Desember 09, 2018

Burger & Lobster Est. London 2011

Dari judul postingan kali ini, sudah pasti saya bersama Willy dan Yudhi akan menikmati hidangan burger dan lobster. Untuk pengguna behel seperti saya, sebenarnya makan burger adalah sebuah hal yang harus dihindari kalau nggak mau rahang berbunyi 'klik'. Tapi ada cara lain, yaitu memotong burger kecil-kecil, baru dimakan dengan santai. Jangan terlalu buru-buru mengunyah kalau nggak mau perawatan Perfect Smile selama ini hancur berantakan.
Di depan resto
Lokasi Burger & Lobster berada di SkyAvenue Lantai 1, Genting Highland. Seperti yang sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya, sebaiknya kalian datang agak pagian kalau nggak mau mengantri panjang sambil berdiri. Untungnya kemarin kami hanya mengantri sekitar 10 menit saja, lalu langsung dapat meja. Sambil mengantri, saya melihat betapa banyak lobster super duper besar yang masih hidup di aquarium, untuk disajikan kepada tamu. Duh, dapat darimana lobster segede itu ya😲.

Kami duduk di kursi lingkaran dengan meja yang agak kecil menurut saya. Pelayan langsung memberikan menu dan saya agak syok melihat harga yang mahal amat😱. Gile ya, mahal begini aja masih banyak yang mengantri. Berarti orang-orang di Kuala Lumpur emang banyak yang tajir. Kebayang nggak sih harga burger Rp. 600rban?😰 dan harga lobster original juga segitu?😰😰. Apalagi menu lobster The Bad Boys yang capitnya aja bisa segede muka itu dimulai 400 RM atau sekitar 1.4jt😱😱😱. Kayaknya lebih worth it memberi makan anak yatim dan fakir miskin😰.
Menu mahal-mahal
Baiklah, berhubung sudah masuk resto, jadi mau nggak mau harus memesan makanan. Kita bertiga memilih menu The B&L Burger, The Original Lobster, dan tiga gelas minuman. Tidak lama menunggu setelah pemesanan makanan, burger datang dengan piring super besar😲. Piringnya langsung mengabiskan tempat di meja hampir setengahnya. Mana aneka bumbu, saus, tissue, sendok/garpu, dan yang lainnya sudah menghabiskan space di meja duluan, ini datang burger semakin mempersempit area meja. Sebagian peralatan makan jadinya ditaruh dikursi dulu deh.
The B&L Burger
Kalian bisa melihat betapa menggiurkannya burger yang disajikan dengan saus mayones meleleh, daging super tebal, ditambah ada lobster diatas daging. Kentang goreng dan salad yang disajikan bersama burger juga dalam porsi besar. Kentang gorengnya enak banget, garing, nggak keasinan, dan saya terus ngemilin kentangnya. Bagaimana dengan salad? Sepertinya ini salad terenak yang pernah saya makan. Rasanya agak asin keju parmesan, ditambah kesegaran dedaunan berpadu menjadi satu. Karena Yudhi dan Willy nggak begitu suka sayuran, jadi saya yang menghabiskan saladnya tanpa bersisa.
Daging burger yang tebal dan daging lobster diatasnya
Ketika lobster datang, tambah lagi mempersempit area meja. Udah sempit, semakin sempit saja. Kita jadi mengatur ulang piring-piring makanan dan alat makan supaya agak leluasa untuk makan. Saya takjub melihat lobsternya yang gede banget, tapi syok ketika mengintip lobster The Bad Boy yang dipesan meja sebelah yang super duper besar. Kakek meja sebelah makan lobster segede itu sendirian, mengunyahnya, dan menghirup dagingnya. Nggak takut kolesterol, Kek? 😱 Saya sampai agak sesak napas melihat si Kakek menghancurkan capit lobster yang berwarna hitam segede muka. Agak ngeri hasil retakan cangkang capit kena ke muka😰.
The Original Lobster
Baiklah, waktunya makan. Dua menu kita bagi tiga. Saya memotong burger jadi beberapa bagian kecil agar gampang di kunyah dan langsung memasukkan ke mulut roti burger dan daging. Rasa daging sapinya enakkkkkk banget😍. Lembut banget, dipadukan rasa asin keju mozarella, dan krim (saya kurang tau krim apa tapi enak banget). Kalian bisa menyiram saus ke atas burger untuk menambah rasa nikmat. Daging lobster di burger juga enak banget, lembut, nggak amis, dan nggak usah diretakkan cangkangnya karena hanya dagingnya saja. Senang banget rasanya kalau makan makanan enak tuh🤤🤤🤤. 
Mari makan!
Setelah mencicipi daging dan roti burger, saya lanjut makan lobster. Saya mengambil bagian capit, memalingkan muka seraya menghancurkan cangkangnya. Takut banget serpihan cangkang yang agak tajam melukai tangan atau muka. Alhamdulillah penghancuran cangkang berlangsung sukses, tanpa terluka. Duh jangan ditanya rasa gurihnya daging lobster apalagi disiram dengan saus🤤🤤🤤. Kalian harus mencicipinya sendiri. Saya agak bingung karena di dalam daging lobster ada lelehan krim asin yang enak, antara keju atau memang krim🤔. Mungkin sebelum dimasak, krim tersebut dimasukkan dulu ke daging lobster dari sisi-sisi cangkang, sehingga begitu mateng jadi nikmat banget.
Soda Peach Tea
Saya minum Soda Peach Tea untuk menetralkan rasa udang dan daging di mulut. Walaupun dua menu kita bagi tiga, ternyata lebih dari cukup karena porsinya banyak apalagi ditambah salad dan kentang goreng. Total harga yang harus saya bayar adalah 363 RM atau sekitar  Rp. 1,340,000 (kurs saat itu). Duh, betapa mahalnya😖😖😖. Untung saya pakai kartu kredit Citibank yang memberikan cashback Rp. 1 juta untuk pengguna baru. Jadi makan 1,3juta berasa hanya 300rb 🥳🥳.

Baiklah, selanjutnya saya dan teman-teman jalan-jalan sebentar di SkyAvenue hanya sekedar untuk melihat-lihat ada apa aja ya di Mall ini. Tapi tidak begitu lama disini karena kami akan mengunjungi destinasi berikutnya yaitu Chin Swee Temple. Sampai jumpa!

Beberapa foto dari kamera Fujifilm milik saya dan Willy Sebastian (Instagram : willyarrows).
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip