Juli 26, 2018

Pagi-pagi ke Selat Bosphorus

Saya dan keluarga akhirnya sampai di Istanbul nyaris tengah malam. Sepanjang penerbangan saya tidur, kecuali ketika makanan dibagikan baru bangun sebentar, makan, lalu tidur lagi. Baru bangun ketika sudah mendarat. Rasanya capek dan ngantuk banget deh. Setelah mengambil bagasi, hal pertama yang saya lakukan menukar uang Dirham ke Lira. Untung Money Changer masih buka. Agak kaget dengan petugas Money Changer berdandan gotik super seram dengan tato dimana-mana. Perasaan belum Halloween deh. Kok boleh ya petugas Money Changer seram begini? Setelah menukar Dirham, rasanya saya jadi kaya mendadak dengan uang Lira😎.

Kami mulai memikirkan transportasi dari bandara ke hotel yang jaraknya sekitar 40 menit. Ada orang menawarkan jasa sewa mobil dan tanpa basa-basi kami langsung menerima tawaran tersebut. Sudah terlampau malam dan tubuh juga sudah lelah. Daripada mencari-cari transportasi lagi. Kami semua naik ke mobil dan mobil pun jalan. Sepanjang jalan saya tidur lagi dan bangun ketika sudah tiba di Sahin Hotel. Kami masuk ke hotel, lalu check in. Resepsionis menyuruh kami membayar dengan uang cash senilai 2012 lira. Duh, baru aja kaya dengan uang cash, eh tiba-tiba harus menyerahkan hampir semuanya ke resepsionis😑. Untung masih cukup. Kalau nggak, nggak tau deh bakalan 'gimana. Kamar di Sahin Hotel lumayan sempit, apalagi mau dibandingkan dengan hotel di Cappadocia. Tapi kami tinggal di pusat kota dengan halte Tram cuma 100 meter dari hotel, bahkan rel Tram berada di pinggir hotel banget.

Sampai di kamar hotel, saya, Mama, dan tante tertidur pulas sampai waktu shalat Shubuh. Kami shalat, mandi, lalu sarapan. Tur guide selat Bosphorus akan menjemput kita jam 8 pagi dan pada saat itu kita harus sudah beres sarapan. Duh, padahal masih ngantuk banget. Super duper ngantuk dan capek juga. Biasanya selesai sarapan, saya ke toilet dulu baru menunggu guide Tur Bosphorus di lobi hotel yang bergabung dengan ruang makan.

Sekitar jam 8 lebih 15 menit, kami dijemput. Baru sadar ternyata hari itu Istanbul diguyur hujan yang lumayan deras sehingga membuat suhu udara jadi lebih dingin. Terpaksa harus mengenakan jaket thermal kemana-mana. Musim semi memang sangat rentan hujan, tapi yang aneh di Cappadocia malah kering-kering aja. Dinginnya tetep tapi kering seperti di negara-negara Timur Tengah ketika sedang musim dingin. Sebenarnya tur selat Bosphorus ini terdiri dari beberapa rangkaian tur. Tapi kali ini saya akan fokus menulis tentang selat ini saja karena inti dari Bosphorus Cruises Tour yang saya booking di bosphorustours.com adalah berlayar di Selat Bosphorusnya. Tempat-tempat lainnya akan saya tuliskan kemudian.
Santai
Kami dibawa ke dermaga untuk menaiki kapal. Tangga untuk menaiki kapal lumayan tinggi sehingga Mama dan tante harus berpegangan untuk naik ke kapal. Penumpang kapal lumayan sedikit dibandingkan dengan kapal yang begitu besar. Kalian bisa memilih tempat duduk sesukanya di dalam kapal tanpa perlu takut diambil orang saking sepinya kapal ini. Beberapa menit setelah semua penumpang naik, kapal pun berlayar dengan lumayan kencang. Pemandangan kiri dan kanan mulai silih berganti. Saya lalu keluar dari kapal menuju deck agar puas mengambil foto. Hujan sudah reda tapi udara dingin dan angin kencang membuat saya kedinginan juga. Pemandangan di selat dengan burung-burung camar berterbangan dan kota-kota di pinggir selat Subhanallah indahnya. Ahh, langsung hilang rasa ngantuk.
Jembatan penghubung Asia-Eropa
Bosphorus adalah selat alami yang menghubungkan Laut Hitam ke Laut Marmara, sehingga menjadi jalur air yang sangat strategis. Dulunya selat ini adalah sungai di sebuah lembah selama periode Tersier yang tenggelam oleh banjir besar di laut pada akhir periode ini. Panjangnya 32 kilometer (20 mil) di utara ke arah selatan, lebar bervariasi antara 730-3300 meter (800-3600 yard), dan kedalamannya antara 30-120 meter (100-395 kaki). Selat Bosphorus memisahkan bagian Eropa dari bagian Asia di Istanbul. Arus permukaan mengalir selalu dari utara ke selatan; namun, arus balik yang kuat di bawah permukaan menciptakan putaran dan pusaran air.
Pose dengan latar belakang jembatan
Bosphorus berasal dari kata Thracian yang berarti "bagian dari sapi", yang berasal dari legenda Io yang merupakan salah satu dari banyak pecinta Zeus. Dalam bahasa Turki dikenal sebagai Bogazici, yang berarti "selat dalam". Sejak zaman kuno, selat ini selalu memegang peranan penting karena lokasinya yang strategis dan menjadi satu-satunya bagian dari Laut Hitam ke Mediterania, bersama dengan selat Dardanella. Dahulu, selama Perang Dingin, selat sangat penting bagi angkatan laut Soviet. Selat Bosporus adalah jalur air yang sangat sibuk dengan banyak kapal dan kapal tanker minyak yang melewatinya, serta memancing dan feri lokal pergi ke sisi Asia bolak-balik. Sekitar 48.000 kapal melewati selat ini setiap tahun, tiga kali lebih padat daripada lalu lintas Terusan Suez dan empat kali lebih padat daripada Terusan Panama. Sekitar 55 juta ton minyak dikirim melalui selat setiap tahun.
Mama ikutan berpose
Ada tiga jembatan gantung di Bosphorus yang menghubungkan Eropa ke Asia (atau sebaliknya). Yang pertama dikenal sebagai "Jembatan Bosphorus" dan dibuka pada 29 Oktober 1973 yang menghubungkan antara Beylerbeyi dan Ortakoy. Nama jembatan ini diubah menjadi "Martir 15 Juli" yang didedikasikan untuk para korban upaya kudeta pada 15 Juli 2016. Panjangnya 1074 meter (1175 yard) antara dua pilar, memiliki 6 lajur, 165 meter (540 kaki) ketinggian dermaga.

Yang kedua dikenal sebagai "Fatih Sultan Mehmet Bridge" (atau FSM Bridge lama) dan dibuka pada 3 Juli 1988 antara Anadolu Hisari dan lingkungan Rumeli Hisari. Panjang jembatan FSM ini 1.090 meter (1192 yard), memiliki 8 jalur, dan 65 meter dari permukaan air. Jembatan FSM adalah bagian dari jalan tol TEM (Trans European Motorway) antara provinsi Ankara dan Edirne.

Yang ketiga dikenal sebagai "Jembatan Yavuz Sultan Selim" (atau Jembatan YSS) dan dibuka pada 26 Agustus 2016 yang menghubungkan antara Garipce dan Poyrazkoy di sepanjang pesisir selat. Jembatan ini adalah salah satu jembatan gantung terpanjang dan tertinggi di dunia yaitu panjangnya 1408 meter (1540 yard). Panjang antara pilar yaitu 322 meter dan lebarnya 59 meter (65 yard). Jembatan ini memiliki 8 jalur untuk kendaraan bermotor ditambah 2 jalur untuk kereta api. Sebuah jalan raya baru dibangun di kedua sisi jembatan ke-3 untuk perdagangan antarbenua dan lalu lintas komuter.
Salah satu pemandangan di pinggir selat yaitu benteng
Mama dan tante lagi santai
Bosphorus adalah salah satu daerah paling populer di Istanbul untuk penduduknya, terutama selama musim panas untuk iklimnya. Tepiannya dipagari dengan lingkungan yang bagus, istana Ottoman, benteng, vila kayu tua, hotel, taman dan kebun, restoran, kafetaria, dan sebagainya. Pemandangan ini sangat cantik dan syahdu yang membuat saya jadi ngantuk. Ntah karena kurang tidur dan ayunan riak-riak kecil di selat membuat mata ini hampir terpejam. Supaya nggak ketiduran, saya jalan-jalan terus di kapal, naik tangga ke lantai atas, foto sana-sini, sampai akhirnya jam makan siang pun tiba. Alhamdulillah nggak jadi ketiduran.

Nanti saya lanjutkan lagi ya. Sampai jumpa!

Sumber:

Beberapa foto dari kamera Iphone 8 plus, Gopro 6 Black Edition, dan kamera Fujifilm Willy Sebastian (Instagram : willyarrows)
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip