Oktober 16, 2018

Asian Games 2018 - Jakarta

Sudah usai Asian Para Games 2018, saya baru menuliskan Asian Games 2018. Sudah 2 minggu ini saya super duper sibuk dengan riset produk dan persiapan Workshop Amazon Connection the Dot. Nanti saya akan menuliskan tentang Workshop ini secara terpisah. Walaupun se-sibuk apa pun, karena saya cinta banget sama nge-blog, pasti disempat-sempatkan walaupun di waktu yang agak sempit.

Baiklah, Asian Games 2018 adalah sebuah pesta olah raga terbesar di Asia dan alhamdulillah Indonesia berhasil menjadi tuan rumah. Promosinya juga besar-besaran dimana di setiap sudut kota Jakarta kalian akan melihat spanduk untuk mensukseskan Asian Games 2018 mulai dari kelurahan, gang jalan, sampai perkantoran elit di Jakarta ikut berpartisipasi untuk menyukseskan acara ini. Hal ini membuat penduduk Jakarta merasa antusias dan semuanya jadi ingin menonton pertandingan, termasuk saya.
Berfoto bersama para mascot
Sebenarnya saya bukan pecinta olah raga, tapi saya cinta Indonesia. Rasanya ingin memberikan dukungan kepada para atlit yang sedang bertanding secara langsung. Ntah kenapa dari dulu saya ingin sekali nonton badminton langsung dari Istora Senayan. Melihat animo yang begitu besar pada seluruh cabang olah raga, agak tidak mungkin kalau mau membeli tiket melalui website penjualan tiket resmi seperti blibli.com karena pasti sudah ludes semua. Akhirnya pakai teknik sosial, nebeng beliin tiket ke semua teman-teman, dan dapat 2 tiket untuk menonton badminton dan atletik. Pada saat itu, bahkan cabang olah raga Kurash, Kabbadi, yang ntah seperti apa itu olah raganya saja tiketnya sold out. Kebayang betapa tingginya antusiasme masyarakat pada acara olah raga ini.

Baiklah, karena lumayan banyak yang harus dituliskan tentang Asian Games 2018, jadi saya bagi per-poin ya. Mari disimak:

1. Masuk Gelora Bung Karno (GBK)
Buat yang cuma mau merasakan animo Asian Games 2018, bisa masuk dengan membeli tiket festival. Di pintu masuk sudah dijaga dengan banyak petugas untuk mengecek tiket. Setelah tiket dikonfirmasi, kalian harus melalui Metal Detector dan tasnya di masukin ke meja scanner. Belum lagi seluruh tubuh juga di cek. Saking ketatnya pemeriksaan, udah seperti di bandara.

Setelah renovasi, baru kali ini saya datang lagi ke GBK. Karena ada acara Asian Games, jadi banyak yang berjualan makanan, souvenir, merchandise, dan lain sebagainya. Udah seperti bazaar dan Pekan Raya Jakarta (PRJ). Bedanya, cuaca super duper terik yang membuat saya membawa kacamata hitam 😎dan topi. Oh ya, kalau kalian membawa air mineral yang bukan Aqua, maka kalian harus rela membuangnya. Aqua adalah sponsor resmi Asian Games 2018, jadi cuma air mineral merk Aqua yang boleh di bawa ke arena GBK. 
Banyak booth
Dipilih-dipilih
Buat yang mau beli souvenir di Super Store, harap sabar mengantri. Saya baca malah orang-orang sudah mengantri dari jam 6 pagi dan barang-barang sudah habis diborong oleh para jastipers. Jadi menyesal dulu nggak beli di Palembang, beli online pun ditunda-tunda. Jadilah kehabisan. Jujur aja saya nggak kuat mengantri berpanas-panasan hanya untuk membeli souvenir. Lebih takut pingsan karena berjemur. Tapi antriannya tertib kok. Mungkin kalian bisa bawa payung agar tidak terlalu terkena sengatan matahari yang super terik.
Antrian Super Store
Sampai ke belakang

2. Nonton Badminton di Istora Senayan
Pagi itu di hari Sabtu, saya dijemput Diana untuk jalan ke Stadion Gelora Bung Karno setelah memiliki tiket atletik dan badminton. Kami turun di FX, lalu jalan kaki ke pintu masuk. Karena memiliki 2 tiket badminton dan 2 tiket atletik seharga masing-masing Rp. 100,000, jadi nggak usah beli tiket masuk yang festival lagi.

Kebetulan acara tanding badminton masih lama (jam 1 siang), jadi saya dan Diana beli KFC dulu. Karena belanja Rp. 100,000. Kami bisa memutar lucky wheel yang tersedia di depan booth KFC. And fortunately, kita dapat satu kotak KFC yang berisi ayam dan nasi lagi.
Selamat makan
Kita makan siang dulu, baru mengantri masuk ke Istora. Teman Diana bilang, masuk ke dalam Istora nggak boleh bawa makanan dan minuman, bahkan tas diperksa sedetail mungkin. Rencananya memang mau makan siang di Istora sambil menonton badminton. Sayangnya malah nggak boleh dan membuat kita makan buru-buru supaya bisa mengantri masuk Istora. Masih ada 1 kotak KFC hadiah yang nggak mungkin dihabiskan lagi. Jadinya kita berikan kepada orang lain daripada mubazir dibuang, mumpung masih hangat.
Istora Senayan
Antrian masuk Istora mengular panjang. Waktu itu saya belum shalat Zuhur karena berencana cari tempat duduk dulu baru shalat. Enaknya, Mushalla tersedia dimana-mana dan bersih, begitu juga toilet bahkan tisu juga tersedia. Jadi nggak usah khawatir. Sekitar pukul 12.30 siang, pintu Istora dibuka dan kita masuk. Benar saja, waktu itu tas saya diperiksa banget bahkan sampai saku yang kecil. Eh taunya saya bawa permen (saya juga lupa ada permen di tas) tapi ternyata permen boleh dibawa masuk. Alhamdulillah. Teman Diana sudah membooking kursi untuk saya dan Diana, jadi kita tetap dapat tempat yang bagus untuk menonton pertanding.
Antrian masuk Istora
Tepat jam 1 siang, MC keluar untuk membuka acara yang langsung disambut riuh para penonton. Duh, saya jadi ikutan antusias dan bertepuk tangan meriah. Apalagi deretan atlet mulai keluar dan mengambil tempat masing-masing untuk bertanding. Jangan ditanya betapa hebohnya saya pada saat itu. Sayangnya, pada pertandingan tunggal putri, Indonesia kalah. Pas set terakhir, saya keluar ke toilet dan shalat dulu. Kalau mau keluar ruangan, kalian akan di stempel di tangan sebagai tanda sudah pernah masuk karena tepat jam 13.00 pintu masuk sudah di kunci dan akses keluar cuma bisa dari pintu samping.
Istora Senayan
Selesai shalat, saya menonton Jonathan (Jojo) bertanding. Saya bingung sewaktu dia sedang minum dan melihat ke arah bangku penonton, semua cewek-cewek pada teriak. Saya nyeletuk, "Kenapa liat orang minum pada teriak?"😮 dan Diana menjawab, "Karena Jojo ini menurut sosial media adalah atlet bulu tangkis paling ganteng😆." Saya tertawa dan merasa udah kurang pantas mengidolakan atlet ganteng😂😂😂. Sepertinya isi Istora Senayan penuh dengan anak-anak abege yang teriak heboh pada saat Jojo buka baju. Padahal, Jojo buka baju ya~~~karena keringatan. Emang ada yang aneh? 😆Hahahaha (tanda-tanda bukan abege).
Tim Hore
Saya menonton badminton seharian. Dari jam 1 siang sampai jam 8 malam. Atlet yang bertanding silih berganti. Paling seru kalau menang, rasanya pengen tepuk tangan paling kerasss, PROK! PROK! PROK! Sekalian ikutan teriak bernyanyi, "GARUDA DI DADAKU, KU YAKIN KALI INI PASTI MENANG." Lucunya, ada yang koordinir kita untuk mengajak bersama-sama bernyanyi atau menyemangati para atlet. Duh, rasanya saat itu Indonesia kompak bangetttt! BANGGAAA!

 3. Malam di GBK
Ntah udah berapa kali teman saya Rezki nge-Whatsapp untuk ngasih tau kalau pertandingan atletik sudah dimulai. Berasa sayang karena nggak nonton badminton sampai pertandingan terakhir tapi kasian juga udah beli tiket atletik. Paling nggak harus merasakan masuk stadion utama GBK. Akhirnya saya dan Diana keluar dari Istora dan berjalan ke stadion utama. Saya sempat takjub melihat di halaman GBK dihiasi lampu berwarna-warni seperti pasar malam. Pada saat itu ramai banget pengunjung, apalagi karena weekend.
Pasar Malam
Lampu warna-warni
Oh ya, buat yang kehabisan tiket nonton pertandingan badminton di Istora, petugas sengaja menyediakan layar besar untuk nonton bareng di halaman GBK. Semua orang pada duduk bareng berlesehan, berteriak bareng, bertepuk tangan bareng, persis sama dengan di dalam Istora. Ahhh, rasanya senang dan bangga sekali kalau Indonesia bisa kompak segininya. I love you full Indonesia. Pertandingan olah raga membuat kita bersatu.
Nonton Bareng
4. Menonton Atletik
Sesampai di stadion utama, saya dan Diana harus berjalan lumayan jauh untuk sampai di pintu masuk sesuai dengan tiket yang tertera. Saya takjub melihat kemegahan stadion GBK setelah direnovasi. Benar-benar tidak kalah saing dengan stadion di luar negri. Lampu-lampu berwarna-warni menghiasi atap stadion, ditambah pilar-pilar yang memberika kesan sangat megah, sehingga stadion ini pantas menjadi pusatnya GBK.
Lampu warna-warni
Pertandingan atletik yang diikuti Lalu Muhammad Zohri sudah usai ketika saya tiba. Tapi saya bisa menonton pertandingan lompat tinggi dan lari marathon yang bikin saya ngos-ngosan (padahal bukan saya atletnya). Baru kali ini juga saya melihat fotografer membawa lensa gede-gede untuk memotret jarak jauh. Maklumlah, mereka cuma bisa duduk di kursi penonton yang jaraknya lumayan jauh dari para atlet yang bertanding.
Stadion Utama GBK dari dalam
Pada akhirnya hari itu saya pulang ke rumah sudah malam banget tapi merasa puasss menonton🎊. Apalagi banyak booth yang menawarkan hadiah unik dan makanan cemilan murah seperti es krim, jus, dan lainnya. Walaupun nggak kebagian makan malam di FX karena semua resto kehabisan makanan, tapi senggaknya berhasil beli roti.

Selama Asian Games 2018, saya sempat dua kali datang ke GBK karena suka dengan euforia dan antusiasme positif yang ditularkan orang-orang. Saya juga berhasil mengajak banyak teman untuk hadir dan memberikan dukungan kepada atlet Indonesia yang sedang bertanding. Sedih banget acaranya sekarang sudah usai😢. Rasanya sosial media mendadak sepi. Walaupun terobati dengan Closing Ceremony yang keren banget, tapi tetap pengen nonton acara olah raga lagi. 
Siapa kita? INDONESIA PROK! PROK! PROK!
Semoga suatu hari Indonesia bisa menjadi tuan rumah Olympiade dan pada saat itu tiba, saya ingin sekali mengambil bagian di dalamnya baik sebagai sponsor atau otak dibalik acara keren seperti Wishnutama. Aminnnn ya Allah. Doakan ya teman-teman. Sampai jumpa!
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip