September 01, 2018

Welcome to Lombok

Ini adalah cerita perjalanan saya sebelum Ramadhan kemarin tepatnya di bulan Mei. Alhamdulillah sempat mengunjungi Pulau Lombok yang eksotis sebelum bencana gempa melanda. Jadi sedih mengingat Lombok yang porak-poranda sekarang, padahal bulan Mei kemarin masih sangat indah. Semua kejadian itu pasti ada hikmahnya. Lihat saja daerah kelahiran saya Aceh dimana tahun 2004 gempa lebih dari 9 SR mengguncang, lalu kota Banda Aceh dan Meulaboh luluh lantak diterjang tsunami. Dulu saya masih sekolah di Banda Aceh dan merasakan gempa yang begitu besar ditambah tsunami yang membuat setengah teman sekolah hilang itu meninggalkan trauma mendalam (saya pernah menuliskannya disini). Tapi lihat sekarang setelah 14 tahun berlalu? Banda Aceh adalah kota dengan banyak penghargaan di bidang tata kota dan lingkungan hidup. Kita tidak tau apa rencana Allah, tapi pasti yang terbaik untuk masa depan. Semoga masyarakat Lombok yang selamat dari gempa diberi ketabahan, semoga para korban yang meninggal diterima amalannya dan mendapat syurga. Semoga kotanya segera pulih. Aminn ya Rabb!
Welcome to Lombok
Baiklah, saya tidak akan membahas kesedihan yang diakibatkan gempa, tapi saya mau menuliskan tempat liburan dan kuliner seru selama saya berlibur di Lombok. Saya terbang ke Lombok dari Bali dengan menggunakan maskapai Lion Air yang pada hari itu super duper ontime. Murah banget harga tiket pesawat dari Bali ke Lombok, cuma Rp. 200rban dan lama penerbangan hanya 30 menit. Baru duduk di pesawat, tidur, eh udah mendarat di Bandara Internasional Lombok. Bahkan saya merasa cuma tidur sedetik karena kecapekan panjat tebing di Kelingking Beach. Agak bingung juga karena sampai terlalu cepat, sedangkan teman saya Diana masih di Jakarta dan pesawat malah delay. Saya jadi menelepon orang-orang yang bisa di telepon untuk killing time dan mengerjakan pekerjaan di laptop sembari menunggu Diana.

Sekitar pukul satu siang (saya sudah menunggu 3 jam lebih), Diana akhirnya mendarat juga. Untung saja saya sudah makan dulu di bandara dan kita bisa langsung melanjutkan perjalanan ke hotel The Jayakarta Lombok yang berlokasi di pesisir Pantai Senggigi. Kami naik Damri dari bandara ke Senggigi dengan membayar tarif Rp. 30,000. Damrinya agak kecil dan sempit, terus nggak bisa masukin koper ke bagasi bus. Jadi harus dinaikin ke dalam bus dan diangkat kedalam tempat untuk menaruh koper, mana berat lagi koper saya dan badan masih pegal-pegal.

Perjalanan pun dimulai. Saya kira Bandara ke Senggigi itu palingan hanya 30-40 menit. Ternyata udah lebih satu jam tanpa macet belum sampai juga ke hotel. Betapa jauhnyaaa😩😩. Mana bus nggak ada AC, cahaya matahari langsung kena ke wajah tanpa gorden di jendela, dan saya udah keringetan parah. Haduwh ya Allah, kok nggak sampai-sampai? Akhirnya saya bertanya pada bapak supir berapa lama lagi perjalanannya dan katanya masih 10-15 menit lagi ke Senggigi. Beruntungnya Damri melewati pas di depan Hotel Jayakarta jadi kita tinggal turun dan jalan kaki ke lobi hotel yang ternyata jaraknya jauh dari pintu masuk. Kebayang menggerek koper di jalan dengan badan penuh keringat. Untung ketika sampai lobi, kami disuguhkan Welcome Drink 🍷, sehingga bisa lumayan mendinginkan badan.

Pelayanan di hotel The Jayakarta memang oke banget sih. Semua koper dan ransel dibawa oleh bellboy dan saya hanya bawa diri doang ke kamar. Kita memang meminta kamar di pinggir pantai jadi lumayan jauh juga jalannya dari pintu lobi hotel. Sampai di kamar, AC dinyalakan dan langsung bisa santai sejenak. Duh, rasanya enak banget udah sampai hotel karena bisa istirahat sebentar. Setelah badan agak dingin, saya mandi. Rencana mau berendam di bathtub tapi malas pakai air panas soalnya masih gerah. Kalau mau mandi berendam pakai air dingin sih ke kolam berenang aja sekalian😆.
Sengigi Sunset
Setelah saya dan Diana mandi, kami kemudian berjalan menyusuri Pantai Senggigi. Kalau kalian mau menikmati matahari terbenam paling bagus adalah dengan menginap di hotel atau resort di pinggir pantai seperti saya. Selain sepi, memang view matahari tenggelam terbaik bisa dinikmati dari sini. Sayang waktu itu agak mendung, tapi saya tetap bisa mendapatkan rona jingga dari pendaran cahaya matahari tenggelam. Masya Allah indahnya😍! Saya duduk diayunan tanpa terganggu orang yang mengantri. Rasanya pantai milik pribadi.
Yang mau menikmati makan malam romantis
Setelah malam menjelang, saya dan Diana memutuskan untuk makan Ayam Taliwang. Sempat mencoba memesan taksi online dari aplikasi tapi nggak ada satupun yang datang. Saya kemudian meminta resepsionis hotel untuk memesankan taksi. Setelah taksi datang, barulah kami jalan-jalan. Sempat browsing dimana Ayam Taliwang terenak, maka supir taksi mengantarkan kami ke Resto Taliwang Ayam Nyaman yang berlokasi di Jalan Adisucipto no. 15 A. Tempatnya ramai sekali dan saya lihat menu yang dipesan orang-orang sangat menggiurkan. Jadi nggak sabar ingin makan. Besoknya pun ketika Abby dan Rezki datang, tur guide membawa kami ke resto ini lagi😅. Berarti memang pilihan warga Lombok sendiri nih tempat makannya. 
Daftar menu
Setelah duduk, kami diberikan daftar menu. Menurut saya harganya lumayan mahal karena ayam bakar/goreng saja Rp. 45,000. Udah seperti makan di resto mewah di Bandung. Baiklah, kapan lagi ke Lombok, jadinya saya memesan banyak makanan. Saya satukan di postingan ini segala menu yang saya pesan di hari pertama dan hari kedua di Lombok supaya tidak double posting yah.
Pesanan saya dan Diana
Sewaktu masih berdua dengan Diana, saya memesan ayam, ikan, kangkung, tempe, dan nasi yang ternyata porsinya jumbo. Sempat ragu bakalan habis apa nggak tapi ternyata habisss tak bersisa😂😂😂. Rasa ayam bakarnya enak banget, bumbunya pas, sambalnya enak, apalagi ada sambal kacang juga. Ikan gurami juga empuk dan kriuk, nggak bau. Enak banget pokoknya. Sepertinya ini adalah ayam taliwang paling enak seumur hidup saya, hahaha.
Ayam bakar Rp. 45,000
Besoknya kami memesan menu cumi karena semalem belum sempat merasakan cuminya. Rasanya enak banget dan lumayan empuk. Tapi berhubung saya pakai behel, jadi nggak bisa terlalu banyak mengunyah cumi karena nanti gigi saya capek. Harap maklum ya, pakai kawat gigi membuat power mengunyah jadi berkurang drastis, hehehe. Tapi rasanya enak banget kok. Sayang harganya terlalu mahal.
Gurame goreng Rp. 50,000
Cumi bakar Rp. 75,000
Setelah kenyang, saya dan Diana melanjutkan mampir di toko oleh-oleh Anjani yang berada persis di depan resto Ayam Taliwang. Oh ya, supir taksi jadinya mau mengantarkan kami jalan-jalan. Lumayan deh daripada bingung mau naik apa, sedangkan kendaraan umum nggak ada di malam hari. Baru hari pertama, saya dan Diana jadi belanja oleh-oleh😅. Karena saya yakin di hari-hari berikutnya jadwal terlalu padat, sehingga bisa jadi kami nggak sempat belanja.
Aneka macam oleh-oleh makanan khas Lombok
Menurut saya, harga oleh-oleh di Lombok juga lumayan mahal. Rata-rata harga berkisar diatas 20rb. Bahkan permen jelly harganya bisa diatas 50rb. Kalau saya membandingkan dengan oleh-oleh Krisna di Bali atau kerupuk di Palembang, oleh-oleh Lombok termasuk mahal. Kayaknya cuma beli beberapa permen Jelly, keripik, dan manisan, eh udah 200rban lebih. Ya sudah deh, kapan lagi? Hihihi😉😉. Kami mengunjungi beberapa toko oleh-oleh bahkan sampai ke kota Mataram. Ada yang menjual khusus kain Lombok dan kaos, ada juga yang menjual makanan hampir sama dengan toko Anjani. Lombok di malam hari sepi banget, bahkan kendaraan yang berlalu-lalang pun sedikit sekali.
Terbaik di Ambon, di jual di Lombok, produksi kota mana gitu lupa.
Sepulang dari belanja oleh-oleh, saya minta supir taksi mengantarkan kami ke Cafe-cafe tempat anak-anak gaul biasanya nongkrong. Ternyata di Senggigi bagian atas banyak Cafe tapi makanannya serba Eropa. Perut masih super duper kenyang, jadi nggak mungkin makan lagi. Daerah Senggigi memang banyak banget bule', hampir sama seperti Kuta, Bali. Hanya saja, jalan di Senggigi tidak sesempit di Kuta, jadi lebih enak kalau mau bawa mobil.

Setelah berhenti sebentar di deretan Cafe kece, saya dan Diana memutuskan pulang. Kayaknya istirahat di hotel lebih nyaman, apalagi kamarnya enak banget. Kami membayar taksi Rp. 100rb untuk jalan-jalan malam itu. Oh ya, kalau kalian suka kain Lombok, mending beli di hotel karena harganya jauh lebih murah daripada toko oleh-oleh. Agak heran, biasanya di hotel seharusnya lebih mahal, kok ini lebih murah? Bahkan hiasan meja dan jelly lebih murah di hotel. Tau 'gitu nggak usah belanja di toko oleh-oleh aja tadi😐. Cuma sudah terlanjur. Saya jadi beli kain aja di hotel untuk dibikin baju nantinya.

Jadi teringat, sewaktu saya ke Lombok kemarin, banyak banget teman-teman saya juga melakukan trip kesana di bulan Mei, Juni, dan Juli. Jadi kita benar-benar punya banyak dokumentasi foto keren sebelum gempa terjadi. Semoga Lombok bisa segera pulih lagi ya. Amin! Besok saya akan melanjutkan perjalanan ke Gili Trawangan. Stay tuned!
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip