Juli 07, 2018

Fairy Chimney & Rose Valley

Mari kita melanjutkan perjalanan mengeksplorasi Cappadocia. Mungkin ada sekitar 3 postingan lagi tentang Cappadocia yang akan saya tuliskan dan semoga kalian tidak bosan membacanya. Setelah itu, baru bisa menuliskan tentang Istanbul dan dilanjutkan dengan perjalanan ke Lombok. Banyak banget ya PRnya😓. Tapi tenang saja, saya masih bersemangat untuk menuliskannya agar bisa diingat sepanjang masa.

Seusai makan siang, destinasi selanjutnya yang akan saya dan keluarga kunjungi adalah Fairy Chimney (Fairy = peri, Chimney = cerobong asap, dan saya bingung cara menyatukan artinya), lalu kemudian dilanjutkan ke Rose Valley (lembah mawar, artinya aneh😅). Sebaiknya kalian nggak  usah menerjemahkan artinya ke bahasa Indonesia karena hasil terjemahannya kurang bagus😅. Baiklah, saya akan menceritakan satu-persatu tempat ini.

Fairy Chimney
Walaupun bernama Fairy Chimney, jangan pernah menganggap kalau jaman dahulu ada peri yang mengeluarkan debu kelap-kelip dan menyulap cerobong-cerobong asap ini. Pada kenyataannya, cerobong ini adalah hasil dari proses geologi yang dimulai jutaan tahun lalu. Letusan gunung berapi yang memuntahkan lava akhirnya membentuk Tufa (batuan keras yang terbentuk dari debu vulkanik) dan ditutupi dengan lapisan basalt.
Melompat kegirangan
Cerobong Peri
Seiring berjalannya waktu, angin dan hujan membuat erosi sehingga memahat lembah dan jurang berliku-liku sampai berlekuk dan membentuk cerobong setinggi 130 kaki. Basalt (batu hitam berstruktur lebih keras yang terbentuk dari aliran lava) terkikis lebih lambat dari Tufa, membentuk pelindung menyerupai topi peri yang runcing. Beberapa Basalt diatas bukit malah berbentuk seperti topi-topi jamur yang sangat unik. Subhanallah ya, proses yang memakan waktu jutaan tahun bisa membentuk bukit-bukit unik yang bisa kita nikmati sekarang. Kebanyang jutaan tahun kemudian?
Diantara cerobong
Mau naik unta?
Kami hanya mengeksplorasi tempat ini sekitar 30 menit untuk mengambil foto-foto saja. Beberapa pengunjung ada yang menaiki unta juga disini tapi saya tidak tau berapa harganya. Tempat ini terlalu gersang, dengan angin dingin dan cuaca sangat terik membuat langit berwarna biru terang. Pemandangan seperti ini seolah sedang berada di Timur Tengah dengan angin musim semi yang lumayan menusuk. Ketika orang-orang masih berekeplorasi, saya, Mama, dan tante malah belanja hijab di toko souvenir yang ada diseberang Fairy Chimney ini😆. Hijab dan pashmina disini lumayan bagus dan murah.

Rose Valley Sunset
Biasanya, rangkaian tur berakhir pada pukul 5 sore dan kami diantar ke hotel untuk beristirahat. Tetapi Willy sempat mengirim email kepada TurkeyInsider untuk mengatur tambahan destinasi Sunset Hike ke Rose Valley dengan membayar 10 EURO. Agak mahal sih harganya, tapi mau kapan lagi hiking ke Rose Valley.
Rose Valley
Bunga cantik
Kami dijemput sekitar jam 6.30 sore di hotel untuk kemudian menuju Rose Valley. Saya sudah antusias bakalan hiking dan sudah mengatur rencana agar Mama dan tante duduk saja di mobil atau Cafe terdekat karena nggak mungkin orang tua melakukan hiking. Pada kenyataannya, mobil tur membawa kami langsung ke puncak tertinggi Rose Valley dan menurunkan kami di deretan Cafe yang langsung menghadap ke matahari tenggelam. Tunggu, nggak jadi hiking nih?😓
Cafe tempat kami menunggu sunset
Walaupun agak kecewa karena nggak bisa hiking, paling nggak bisa duduk nongkrong sambil menikmati cemilan dan minum teh susu di pinggir lembah. Kenapa namanya Rose Valley? Ternyata lembah ini tersusun dari bebatuan berwarna kemerah-merahan yang bervariasi dalam warna dan intensitas tergantung pada waktu hari, musim dan kondisi cuaca. Walaupun menurut saya warnya agak pink bukan merah. Apa kalau cuaca bagus bisa merah banget ya warna lembah ini? Sewaktu saya mengendarai balon udara, lembah berwarna pink ini sangat terlihat cantik. Mungkin karena kami melihatnya dari atas.
Akhirnya sampai kesini
Senyumin aja
Kalian bisa berjalan dari satu lembah ke lembah lainnya karena menurut saya tidak begitu curam dan bukan jurang. Kalau pun terperosok, jatuhnya juga ke bukit-bukit lunak berpasir yang tidak akan membuat kalian luka parah. Paling lecet sedikit. Hanya saja disarankan menggunakan alas kaki yang enak supaya tidak terpeleset karena butiran-butiran pasir agak licin. Sepatu yang saya kenakan kemarin lumayan enak sih, cuma tetap agak takut kalau mau menyusuri lembah demi lembah dari atas. Seandainya hiking dari bawah, mungkin lebih berani (alesan)😆.
Under the Evil Eye Tree
Hal yang paling indah memang menikmati matahari terbenam. Saya dan keluarga sudah mengambil tempat yang bagus untuk menikmati ciptaan Allah yang sungguh sangat indah tersebut. Willy juga sampai mengeluarkan tripod dan berbagai macam peralatan penunjang kamera lainnya agar foto yang diambil jadi sempurna. Saya melihat banyak juga para pengunjung sudah duduk di tepi lembah untuk menikmati sunset tanpa takut terperosok dibawah pohon yang dihiasi mata-mata berwarna biru (sebagai jimat pembawa keberuntungan). Pemandangan sungguh sangat indah disini, Subhanallah!
Sunset
Setelah matahari menghilang, supir mobil tur mulai menyuruh kami bergegas pulang. Padahal masih ingin nongkrong sebentar lagi tapi supirnya buru-buru banget. Sampai sudah mengeluarkan mobil dari parkiran, sedangkan Willy masih beres-beres peralatan kamera terlebih dahulu. Walaupun sudah membayar 50 Euro untuk berlima tapi supirnya nggak mau rugi waktu juga😓. Setelah Willy beres, kami pun pulang.

Baiklah, nanti saya akan melanjutkan lagi ceritanya ya. Sampai jumpa! Beberapa foto dari kamera Iphone 8 plus milik saya dan kamera Fujifilm Willy Sebastian (Instagram : willyarrows)

Sumber:
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip