September 05, 2018

Gili Trawangan

Sesampai di dermaga Gili Trawangan, saya heran karena ramai sekali pengunjung yang mayoritas adalah bule'. Saya baru tau kalau pulau ini sangat populer sebagai destinasi wisata untuk para wisatawan asing. Karena biasanya yang saya tau ramai hanya Pulau Bali saja. Hari itu kami menginap di Pandawa Beach Villa & Resort yang berjarak sekitar 20 menit mengendarai andong dari dermaga. Sekedar informasi, tidak boleh ada kendaraan bermotor di pulau ini sehingga kemana-mana harus naik sepeda atau andong. Dari pihak tur sih kami udah sekalian disewain sepeda untuk jalan-jalan berkeliling pulau.

Masalahnya adalah gimana cara bawa koper pakai sepeda😅? Buat wisatawan yang hanya membawa ransel sih enak pakai sepeda. Tinggal ditaruh aja ranselnya di keranjang. Bagaimana dengan saya dan Diana yang membawa koper? Ternyata ada alternatif lagi yaitu menyewa andong seharga Rp. 150rb. Nggak akan bisa ditawar lho harganya😐. Rezki dan Abby juga jadinya menaruh ransel di andong supaya naik sepedanya lebih ringan. Karena Diana masih pusing, dia ikut naik andong, sedangkan saya, Rezki, Abby, dan dua tur guide naik sepeda. Tur guide sekalian mengantarkan sepeda Diana ke hotel, makanya mereka ikutan mengantar kami sampai ke depan hotel, baru nanti balik lagi ke dermaga boncengan satu sepeda😂.

Kenapa memilih resort yang jauh dari dermaga? Pertama, karena saya ingin dapat private beach, sehingga bisa dengan santai menikmati matahari tenggelam nggak berdesak-desakan dengan orang lain. Kedua, karena resort di Lombok dan Gili itu harganya murah, cuma sekitar 600rb-800rb saja permalam dengan fasilitas hotel bintang 5. Karena saya suka menikmati liburan, jadi sekalian pengen menginap dengan nyaman. Dulu saya dan Diana sudah merasakan ngetrip versi ngemper karena gaji pas-pasan sampai dengan ngetrip versi santai dan enak. Kalau sekarang, udah kerja susah-susah, masa' ngetrip masih ngemper? Hahaha.

Kami mendapatkan kamar yang keren banget di Pandawa Resort, bahkan saking kerennya kamar mandinya tanpa atap😆. Itu keren apa nggak ya? Kebayang gimana mandinya agak was-was takut ada yang 'ngintip. Sampai saya memastikan ke bellboy kalau hujan gimana mau mandi? Kata mereka sih, Gili Trawangan nggak pernah hujan. Baiklah! Sudah kelamaan leyeh-leyeh di kamar dan ngobrol dengan Diana, akhirnya saya memutuskan untuk mandi. Baju renang yang dipakai snorkeling bisa sekalian di jemur di kamar mandi karena memang disediakan tempat untuk jemuran. Lumayan kan jadi nggak berat-beratin koper karena bawa baju basah.
Sahabat
Selesai mandi, saya samperin Rezki dan Abby yang udah duluan nge-tag tempat untuk menikmati sunset. Ada ayunan di pinggir pantai yang menjadi spot untuk berfoto. Saya jadi malas berfoto karena pakai celana panjang dan ayunan agak menjorok ke pantai. Kalau pakai celana pendek sih enak, jadi celananya nggak basah. Kalau saya mana bisa😅. Banyak banget yang mengantri foto di ayunan. Sampai ada pasangan yang agak ekstrim posenya, mereka manjat ke atas tulisan Pandawa yang membuat huruf 'P' jadi copot. Ahhhhh pada bubar deh orang-orang nggak jadi fotoan lagi😂.  Jadilah berfoto di spot-spot lucu yang sengaja dibikin oleh hotel untuk menarik perhatian para wisatawan.
Pandawa tanpa 'P'
Setelah matahari tenggelam, hotel memutar film layar tancap. Maunya film yang diputar yang Indonesia banget seperti Suzanna gitu😆, biar bule'-bule' pada tau siapa hantu paling menyeramkan di dunia ini, hahahahaha. Eh malah yang diputar film Harry Potter. Kami nggak ikutan nonton, mau naik sepeda aja keliling pulau sambil mencari makan malam. Biasanya kalau sedang liburan di Pulau, saya pasti akan mencoba berkeliling. Ntah itu dengan naik sepeda atau jalan kaki.
Mari mengelilingi Pulau
Perjalanan pun dimulai. Setelah kaki pegal karena panjat tebing di Kelingking Beach, snorkeling di tiga Gili, sekarang harus mengayuh sepeda berkeliling pulau. Bisa-bisa nanti saya berotot sepulang dari Lombok. Alhamdulillah seolah tenaga nggak ada habis-habisnya, jadi energi untuk mengayuh sepeda keliling pulau masih ada. Ternyata pulau Gili Trawangan ini jauh juga dan banyak tempat yang sangat gelap gulita. Kami jadi berusaha untuk mengayuh lebih kencang supaya melewati jalanan gelap, eh tiba-tiba malah ketemu jalan berpasir yang bikin sepeda susah jalan. Terpaksa turun deh dari sepeda.
Sepedaan
Pertokoaan
Sekitar satu jam bersepeda, kami berhenti di sebuah Cafe pinggir pantai yang banyak kucingnya. Kita memesan makan malam yang kebanyakan adalah makanan Eropa seperti spageti dan pizza. Saya, Diana, Rezki, dan Abby duduk di tempat seperti saung berlesehan sekalian bisa leyeh-leyeh. Lumayan menikmati suara ombak di malam hari sambil ditemani kucing-kucing lucu yang sengaja dipelihara oleh pemilik Cafe. 
Lanjut sepedaan
Melewati minimarket
Selesai makan, kami lanjut bersepeda. Kali ini harus melewati jembatan yang sempit banget sehingga harus turun dari sepeda. Agak serem karena jembatannya karena berbatasan langsung dengan laut. Jadi harus jalan perlahan-lahan. Nggak ada lampu jalan juga disini, sehingga harus pakai lampu dari hp. Setelah tiba di dermaga, Abby dan Rezki mau ke ATM dulu. Saya dan Diana menunggu mereka tapi malah bingung kok mereka hilang. Udah di telepon tapi nggak masuk (katanya sih hpnya kehabisan batre). Udah saya coba nyusul ke ATM tapi nggak ada orangnya. Hmm, jadilah saya dan Diana kirain mereka udah pulang dan ninggalin kita. Mau nggak mau kita jadi pulang berdua doang. Ternyata agak menyeramkan juga mengendarai sepeda malam-malam berdua. Mana jalanan gelap gulita dan kita cuma pakai lampu hp. Kalau mulai memasuki kawasan resort sih udah ada lampu. Tapi sebelum/sesudahnya itu malah gelap banget, seram, dan banyak pohon. Mana terkadang ada suara kerincing kuda andong lagi😰. Jadilah saya mempercepat mendayung sepeda. Sebenarnya saya nggak takut hantu, cuma takut ada jambret di jalan. Walaupun tur guide sempat memastikan kalau di Gili aman damai sentosa.
Gowes sepeda bareng Diana
Setelah sampai di Pandawa Resort, eh Rezki dan Abby malah belum pulang. Jadilah saya menunggu mereka dulu di lobi hotel sambil transfer video dari kamera Gopro. Sekitar setengah jam menunggu, baru mereka datang. Ternyata Rezki dan Abby nungguin kita di daerah dermaga, dan kita nungguin juga. Saling tunggu-tungguan malah membuat sama sekali nggak ketemu ya 'kan? Setelah semua kumpul, baru kita balik ke kamar masing-masing. 

Sepertinya waktu di Gili Trawangan terlalu singkat. Mengingap cuma satu malam di Resort sebagus itu rasanya kurang lama. Sewaktu sarapan, kami juga harus buru-buru makan karena jam 9 udah harus naik kapal di dermaga. Belum lagi harus gowes sepeda ke dermaga yang memakan waktu 20 menit. Nggak enak banget rasanya harus buru-buru sarapan apalagi menunya enak banget semuanya.  Apalagi kan saya makannya banyak😜. Tapi apa mau dikata, liburan di Gili Trawangan sudah usai.
Suasana di kapal
Kami naik sepeda ke dermaga, sedangkan seluruh tas dan koper ditaruh di andong. Kebetulan di depan hotel sudah tersedia andong, jadi nggak usah nyari-nyari lagi. Sesampai di dermaga, tur guide sudah menunggu kita bersama orang-orang lain yang menunggu kapal datang. Tepat pukul 9, kapal sudah siap di dermaga dan kita semua naik. Kali ini kapalnya lebih besar dan kita ikut bersama penumpang lainnya.

Kapal melaju dari Gili Trawangan ke pelabuhan Bangsal hanya sekitar 30-40 menit. Setelah itu kami dijemput kembali untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Nanti saya cerita lagi ya. Sampai jumpa!
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip