sekali.
Kolam air belerang
Mama dan tante duduk cantik dibawah pohon Maple menunggu saya bereksplorasi
Santai sore
Mobil tur membawa kami pulang ke hotel sekitar pukul 7 malam (masih sore bahkan masih lama waktu magrib). Saya dan keluarga memutuskan untuk jalan-jalan sekalian menikmati waktu senja. Saya sempat membeli es krim Turki yang terkenal dengan penjual es krim suka banget isengin pembeli. Benar saja, ntah berapa kali dikerjai, baru akhirnya bisa menikmati es krim 2 tangkup, hihihi. Mama juga sempat dikerjain dan mereka tega juga isengin orang tua. Nanti kualat loh😂.
Es krim Turki
Sore itu kami duduk-duduk di taman dekat gunung travertine sambil santai sore. Asik juga melihat warga lokal menghabiskan waktu bercengkrama dengan keluarga dan kami bisa merasakan hal yang sama. Memang kalau berkungjung ke suatu tempat adakalanya kita harus berbaur dengan masyarakat lokal, bukan sebagai turis. Saya sangat menikmati udara dingin sejuk sambil menikmati es krim. Sekaligus pemandangan anak-anak mengejer bebek yang menurut saya si bebek juga senang di kejar anak itu😅.
Duduk diantara bunga Pansy
Mengejar bebek
Kolam tempat bebek berenang dan bukit Travertin
Setelah adzan magrib berkumandang (jam 8 malam), kami memutuskan untuk menyudahi santai sore karena matahari sudah terbenam. Kami mampir di sebuah Chinese Resto karena kangen masakan Asia. Saya tidak memfoto makanannya tapi yang saya ingat saya sempat makan sebuah menu yang ada rempah pahit banget. Sewaktu kami tergigit rempah itu, rasanya mulut pahit dan pedas 😣sampai harus minum berkali-kali dan makan makanan manis baru rasanya bisa hilang. Nggak enak bangetttttt😭.

Baiklah, besok kita akan mengeksplorasi kolam air panas dan reruntahan kembali. Stay tuned!

Beberapa foto dari kamera Iphone 8 plus milik saya dan kamera Fujifilm Willy Sebastian (Instagram : willyarrows)

Sumber:
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip