September 15, 2018

Tempat Wisata di Palembang

Ngapain aja di Palembang? Yang pasti adalah jalan-jalan ke tempat wisata yang terkenal di kota pempek ini. Alhamdulillah punya banyak teman di Palembang sehingga saya kemana-mana nggak sendirian. Ditambah lagi mereka dengan senang hati menjemput saya di hotel, menemani jalan-jalan, traktir makan, dan diantar pulang. Memang menyambung silaturahmi menambah rejeki. Makasih banget ya untuk kebaikan kalian. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan kalian. Amin😇

Baiklah, postingan kali ini akan menceritakan beberapa objek wisata yang saya kunjungi ketika berada di Palembang. Mari disimak:

1. Jembatan Ampera
Salah satu tempat yang paling iconic di Palembang adalah jembatan Ampera yang mempunyai panjang lebih dari 1000 meter, dengan lebar 22 meter (4 lajur kendaraan), dan ketinggian mencapai 63 meter. Dulu, jembatan Ampera pernah tercatat sebagai jembatan terpanjang di Asia Tenggara. Ide pembangunan jembatan Ampera sebenarnya sudah ada sejak zaman pemerintahan kolonial belanda di tahun 1906, dengan tujuan utama untuk menghubungkan dua daerah di Palembang yang terpisah oleh sungai Musi, yaitu seberang ilir dengan seberang ulu. Namun ide tersebut baru terealisasi pada tahun 1957 dan dinamakan Jembatan Bung Karno pada awalnya.
Jembatan Ampera
Persoalan politik di tanah air kemudian mengubah nama jembatan Bung Karno menjadi jembatan Ampera. Ampera merupakan singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat dan merupakan slogan yang kerap dipakai oleh Presiden Sukarno untuk merepresentasi perjuangannya memimpin negara mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Di awal pembangunannya, jembatan ini sengaja dirancang agar bagian tengah jembatan dapat diangkat sehingga kapal-kapal besar bisa melintas sungai Musi tanpa tersangkut badan jembatan. Pengangkatan badan jembatan dilakukan dengan cara mekanis, yaitu dengan menggunakan dua bandul pemberat yang terdapat di kedua menara dimana masing-masing bandul mempunyai bobot sekitar 500 ton. Kecepatan membuka jembatan sekitar 10 meter per menit, dan dibutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk membuka jembatan secara penuh.

Kini jembatan Ampera sudah tidak bisa dibuka kembali bagian tengahnya. Selain sudah tidak dilintasi perahu besar, waktu yang lama untuk membuka jembatan akan mengganggu arus lalu lintas yang ada di atasnya. Saat fungsi terbuka jembatan tidak digunakan lagi, maka bandul seberat 500 ton yang ada di kedua menara jembatan sudah diturunkan demi pertimbangan keamanan. 
Yayan, Suci, dan saya
Menurut saya, waktu yang tepat untuk berkunjung ke Jembatan Ampera adalah di malam hari. Selain karena lampu-lampu jembatan sangat cantik dan berwarna-warni, kalian bisa jajan dan menikmati aneka cemilan khas Palembang di sepanjang sungai. Kalau malas makan di pinggiran, banyak juga resto seperti KFC, J.CO, dan lainnya yang bisa kita jadi tempat nongkrong kita. Hanya saja karena longweekend, resto-resto ini penuhnya minta ampun dan AC jadi nggak terasa. Belum lagi harus antri berfoto di spot bagus.
Di atas jembatan
Saya diajak Yayan, pemilik blog Omnduut untuk naik keatas jembatan. Awalnya saya kira naik keatas itu beneran naik ke atas menara pakai lift atau tangga. Ternyata hanya naik ke atas jalan karena resto-resto tempat saya nongkrong itu berada di bawah. Tangganya agak tinggi tapi nggak melelahkan kok naiknya. Jembatan Ampera juga baru di cat ulang untuk menyambut acara Asian Games 2018, jadi warnanya masih merah menyala. Sayang tangga-tangga jembatan kotor banget. Memang sih kata Yayan kalau pagi udah bersih lagi karena dibersihkan petugas kebersihan, tapi kalau kotor begitu agak mengganggu pemandangan.

2. Bayt Al Quran Raksasa
Destinasi berikutnya yang paling terkenal di Palembang adalah Museum Al-Quran Raksasa yang berlokasi di Pondok Pesantren Al-Ihsaniyah, Jalan M Amin Fauzi, Soak Bujang, RT 03, RW 01, Gandus, Palembang. Tempat ini sering banget masuk instagram sehingga saya jadi ingin juga berfoto disana. Saya bersama Suci (teman SD) memarkir mobil di RS. Siloam, lalu berangkat ke Gandus pakai Grab. Katanya Suci, jarak Museum Al-Quran dari pusat kota Palembang lumayan jauh, jadi mending pakai Grab saja supaya nggak capek 'nyetir, apalagi Suci sedang hamil.

Ternyata perjalanan dari RS. Siloam ke Bayt Al-Qur'an hanya memakan waktu 30 menit. Mungkin orang daerah menganggap perjalanan 30 menit dengan kondisi jalan sepi adalah perjalanan yang jauh. Padahal baru ngobrol sebentar, eh udah sampai😅. Karena Museum sedang direnovasi, jadi kami masuk dari pintu samping. Kami membayar tiket masuk Rp. 5,000 perorang, baru bisa naik tangga menuju ruangan utama dimana Al-Qur'an raksasa bertinta emas dipahat di permukaan kayu Trembesi (kayu khas Palembang) yang berukuran panjang 177 cm, lebar 140 cm, dan ketebalan 2,5 cm. Saya terpukau dengan keindahan warna tinta emas dan Al-Qur'an yang bersusun sampai ke atap museum
Al-Qur'an raksasa
Al Qur’an raksasa ini dibuat oleh Ki Agus Syofwatillah Mohzaib pada tanggal 10 Ramadhan 1422 H atau pada tahun 2002 setelah beliau merampungkan pemasangan kaligrafi dan ornamen di pintu Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Di suatu malam saat Ramadhan, beliau berpikir untuk membuat Mushaf Al-Qur’an dengan ornamen dan ukiran khas Palembang dan menjadi mushaf yang terbesar di dunia. Tepat pada 1 Muharam 1423 (15 Maret 2002), satu lembar ukiran yang telah dibuat yaitu Surah Al-Fatihah dipamerkan pada acara peringatan Tahun Baru Islam. 
Lembar-lebar Al-Qur'an
Pada akhir tahun 2011, Al-Quran ini dinilai layak untuk dipublikasikan sebagai bacaan (awalnya hanya sebagai pajangan kaligrafi indah), sehingga pada tanggal 30 Januari 2012, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama seluruh Delegasi Konferensi Parlemen Organisasi Konferensi Islam (OKI) meresmikan penggunaan Al-Quran yang disebut sebagai Al-Quran terbesar yang dicetak di atas lembaran kayu. Butuh waktu sekitar 7 tahun untuk mengukir 630 halaman Al-Qur'an dan menghabiskan biaya sekitar lebih dari 2 Milyar untuk merampungkan projek Al-Qur'an raksasa ini.

Awalnya saya mengira tempat Al-Qur'an ini dipamerkan sangat luas (mungkin karena mendengar kata Museum yang identik dengan ruangan yang besar), tapi ternyata hanya sebuah ruangan tinggi menjulang. Al-Qur'an sendiri berlanta-lantai, tetapi hanya bisa mengakses lantai satu saja karena masih tahap renovasi. Lembaran-lembaran Al-Qur'an di lantai-lantai lainnya yang tidak bisa diakses jadi berdebu dan bersarang laba-laba. Seharusnya tetap diperhatikan pemeliharaannya agar tidak berdampak pada kualitas kayu. Semoga setelah renovasi, museum ini bisa menjadi lebih baik lagi.

3. Kampung Arab Al-Munawwar
Pagi terakhir di Palembang sebelum balik ke Jakarta, Yayan mengajak saya ke suatu tempat yang katanya sangat unik dan saya (bisa jadi) belum pernah dengar. Berhubung saya hanya seorang pendatang, jadi saya ikut saja kemana Yayan bawa saya pergi. Kami bahkan melewati banyak kuburan (TPU Naga Siwidak) dan katanya ada pasar yang terkenal disini yaitu Pasar Pocong karena para pedagangnya berjualan di sisi kuburan persis👻👻👻. Hmm seram juga sih, tapi sebenarnya sangat menarik. Apa pernah ada pocong yang pergi berbelanja? 😩😩

Saya dibawa Yayan ke Kampung Arab Al-Munawwar 13 Ulu Palembang. Nama kampung sendiri diambil dari tokoh sesepuh yaitu Habib Hasan Abdurrahman Al-Munawwar. Jujur saja saya belum pernah sama sekali mendengar kampung ini, bahkan dari teman-teman atau saudara yang tinggal di kota Palembang pun nggak pernah menceritakan kampung dimana kita bisa melihat bangunan-bangunan rumah tempo dulu yang sudah berusia lebih dari 200 tahun. Dulunya kampung ini didatangi oleh seorang tokoh sepuh keturunan Arab yang membawa ajaran agama Islam ke kampung Arab ini. 
Pemandangan kampung
Begitu sampai di lokasi kampung, kami membayar tiket masuk seharga Rp. 10,000 perorang. Pemandangan rumah-rumah kayu dengan jendela dan pintu tinggi yang unik menyambut saya dan Yayan. Menurut saya, bentuk rumah panggung seperti ini mirip di Aceh, apa karena Aceh merupakan daerah yang pertama kali dikunjungi pedagang dari Arab juga kali ya? Ada juga bentuk pintu dan jendela seperti di rumah Betawi tempo dulu.  
Jendela tinggi
Ada nanas imut
Saya dan Yayan berjalan menyusuri kampung sampai ke pinggir sungai. Kami berfoto di beberapa rumah yang bentuknya unik atau di cat warna-warna pastel. Hari itu Palembang sangat terik dan saya lupa bawa kacamata hitam. Jadilah agak kesulitan menikmati pemandangan karena silau. Dari jauh tampak beberapa perahu di pinggir sungai. Tapi karena airnya surut, jadi terlihat banyak sampah disini. Semoga bisa segera dibersihkan agar pemandangan jadi lebih indah.
Duduk di rumah panggung
4. Taman Wisata Alam Puntikayu
Sebelum ke bandara, beberapa teman di Palembang mengajak saya jalan-jalan dulu karena masih ada cukup waktu. Kali ini saya diajak ke taman hutan pinus yang bernama Puntikayu. Lokasinya berada di Jl. Kol. H. Burlian Km.6,5 Karya Baru Sukarame. Kata teman saya disini banyak monyet, sehingga saya tidak berani memakai kacamata dan menaruh hp di saku supaya nggak diambil monyet. Tiket masuk kendaraan Rp. 10,000 dan tiket pengunjung Rp. 5,000.
Tiket masuk
Tempat ini sangat hijau dan asri dimana pohon pinus menjulang tinggi. Sebenarnya Puntikayu berfokus pada Family Gathering dimana kalian bisa melihat banyak keluarga yang sedang piknik, dan juga untuk outbond. Saya memperhatikan banyak anak-anak remaja sedang melakukan flying fox, menaiki jembatan tali dua atau jembatan gantung, dan sebagainya. Saya malah nggak melihat monyet sama sekali disini. Mungkin karena orang-orang terlalu ramai, jadi para monyet bersembunyi.
Hutan Pinus
Karena ingin melihat monyet saya masuk ke satu zona khusus binatang dengan membayar tiket lagi sebesar Rp. 10,000. Ketika masuk, saya agak kecewa melihat binatang yang kurus-kurus dan terlihat kurang terurus. Bahkan kucing anggora/persia juga dipamerkan disini. Agak aneh kucing dijadikan tontonan. Biasanya kan kucing di rumah. Jadi teringat Taman Safari dimana hewan disana gemuk-gemuk dan sehat. Kami hanya menghabiskan waktu sekitar 30 menit disini, lalu kembali menuju bandara.
Gelang sebagai tiket masuk
Baiklah, saya hanya membahas 4 tempat wisata saja. Postingan selanjutnya saya mau menuliskan tentang Asian Games atau kuliner di Palembang. Tergantung mana yang saya mood tulis duluan😁, hahaha. Menulis begini harus menunggu mood bagus agar hasil tulisan jadi bagus pula. Sampai jumpa!
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip