Agustus 24, 2018

Kelingking Beach, Nusa Penida

Melanjutkan postingan di Bali. Setelah semalam tidur agak telat dan setelah shalat Shubuh tidak boleh tidur lagi karena harus mengejar kapal feri dari Pantai Sanur ke Pulau Nusa Penida. Sekitar jam 7 pagi kami sudah ngumpul di lobi hotel baru kemudian menuju dermaga dengan mobil. Sempat agak kelaperan karena belum sarapan pagi, jadi beli roti dulu di minimarket untuk cemilan.

Sekitar pukul 8 kurang, kami disuruh kumpul untuk kemudian bersiap naik ke kapal. Karena kapal tidak terlalu menepi ke pesisir pantai, jadilah kita harus berjalan memasuki laut yang tingginya lumayan sampai ke paha saya. Belum apa-apa celana udah basah. Ransel pun harus diangkut ke atas kepala supaya nggak terkena ombak. Ketika semua penumpang sudah naik, kami pun berangkat.

Karena kapal sudah penuh, saya dan teman-teman kebagian duduk di dek belakang kapal dekat dengan baling-baling. Ada beberapa turis malah harus berdiri karena tidak kebagian tempat duduk. Kalau berdiri pun nggak akan terlalu capek karena perjalanan cuma ditempuh selama 30 menit saja. Kapal melaju sangat kencang (fast boat), sehingga air dari baling-baling terpercik ke wajah kami. Saya jadi harus pakai kacamata 😎supaya melindungi mata dari air laut (bukan dari sinar matahari). Seandainya punya kacamata yang ada swiper (alat penghapus air seperti di mobil), mungkin akan lebih baik😄.

Sesampai di Pulau Nusa Penida, kami sudah dijemput oleh tur Guide. Sebenarnya perjalanan ke Nusa Penida adalah salah satu rangkaian tur dan survey Rancupid Travel dan kalau survey tempat biasanya saya sering ikut. Apalagi tempatnya emang belum pernah saya datangi sebelumnya. Menurut Rezki, tim saya di Rancupid Travel, destinasi paling keren di Nusa Penida adalah Kelingking Beach. Sayang kalau cuma berfoto di pinggir tebing doang, jadi lebih baik mencoba turun ke bawah. Ya sudah, kami semua mengikuti saran Rezki untuk eksplorasi Kelingking Beach saja. 
Tebing mirip kepala dinosaurus
Perjalanan dari dermaga Nusa Penida ke Kelingking Beach memakan waktu satu jam dengan jalan yang lumayan berkelok-kelok dan kondisi aspal yang nggak begitu bagus. Selama di perjalanan, saya ngemil roti sebagai ganti sarapan. Saya mengunyah terus sampai akhirnya kami sampai di tujuan. Mobil kemudian di parkir, dan saya hanya membawa dry bag saja untuk turun. Ransel saya taruh di dalam mobil. Kami kemudian berjalan menuju pinggir tebing dan pemandangan luarrr biasa indahnya terhampar sejauh mata memandang😍😍😍. Subhanallah! Beberapa tebing hijau berbentuk mirip kepala dan leher dinosaurus dengan laut berwarna gradasi sangat memukau. Wajar saja kalau pantai ini menjadi tujuan utama ketika berlibur di Pulau Nusa Penida. Berhubung masih pagi, jadi lumayan sepi tempat berfoto di pinggir tebing. Jadilah kami bisa berfoto dengan puas. Untuk mengambil foto yang bagus, tur guide sampai memanjat pohon supaya latar belakang tebing Pantai Kelingking bisa ikut terfoto.
Berfoto di pinggir tebing yang ada pagar
Rancupid Travel🎉
Setelah berfoto di pinggir tebing yang ada pagar, saatnya berfoto di tempat yang tidak berpagar. Duh disini saya deg-degan banget karena takut jatuh. Tapi tur guide menuntun saya untuk duduk dan menyakinkan saya kalau semua baik-baik saja. Asal jangan terlalu banyak bergerak atau bergeser, Insya Allah aman. Akhirnya saya jadi percaya diri untuk berpose, walaupun masih agak seram kalau melihat ke bawah.
Tebing tanpa pagar
Setelah puas berfoto, saatnya turun ke pantai dibawahnya. Kalian harus melalui jalan setapak yang mula-mula masih agak landai (sudut kemiringannya masih berkisar antara 20-45 derajat). Sebenarnya agak serem untuk menapaki tebing meskipun landai karena pagar di kiri dan kanan hanya berupa dahan kayu yang diikat tali. Saya sempat berpegangan sekuat tenaga pada pagar untuk membuktikan kalau pagar ini kuat. Dan benar saja, pagarnya kuat. Kalau pun bergeser, tetap masih kuat kok. Saya tidak terlalu capek pada 30 menit pertama penurunan dan sangat menikmati perjalanannya. Ditambah pemandangan tebing-tebing tinggi dengan air laut biru jernih sungguh mempesona.
Mari menuruni tebing
Pemandangan tebing yang indah
Jalan (agak) landai yang baru saya jalani di 30 menit awal
Nah, bagaimana dengan 30-45 menit selanjutnya? Kalian harus menuruni tebing sangat curam dengan jalan semakin sempit. Apalagi banyak juga orang yang berlalu-lalang, sehingga membuat kita harus bergeser. Disini saya sangat ngos-ngosan bahkan sempat duduk beberapa kali. Bayangkan, sudut kemiringan tebing mungkin sampai 90 derat (tegak lurus). Ntah berapa kali saya mengikat tangan dengan tali yang ada di pagar agar tidak jatuh. Mau melihat kebawah aja ngeriii😰😰😰 dan saya memutuskan untuk fokus sama proses berjalan turun. Napas sangat ngos-ngosan dan kaki mulai gemetaran. Beberapa kali kami disapa bule' yang senang melakukan pendakian. Jadi ngobrol dulu baru melanjutkan perjalanan. Ini baru turun, bagaimana nanti naiknya?😱
Jalan curam
Alhamdulillah akhirnya sampai juga ke pantai Kelingking yang Masyaa Allah indahnya😍. Rasanya tak sabar lagi ingin merebahkan diri ke pasir pantai yang bersih dan empuk. Kaki saya sangat gemetaran dan lemas karena kelelahan. Saya selonjoran dulu di pantai beberapa menit, baru deh bermain air laut. Kebanyakan saya berfoto disana-sini, berlarian mengejar ombak kesana-kemari, seolah-olah tenaga saya nggak ada habis-habisnya. Padahal cuma sarapan roti doang tadi dan baru turun dari tebing😅.
Alhamdulillah sampai
Pesisir pantai
Menurut saya Kelingking Beach ini memang luar biasa indah. Tapi kalian harus hati-hati dengan ombaknya yang sangat tinggi bahkan mencapai 3-4 meter. Suara deburan ombak sangat keras menghantam tebing dan pesisir dengan buih lautan kadang mencapai tempat kami duduk (padahal duduk agak jauh dari garis pantai). Beberapa orang bule' saya lihat justru melawan ombak, timbul - tenggelam - timbul lagi - tenggalam lagi. Kalau ombak setinggi ini sih saya nggak begitu berani untuk berenang sampai timbul dan tenggelam begitu. Takut kebawa ombak. Na'udzubillah 😣.
Pose dulu
Laut berwarna zamrud
Kami bermain di Pantai Kelingking sekitar dua jam lebih baru memutuskan untuk naik ke atas. Saya mulai lemes melihat trek pendakian yang super duper sulit. Kali ini sama aja dengan kalian memanjat tebing 90 derajat sampai 30 menit ke depan. Baiklah, bismillahirrahmanirrahim, saya naik. Kebayang memanjat tebing yang terkadang posisi pijakannya berada di dada kita. Ntah setinggi apa kaki harus diangkat agar bisa menapak sambil kita memegang tali yang ada di pagar. Mengangkat badan sendiri untuk menapaki tebing itu jauh lebih berat dan sulit daripada mengangkat barble yang cuma 2-5 kg. Terkadang banyak orang lewat dan menyapa kami, apalagi ada bule' yang menawarkan air minum pada saya mungkin karena melihat muka saya udah pucat. Saya hanya berterima kasih dan bilang kalau saya baik-baik saja. Hanya ngos-ngosan dan nanti juga sembuh sendiri. Dia lalu bilang ada pedagang minuman nggak jauh dari sini dan kita bisa beli minuman dingin disana. Baik banget bule'nya😍.

Sesampai di area landai, benar saja ada pedagang. Saya langsung beli Aqua dingin dan minum sambil duduk selonjoran di pinggir tebing. Duh rasanya segar banget, mungkin karena sudah kehausan. Kaki semakin gemetaran dan masih ada sekitar 30 menit lagi pendakian menuju parkiran. Setelah menghabiskan setengah botol aqua, saya melanjutkan perjalanan. Rezki sengaja memutar musik dan kebetulan dia bawa speaker portable supaya nggak stress katanya. Eh malah banyak bule' yang mengomentari musik kita asyik banget dan ada juga yang menuruni tebing sambil joget-joget karena mendengarkan musik kita. Di tempat landai sih masih bisa joget ya, coba nanti kalau udah sampai ke jalan yang curam?😅😅😅

Alhamdulillah tanpa kurang satu apa pun, akhirnya tiba di warung dekat parkiran. Saya beli Pocari Sweat dan duduk sejenak untuk membaca pesan di hp. Mana harus membaca email dan ada tugas yang harus saya approved di website, sehingga harus mengambil ransel dulu di dalam mobil. Karena kecapekan, saya jadi nggak mood makan siang. Mungkin tunggu reda dulu capeknya, baru nafsu makan datang lagi. Beberapa teman saya udah banyak yang makan, tapi ada juga yang nggak.

Selesai beristirahat, kami melanjutkan perjalanan ke Crystal Beach. Nanti saya cerita lagi ya. Sampai jumpa!
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip