September 02, 2018

Snorkeling di Gili

Bangun pagi di The Jayakarta Hotel & Resort enak banget rasanya. Ntah karena kemarin capek banget, atau malah emang kasurnya yang terlalu empuk. Kali ini baru bisa mandi di bathtub karena udara AC yang dingin dan badan nggak keringetan seperti kemarin. Biasa kalau mandi berendam tuh minimal 30 menit baru puas. Selesai mandi dan dandan, saya dan Diana sarapan di pinggir kolam renang. Kali ini mau makan banyak karena takutnya nanti malah nggak sempat makan siang. Saya makan nasi goreng, roti, sereal, dan minum teh, jus, dan air putih. Banyak kan? Hahaha😆.

Kami menunggu Rezki dan Abby untuk menjemput saya dan Diana di hotel. Mereka baru tiba dari Bali tadi pagi, lalu dijemput oleh tur guide, baru deh jemput kita. Saya check out dari hotel dulu dan menunggu Rezki dan Abby di lobi. Setelah mereka datang, tur guide membawa kita makan siang ke resto Taliwang Ayam Nyaman yang semalam saya datangi (sudah saya tuliskan di postingan sebelumnya). Kami makan siang banyak banget, shalat, baru berangkat ke dermaga. 

Kalau saya baca-baca di internet, apabila mau menyebrang ke Gili Trawangan, kita harus naik kapal di pelabuhan Bangsal. Berhubung saya pakai tur, kami menyewa satu kapal hanya untuk saya dan teman-teman saja dan naiknya pun bukan dari pelabuhan Bangsal. Saya berganti baju renang di sebuah toilet di pesisir pantai yang kondisinya lumayan mengerikan😰😰😰 (jadi buru-buru ganti baju), baru kemudian semua tas dan koper diangkut ke kapal.
Perjalanan dimulai
Naik kapal
Pertama kalinya naik kapal, saya mulai agak pusing. Ombaknya lumayan tinggi dan arus laut sangat kencang. Duh, agak deg-degan juga mau berenang tapi masa' nggak dicoba? Kapal membawa kita ke sekitaran Pulau Gili Air yang terkenal dengan banyak ikan dan ada penyu berenang bebas. Kapal berhenti di tengah laut, lalu abang kapal menyuruh kita langsung melompat. Duh, saya jadi tambah deg-degan karena kapal goyang banget dan lautnya berombak. Saking goyangnya, Diana sampai muntah. Kasihan Diana jadi lemes, memang dia waktu itu kurang enak badan. Karena laut seperti ini kondisinya, jadi nggak berani berenang tanpa pelampung. Udah pakai pelampung, turun juga nggak berani 😩hahaha😄. Akhirnya memaksakan diri untuk tetap turun sambil pegangan tali kapal. Baru diem aja udah kebawa arus laut. Duh, seram juga. Saya mencoba untuk menyelam biar nggak kena ombak di permukaan laut, baru deh bisa melihat ikan-ikan yang super duper banyak😍. Tur guide sengaja menyiapkan roti untuk kita bagi-bagikan ke ikan. Alhasil, kita jadi dikerumuni ikan-ikan.
Ikan dimana-mana
Karena terbawa arus terus-menerus, jadinya kita kurang menikmati snorkeling disini. Saya meminta tur guide untuk pindah tempat karena saya jadi berenang dengan perasaan ketakutan terbawa arus. Malah jadi cepat capek. Tur guide setuju dan kami pun pindah tempat. Saya agak bingung karena abang kapal berhenti di tengah laut yang warnanya masih biru dongker. Kebayang dong berarti dalam banget lautnya😱. Bukannya kalau mau snorkeling harus laut yang agak dangkal ya? Ternyata terumbu karang di tempat ini memang banyak yang mati sehingga laut terlihat sangat biru. Katanya sih disini banyak penyu dan abang kapal memaksa saya untuk turun ke laut dan berenang. Duh bang, serem nih warna lautnya terlalu gelap😨. Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, saya turun dan kaget melihat sama sekali nggak ada terumbu karang tapi banyak banget penyelam di dasar laut.
Para penyelam
Saya memperhatikan para penyelam yang membawa kotak dari teralis dan ditaruh di dasar laut. Saya sempat muncul ke permukaan laut dan bertanya pada abang kapal apa yang dilakukan para penyelam. Ternyata mereka sedang membangun rumah-rumahan yang nantinya bisa untuk tempat terumbu karang. Wah, unik juga ya. Para penyelam itu kebanyakan bule' dan kayaknya santai banget berenangnya. Saya yang dipermukaan ntar berapa kali terbawa arus. Lagi asyik snorkeling, tiba-tiba ada penyu yang lagi berenang dan samperin saya. Wah so cute😍. Saya coba pegang tapi dia malah kabur. Jadi deh saya hanya bisa melihat penyu berenang-renang ke dasar laut, kemudian muncul lagi ke permukaan. Senang banget melihatnya.
Penyunya samperin saya
Dari jarak dekat
Setelah lelah, saya naik ke kapal dan beristirahat. Duh rasanya capek banget deh berenang di arus sekencang ini. Saya menunggu teman-teman yang snorkeling sambil mengobrol dengan abang kapal. Diana lagi tiduran karena sudah lemas, sedangkan Abby dan Rezki masih berenang ntah dimana. Setelah mereka berdua naik kapal, kami pindah tempat lagi. Hari ini seharian berenang terus deh. Muka udah gosong banget, tangan dan kaki udah belang-belang. Tapi saya bahagia😁.
Istirahat di kapal
Tempat selanjutnya adalah Gili Meno yang terkenal dengan 48 patung unik sebagai spot menyelam.  Saya takjub melihatnya karena keren banget bisa meletakkan patung di dasar laut dengan berbaris rapi berbentuk lingkaran. Patung-patung unik ini adalah buah karya seorang seniman Internasional Jason deCaires Taylor, yang bekerja sama dengan manajemen Resort Bask di Gili Meno. Patung ini sebenarnya memiliki tujuan baik yaitu selain untuk menarik wisatawan, dan juga untuk melestarikan kekayaan terumbu karang di perairan Gili Meno yang hampir mati. Peletakan patung di dasar laut ini diharapkan dapat menjadi media tumbuhnya terumbu karang dan biota laut lainnya. Menurut Jason, karang lunak dan spons laut seharusnya dapat tumbuh dengan cepat di permukaan patung dan lama-lama mengeras sehingga menciptakan terumbu karang baru.
Patung di dasar laut
Dikerumuni ikan-ikan
Dari hasil googling, ternyata Pemerintah Kabupaten Lombok Utara dan beberapa pihak di masyarakat tidak menyukai keberadaan patung-patung unik karya Jason ini dan mempertimbangkan pengangkatannya kembali dari dasar laut. Menurut para pejabat Kabupaten Lombok Utara, ke-48 patung ini mengandung unsur pornografi dan merupakan pajangan yang bersifat eksploitatif terhadap perempuan. Pose patung ini dimana seorang laki-laki memeluk seorang perempuan yang mengenakan bikini dan kain yang menutupi bagian bawah tubuhnya, dianggap sebagai pose yang mengeksploitasi perempuan dan berlawanan dengan nilai-nilai yang dianut di daerah Lombok Utara sebagai salah satu kabupaten yang religius. Menurut Kepala Desa Gili Indah peletakan patung-patung ini belum mendapat izin dari pihak pemerintahan desa. Meskipun pihak dusun sudah mengetahui mengenai penenggelaman ini dan warga setempat pun sudah menyetujui patung-patung ini untuk diletakkan di dasar laut. Selain itu pihak Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional menyatakan telah memberikan rekomendasi bagi penurunan patung-patung ini karena memiliki tujuan konservasi dan memenuhi syarat Balai KKPN bahwa pajangan tersebut dibuka untuk publik.
Terumbu karang dan ikan-ikan cantik
Sebenarnya memahat patung bisa dalam bentuk apa pun sih, misalnya bentuk rumah atau anak-anak atau binatang. Jadinya tidak menimbulkan kontroversi. Tapi apa pun itu, kalau saya lebih melihat ke tujuan patung dipahat untuk konservasi terumbu karang dan dari sisi seninya saja. Setelah puas berfoto di patung, kami pun berlabuh di Gili Trawangan. Huff, akhirnya selesai juga goyang-goyang karena terkena ombak.

Baiklah, postingan tentang Gili Trawangan akan saya tulis nanti ya. Sampai jumpa!

Sumber: 
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip