September 16, 2018

Palembang Culinary

Sepertinya ini adalah postingan yang paling saya sukai😋karena isinya makanan semua. Hampir semua makanan khas Palembang saya suka dan saya makan banyak banget selama disana. Ntah berapa puluh pempek yang sudah saya makan selama 3 hari😆. Tapi Palembang bukan hanya Pempek saja. Ada tekwan, Mie Celor, Martabak, dan lainnya yang akan saya tuliskan di postingan ini. Siap-siap ngiler ya🍴.

1. Angkringan Bandrek 555
Suatu malam sepulang dari jembatan Ampera, saya diajak Yayan mampir ke sebuah angkringan di Jl. Pangeran SW Subeki No. 38, 26 Ilir, Bukit Kecil, Kota Palembang.  Saya kira seperti angkringan di jalan-jalan dimana kita duduk berlesehan tapi ternyata tetap duduk di kursi. Disini kalian bisa menikmati segala macam cemilan seperti pempek, sate lilit, adaan, kue-kue seperti risol, dan sebagainya sambil minum bandrek. Harga percemilan sekitar Rp. 3000 - Rp. 5000 saja dan saya bisa mengambil beberapa buah pempek berbagai bentuk ditemani secangkir bandrek.
Selamat makan
Adaan dalam mangkok bakso mini
Bandrek
Malam itu saya dan Yayan mengobrol tentang India (kebetulan kita pernah kesana dan dia bahkan sudah pergi dua kali) sambil terus mengunyah. Semakin seru pembahasan tentang India, maka semakin banyak cemilan yang masuk ke mulut😄. Kata Yayan, ada sebuah jalan di Palembang yang isinya pedagang pempek semua dengan harga dimulai dari Rp. 1000. Sayang, kemarin saya tidak sempat mampir kesana karena padatnya jadwal dan singkatnya waktu. Insya Allah lain kali ya.

2. Martabak HAR Simpang Sekip
Saya baru tau kalau Martabak HAR adalah kuliner asli Palembang. Lokasi tempat ini berada di Jl. Jenderal Sudirman No. 1078, Palembang. HAR sendiri merupakan singkatan dari Haji Abdul Rozak, seorang saudagar keturunan India yang membuka Rumah Makan khususnya Martabak sejak tanggal 7-7-1947. Beliau meninggal tahun 2001 yang lalu dan 8 anak keturunannya telah mengembangkan cabang-cabang martabak HAR di sudut-sudut kota Palembang
Martabak Telur Ayam
Martabak Telur Bebek
Saya memesan Martabak Telur Bebek seharga Rp. 20,000 dan Martabak Telur Ayam Rp. 18,000. Saya sengaja ingin membandingkan kedua rasa martabak ini yang mana yang paling enak. Menurut saya, telur bebek lebih gurih dan lebih cepat kenyang. Mungkin karena strukturnya lebih padat. Sedangkan telur ayam lebih ringan di makan. Seharusnya Martabak Telur Bebek bisa dinikmati oleh 2 orang dan kebayang saya makan sendiri. Rasanya saya kenyang sepanjang malam😐. Tapi Martabak ini enak banget. Kok beda ya dengan yang di Jakarta? 😁

3. Rumah Pindang dan Kopi Musi
Saya agak jarang makan pindang apalagi ikan patin. Terakhir makan ikan gede ini di Banjarmasin setahun yang lalu dan baru makan lagi ketika berkunjung ke Palembang. Kata teman saya, Pindang adalah salah satu jenis makanan khas Palembang dengan kuah pedas berbumbu. Oh ya, lokasi rumah makan ini berada di Jl. Rajawali No.491, 9 Ilir, Ilir Tim. II, Palembang. Harga seporsi pindang ikan Patin Rp. 35,000 belum termasuk nasi.
Pindang Ikan Patin
Sewaktu Pindang ikan Patin dihidangkan, kelihatannya sangat menggiurkan. Ntah karena udah agak telat makan siang, jadi lapar berat ditambah menu yang disajikan sangat menggugah selera. Kuah pindangnya segar dan pedasnya pas banget. Apalagi ditambah cabe rawit, OMG! Rasa ikan sangat enak dan nggak banyak duri. Ikan patin memang disajikan dengan potongan sangat besar, jadi saya bisa dengan puas menikmatinya. Duh enak banget deh pokoknya.
Pose dulu (Suci, saya, Lia)
Buat kalian yang suka kopi, mungkin bisa mencicipi Kopi Musi. Saya nggak suka kopi, jadi nggak mencobanya. Daripada salah direview, hihihi.

4. Pempek Flamboyant
Rumah Makan Pempek yang satu ini punya 3 cabang dan saya makan di Jl. Radial samping Hotel Grand Duta. Kata Suci, Mamanya suka banget dengan pempek disini dan saya percaya aja karena Suci dan keluarganya sudah berteman dengan keluarga saya sejak saya belum lahir. Saya percaya apa yang dibilang Mama Suci enak, pasti enak😋😋😋.
Tampak depan
Saya memesan Pempek kapal selam dan ketika makanan datang, potongannya sangat menggiurkan😋. Duh, saya masih kebayang bentuk dan rasanya. Ditambah cuko yang kental dan super duper lezat. Suci juga memesan pempek kecil berbagai varian yang saya cicipi satu per satu. Memang rasanya enak banget deh. Disini kita bisa memesan pempek untuk dibawa pulang ke Jakarta atau dikirimkan langsung pakai JNE YES. Sayangnya karena longweekend, petugas JNE-nya sedang nggak ke rumah makan sehingga saya nggak bisa kirim. Jadilah saya memesan 46 pempek kecil seharga Rp. 150,000 dan saya ambil keesokan harinya untuk dibawa langsung ke Jakarta.
Pempek Kapal Selam super enyakkk
Pempek berbagai macam bentuk dan rasa
Buat yang suka kue srikaya dan es kacang merah bisa juga dipesan disini. Kemarin saya sudah pesan es-nya tapi tidak kunjung dibikin. Bahkan pelayannya lupa kalau saya memesan es kacang merah karena saya memesannya sebagai menu tambahan. Karena kelamaan, jadi saya membatalkan pesanannya. Memang sih pengunjung rumah makan ini ramai sekali tapi seharusnya pelayanannya ditingkatkan agar pembeli tidak menunggu terlalu lama😒.
Kue Srikaya

5. Mie Celor Asli 26 Ilir H. M. Syafei. Z
Nama Rumah Makannya panjang bener ya. Lokasinya berada di Jl. Merdeka no. 54, Palembang. Saya juga baru tau kalau Mie Celor adalah kuliner khas Palembang karena dulu sering makan di Yogyakarta. Mie yang satu ini sering dimakan untuk sarapan pagi dan porsinya lumayan besar. Saya sarapan Mie Celor sebelum ke Stadion Jakabaring, untuk mengisi tenaga supaya ketika nonton pertandingan olah raga jadi lebih bersemangat.
Tampak depan
Rasa Mie Celor ini mirip dengan Mie Koba Bangka. Bedanya, kuah Mie Celor lebih kental karena dimasak dengan santan. Saya bisa menyantap Mie ini dengan cepat saking enak rasanya dan gurih. Apalagi ditambah segelas teh panas menambah nikmat sarapan di pagi itu. Harga seporsi Mie Celor Rp. 15,000 dan cukup mengenyangkan untuk porsi sarapan pagi.
Mie Celor dan teh manis panas

6. Pempek Nony 168
Sebelum ke bandara, saya mampir ke Rumah Makan pempek yang terkenal karena ada satu lagi makanan khas Palembang yang belum saya cicipi yaitu tekwan (campuran daging ikan dan tepung tapioka yang direbus dengan mie soun, jamur, dan disajikan dengan timun). Teringat dulu tante tetangga saya di Lhokseumawe jago memasak tekwan yang super duper enak dan saya jadi ingin mencicipinya di kota asalnya.
Tampak dalam rumah makan
Menu
Rumah makan yang satu ini unik banget karena penyangga meja makannya adalah sepeda ontel. Kalian bisa menikmati tekwan seharga Rp. 20,000 dan pempek mulai dari Rp. 4000 disini dan rasanya jangan diragukan lagi enaknya. Duh, benar-benar seperti rasa tekwan yang saya rindukan. Teman saya menyarankan untuk mencampurkan cuko pempek ke kuah tekwan agar rasanya lebih nikmat. Benar saja, jadi ada rasa sedikit pedas yang menggugah selera.
Tekwan mantap
Saya sempat mencicipi pempek yang berisi pepaya di rumah makan ini. Lumayan unik rasanya karena campuran rasa segar pepaya dan gurih pempek jadi satu, ditambah pedasnya cuko. Agak sulit mengungkapkan rasa pempeknya dengan tulisan, jadi kalian harus merasakannya sendiri ya😆. 
Pempek isi pepaya
Baiklah, sudah 6 tempat makan saya tuliskan. Sebenarnya saya sempat nongkrong di Cafe keren yang menyajikan makanan ala Eropa. Hanya saja saya tidak menuliskannya karena sudah banyak Cafe seperti itu di Jakarta atau Bandung. Kalau jalan-jalan ke daerah memang paling enak mencicipi makanan lokal yang khas, daripada ke Cafe atau Resto mahal dan mewah.

Baiklah, postingan selanjutnya saya akan membahas penuh tentang Asian Games🎉🎉🎉. Sebelum menulis aja udah antusias duluan nih. Sampai jumpa!
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip