September 13, 2019

From Bajawa to Ende

Selesai berendam di Air Panas Malanage, kami kembali melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya yaitu kota Ende, tempat dimana Danau Kelimutu berada. Dibutuhkan waktu lebih dari 4 jam untuk menuju kota tersebut. Huft, kita sudah terlalu lelah di perjalanan tapi masih berusaha untuk kuat sampai di kota terakhir. Kepala masih puyeng 😵😵, mungkin karena kekurangan cairan akibat muntah parah banget semalam dan diare tadi pagi. Seharusnya bawa oralit nih untuk mencegah kehilangan cairan tubuh. Alhamdulillah saya tetap sehat sampai waktunya pulang.
Kabutttt
Sepanjang perjalanan, turun kabut sangat tebal seperti asap. Jangan tanya betapa dinginnya udara disitu sampai-sampai kami lebih baik berada di dalam mobil. Belum lagi angin membuat suasana terasa seperti saya sedang berada di luar negeri. Ini Indonesia apa Sydney😅? (Perbandingannya dengan Sydney karena ketika menulis blog ini saya baru pulang dari Australia.

1. Manulalu Bed and Breakfast
Pengalaman dari beberapa hari sebelumnya dimana kita nggak boleh telat makan (baik siang maupun malam) daripada nanti malah masuk angin dan muntah-muntah lagi. Kali ini bapak supir mengajak ke sebuah resto mewah yang (seharusnya) memiliki pemandangan alam nan indah. Sayangnya, kemarin kabut terlalu tebal, sehingga kami tidak bisa melihat gunung sambil makan siang.
Interior ruangan
Setelah memesan makanan, saya masih harus ke toilet karena perut masih mules. Sekalian bersih-bersih sebelum shalat. Enak banget toiletnya karena bersihhhh. Teringat tadi di Kampung Bena😣 kotor banget. Maunya tempat wisata yang terkenal harus diperhatikan kebersihan toilet karena akan dinilai oleh wisatawan.
Shalat diantara kabut
Saya minta tempat untuk shalat pada karyawan resto dan katanya saya boleh memilih tempat dimana saja. Mereka menyarankan shalat diatas (roof top) karena lebih tenang. Sewaktu saya keatas, memang suasananya tenang sih, tapi kabutnya teballll banget. Sudah seperti asap yang mengelilingi saya ketika sedang shalat. Karena ini adalah pengalaman unik, sekalian saya menyuruh Rezki untuk mengambil foto ketika saya shalat agar bisa mengenang suasananya.

Selesai shalat, makanan pun dihidangkan. Ntah karena saya lapar, jadi rasa makanannya menjadi enak banget. Menunya mie goreng, nasi goreng, gado-gado, dan lainnya versi restaurant, sehingga harganya diatas 50rban semua. Maklumlah, tempatnya aja mewah, makanya harga makanan dan minuman agak mahal. Yang penting masih sesuai dengan selera saya.
Mie Goreng
Gado-gado
Saya sempat mengobrol dengan karyawan resto yang katanya beliau juga mantan tur guide Waerebo. Katanya, Manulalu ini milik orang lokal yang dulunya suka berpergian ke luar negri. Makanya resto ini sangat memperhatikan kebersihan, rasa makanan, pemandangan, yang disukai para turis asing. Kalau dilihat sih memang desain interior dan dekorasi restonya saja keren banget. Kalian harus datang kesini deh.

2. Pantai Penggajawa
Setelah berkendara dua jam lebih dari Manulalu, sudah tertidur, terbangun, tidur lagi, bangun lagi, akhirnya sampai ke sebuah Pantai. Sebenarnya pantai ini sudah tutup karena menjelang magrib, tapi bapak supir memaksa untuk buka😅 dan akhirnya dibuka. Awalnya mau menikmati matahari terbenam disini, tapi mendung banget. Jadi hanya bisa menikmati pantainya saja.

Yang menarik dari Pantai Penggajawa ini adalah memiliki batu dengan warna gradasi biru muda yang sangat indah. Sayangnya karena sudah malam dan suasana mendung, saya jadi tidak bisa memotret keindahan batunya. Sempat melihat foto di internet di siang hari ketika batu-batu baru terhempas ombak dan basah, sungguh indah gradasi warnanya😍. Bahkan ada yang berwarna pink dan hijau botol.
Gradasi batu
Biar lebih jelas
Beberapa sumber yang saya baca kalau batu-batu ini berasal dari dalam laut yang dibawa ombak menuju pantai. Makanya warnanya indahhh banget😍. Batu-batu ini juga diperjualkan ke Bali seharga Rp. 25,000-Rp. 30,000 per kilo. Murah banget ya! Kasihan pengepul batu dan saya jadi khawatir juga batu-batu ini bisa habis.
Menikmati pantai
Warna batu
Hijau botol
Tidak ada lagi kegiatan yang bisa dilakukan di pantai selain mengambil foto bebatuan. Setelah itu suasana mulai semakin dingin yang membuat kita semua harus memakai jaket. Berhubung masih harus menempuh jarak 2 jam lagi menuju Ende, kami memutuskan untuk ngemil gorengan dulu sebelum melanjutkan perjalanan.
Pisang goreng sambal penyet 😂😂😂
Ubi goreng sambal penyet
Kita memesan pisang dan ubi goreng, serta kelapa muda yang berwarna oranye. Dulu di rumah saya di komplek PT PIM, saya punya pohon kelapa oranye tapi sudah lupa rasanya 'gimana. Ternyata air dan daging buah kelapa oranye ini enakkkk banget ya🤤🤤. Oh ya, orang Flores suka memakan gorengan dengan sambal yang kalau di Jakarta menjadi teman untuk menikmati ayam penyet😆. Agak aneh, tapi kita tetap suka kok.
Kelapa Oranye
Setelah menyantap cemilan, kita melanjutkan perjalanan menuju Ende. Yang paling menyeramkan adalah jalan tertutupi kabut super tebal sampai-sampai jarak pandang hanya 1 meter. Bapak supir menyetir mobil sampai harus fokus melihat jalan apalagi kiri dan kanan jurang😱😱. Saya berdoa sepanjang jalan agar Allah menjaga kita dalam perjalanan. Kebayangkan seolah-olah menuju tempat di film-film horor, padahal nggak horor juga sih.

Alhamdulillah kami sampai di penginapan Ende jam 8an malam. Kita menaruh koper di kamar, lalu kembali ke ruang makan dengan laptop masing-masing. Kata siapa jadi pengusaha enak? Padahal tetap harus bekerja dimana-mana dan banyak kerjaan yang harus diselesaikan hari itu juga.

Beberapa teman-teman turis sampai heran memperhatikan kita semua memainkan laptop, padahal besok kita harus bangun jam 4 pagi untuk mengejar sunrise di puncak Danau Kelimutu. Kita berada di ruang makan sampai jam 11 malam, baru masuk kamar. Saya bahkan sempat mandi dulu baru tidur, sedangkan Debby dan Kakros udah tidur duluan.

Baiklah, besok kita akan berangkat ke Danau yang paling terkenal di Indonesia, Kelimutu. Sampai jumpa!

September 04, 2019

Tempat Wisata di Bajawa

Di postingan kali ini saya akan bercerita tentang beberapa tempat wisata di kota dingin, Bajawa, Flores, Nusa Tenggara Timur. Kenapa saya bilang dingin? Karena emang dinginnnnn banget🥶, udah seperti di luar negeri. Suhu udara bisa berkisar antara 10-15 derajat dan bakalan sangat dingin kalau di malam hari.

1. Bukit Wolobobo
Wolobobo merupakan sebuah bukit yang berada di kawasan hutan lindung Wolobobo dengan ketinggian 1,500 m diatas permukaan laut. Tempat yang berlokasi di Desa Turekisa, Kabupaten Ngada, merupakan rekomendasi bapak supir karena katanya kita bisa melihat pemandangan gunung Inerie dan kota Bajawa dari atas bukit.
Selamat Datang
Menurut yang saya baca, dulunya bukit Wolobobo ini aksesnya agak susah. Untungnya sekarang pemerintah setempat sudah membangun jalan bagus yang memudahkan kita untuk berwisata ke tempat ini. Oh ya, ada kantor Telkom juga di bukit ini dan ada tiang BTS yang membuat kita gampang mengakses internet (penting banget ini). Yang agak sedikit menyeramkan adalah suasana super dingin dan kabut sangat tebal membuat tiang BTS terlihat samar-samar. Bayangkan betapa tebalnya kabut hari itu dan kita datang pada saat yang salah.
Tiket masuk
Tiket masuk ke Wolobobo adalah Rp. 5,000. Kami kemudian menyusuri jalan untuk menuju puncak yang memiliki pemandangan yang (seharusnya) spektakuler. Sayangnya, seperti yang saya katakan tadi, kita datang di saat yang salah. Kabut membuat kita sama sekali tidak bisa melihat apa pun. Ya sudah deh, kesini cuma bermain ala-ala Silent Hill dan berfoto saja. Kita tidak lama disini karena nggak tau mau ngapain lagi.
Silent Hill
Foto dulu
2. Desa Adat Bena (Kampung Bena)
Perjalanan dari bukit Wolobobo ke Desa Adat Bena memakan waktu kurang dari satu jam. Sebelum masuk kampung, kalian akan melihat banyak pohon bambu yang batangnya super besar. Setelah membayar tiket masuk Rp. 20,000 perorang, kami disambut warga dengan kata sambutan, "Selamat datang di kampung Bena!" seraya mengalungkan kain tenun khas Bena. Ntah kenapa saya selalu 'ngakak 😆 mengingat-ingat logat mereka ketika mengatakan, "Selamat Datang di Kampung Bena." Logat khas orang Timur.
Pohon Bambu
Kampung Bena
Memakai kain tenun
Kampung Bena adalah salah satu perkampungan megalitikum yang terletak di kaki Gunung Inerie, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Lokasi tepatnya di Desa Tiwuriwu, Kecamatan Aimere, sekitar 19 km selatan Bajawa. Keberadaan kampung ini yang berada di kaki gunung merupakan ciri khas masyarakat lama yang masih menyembah gunung sebagai tempat para dewa. Menurut penduduk kampung ini, mereka meyakini keberadaan Yeta, dewa yang bersinggasana di gunung Inerie yang melindungi kampung mereka.
Suasana kampung
Saya masih merasa kedinginan ketika memasuki kampung. Maklum, kampung ini berada di ketinggian 2.245 meter di atas permukaan laut. Orang desa menemani kami keliling kampung seraya bercerita tentang asal-muasal kampung ini. Mereka juga bisa berbahasa Inggris lho. Tampaknya pemerintah setempat serius menggarap pariwisata di Bajawa ini, sehingga penduduk lokal pun diajari berbahasa Inggris.
Dari ujung kampung
Saat ini berdiri kurang lebih 40 buah rumah yang saling mengelilingi yang memanjang, dari utara ke selatan. Pintu masuk kampung hanya dari utara. Sementara ujung lainnya di bagian selatan sudah merupakan puncak sekaligus tepi tebing terjal. Ditengah-tengah kampung atau lapangan terdapat beberapa bangunan yang mereka menyebutnya bhaga dan ngadhu. Bangunan bhaga bentuknya mirip pondok kecil (tanpa penghuni). Sementara ngadhu berupa bangunan bertiang tunggal dan beratap serat ijuk hingga bentuknya mirip pondok peneduh. Tiang ngadhu biasa dari jenis kayu khusus dan keras karena sekaligus berfungsi sebagai tiang gantungan hewan yang akan di korbankan ketika pesta adat.
Duduk di depan rumah
Bersama anak-anak kampung adat
Oh ya, karena efek vertigo semalem, saya jadi diare dan momennya sangat tidak pas ketika perut mules di desa. Saya sempat menebeng toilet tapi kondisinya errr🤢🤢. Ya karena darurat dan perut saya sakit banget, jadi mau nggak mau ke toilet juga. Untung setelah ini kami makan di salah satu resto mewah di Bajawa, sehingga saya bisa bersih-bersih kembali.

3. Air Panas Malanage
Tidak banyak orang Indonesia mengetahui sungai air hangat bernama Malanage, yang berlokasi di Desa Dariwali, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Pamor wisata air di sini memang belum terlalu naik daun di lingkup pariwisata Kota Bajawa itu. Tentu juga belum sepopuler Kampung Adat Bena. Bapak supir yang menyarankan untuk singgah di tempat ini karena beliau orang lokal sehingga lebih tau.
Air sungai hangat dan dingin
Teman-teman udah mulai main
Tiket masuk Air Panas Malanage adalah Rp. 12,000 perorang. Keunggulan dari obyek wisata ini adalah terdapat pertemuan dua sumber air dengan suhu yang berbeda. Air panas Malanage bercampur dengan air dingin yang bersumber dari mata air Waeroa menjadikan suhu air ini tidak terlalu panas sehingga kita dapat menikmati 3 pilihan suhu air. Kalau mau berendam air panas, tinggal ke daerah air yang panas, dan sebaliknya. Sumber mata air ini juga baik untuk mengobati penyakit kulit karena kaya akan belerang. Semua teman saya masuk ke sungai kecuali saya. Mereka kan enak bisa pakai celana pendek sehingga bagian kaki yang basah tinggal di lap saja dengan handuk atau tisu. Kalau saya mana mungkin😅. Seandainya saya harus nyebur berarti dalam kondisi baju lengkap. Males banget!
Mulai berendam
Main air
Lingkungan di sekitar air panas Malanage masih sangat terjaga. Suasana alam yang mempesona serta potensi agrowisata membuat kita ingin lebih lama menikmati obyek wisata ini. Kami sekalian membeli buah coklat seharga Rp. 5000 perbuah dan baru kali itu saya memakan coklat langsung dari buahnya.
Buah coklat
Baiklah, selanjutnya perjalanan dilanjutkan ke Ende, kota dimana Danau Tiga Warna "Kelimutu" berada. Sampai jumpa!

Sumber:

September 01, 2019

From Ruteng to Bajawa

Selesai mengambil foto di sawah berbentuk jaring laba-laba di desa Cancar, saya dan teman-teman singgah di kota Ruteng yang berjarak sekitar 5-10 menit dari Cancar untuk mengisi perut, shalat, dan beli cemilan. Sudah jam 3 sore tapi kami belum makan siang sama sekali.

Akhirnya kami mampir di sebuah warung Padang yang berada di dekat mesjid. Sengaja memilih warung padang biar makannya sesuai selera. Benar saja, masing-masing kita memesan 2 lauk. Saya memesan ayam goreng dan udang kentang balado. Kita semua juga memesan teh manis panas untuk menghilangkan angin di perut. Kami makan dengan lahap. Saking lahapnya, sampai nggak bersuara dan nggak foto-foto.

Selesai makan, kita shalat di mesjid. Ketika ambil wudhu, airnya dingin bangetttt🥶! Sudah mulai masuk dataran tinggi nih, udara pun mulai dingin walaupun belum membuat saya pakai baju tebal. Selesai shalat, kami jalan kaki ke mini market terdekat. Oh ya, di Flores nggak ada Indomaret atau Alfamart. Jadi kita jajan di mini market asli Flores. Seperti biasa yang saya lakukan ketika belanja di daerah orang adalah melihat-lihat barang yang nggak ada di Jakarta seperti air minum, body lotion, dan makanan.

Sekitar jam 4.30 sore, kami melanjutkan perjalanan karena takut kemaleman tiba di Bajawa. Kata supir, perjalanan menuju Bajawa sekitar 4 jam. Haduwh lama sekali🤦‍♀️. Mau 'gimana lagi, harus sabar banget selama di perjalanan. Apalagi teringat kata orang-orang yang kita temui di Cancar kalau jalan menuju Bajawa adalah yang paling mengerikan selama di Flores.

Perjalanan pun dimulai. Ntah karena kebanyakan makan, saya mulai merasa pusing. Ditambah lagi, jalannya sangat berkelok-kelok. Supir sempat berhenti di pom bensin dan saya ke toilet untuk muntah, tapi nggak bisa. Mungkin karena nggak pernah muntah, jadi susah banget mau mengeluarkan sesuatu dari mulut. Perjalanan dilanjutkan dan saya sudah menyediakan plastik karena takut muntah. Memasuki areal pegunungan, jalanan mulai sangat berkelok-kelok dan patah banget kelokannya. Saya tersantuk kiri dan kanan sampai tambah pusing. Belum lagi harus mempertahankan tubuh agar nggak terjatuh ke kiri dan ke kanan. Mana nggak bisa tidur lagi.

Kami akhirnya menemukan sebuah desa dan saya minta berhenti sejenak. Saya lihat ada warung bakso dan saya minta air putih panas agar bisa sendawa. Kakros sempat turun juga untuk memfoto bintang-bintang, sekalian menemani saya yang mau muntah. Yang saya heran adalah Satrio, dia sama sekali nggak terbangun di jalan berkelok-kelok itu. Jangan-jangan dia pingsan?🤔

Perjalanan kembali dilanjutkan. Saya melihat Debby udah pucat pasi karena ketakutan dengan jalan yang terlalu seram. Belum lagi tiba-tiba turun kabut tebal, trus hilang. Supir pun mengendarai mobil dengan super duper kencang dan bisa mendadak ngerem karena mau belok patah dan hal itu membuat saya mau terpental. Saya udah nggak tahan lagi. Sempat menyuruh berhenti tapi ngeri banget kalau berhenti di tengah hutan. Akhirnya saya muntah 🤮juga ke plastik. Jangan salah, saya muntah bukan sekali, tapi beberapa kali. Saya sampai nggak mau disentuh sama Kakros, nggak mau ngobrol, pokoknya jangan ada yang mengusik saya (begitu perasaan saya waktu itu).

Akhirnya kita kembali menemukan kampung. Saya berlari ke parit dan muntah lagi dan lagi🤮🤮🤮🤮🤮. Sepertinya ini muntah terparah selama 10 tahun terakhir. Ditambah saya mendadak vertigo.  Duh, mungkin karena kejedut jendela dan kursi sehingga kepala jadi pusing banget. Ditambah belum makan malam dan sisa makanan sore tadi keluar semua. Satrio yang sudah pingsan dari Ruteng mendadak sadar dan bilang, "Wah, sudah banyak korban berjatuhan." Saya ngakak 😂 tapi masih muntah. 

Selagi meredakan kepala yang sangat pusing, saya melihat bintang di langit sangat banyak. Sempat mempertimbangkan untuk mengambil foto Milky Way tapi kita harus tiba sebelum terlalu malam karena takut kabut turun semakin tebal. Saya naik ke mobil dengan sempoyongan. Sudah pusing tujuh keliling, perut kosong lagi.

Alhamdulillah tiba di penginapan di kota Bajawa. Kalian tau, ini adalah penginapan dengan suhu udara paling dingin yang pernah saya rasakan selama di Indonesia. Teringat dulu di Bromo aja nggak sedingin ini. Lantainya dingin, minuman teh panas pun cepat dingin, dan TIDAK ADA mesin pemanas ruangan🥶🥶🥶. Sebelum tidur, saya makan seadanya karena sudah tidak ada warung nasi yang buka. Setelah itu minum obat pusing dan mandi. Untung ada air panas, sehingga tidak terlalu beku. Tapi setelah keluar kamar mandi, udara dingin langsung menusuk. Awalnya sudah pakai daster dan bersiap untuk bekerja sejenak sebelum tidur. Akhirnya jadi pakai jaket thermal dan celana legging heattech untuk menangkal udara yang terlalu dingin. Baru kali itu saya tidur pakai jaket thermal dan masih kedinginan🥶. Kenapa Bajawa dingin sekali?😣😣
Telur dan pancake
Besok pagi, saya bangun, mandi, dan bersiap sarapan. Kepala udah nggak pusing, bahkan seolah-olah saya sehat banget walaupun semalam baru aja muntah dan vertigo. Alhamdulillah saya tipe orang yang cepat sembuh. Sewaktu ke ruang makan, agak kaget kenapa bule' semua dan pada pake jaket thermal. Tunggu, sebenarnya saya berada di Indonesia apa luar negeri ya? Udah udara super dingin, penghuni penginapan bule' semua, dan pada pakai jaket thermal. Menu sarapannya pun kebarat-baratan dengan roti, keju, selai butter, pancake, telur dan lainnya. Duh, padahal pengen nasi uduk😬.
Roti dan buah
Destinasi selanjutnya adalah hutan Wolobobo dan Kampung Bena. Nanti saya lanjutkan lagi ya ceritanya. Sampai jumpa!

Agustus 20, 2019

Kawat Terakhir di Gigi Bawah

Sebelum melakukan perjalanan ke Australia besok, saya kontrol gigi terlebih dahulu. Memang sudah jadwalnya sih, sekalian mengganti karet pengikat kawat yang sudah menguning karena menyantap makanan yang mengandung kunyit. Maklumlah, makanan di Indonesia memang banyak banget rempah, sehingga membuat karet menguning. Kalau tidak diganti karetnya, sewaktu saya senyum malah terlihat seperti ada sisa makanan di gigi. Jadi aneh banget.😅

Kontrol kali ini lumayan memakan waktu. Jujur aja saya tidak terlalu paham gigi saya diapain sama Orthodentist. Intinya, celah di gigi atas sudah semakin mengecil tapi saya tetap harus memakai kawat elastis untuk menarik geraham ke depan. Untuk gigi bawah, dokter bilang sudah menggunakan indikator kawat terakhir. Kalau di bulan depan sudah tidak ada masalah, maka gigi bawah saya bakalan di kunci. Semoga bukan pakai gembok, hahaha😆.

Sebenarnya saya suka banget melakukan perawatan gigi. Kalau urusan gigi kelar dalam satu tahun ke depan ini, berarti rutinitas saya untuk merawat dan mengecek kesehatan gigi sebulan sekali sudah tidak ada lagi. Seharusnya hal ini adalah yang paling saya tunggu-tunggu, tapi mengingat setiap bulan gigi bisa putih bersih dan sehat, kok jadi kecanduan ke dokter gigi ya😅.
Tinggal yang atas
Yang pasti, setelah urusan gigi selesai, saya bakalan scaling dan perawatan akar, lalu dilanjutkan pemutihan gigi, agar senyum jadi sempurna. Hiks, ntah senang ntah sedih, sebentar lagi saya akan masuk ke Perfect Smile era.

Baiklah, doakan saja semoga semua proses perawatan gigi ini lancar. Aminn ya Rabb🤲.

Kontrol Sapphire Orthodentist Rp. 50,000
Konsultasi Rp. 275,000
Karet Elastis Rp. 60,000
Service Charge Rp. 25,000
Total Rp. 410,000

By the way, kok mulai ada biaya-biaya lainnya ya? Biasanya Kontrol Rp. 275,000 sudah termasuk konsultasi. Sekarang malah dipecah🤔.

Agustus 08, 2019

Cancar Spiderweb Rice Field

Sepulang dari Wae Rebo, perjalanan dilanjutkan ke desa Cancar, tempat sawah berbentuk jaring laba-laba. Kalau biasanya kita melihat sawah dengan bentuk kotak-kotak, maka di Flores kalian akan melihat sawah terpusat. Penasaran? Saya juga.
Perjalanan
Perjalanan ke desa Cancar memakan waktu 2 jam dari Desa Denge. Jalan yang kita lalui sungguh berkelok-kelok, tapi belum ada apa-apanya dari kelokan menuju kota Bajawa (nanti saya akan ceritakan). Oh ya, kalian bisa melihat Pulau Mules di perjalanan menuju Ruteng atau ke Wae Rebo. Kata bapak supir sih tidak ada tempat wisata yang terkenal di Pulau tersebut selain mayoritas masyarakatnya beragama islam. Sejam awal perjalanan ke Cancar, saya tidur. Mungkin karena masih kecapekan menuruni bukit dari Wae Rebo ke Denge. Kami sampai di Cancar sekitar pukul 2 siang dan membayar tiket masuk 10rb perorang.
Terlihat Pulau Mules
Kalau kalian ingin melihat bentuk sawah secara sempurna seperti jaring laba-laba, maka kalian harus menaiki sekitar 250 anak tangga menuju puncak Weol. Duh, baru aja turun gunung, udah harus naik tangga lagi. Banyak pulak! 😅 Tapi 250 anak tangga berhasil kita naiki hanya dalam 15 menit saja. Apa kekuatan kita sudah bertambah? 💪Sesampai di Puncak Weol, saya langsung takjub dengan bentuk sawah yang sangat unik dan benar-benar seperti jaring laba-laba. Yang membuat bangga adalah bentuk sawah seperti ini adalah satu-satunya di dunia.
Sawah jaring laba-laba
Dulu, hanya ada satu kabupaten yaitu Manggarai (mirip nama stasiun KRL di Jakarta), sebelum dimekarkan menjadi Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat. Petani padi dapat dijumpai di 8 kabupaten yang ada di pulau Flores dan yang terbanyak berada sisi barat. Bukan saja hasil sawahnya, keunikan sawah di Manggarai seperti di Kecamatan Lembor Manggarai Barat, Cancar di Kecamatan Ruteng Manggarai, dan Kampung Rawang, Kecamatan Lambaleda Manggarai Timur adalah pada bentuknya. Sawah di area ini berbentuk seperti jaring laba-laba atau yang disebut Lodok dalam bahasa lokal.
Sejauh mata memandang
Bagi masyarakat Manggarai, sawah unik ini disebut Lingko dan terkait dengan pola pengelolaan lahan secara adat. Dimana titik nolnya berada di tengah-tengah lahan (ulayat) yang akan dibagi-bagi. Petakan-petakan sawah merupakan tanah adat yang dimiliki oleh beberapa orang untuk memenuhi kebutuhan bersama masyarakat adat yang pembagiannya dilakukan oleh Tu’a Teno atau ketua adat dan Tu’a Golo atau tua kampung. Para tetua ini umumnya akan mendapatkan bagian luas sawah yang lebih besar. Konon, pembagian tanah ulayat mengikuti rumus moso (jari tangan) yang disesuaikan dengan jumlah penerima tanah warisan dan keturunannya.
Memandang takjub
Tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan disini kecuali mengambil foto. Angin juga berhembus sangat kencang dan udara siang itu lumayan dingin. Jadi menyesal tidak menggunakan sweater. Oh iya, kami sempat mengobrol dengan masyarakat lokal mengenai tempat-tempat mana saja yang bakalan kita kunjungi selama di Flores. Mereka menyarankan beberapa tempat yang memang sesuai dengan itinerary kita.
Pose dulu
Yang menjadi perhatian saya adalah perjalanan dari Ruteng menuju Bajawa yang kata orang lokal saja sungguh mengerikan kelok-keloknya. Kalau kita merasa dari Denge ke Cancar saja sudah sulit, apalagi ke Bajawa. Saya masih berpikir kalau saya tidak pernah muntah selama perjalanan tapi mendengar cerita orang-orang itu jadi serem juga. Bahkan mereka bilang, "Bajawa itu dataran tinggi dan ketika menuju kesananya, belokannya patah-patah banget. Mungkin matahari bisa berada di kiri dan kanan dan beberapa menit saja." Tunggu, kalau matahari bisa kiri dan kanan dalam waktu secepat itu, berarti patah banget dong belokannya😱😱😱.

Kami menghabiskan waktu kurang lebih sejam untuk menikmati pemandangan sawah jaring laba-laba sebelum melanjutkan perjalanan ke Ruteng untuk makan siang. Dari Cancar ke Ruteng cuma 5 menit saja waktu tempuhnya.

Baiklah, nanti saya lanjutkan lagi cerita dari Ruteng ke Bajawa yang membuat saya muntah 🤮🤮🤮 parah banget. Udah 10 tahun nggak muntah di perjalanan, akhirnya muntah.

Sampai jumpa!

Sumber:
https://www.mongabay.co.id/2017/07/28/sawah-berbentuk-jaring-laba-laba-di-manggarai-ini-hanya-satu-satunya-di-dunia/
https://www.atlasobscura.com/places/spider-web-rice-fields

After the tiring trekking from Wae Rebo, we continue our journey to Cancar Rice Fields that well known for their rice fields. It took about 2 hours from Denge to Cancar (the village of rice fields). This Cancar village really close to Ruteng city, only 5 minutes drive.

This is the only one rice fields in entire world that shaped really unique, like a spider web. The colourful rice paddies found throughout Asia are commonly laid out in rectangular plots, or sometimes as stepped terraces, adding to their natural beauty. On the island of Flores, Indonesia, however, the rice fields formed a delightfully unique shape, one that looks like a giant spider web.

This wonderful shape was not intentional, but rather the result of the traditional communal agriculture of the indigenous Manggarai people. Centuries ago, the cultivated land, known as Lingko, was shared by the entire village. The communal fields were circular, with the Lodok at the center, where ceremonial rituals were held around the harvest.

Each family was allocated a segment of the rice field, radiating from the center outward. (Each was inaugurated by the sacrifice of a water buffalo.) The more resources a family had, the larger their slice of the pie; at the time, the rice fields were shaped like pie charts. Later, the paddies were further subdivided by the decedents of the original owners, leading to the striking, web-like shape of the Lingko today. Also, the tribe or village chief will get a larger slice.

If you wanna enjoy the full scenery of the rice fields, there are 250 stairs to hike to Weol, the top of the hill. You have to pay IDR 10,000 per people (I don't know if the price is the same to foreigners) as an entrance fee.  Just take some pictures here, then we had to Ruteng to having lunch.

Agustus 06, 2019

Mengajukan Visa Australia Online - GRANTED

Akhirnya deg-degan saya selama seminggu ini berakhir juga. Ntah kenapa setiap pengajuan Visa, saya pasti was-was. Apalagi ngajuinnya mepet banget. Sebenarnya saya udah baca-baca blog yang menuliskan langkah-langkah mengajukan Visa secara online dan karena satu dan lain hal saya jadi menunda-nunda untuk mempersiapkan dokumen. Apalagi kemarin harus ngetrip ke Flores dulu, jadi semakin menunda pengajuan Visa. Saya juga lebih suka mengurus Visa sendiri dan nggak pernah pakai agen (kecuali Visa Umroh) biar tau tantangannya dan merasakan sensasi deg-degan yang nggak karuan (nggak usah diikutin ya).

Tanggal 28 Juli 2019 kemarin, saya mencoba membuat akun dulu di https://online.immi.gov.au/lusc/login sesuai dengan pedoman cara mengajukan Visa Online dari beberapa blog. Saya screenshot beberapa tampilan halamannya.
Membuat akun
Membuat password
Kurang lebih cara membuat login sama aja seperti di website lainnya. Nanti bakalan ada konfirmasi ke email yang kita daftarkan di website. Setelah Login, kalian bikin grup dulu untuk mengajukan aplikasi berbarengan beberapa orang. Karena yang berangkat kali ini saya, Mama, Adik cowok, dan adik ipar, jadi saya bikin grup dulu. Hal ini hanya untuk memudahkan Kedutaan untuk mencari koneksi dokumen saja.

Karena bakalan banyak banget dokumen yang harus diupload ke website, saran saya lebih baik untuk membuat folder di laptop sesuai nama yang akan mengajukan Visa. Contohnya seperti ini:
Biar gampang dicari
Jangan lupa memberikan nama file yang memudahkan kalian untuk upload, sehingga nggak tertukar atau terbalik dengan orang lain. Contohnya seperti ini:

Penamaan dokumen
Setelah semua rapi, baru kita mulai pengisian Form. Jangan lupa memilih Visitor (subclass 600) sebagai tipe Visa yang akan kita ajukan. Tinggal isi data sebenar-benarnya dan sejujur-jujurnya ya. Kalau kurang paham sama bahasa inggrisnya, bisa bertanya mbah Google atau boleh menulis komentar di postingan ini. Insya Allah saya jawab sebisa mungkin.

Oh ya, ada salah satu pertanyaan di Form apakah pernah dalam pengajuan Visa, tapi Visa ditolak? Saya menjawab pernah tahun 2014 yaitu Visa Korea. Tahun itu karena saya punya Visa Jepang dan pernah saya tulis disini Masuk Korea Selatan Tanpa Visa, jadi saya tetap bisa masuk ke Korea dan peraturan ini sudah berubah ya sekarang. Udah nggak bisa lagi. Walaupun sudah lama, tapi kita tetap harus ngaku ya. Jangan bohong.
Pernah ditolak Visa nggak?
Tinggal diisi aja kronologisnya dulu 'gimana secara singkat, padat, dan jelas. Insya Allah nggak bakalan ada masalah.

Nah, ada hal yang paling simpang-siur di semua blog tentang persyaratan apa saja yang harus dilampirkan ketika mengajukan Visa Australia. Ada yang bilang harus ada tiket pesawat, surat keterangan kerja, ijin atasan, dan semuanya serba nggak pasti. Jadi, saya screenshot hal yang pasti-pasti aja nih. Bisa lihat dibawah kalau yang Required (wajib) cuma 4 hal. Eits, tunggu dulu. Kalau kita klik tanda tambah (+), beberapa ada yang beranak-pinak dan akan saya jabarkan satu demi satu biar tidak ada lagi kesimpang-siuran ini. Mari disimak!
Required and Recommended

  • Photograph - Passport : Kita upload pas foto latar belakang putih. Jujur aja saya nggak tau ukurannya berapa karena ini dalam bentuk file, sehingga saya kirimkan dalam ukuran lumayan besar. Mungkin kalau harus dicetak sih pasti ada ukurannya.
Pas foto
  • Travel Document : Ini ada beberapa pilihan. Tapi saya hanya mengupload Passport halaman depan dan belakang saja.
Passport
  • National Identity Document (other than Passport) : Saya mengupload KTP. Sempat was-was karena KTP saya sudah expired sejak 2017. Tapi kan di Indonesia sekarang sudah tidak berlaku tanggal kadaluarsa KTP, jadi harusnya tidak masalah. Kecuali kalau di KTP kalian ada tulisan "Berlaku Seumur Hidup", sudah pasti aman.
KTP
  • Evidence of the applicant's previous travel : Bukti kalau kita pernah berpergian kemana saja. Hal ini bisa dibuktikan dengan stempel di passpor. Nah, berhubung passpor saya baru sejak 2018, jadi mending saya upload juga expired passport (bisa dilihat di dropdown list ada current dan expired passport). Apalagi saya sempat menulis di Form kalau pernah direject Visa Korea dan berhasil masuk Korea. Jadi buktinya ya stempel dari Imigrasi Korea. Di passpor lama saya juga terdapat banyak Visa, sedangkan di passpor baru hanya Visa Umroh doang. Biar lebih menguatkan bukti kalau saya sudah sering jalan-jalan.
Current and Expired Passport
Baiklah, yang Required (wajib) sudah di upload semua. Sekarang mari berpindah ke tahapan Recommended (disarankan). Ingat ya, disarankan itu bukan berarti wajib. Kalau ada lebih baik, tapi kalau nggak ada juga nggak apa-apa. Hanya saja menurut saya semakin lengkap dokumen, semakin cepat proses pengajuan Visa.

  • Family register and composition form: Dalam Form ini harus ada bukti kalau kita beneran satu keluarga. Disini saya mengupload Kartu Keluarga dan Akte Kelahiran biar ada bukti kalau saya beneran anak Mama saya. Karena adik saya tidak satu Kartu Keluarga dengan Mama, berarti saya upload Akte Kelahiran adik yang membuktikan kalau Adik saya adalah beneran anak Mama saya. Akte kelahirannya pun berupa fotokopian karena yang asli ntah kemana. Karena adik saya sudah menikah, jadi saya upload buku nikahnya. Hal ini menjadi bukti kalau istri adik saya yang saya tulis di Form kalau keuangannya didukung oleh suaminya. 
Bukti anggota keluarga
  • Evidence of planned tourism activities in Australia : Disini saya mengupload itinerary singkat dan bukti booking hotel
Itinerary and Hotel Booking
  • Evidence of financial status and funding for visit: Saya memasukkan rekening koran saja.  Untuk Mama karena sudah pensiun, saya upload Pension Book. Sebenarnya banyak yang bisa diupload (bisa dilihat dalam dropdown list). Tergantung mana yang kalian bisa sediakan saja. 
Rekening koran dan buku pensiun
  • Evidence of current employment or self-employment: Disini saya dan adik memasukkan Evidence of Leave (Surat Ijin Atasan). Beberapa yang saya baca di blog ada yang memasukkan Surat Keterangan Kerja. Ya bebas aja, yang penting ada bukti kalau kalian masih kerja. 
Bukti kerja
  • Group tour details (Group name list, itinerary) : Sebenarnya saya bingung mau masukin apa ke menu ini. Menurut saya dalam menu ini adalah bukti kalau kita bakalan pergi berempat. Jadilah saya masukin tiket pesawat pulang-pergi dimana di tiket pesawat memang ada nama kita berempat dalam satu kode booking. Sekali lagi ini tebakan saya doang ya😝.
Bukti berpergian bersama
  • Exceptional reasons for extended stay in Australia as a visitor : Saya nggak upload apa-apa.
Nggak upload apa-apa
Setelah semua data selesai dimasukkan, tekan tombol Next dan nanti jadi berubah ke Ready to Submit. Kalau masih mau dicek dulu data-datanya silahkan. Saya membutuhkan waktu 2 hari untuk memastikan data benar dan semua dokumen sudah diupload. Nah, kalau data sudah benar, tinggal submit application yang bisa sekalian semua.
Ready to Submit
Harga Visa adalah AUD145 perorang. Bisa dibayar secara Debit/Credit Card, Paypal, atau UnionPay. Yang paling mudah memang pakai kartu kredit ya.
Pembayaran
Buat yang pakai kartu kredit, nanti ada kena surcharge sekitar 1.3% perorang dan akan ditotalkan otomatis ketika pembayaran.
Total pembayaran ditambah surcharge
Selesai pembayaran, baru deh saya kaget melihat waktu pemrosesan 18-24 hari. Wahhhh, kalau sampai jadi 24 hari kemudian, bisa-bisa saya gagal berangkat. Sejak baca itu, mulai deh saya setiap hari was-was nggak karuan. Duh, gimana nih kalau belum granted juga?
Aplikasi selesai
18-24 hari 😱😱😱
Hari demi hari berlalu. Statusnya masih Received dan belum ada tanda-tanda email masuk dari Kedutaan Australia. Mau dicek tiap hari pun statusnya masih sama. Jangan tanya betapa deg-degannya saya. Sampai tadi akhirnya karyawan di kantor bilang kalau ada yang menelepon dari Kedubes Australia, bertanya singkat tentang apa benar saya bekerja di kantor ini? Wah semakin deg-degan lah saya.

Tiba-tiba satu jam setelah kabar orang Kedubes menelepon kantor, saya langsung dapat email GRANTED. Alhamdulillah!!! Rasanya senang bukan kepalang🥳🥳🥳.
Visa Granted
Iseng-iseng saya cek di website. Status Received sudah berubah ke Finalised. Yeay🥳🥳🥳!
Finalised🥳
Kesimpulan dari proses pengajuan ini adalah Visa saya Granted dalam waktu 5 hari kerja. Di blog sih ada yang hanya 2 hari kerja, tapi ada juga yang 20 hari kerja. Jadi mending jangan mengajukan terlalu mepet ya. Saya mengajukan Visa malah 3 minggu sebelum berangkat dan alhamdulillah Granted dalam waktu 5 hari kerja.

Dulu saya mengajukan Visa United Arab Emirates seminggu sebelum keberangkatan dan alhamdulillah Granted dalam 2 hari kerja. Visa India dalam 5 hari kerja, Visa Jepang dalam 2 hari kerja, dan Visa New Zealand 3 hari kerja. Tapi sebaiknya kalian mengajukan dari jauh-jauh hari ya. Situasi dan kondisi yang membuat saya harus selalu mengajukan aplikasi Visa secara mepet tapi deg-degannya itu nggak enak banget deh. Hehehe.

Baiklah, semoga postingan ini bisa membantu kalian yang akan berpergian ke negara kangguru. Sampai jumpa!

Follow me

My Trip