Juli 01, 2018

Staying at Cave Hotel Dere Suites Cappadocia

Saya akan bercerita tentang tempat saya menginap ketika berada di Cappadocia. Sebenarnya saya jarang menceritakan tentang hotel/hostel/penginapan dimana saya menginap kecuali memang tempatnya sangat unik. Cappadocia terkenal dengan masyarakat yang tinggal di dalam Goa. Sempat penasaran seperti apa menginap di dalam Goa dan akhirnya saya berkesempatan untuk merasakaan sebuah hotel super keren yang direkomendasikan sebagai herritage hotel di Cappadocia.
Tampak depan
Pertama sampai ke hotel ini, saya takjub melihat bangunan yang dibangun dari batu-batu gunung persis seperti hotel kebanyakan di Cappadocia. Kalian bisa membayangkan kalau pengembang hotel ini memecah gunung, memahatnya, dan menjadikannya sebagai hotel nan megah yang sangat artistik. Lampu-lampu temaram yang menghiasi setiap sudut hotel, pintu dan jendela, menjadikannya sangat romantis dan terkesan klasik. Saya jadi berasa tinggal di istana yang terbuat dari batu pada jaman dahulu😍.
Pemandangan dari atas
Hotel Dare Suites ini bertingkat-tingkat tingginya sampai sejajar dengan salah satu bukit di kota Urgup. Kalau kalian ingin melihat pemandangan malam kota Urgup, tinggal naik ke lantai paling atas yang merupakan resto tempat kami sarapan pagi. Saya agak ragu bagaimana nanti Mama dan tante harus menaiki tangga cukup tinggi untuk sarapan. Mau menurunkan makanan ke kamar juga agak kesulitan dan seberapa banyak sih makanan yang bisa dibawa dalam satu nampan. Saya bilang ke Mama dan tante, nanti naik ke atas pelan-pelan saja nggak usah buru-buru, sambil melihat pemandangan cantik dari teras-teras setiap lantai yang kami naiki.
Teras-teras setiap lantai Hotel
Pasti penasaran dengan kamarnya kan? Kamar saya berada di bawah tanah dengan lampu temaram di setiap sudut kamar. Koper-koper kita yang banyak diturunkan oleh petugas hotel, sehingga nggak perlu capek-capek mengangkatnya. Di setiap kamar ada penghangat supaya kita tidak kedinginan di musim semi yang terkadang suhu mencapai 5 derajat di malam-pagi hari. Di dinding kamar terdapat banyak ornamen seperti guci dan lampu tidur. Kamar mandi juga sangat klasik dan cantik. Tempat tidur yang empuk ditambah dengan kelambu membuat kami serasa seperti di kamar pengantin. Kurang suami doang nih😅.
Tempat tidur pengantin
Kamar diruangan lainnya
Yang paling saya sukai adalah bathtub yang berada pas di sebelah kamar tidur saya (ada dua kamar tidur di dalam kamar tempat saya menginap yang hanya dibatasi oleh pagar). Cuaca Cappadocia yang dingin di malam hari membuat saya betah berlama-lama berendam dengan busa melimpah memenuhi bathtub. Serasa seperti putri raja deh😎. Rutinitas saya setiap malam adalah berendam di bathtub sampai waktu yang tidak ditentukan. Kadang sambil main hp bahkan pernah hampir ketiduran saking rileksnya disitu.
Bathtub
Bersiap mau mandi
Untuk kalian yang suka tidur dengan lampu mati, saya tidak merekomendasikannya ketika tidur di dalam Goa karena bakalan gelap gulita. Bahkan nggak ada bedanya kalian menutup mata dan membuka mata. Awalnya saya matikan lampu ketika mau tidur, lalu mulai terasa agak menyeramkan karena ruangan super duper gelap. Akhirnya lampu saya nyalakan lagi dan lebih baik begitu. Kan lampunya juga temaram remang-remang. 

Yang nggak enaknya dengan lampu remang-remang adalah kalau mau beres-beres tas atau koper. Saya harus mendekatkan tas ke lampu meja, atau sekalian menyalakan senter karena kurang kelihatan benda-benda di dalam tas. Apalagi kebanyakan bagian dalam tas berwarna hitam, jadi lebih susah lagi dilihat dalam keadaan remang-remang. Saya juga jadi membatasi diri untuk berlama-lama di depan laptop karena lampu kurang terang membuat mata jadi cepat sakit.

Kamar adik saya dan Willy beda lagi. Karena mereka cuma berdua, jadi ruangannya tidak seluas kamar saya. Perabotan di dalam kamar tetap mewah dan sangat klasik, Lemari dan ranjang tidur mengingatkan pada masa-masa lampu dengan desain yang mewah. Langit-langit kamar juga berbatu-batu, tetapi tidak terlalu banyak ornamen di dinding. Kamar mereka berada selantai dengan resepsionis, jadi tidak perlu turun/naik tangga (seperti kamar saya) untuk masuk ke kamar.
Ranjang dan lemari klasik
Adik saya lagi main laptop
Kamar mandi
Yang kurang mengenakkan adalah pada saat itu wifi tidak sampai ke kamar. Resepsionis bilang, khusus kamar saya harus menggunakan akses poin sendiri karena letaknya di bawah tanah, sedangkan alat tersebut sedang tidak berfungsi. Saya sudah menyuruh petugas hotel untuk mengeceknya dan mereka juga menyerah. Katanya sih, yang bermasalah adalah provider internetnya. Jadilah setiap saya mau kerja harus buka jendela agar wifi bisa diakses yang kadang angin dingin pun ikut menyeruak masuk. Kalau mau enak internetan harus di ruang resepsionis, tapi kan lebih enak di kamar sendiri biar santai.
Selamat pagi dari Dere Suites
Ketika pagi menjelang, saya dan keluarga naik ke lantai paling atas untuk sarapan. Alhamdulillah tangga-tangga hotel enak banget dinaikin, jadi Mama dan tante nggak kesulitan mencapai resto tempat kita menikmati sarapan. Menu makanannya super duper banyak (buffet) dan kita bisa makan sepuasnya. Biasanya saya sudah mulai sarapan sejak pukul 8 dan nongkrong di resto sampai pukul 9.30. Saya makan mie, roti, omelet, kentang goreng, daging asap, sosis, buah-buahan, keju, dan berbagai macam lainnya. Sengaja makan banyak biar perut masih kenyang sampai makan siang nanti. Makanan yang disajikan pun sangat lezat, jadi pengen nambah terus. Untung saja saya tidak bermasalah dengan berat badan.
Pemandangan ketika sarapan
Untuk minuman, saya biasanya minum susu, jus, dan diakhiri dengan air putih. Botol mineral waternya kaca dan kita boleh ambil sepuasnya untuk diminum. Mau soft drink juga boleh-boleh saja dan ada kulkas sendiri untuk minuman bersoda. Pelayan resto juga cuek dan nggak melototin kita kalau ambil makanan dan minuman kebanyakan. Untungnya keluarga saya bukan tipe suka buang-buang makanan. Yang kami ambil pasti dihabiskan sehingga tidak mubazir.
Pintu kamar adik saya
Petugas Dare Suites dan Resepsionis sangat ramah dan mau menolong kita dengan senang hati. Pernah di hari terakhir kami di Cappadocia, kami minta tolong resepsionis hotel yang sedang bertugas untuk menelepon hotel di Istanbul karena booking.com tiba-tiba membatalkan pesanan saya. Resepsionis bahkan menawarkan diri untuk menelepon hotel di Istanbul dan karena sudah penuh, dia lalu membantu mencarikan hotel lain di Trivago dan menelepon lagi hotel hasil pencariannya itu. Sampai akhirnya kami tidak terlunta-lunta di Istanbul karena berhasil dibookingin hotel baru. Alhamdulillah.

Saya sangat menyarankan kalian untuk mencoba menginap di hotel berbentuk Goa kalau melakukan perjalanan ke Cappadocia. Kata guide, hampir seluruh hotel di Cappadocia berbentuk Goa dan hanya sedikit yang seperti hotel kebanyakan. Mungkin ntah kapan balik lagi ke Cappadocia, jadi sebaiknya mencoba hal-hal baru. Dare Suites ini merupakan salah satu hotel terbaik di Cappadocia dengan nilai 9.7 dari 10, dan telah direview lebih dari 500 orang di booking.com.

Baiklah, nanti saya akan melanjutkan cerita hari kedua di Cappadocia. Sampai jumpa.

Beberapa foto dari kamera Iphone 8 plus milik saya dan kamera Fujifilm Willy Sebastian (Instagram : willyarrows)
Reactions:

1 comments:

Tugu mengatakan...

Benar-benar pengalaman unik dan baru ya. Nginep di goa dengan fasilitas hotel.

Follow me

My Trip