Agustus 31, 2018

Crystal Bay Nusa Penida

Sepulang dari Kelingking Beach, kami melanjutkan perjalanan sekitar 45 menit ke Crystal Bay. Mumpung masih agak siang dan jadwal kapal cepat kembali ke Sanur masih lama, jadinya kita memutuskan untuk killing time di Crystal Bay. Yang agak susah di Pulau Nusa Penida ini adalah mencari tempat untuk shalat. Mesjid nggak ada dan tempat makan juga nggak menyediakan Mushalla😓.

Sesampai di Crystal Beach, mobil di parkir dan kami pun turun. Saya sebenarnya udah nggak mood mantai, karena terlalu capek di Kelingking Beach. Saya memutuskan untuk duduk santai dibawah pohon kelapa yang menjulang tinggi sambil makan siang saja di pinggir pantai. Suasana pantai memang enak dan menenangkan sehingga menyantap makan siang bisa sekalian melamun (tenang aja, saya bukan tipe orang yang suka melamun macam-macam kok😆) seraya memandang pasir pantai yang seperti kristal karena disinari cahaya matahari. Masya Allah indahnya! Saya agak menyesal tidak mengambil foto ketika warna pasir berkelap-kelip indah, mungkin karena keasyikan melamun😅.
Duduk di bawah pohon kelapa
Keindahan pantai pun semakin terasa karena berada pada posisi menjorok ke daratan dengan sebuah pulau kecil di tengahnya. Sayang saya nggak mood foto-foto waktu itu dan baru menyesal ketika sudah pulang ke Jakarta. Dibagian kiri dan kanan pantai Crystal Bay dibatasi oleh tanjung dari perbukitan yang membuat pantai ini terlindungi dari hempasan ombak. Jadi enak main di pantai karena ombaknya agak tenang. Pulau kecil yang berada di depan pantai dengan luasnya kurang dari 1 hektar menjadi pelindung alami dari terjangan ombak yang cukup besar. Istimewanya lagi, di pulau kecil ini ada sebuah pura yang dibangun oleh masyarakat sekitar, mirip seperti Pura Tanah Lot. Di bagian selatan pantai juga terdapat Pura Sad Kahyangan yang bernama Pura Penida. 
Santai
Selesai makan, saya dan beberapa teman melanjutkan mengobrol sambil menikmati ketenangan tanpa hingar-bingar Bali pada umumnya. Pantai yang saya sukai adalah yang menenangkan, bukan dipenuhi suara musik seperti layaknya diskotik. Sayangnya pantai ini banyak tumpukan sampah sehingga kalian bisa melihat babi hutan mengais-ngais sampah dengan leluasa. Serem juga sih, takut disamperin sama babi hutannya😨. Makanya saya sewaktu mengobrol dengan teman-teman jadi agak waspada karena jarak babi hutan dengan saya duduk lumayan dekat. Obrolan kami sempat terhenti karena ada pasangan bule' yang bertanya apakah kami melihat kunci motor mereka? Daritadi bule' itu udah mondar-mandir di depan kami sambil mencari-cari sesuatu. Akhirnya kita bantuin sejenak menguak rerumputan dan pasir-pasir. Alhamdulillah akhirnya ketemu juga kuncinya. Mungkin berkat kerja sama kita, hahahaha😆.

Sekitar pukul 3.30 sore, kami kembali ke dermaga supaya nggak ketinggalan kapal. Kali ini kami naik kapal duluan sehingga bisa dapat tempat duduk dimana saja, tapi teman-teman saya tetap memilih duduk di dek belakang. Biar kena angin katanya. Di perjalanan pulang, ombak memang lebih seram dan tinggi daripada perjalanan pergi. Sampai-sampai kapal mental-mental. Kalau yang nggak biasa melakukan perjalanan, bisa mabok laut tuh. Alhamdulillah saya bukan tipe mabok, tapi beberapa teman saya bahkan nggak bisa diajak ngobrol sama sekali karena mabok.

Setiba di Sanur, kami turun dari kapal yang berlabuh agak ke pesisir. Jadi nggak terlalu basah-basahan lagi celana ini. Rasanya pengen cepat-cepat kembali ke hotel untuk mandi keramas karena udah keringetan parah dari ujung rambut sampai ujung kaki. Muka juga udah gosong. Untung pantai Sanur dan Hotel Fontana deket banget, sehingga nggak usah kena macet dalam perjalanan pulang. Sesampai di hotel, kami turun dari mobil. Baru terasa banget kaki kaku dan keram bahkan untuk naik satu anak tangga aja butuh usaha. Saya sampai bilang ke Mas Enji, "Mas, duluan aja naik tangganya," dan Mas Enji bilang, "Kamu aja Mut yang duluan," seolah-olah dihadapan kita ada 1000 anak tangga, padahal cuma 1 tangga doang😂😂😂.

Setelah sampai kamar hotel, saya mandi dan bersiap nongkrong kembali. Kalau lagi jalan-jalan memang seolah-olah energi nggak ada habisnya. Malam itu saya dan teman-teman hanya jalan-jalan di sekitar Kuta dan nongkrong di Cafe saja. Setelah itu pulang ke hotel dan beristirahat karena besok akan melakukan penerbangan pagi ke Lombok. 

Nanti saya lanjutkan lagi ya cerita di Lombok. Alhamdulillah masih bisa berkunjung ke Pulau eksotis ini sebelum bencana gempa melanda. Sampai jumpa!

Sumber:
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip