September 13, 2018

Welcome to Palembang

Sempat dapat voucher cashback Rp. 400,000 dari kartu kredit HSBC Indonesia yang harus dipakai dalam bulan Agustus dan saya agak bingung mau diapain. Lagi nggak pengen beli apa-apa juga. Biasanya saya suka belanja kerudung di Hijup, atau baju di Zalora, tapi sekarang lagi belum pengen lagi. Awalnya mau dibelanjain aja di Marketplaces seperti Tokopedia, Shopee, atau Lazada, beli apa pun deh. Tapi tetap aja nggak tau mau beli apaan.

Karena tanggal 17 Agustus 2018 kemarin adalah tanggal merah dan kebetulan jadi longweekend, sepertinya cashback ini memang paling bagus digunakan untuk jalan-jalan. Semula agak bingung juga mau kemana ya karena kalo dipakai untuk tiket pesawat Rp. 400,000 nilainya lumayan kecil dan saya sedang agak berhemat. Kebetulan Agustus sedang tinggi banget euphoria kita di acara Asian Games 2018 Jakarta - Palembang, maka akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke Palembang saja. Mumpung belum pernah juga ke kota itu dan saya lagi pengen makan pempek😋.

Ternyata memutuskan ke Palembang dalam rangka longweekend ditambah event Asian Games 2018 agak salah deh. Pertama, semua hotel mahalnya minta ampun. Bahkan yang bintang 2 saja harganya Rp. 1,300,000. Gile ya, seandainya bintang 5 sih saya mau aja book karena lebih worth, bahkan Airy Rooms juga harga permalamnya lebih dari sejuta. Jangan ditanya berapa harga hotel bintang 5, udah seperti Ayana Resort di Pulau Komodo. Mungkin semua hotel di Palembang memanfaatkan momen perhelatan olah raga akbar se-Asia, makanya dimahalin deh semuanya. Untungnya saya punya voucher agoda dan bisa dipakai di Reddoorz (sejenis budget hotel juga seperti Airy Rooms), sehingga saya mendapatkan kamar di Reddoorz Lemabang yang kebetulan dekat dengan rumah Suci teman saya, seharga Rp. 450,000 untuk dua malam.

Sebelum berangkat ke Palembang, saya tidur jam 7:15 malam (setelah shalat Isya) supaya nggak kecapekan karena mengejar pesawat pagi. Jam 3 dini hari harus jalan ke bandara karena jadwal penerbangan pesawat Batik Air pukul 6.20. Kalian tau, terminal 2 bandara Soekarno Hatta udah seperti pasar saking ramainya orang yang hendak berpergian. Saya jadi takut nggak keburu shalat Shubuh karena antrian check in masih panjang dan petugas di konter hanya sedikit. 

Sekitar pukul 5:15 pagi selesai juga check in. Saya kemudian berlari ke Mushalla untuk shalat Shubuh karena sudah hampir mendekati waktu Syuruq (matahari terbit dan waktu shalat Shubuh berakhir). Agak kaget juga melihat antrian pengecekan barang bawaan kabin yang mengular naga panjangnya. Untung waktu saya boarding masih 40 menit lagi. Bandara saat itu menyediakan Mushalla dadakan di tengah area pertokoaan tapi berwudhu-nya itu nggak enak banget karena harus di wastafel toilet. Jadilah becek banget toilet bandara😖😖. Saya udah nggak peduli lagi, yang penting wudhu, shalat, lalu mengantri pengecekan barang kabin.

Alhamdulillah semua berjalan lancar sampai saya boarding, kecuali masalah perut. Kebetulan udah 3 hari saya nggak enak perut sehingga berdampak di pesawat. Kebayang kalau harus ke toilet pesawat untuk pup kan nggak enak banget. Akhirnya saya berusaha untuk tidur supaya menahan rasa sakit perut. Udah tertidur sejam, seharusnya saya udah sampai Palembang, tapi kenyataannya masih di bandara Soekarno Hatta. Pesawat mengantri terbang sampai sejam lebih dan ini sangat menyebalkan😤. Perut semakin sakit, mulai keringat dingin, dan saya masih harus menunggu sejam lagi untuk tiba di Palembang. Cuma bisa istighfar, semoga selamat sampai tujuan.
Bandara Palembang
Sesampai di bandara Sultan Mahmud Badaruddin, saya buru-buru turun dari pesawat karena perut sangat sakit. Suasana Asian Games mulai terasa banget di bandara ini dengan berbagai spanduk, poster, dan pajangan mascot. Duh, saya jadi antusias sendiri untuk menonton Asian Games. Saya ke toilet, lalu dandan sejenak (karena mau ke rumah saudara masa' masih dengan wajah baru bangun tidur), baru kemudian mengambil bagasi. Disini saya mulai panik karena koper saya nggak ada😨. Saya tanya ke petugas, mereka juga nggak tau dan menyuruh saya bertanya sama petugas lainnya. Udah bolak-balik tanya petugas sana-sini sampai akhirnya ketemu koper saya di Lost and Found. Alhamdulillah ketemu juga. Kata petugas, sudah kelamaan di trail koper (sewaktu saya ke toilet tadi), makanya dimasukkan ke ruangan itu.

Selesai mengambil koper, saya bertanya lagi pada petugas bandara dimana stasiun LRT. Petugas bertanya, "Mbak atlit ya?" Awalnya petugas mengira saya atlit dan menunjukkan jalan ke LRT. Saya bilang bukan atlit dan petugas bilang kalau LRT ditutup untuk umum dari tanggal 17-19 Agustus 2018. Haduwh, sengaja mau nyobain LRT di Palembang, eh malah tutup pulak😩. Tau 'gitu ngaku atlit aja biar dibawa ke wisma atlit😝. Akhirnya saya pergi ke tempat menyetop taksi bandara. Kata saudara saya sih nggak ada taksi sejenis bluebird, jadilah saya naik aja taksi selain bluebird. Baru masuk ke taksi berwarna putih itu, eh bluebird datang dan ternyata memang ada pangkalan resmi taksi bluebird di bandara. Duh, kok saya agak apes ya hari ini😓.

Saya naik taksi ke rumah saudara dengan jarak tempuh 30 menit mengendarai mobil. Kalau untuk orang Jakarta sih, 30 menit adalah waktu yang singkat. Berbeda dengan orang Palembang bilang kalau 30 menit itu lama dan jauh. Sepanjang perjalanan, supir taksinya bercerita macam-macam tentang Palembang. Katanya Palembang nggak aman-lah, banyak begal-lah, cewek harus hati-hati jalan sendiri, dan saya jadi was-was. Seharusnya supir menceritakan hal-hal indah di Palembang untuk pendatang, ini kenapa malah nakut-nakutin?

Sesampai di rumah saudara (tarif taksi Rp. 110,000), saya turun, lalu disambut Zella, tante, dan om. Tante bilang, kenapa nggak tidur di rumah tante aja? Duh tante, seandainya saya tau dari awal boleh menginap disini sih, udah nggak usah pusing mikirin hotel yang harganya selangit. Sebenarnya tante ini teman orang tua saya di Aceh dulu, tapi beliau orang Palembang. Saking dekatnya sudah seperti keluarga sendiri. Saya mengobrol dengan mereka seraya bernostalgia jaman masih tinggal di Lhokseumawe. Saya juga bertanya pada tante apakah Palembang aman? Mengingat percakapan dengan supir taksi yang tadi. Alhamdulillah kata tante kota Palembang ini super duper aman. Jadi kalian nggak usah khawatir kalau mau jalan-jalan kesini ya. 

Kami mengobrol sampai waktu makan siang tiba. Akhirnya bisa mencicipi masakan buatan Zella lagi setelah sekian lama dan yang pasti makan pempek asli Palembang😆. Tante udah jarang bikin pempek karena katanya di Palembang ikannya mahal. Berbeda dengan di Lhokseumawe dimana ikan murah dan segar banget. Saya menyantap banyak sekali pempek yang dibeli sama tante. Mungkin karena Palembang memang surganya makanan yang satu ini, jadi kalian tidak perlu bersusah payah untuk mencari pempek yang enak. Bahkan yang harganya Rp. 1000/buah pun enak. Wajar kalau tante nggak mau bikin pempek lagi karena tinggal beli aja atau pesan pakai Gojek.
Pempek😍😍😍
Mari makannnn🍴
Setelah kenyang, saya berpamitan kembali ke hotel. Saya memesan Grab lalu duduk manis di mobil sambil melihat Google Maps. Sesampai di Reddoorz Lemabang, saya melihat banyak polisi. Jadi agak was-was. Kenapa nih? Saya ditanya kontingen dari mana dan mau ngapain? (Disangkain atlit lagi). Saya jawab, saya bukan atlit, saya mau liburan, dan nonton Asian Games. Masing-masing polisi bertanya macam-macam dan saya jadi bingung jawabnya. Intinya ya Pak, saya mau liburan. 

Setelah itu para polisi itu pergi. Saya tanya ke resepsionis hotel kenapa banyak polisi dan dia jawab, "Lagi razia orang asing. Takut ada teroris." 
"Emang wajah saya mirip teroris?" tanya saya.
"Enggak Mbak, tapi disini banyak orang asing."
"Sekarang ada?"
Resepsionis jawab, "Nggak ada mba, sekarang lagi banyak selingkuhan."
Saya kaget, "Hah, kamu tau darimana mereka itu selingkuhan?"
Resepsionisnya senyum-senyum sambil memberikan kunci kamar ke saya. Kok saya jadi nggak nyaman.

Saya masuk kamar yang lebih mirip kosan. Perabotannya tampak tua tapi bersih. Hanya saja lantainya berdebu. Karena ngantuk, saya nggak memanggil resepsionis lagi untuk bersihin lantai. Paling nanti aja kalau saya udah bangun. Jujur aja saya kayaknya lebih suka Airy daripada Reddoorz. Airy terkesan lebih bersih dan nggak begitu horor hotelnya😨, hahaha. Apalagi dengan resepsionis yang terlalu terang-terangan.

Ok deh, postingan ini udah kepanjangan. Nanti kita sambung lagi ya. Sampai jumpa!
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip