Mei 24, 2019

Celah Gigi

Setelah dua hari menyesuaikan diri dari dengan suasana leyeh-leyeh di Aceh, baru kemudian kembali bekerja. Ternyata kalau sudah di kampung halaman, saya jadi lebih semangat untuk bekerja sih. Ntah karena disini rame, jadi bisa nge-laptop sambil duduk di ruang tengah sekalian ngobrol.

Baiklah, seperti biasa saya akan mengupdate laporan perkembangan Perfect Smile 2019. Sewaktu ke dokter hari Selasa kemarin, gigi saya ditarik-tarik ke kiri dan ke kanan. Bahkan alat untuk menariknya itu beberapa kali meleset dan saya bingung kenapa nggak membuat gusi saya berdarah. Padahal sakit banget deh sewaktu gusi terkena alat kedokteran yang mirip seperti tang😵. Biasanya salah sikat gigi aja atau gusi kena ujung sikat gigi pasti bikin sariawan. Ini kenapa enggak ya?🤔

Proses tarik-menarik gigi juga agak menyeramkan dan melibatkan 2 orang perawat. Mungkin karena karet giginya kenceng banget, atau karena celah gigi saya yang memang agak dipaksa untuk dirapatkan. Apa pun alasan dibalik itu semua, yang pasti kontrol gigi kemarin lumayan menyeramkan😨.
Senyuman belum pas di tengah

Kalau dilihat secara kasat mata oleh saya, celah gigi sebelah kiri memang agak lebih besar sehingga proses penarikannya lebih menyeramkan. Tapi saya puas banget dengan gigi saya sekarang gini dan nggak sabar untuk menunggu sampai benar-benar bisa Perfect Smile. Sekarang kalau berfoto udah bisa sambil tersenyum. Kalau dulu masih malu karena terlihat jelek banget.

Semoga urusan gigi ini cepat beres Ya Allah. Aminnn🤲.

Kontrol Sapphire Braces Rp. 275,000.
Service Charge Rp. 25,000

Mei 12, 2019

Tempat Wisata di Yogyakarta

Mungkin sudah 7 tahun tidak menginjakkan kaki di kota Yogyakarta. Kali ini saya kembali dengan kondisi keuangan yang lebih baik, hahahaha😆😆😆. Kenapa harus disebutkan lebih baik? Karena dulu ke kota ini dengan sangat irit. Nebeng di rumah teman di Salatiga untuk nyuci baju karena bawa ransel doang dan baju sendikit. Trus sewaktu teman saya dinas ke luar kota, saya harus menyewa kos-kosan yang jauh dari pusat kota Jogja agar lebih murah. Belum lagi kemana-mana naik angkutan umum atau sharing taksi bersama teman-teman. Kalau dipikir-pikir, saat itu sebenarnya begitu melelahkan dan menyita waktu. Belum lagi kulit gosong dan berfoto dengan wajah tanpa riasan apa pun menggunakan kamera saku sederhana. Tapi saya tetap bahagia bisa menjelajah Jawa Tengah dan Yogyakarta sampai kepelosok dengan budget super duper minimalis.

7 tahun kemudian...

Ntah udah berapa kali berencana ke kota ini dari tahun-tahun sebelumnya. Mungkin karena hampir seluruh pelosok Yogyakarta pernah saya kunjungi sehingga ada saja alasan saya untuk mending pergi ke kota lain yang belum pernah saya datangi. Hanya saja, seperti yang kita ketahui kalau tiket pesawat domestik sekarang sangat mahal. Rasanya lebih baik kalau kita ke luar negeri saja dengan tiket seharga segitu daripada jalan-jalan di dalam negeri. Berhubung saya sudah agak lama tidak jalan-jalan karena Rancupid sempat krisis (alhamdulillah sudah berakhir krisisnya) dan kebetulan tiket.com ada promo harga gledek, jadilah saya memantapkan hati untuk pergi ke Yogyakarta.

Karena memiliki banyak poin AirAsia hasil dari poin belanja dengan menggunakan kartu kredit, Alhamdulillah saya bisa naik pesawat dengan harga murah ke Yogyakarta. Penerbangan dari Jakarta ke Yogyakarta hanya satu jam. Setiba di bandara Adisutjipto, seperti biasa langsung diserbu dengan orang-orang yang menawarkan taksi. Saya sempat cek taksi online terlebih dahulu yang harganya kurang dari 30rban, sedangkan taksi bandara menawarkan harga 100rb😱😱😱. Yang benar saja? Saya sampai menawar taksi bandara dari 100rb ke 50rb pun mereka nggak mau. Akhirnya saya berjalan keluar bandara (mumpung bawa koper kecil jadi nggak berat), baru memesan taksi online (di dalam bandara nggak boleh memesan taksi online). 

Saya menginap di Hotel Jambuluwuk yang dekat dengan Malioboro (bisa jalan kaki). Setelah sampai di hotel, awalnya mau mandi dulu. Tapi keran showernya rusak. Bukan kamar saya saja yang rusak, kamar Efan juga rusak. Padahal Jambuluwuk adalah hotel bintang lima dan saya menyewa kamar Premiere, tapi keran malah rusak dan sofa ada bercak tumpahan air😑😑😑. Memang sih teknisi hotel langsung datang ketika saya laporkan kalau keran rusak, tapi memperbaiki keran saja sudah menghabiskan waktu. Nggak jadi mandi deh.

Baiklah, saya akan menceritakan beberapa tempat yang saya kunjungi selama di Yogyakarta. Mari di simak:

1. Malioboro dan Keraton Yogyakarta
Sepertinya kalau ke Jogja nggak sah kalau nggak ke Malioboro. Saya tinggal jalan kaki dari hotel kesini. Masih banyak pertokoan, ada pentas seni jalanan, dan juga angkringan. Karena sudah waktunya makan malam, kita memilih angkringan yang terlihat ramai untuk makan. Ada yang bilang kalau angkringan di Jogja harus kita cari yang ada daftar menunya kalau nggak mau diketok harga. Tadinya pengen makan bakmi Jogja yang pernah saya makan 7 tahun yang lalu. Udah jalan kesana-sini malah nggak ketemu angkringannya. Ya sudahlah, akhirnya saya dan Efan memilih angkringan yang menjual ayam penyet.
Jajanan
Mau makan apa?
Setelah makan, kita jalan menuju Keraton Jogja. Kata Nufus, kalau Keraton Jogja di malam hari nggak buka. Palingan kita cuma bisa jalan-jalan saja dan menikmati keramaian kota. Saya tidak masalah kalau hanya bisa menikmati Keraton Jogja dari luarnya saja. Malah lebih senang melihat keramaian di sekitar Malioboro sampai ke Keraton. Kangen juga dengan suasana Jogja di malam hari.
KM 0
Kami berjalan menuju Keraton melewati Kilometer 0 Yogyakarta yang pada malam itu sedang mati lampu. Jangan tanya betapa ramainya suasana Malioboro, Keraton, dan Kilometer 0. Mungkin karena sedang malam minggu, jadi penduduk lokal pun keluar semua. Cuaca pun cerah dan tidak hujan (teringat dulu pas ke Jogja sedang hujan deras dan nggak seru kalau mau jalan kaki mengelilingi kota). 
Yuk naik!
Karena sudah berjalan terlalu jauh dan udah keringetan, akhirnya saya memutuskan untuk pulang dengan naik becak. Kalau di Aceh, saya masih sering naik becak sama Mama kemana-mana. Berbeda dengan di Jakarta atau Depok, nggak pernah sama sekali naik becak. Karena jaraknya dekat dari Malioboro ke hotel, ongkos becak hanya Rp. 15,000 saja.

2. Candi Borobudur
Siapa yang tidak tau Candi yang pernah menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia ini? Ini kali kedua saya kesini. Dari Jambuluwuk hotel, saya menyewa mobil via tiket.com (lagi promo juga) supaya bisa santai dan tidur di mobil karena jarak kota Magelang lumayan jauh dari hotel. Sewaktu bangun tidur, kita sudah tiba di parkiran candi. Tiket masuk  seharga Rp. 40,000 dan parkir Rp. 10,000.
Selamat datang
Salah satu stupa paling ikonik
Saya sarankan untuk bawa air minum dan topi sebelum masuk candi karena cuaca panasnya minta ampunnnn......😖😖😖!!! Nggak ada tempat untuk berteduh juga kecuali di sela-sela batu-batu candi. Kalau mau ke Borobudur juga mending nggak usah di weekend karena pengunjungnya terlalu rame. Jadi susah kalau mau berfoto karena dimana-mana ada orang. Belum lagi waktu itu saya udah lama nggak pegang kamera jadi untuk mensetting kamera agar pencahayaannya benar itu lumayan memakan waktu juga. Keburu kebakar matahari😩.
Buru-buru mengambil foto mumpung sepi
Oh ya, seingat saya dulu ngos-ngosan banget ketika menaiki tangga candi. Sekarang kok kayaknya gampang banget. Apa karena sudah sering yoga jadi stamina bertambah? Padahal dulu masih muda tapi stamina lebih bagus sekarang. Bagus lah😆. Rutin olah raga itu ternyata penting banget lho!

3. Gereja Ayam
Mungkin saya salah satu korban film Ada Apa Dengan Cinta 2 yang ingin banget mengunjungi tempat ini. Berhubung 7 tahun yang lalu tempat ini belum terkenal. Jaraknya memang cuma 10 menit doang dari Candi Borobudur dan berada di puncak bukit Rhema yang katanya pemandangannya menakjubkan. Jadi sayang banget kalau sampai tidak mengunjungi tempat ini.
Ayam apa burung?
Tiket masuk ke gereja ayam Rp. 15,000 perorang. Karena gerejanya berada di bukit, jadi kami harus naik jeep untuk menelusuri tanjakan setinggi 500 meter. Ongkos naik jeep sekali jalan Rp. 5000 peorang. Kalau naik bukit mungkin ngos-ngosan, tapi turunnya malah enak jadi nggak usah sewa jeep lagi deh.
Di dalam gereja
Sebenarnya gereja ayam ini dibangun untuk tempat beribadah segala agama. Bisa dilihat disini banyak tempat-tempat beribadah misalnya untuk muslim ada sajadah, tempat wudhu, dan mukenah. Kalau untuk agama lainnya juga ada. Gereja ini juga sangat terawat, catnya tampak baru, dan bersih banget. Kata tukang bersih-bersih, sejak film AADC memang dilakukan renovasi besar-besaran agar pengunjung nyaman. Mungkin kalau kita lihat di film AADC, gereja ini masih gelap dan berdebu kan? Sekarang udah rapi dan berwarna-warni.
Kepala ayam
Kalian bisa menukarkan tiket masuk dengan makanan ringan di kantin. Lumayan bisa ngemil sambil menikmati pemandangan Bukit Rhema yang Masya Allah indahnya. Sekaligus bisa berfoto di setiap sudut kantin. Setelah puas berfoto, saya menuruni jalan menuju parkiran dengan curam. Harus hati-hati jalan disini kalau nggak mau terpeleset. Apalagi sudah mulai becek karena gerimis.
Pemandangan di kantin
Awalnya ingin langsung ke candi Prambanan. Tapi karena hujan derasss banget dan pengalihan jalan, jadilah sampai ke Candi Prambanan sudah lebih dari jam 5 sore dan tutup. Agak kecewa sih, tapi supir kita yang gaul banget mengalihkan tujuan ke Tebing Breksi. Untuk mengobati kekecewaan dan kebetulan saya belum pernah ke Tebing Breksi, mari kita kunjungi!

4. Tebing Breksi
Sebelum menjadi tempat wisata, Taman Tebing Breksi adalah tempat penambangan batuan alam. Kegiatan penambangan ini dilakukan oleh masyarakat sekitar dan bisa dilihat terdapat tempat-tempat pemotongan batuan hasil penambangan untuk dijadikan bahan dekorasi bangunan. Sejak tahun 2014, kegiatan penambangan di tempat ini ditutup oleh pemerintah. Penutupan ini berdasarkan hasil kajian yang menyatakan bahwa batuan yang ada di lokasi penambangan ini merupakan batuan yang berasal dari aktivitas vulkanis Gunung Api Purba Nglanggeran. Kemudian lokasi penambangan ditetapkan sebagai tempat yang dilindungi dan tidak diperkenankan untuk kegiatan penambangan.

Setelah penutupan aktivitas tambang tersebut, masyarakat mendekorasi lokasi bekas pertambangan ini menjadi tempat wisata yang layak untuk dikunjungi. Tepatnya pada bulan Mei 2015, Tebing Breksi ini diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai tempat wisata baru di Jogja. Wajar saja kalau 7 tahun yang lalu tempat ini belum ada, sehingga saya belum pernah kesini.
Lampu-lampu dari tebing
Sebenarnya kalau untuk berfoto yang instagramable sih, Tebing Breksi bisa menjadi salah satu pilihan. Berhubung saya nggak begitu suka foto-foto cute untuk dimasukkan ke Instagram, jadi saya nggak mengambil banyak foto. Agak bingung juga mau berfoto seperti apa🤔. Tiba-tiba ada beberapa pemandu wisata datang menghampiri saya dan menawarkan jasa foto. Berbeda dengan cetak foto langsung jadi yang biasa ada di tempat wisata, mereka adalah anak-anak muda yang udah mengerti angle bagus di Tebing Breksi yang keren untuk diunggah ke Instagram. Mereka membawa tripod juga dan saya menyuruh mereka pakai kamera saya aja. Foto malam hari memang lebih baik pakai tripod sedangkan saya nggak punya.
Angle-nya keren ya
Sesi foto dimulai lebih dari sejam. Berhubung saya juga sebenarnya sudah capek, muka juga kayaknya udah amburadul, saya nggak yakin kalau foto-foto disini bakalan bagus. Belum lagi beberapa gaya foto membuat saya dan Efan ketawa dulu baru bisa difoto. Ternyata oh ternyata, hampir semua fotonya baguuuus😍. Seru juga memakai jasa fotografer seperti ini karena mereka tau banget spot foto di setiap sudut tebing breksi. Selesai sesi foto, saya masih tetap bertanya biasanya mereka dibayar berapa? Mereka tetap menjawab seikhlasnya. Kata-kata ikhlas ini ambigu. Kalau dikasih Rp. 5000 nanti ngambek😄. Akhirnya saya kasih deh Rp. 50,000.

5. Candi Prambanan
Tempat ini kurang lebih masih sama dengan yang saya kunjungi 7 tahun yang lalu. Tiket masuk seharga Rp. 40,000. Untung saja dulu saya mengunjungi candi-candi ini dulu baru ke Siem Reap di Kamboja yang memiliki candi agak mirip dengan penuh cerita kebudayaan Hindu-Buddha. Negara-negara Asia Tenggara memang terkenal sekali dengan candi dan saya sarankan kalian untuk mengunjungi semua candi di negara-negara Indo-China agar bisa menelusuri sejarahnya.
Foto begini tuh capek banget loh! Ntah berapa kali retake😪.
Gaya dulu
Disini saya hanya berfoto saja dan menceritakan sedikit sejarah kepada Nufus, sepupu saya. Oh ya, kalau kalian sudah puas mengambil foto di candi, mungkin bisa main ke Taman Rusa atau tempat bermain lainnya (7 tahun yang lalu belum ada) yang berada di komplek candi.

6. Candi Ratu Boko
Dulu saya sudah khatam berkeliling candi yang super duper luas ini. Sekarang jadi malas karena harus menaiki banyak tangga dan saya sudah capek mengambil foto lompat di candi Prambanan tadi. Saya sudah menyuruh Efan dan Nufus untuk berkeliling candi, sedangkan saya mau menunggu matahari terbenam. Eh mereka jadi malas juga. Mungkin karena saya nggak ikut. 

Awalnya saya mau menemani mereka berkeliling, tapi memang kita sudah terlalu sore berada di candi ini. Maklumlah, keluar dari hotel juga udah jam 12 siang, sampai ke kosan Nufus sejam kemudian, baru jalan ke candi Prambanan. Waktu saat itu terasa begitu cepat berlalu, eh udah mau tenggelam aja mataharinya.
Sunset
Sebenarnya candi Ratu Boko adalah tempat terindah untuk mengambil foto sunset. Tapi jangan terlalu berharap, apalagi ribuan manusia juga berebutan untuk mengabadikan foto matahari tenggelam. Alhasil, susah banget mendapat foto dimana sedang sepi. Teringat sewaktu di Jepang dulu, khusus untuk spot foto bagus orang-orang akan langsung berbaris mengantri. Tapi agak tidak mungkin mengingat waktu matahari tenggelam sangat singkat.
Siluet
Baiklah, setelah ini saya akan memposting tempat wisata yang saya kunjungi di Bantul. Sampai jumpa!

April 25, 2019

Kenangan di Warung Padang

Cerita ini saya tulis karena bulan lalu sempat lewat Jalan Tubagus Ismail di Bandung dan melihat warung Padang Singgalang yang paling beken dulu diantara mahasiswa dan sesama anak kos😂. Tapi cerita kali ini bakalan saya bumbui, agar lebih sedap seperti rasanya nasi padang. Mari disimak!

***

Akhirnya aku kembali ke Bandung walaupun hanya beberapa hari untuk bisnis trip setelah beberapa tahun tidak kesini. Biasanya kalau ke Bandung hanya 1-2 hari dan bakalan di hotel aja karena kerja dan meeting. Ntah kenapa, kali ini aku khusus memperpanjang waktu di kota ini karena kangen. Kangen suasananya, kangen orang-orangnya, kangen hiruk-pikuknya, dan segalanya. Kebetulan juga kerjaan di Bandung tidak sehectic biasanya, jadi bisa sekalian jalan-jalan.

Karena ingin nostalgia tentang kenangan 10 tahun yang lalu, tempat pertama yang aku datangi adalah Dago. Aku naik angkot yang aku cegat dari depan hotel (sekali pun banyak taksi online, aku ingin sekali naik angkot). Aku sempat bingung berapa ongkosnya, jadi aku keluarkan lembaran 10rb dan aku dikembalikan 5rb. Padahal jarak hotel yang juga di Dago ke simpang Dago lumayan dekat tapi bayarnya 5rb. Ntah aku ditipu sama supir angkot seperti dulu atau memang harganya udah naik😅. 

Aku berjalan kaki menelusuri jalan Tubagus Ismail dimulai dari Simpang Dago. Aku mengira-ngira, dulu disini tempat aku beli ayam potong yang bakalan dimasak bareng-bareng teman kosan agar mengirit pengeluaran untuk makan sehari-hari. Disini juga pernah ada warnet tempat aku ngeprint tugas kuliah, sekarang sudah tidak ada lagi. Dulu dibawah warnet ini ada kosan juga, tapi sekarang ntah masih ada😗. Harusnya kalau kos-kosan pasti laku terus selama mahasiswa masih ada di Bandung, jadi nggak mungkin tutup.

Sampai aku berhenti di warung padang Singgalang. Seolah-olah kenangan yang pernah ada datang seketika ke otakku. Sebenarnya aku tidak terlalu lapar, karena tadi pagi sarapan super duper banyak di hotel. Aku masuk ke dalam warung, melihat bapak kacamata yang masih kuingat jelas. Bapak itu sepertinya tidak mengingatku, mungkin karena dulu banyak sekali mahasiswa datang ke warung ini sampai sekarang.

"Mau bungkus apa makan disini?" tanya si Bapak.
"Makan disini, Pak."
Bapak itu dengan cepat menaruh nasi ke piring, "Mau pake (lauk) apa?"
Aku menggeleng, "Nasi dan kuah aja Pak. Belum dapat kiriman duit dari Ayah."
Bapak tersenyum sambil menatapku, lalu menaruh kuah dan sayur singkong ke piringku. Dulu, menu ini adalah penyelamat di kala uang jajan menipis di akhir bulan dan nggak enak minta lagi ke Ayah. Jadi kangen masa-masa itu.
"Mau tambah nasi atau sambel?"
"Nggak usah, Pak. Makasih ya." Aku menerima piring nasi yang disodorkan Bapak tersebut dan membawanya ke meja di dekat jendela. Aku menatap isi piringku sejenak, mengingat-ingat jaman dulu kalau aku sering sekali makan seperti ini. Aku mengaduk-aduk nasi agar kuahnya bercampur, dan menemukan ada potongan daging kecil diantara kuah. Dulu, kalau dapat daging seperti ini, senangnya minta ampun karena di kala bokek tapi bisa makan daging walaupun besarnya hanya seruas jari.

Bapak warung kemudian datang dan menghidangkan teh tawar hangat. Aku berterima kasih dan mulai menyantap makanan. Sesuap, dua suap, duh rasanya langsung teringat Ayahku yang sudah lama tiada. Dulu, merepotkan Ayah rasanya adalah dosa besar untukku. Aku akan tetap bertahan sampai Ayah mengirimkan uang tanpa meminta. Aku sungguh berterima kasih pada Bapak warung yang sangat berbaik hati pada mahasiswa. Bahkan aku takjub dengan kebaikan hati beliau sampai sekarang. Seketika aku jadi terharu, ntah karena sedih mengingat jaman itu, ntah pun karena kuah rendang yang pedas.

Karena masih jam 11 siang, pengunjung warung belum terlalu rame. Aku melihat si Bapak sedang membaca majalah, sedangkan beberapa pelayan warung yang melayani pembeli. Aku menyuap nasi ke mulut dengan perlahan-lahan sambil menikmatinya. Ntah berapa tisu sudah kupakai untuk menyeka air mata. Untung aku duduk di dekat jendela, jadi nggak keliatan banget kalau lagi nangis sambil makan nasi padang😢.
Gambar dari https://www.saribundo.biz/
Tiba-tiba Bapak datang ke mejaku sambil menghidangkan sepiring ayam cabe dan rendang. Dengan mata yang masih berkaca-kaca, aku menatap semua makanan enak itu, lalu menatap Bapak yang duduk dihadapanku dengan tatapan penuh segudang pertanyaan.

"Saya traktir," katanya.
Aku terdiam.
"Mungkin kamu sekalian mau nostalgia dengan rasa ayam cabe dan rendang yang biasa kalian makan di awal bulan, ketika sudah mendapat kiriman uang jajan dari Ayah?"
Rasanya suaraku tercekat, "Iya, mau." kataku seraya mengangguk.
"Pasti nasi, kuah, dan daun singkong udah nggak ada rasanya lagi sekarang buat kamu, makanya saya kasih ayam dan rendang. Enak nih, dimakan yah."
Tanpa menunggu lama, saya langsung menyantap semua hidangan dengan cepat. Duh, rasanya enak banget😍.

Bapak tersenyum melihat saya. Beliau mengatakan, "Saya senang banget kalau ada mahasiswa yang dulu suka makan disini, trus ketika sukses kembali kesini hanya untuk nostalgia dengan rasa masakan yang tidak seberapa ini."
"Ini luar biasa, Pak." jawab saya dengan gembira. "Saya tidak tau betapa banyak pahala Bapak karena telah memberi makan mahasiswa kelaparan seperti saya dari dulu sampai sekarang."
"Biarlah Allah yang membalas. Semoga sukses selalu ya untuk kamu. Doakan warung ini selalu ramai pengunjung."
"Aminn ya Allah🤲."

Kontrol Gigi April

Tidak ada yang terlalu signifikan di kontrol gigi kali ini. Celah di gigi kiri atas sudah mulai menutup tapi kalau dibandingkan dengan celah bagian kanan masih agak besar. Sisi kanan mungkin sudah tinggal beberapa milimeter lagi celahnya. Kata dokter, mungkin kalau saya mengunyah makanan lebih sering di sisi kiri daripada kanan. Benarkah🤔? Biasanya mana pernah sadar lagi ngunyah di kanan atau kiri😂😂😂.

Semakin kesini, sepertinya permasalahan pada gigi saya semakin sedikit. Nggak pernah sariawan lagi, nggak pernah susah tidur karena gigi gerak-gerak, palingan cuma rada kencang aja setelah habis kontrol karena kawat giginya ditarik ulang. Dibagian celah gigi diberikan power chain (kalau tidak salah namanya), sebagai alat bantu supaya celah segera menutup. Dokter juga meresepkan karet elastik agar gigi geraham bisa maju ke depan (menutup celah) lebih cepat. 
Gigiku
Kalau dilihat dari sisi depan memang gigi saya masih agak miring sedikit. Tapi kalau dilihat dari struktur gigi bagian dalam sudah rapi banget. Udah pede untuk difoto sambil tersenyum😁😁😁, hihihi. Semoga beneran bisa Perfect Smile 2019 ya. Kalau menurut saya sih udah almost perfect smile sih ini🥰.

Service Charge Rp. 25,000
Kontrol Ortho Sapphire Spesialis Rp. 275,000
Elastic Rp. 60,000

Oh iya, ada hal yang (agak) mengganggu saya. Sepertinya minat orang baca blog sudah mulai agak menurun. Bisa dilihat dengan pembaca blog saya yang biasanya dalam 3 hari bisa lebih dari 100 orang, tapi sekarang menurun drastis. Yah, walaupun demikian, saya akan tetap menulis. Saya sebenarnya tidak terlalu peduli seberapa banyak pengunjung di blog karena memang saya nggak monetize blog ini. Dulu sih sewaktu pasang iklan, saya peduli banget sama pengunjung blog. Kalau sekarang sih, banyak pengunjung di blog saya anggap bonus aja.

Baiklah, semoga saya selalu bisa menulis ya. See you!

April 17, 2019

Connecting The Dot Batch 1

Sudah sebulan berlalu sejak acara Workshop Connecting the Dot yang diselenggarakan pada tanggal 16-17 Maret 2019 yang lalu. Sebenarnya ini adalah workshop kedua yang diadakan oleh perusahaan saya PT. Rancupid Citra Indonesia dan Woimedia. Tapi dinamakan Batch 1 karena yang pertama adalah Batch 0 (nol) atau Batch Beta😋. Memang yang Batch 0 kemarin kita sekalian uji coba dan penetrasi pasar apakah cocok mengadakan workshop Amazon untuk orang Indonesia dan bagaimana tanggapan mereka atas acara ini. Alhamdulillah Batch 0 luar biasa sukses, sehingga kita bisa mengadakan Batch 1.
Connecting the Dot
Mungkin kalian sudah baca postingan blog saya tentang Talkshow on Rancupid 2nd Birthday dimana kita mengadakan seminar untuk memperkenalkan bisnis Amazon kepada para pebisnis digital yang berdomisili di JABODETABEK. Sambutannya sangat baik, peserta yang datang membludak, dan kita jadi dapat banyak teman sesama pebisnis. Acara Talkshow juga jadi pembuka jalan untuk Workshop Connecting The Dots Batch 1 dimana peserta yang hadir juga full quota.

Baiklah, saya akan bercerita sedikit tentang workshop yang diadakan di Hotel Harris, Tebet, dan perbedaannya dengan Batch 0. Workshop Batch 1 diadakan hanya 2 hari saja dan saya rasa waktu jadi lebih padat dan efisien. Kita mulai jam 9 pagi dan semua peserta sudah berkumpul di ruang seminar. Saya sudah berangkat dari Depok pukul 8.15 pagi demi nggak kena macet dan berhasil tiba di hotel 50 menit kemudian. Cukup mengejutkan mengingat kalo hari kerja dari Depok ke Tebet bisa 2 jam. Enaknya naik Go-car, kita bisa tidur sejenak sampai tiba di lokasi.

Sesampai di hotel, kita bahu-membahu mempersiapkan registrasi peserta dimulai dari memasukkan modul dan kaos ke tas (goodie bag), menambah meja dan kursi, sampai akhirnya acara dimulai tepat pukul 9.30. Kita sangat mengedepankan ketepatan waktu jadi sudah pasti ontime. Acara dibuka oleh Mas Dzaky (MC dari masa ke masa😆), lalu disambut oleh Mas Army. 100% peserta workshop mengenal Mas Army, bukan Rancupid, apalagi saya😳.
Coffee Break🧁
Selesai kata sambutan dari Mas Army, kita coffee break sejenak (belum apa-apa udah coffee break☕), lalu dilanjutkan oleh Satrio untuk materi Product Research. Kali ini saya menemani Satrio presentasi, sekalian jalan-jalan mengelilingi peserta, kali aja ada yang butuh pertolongan. Topik Product Research lumayan sulit sehingga para peserta harus fokus mendengarkan penjelasan dari Satrio. Pada sesi ini, peserta juga langsung praktek ke laptop masing-masing untuk mencari suplier. Setelah itu nama-nama suplier di posting ke Telegram, kemudian saya review apakah boleh atau nggak didaftarkan produknya ke Amazon. Berbeda dengan Batch 0, saya baru sadar kalau peserta Batch 1 super duper kritis. Semua hal ditanya dan mereka sungguh sangat siap untuk mengikuti workshop. Mereka punya banyak pertanyaan yang membuat saya dan tim Rancupid terdiam berpikir. Bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu, dan kita langsung hmmm.... benar juga ya? 🤔
Mengisi materi bareng Satrio
Hampir setengah Workshop di hari pertama diisi oleh riset produk, barulah kemudian adik saya Achmad yang melanjutkan topik bagaimana cara melakukan Listing Inventory di Amazon setelah coffee break sore (Hotel Harris menyediakan banyak kue enak untuk coffee break dan saya suka banget😍). Sebenarnya sesi Achmad gampang-gampang aja, tapi peserta melemparkan banyak pertanyaan cerdas terkait banyaknya produk yang harus kita daftarkan ke Amazon. Bahkan ada diantara mereka menyarankan kita untuk menyalurkan freelancers yang sudah dilatih Rancupid untuk mengisi Inventory mereka. Alhamdulillah tim Rancupid bisa bersatu-padu, dan bahu-membahu untuk menjawab semua pertanyaan cerdas dan mempertimbangkan banyak saran dari mereka untuk memajukan Amazon kita.

Sampai saat ketika makan malam, tim Rancupid jadi merasa lelah hayati😩. Kami makan di Resto hotel seolah dengan sisa tenaga dan pikiran. Capek memeras otak itu berbeda dengan kelelahan fisik. Belum lagi harus membahas beberapa pertanyaan ketika sedang makan dan juga networking dengan para peserta lainnya. Setelah semua usai, saya memesan Grab Car menuju Depok agar bisa tidur di sepanjang jalan ke rumah. Sampai di rumah, saya mandi, lalu langsung tidur.

Hari kedua, kali ini saya presentasi jam 9. Kebayang saya harus jalan dari depok jam 8.15 pagi dan sampai di Hotel Harris pukul 9 lewat 2 menit. Alhamdulillah masih bisa ontime karena weekend jalanan nggak macet. Presentasi saya tentang Seller Performance berlangsung lumayan menegangkan karena pertanyaannya banyak banget😵. Saya jadi teringat dulu ketika masih bekerja sebagai Konsultan Oracle, pertanyaan detail dan teknis dari peserta training banyak sekali yang tidak bisa saya jawab. Padahal sudah mempelajari teori berkali-kali, bertanya pada atasan kalau ada persoalan yang sulit, tapi tetap saya kurang bisa menguasai detail teknis Oracle. Apa mungkin karena nggak suka? Atau pengalaman saya kurang? Berbeda dengan Amazon dimana semua materi training berdasarkan pengalaman pribadi. Bahkan semua materi yang di presentasikan oleh teman-teman yang lain bisa saya jawab juga, begitu juga dengan mereka bisa menjawab pertanyaan dari materi saya. 
Memberikan presentasi
Sukses ya semuanya
Memang Connecting The Dot baru diadakan 2 kali. Alhamdulillah workshop seperti ini bukan hanya karena uang yang masuk ke perusahaan lumayan besar, tapi karena para peserta adalah pengusaha hebat juga. Salah satu peserta ada yang Top Seller Shopee dan Lazada, pengusaha properti, Master Shopify, dan banyak lagi yang memang pada dasarnya mereka sudah punya duit banyak. Sebenarnya mengadakan workshop sebagai sarana bertukar pikiran antar para pengusaha yang sudah sukses dibidang lainnya itu juga bisa membukan wawasan saya dan teman-teman untuk mencari peluang bisnis baru. Seandainya Rancupid tidak pernah mengadakan Connecting The Dot, mungkin kita nggak akan punya akun Amazon Eropa semudah membuka akun Tokopedia😅. Dulu, Rancupid sempat masuk pasar Amazon Eropa, tapi mendadak mati karena kelengkapan dokumen perusahaan tidak sesuai standar Eropa. Belum lagi ide untuk membuka Warehouse di Indonesia dan di Amerika, semua karena networking dari workshop.
Hotel Harris
Alhamdulillah workshop kali ini berjalan sangat lancar. Testimoni yang diberikan oleh para peserta pun memuaskan banget. Tidak banyak hal yang perlu di evaluasi dalam acara ini karena berjalan dengan baik. Kami menutup acara dengan makan malam di Bebek Slamet.

Semoga nantinya Connecting The Dot Batch 2 bisa lebih sukses lagi. Aminn ya Rabb!

April 04, 2019

Birthday at Ajwad Restaurant

Postingan pertama di bulan April adalah tentang Birthday Party 🥳. Seolah-olah selama bulan April suasananya ulang tahun aja sepanjang bulan. Sebenarnya keinginan terbesar saya adalah merayakan ulang tahun di Disneyland Shanghai. Tapi apa daya, perusahaan baru selesai masa krisis jadi saya nggak boleh terlalu hura-hura. Jadilah kemarin cuma berlibur ke Yogyakarta dan Solo doang dengan menyewa hotel dan resort mewah dengan harga kaki lima (gara-gara harga gledek tiket.com nih). Mungkin nanti setelah lebaran baru bisa jalan-jalan lagi ke tempat yang jauh.

Suasana ulang tahun kali ini menurut saya sederhana saja dan tidak seperti tahun lalu di Hotel Kempinski. Saya datang ke kantor seperti biasa dan masih sepi. Belum ada acara yang direncanakan dari jauh-jauh hari karena kita memang sedang super sibuk untuk berbenah perusahaan. Apalagi saya baru saja pulang dari Jogja semalem, jadi masih capek juga untuk berpikir mau mengadakan acara apa. Awalnya mau mengadakan di hotel lagi, tapi kurang seru karena terkesan acara formal. Mending makan di tempat yang santai dan bisa mengobrol seru. Intinya memang nggak kepikiran mau bikin acara, jadi datang ke kantor pun seperti hari-hari biasa saja.

Sampai pada saatnya makan siang. Agak bingung kok karyawan belum pada datang. Apa mereka sengaja sedang menyiapkan surprise? Atau memang pada nggak tau kalau hari ini juga ada weekly meeting? Lydia sempat turun ke lantai 1 (biasanya kami bekerja di lantai 2) untuk minta saya keatas karena mau ngurusin Amazon dari laptopnya. Saya sudah kepikiran pasti Lydia sedang menyiasati sesuatu. Sayangnya rencana dia gagal karena saya bisa akses Amazonnya dari laptop pribadi😏. Berhubung saya udah lapar berat, saya pesan makanan via Gofood tapi yang porsi sedikit saja. Makanan datang, saya makan, dan melanjutkan pekerjaan.
Kartu ucapan lucu
Sekitar jam 12 siang, para karyawan datang ke kantor secara berbarengan dengan membawa kue ulang tahun dan bernyanyi Happy Birthday to You🎶. Walaupun gerak-geriknya gampang ketebak, tapi saat itu saya senang sekali. Momen ulang tahun dengan kue 🎂 dan tiup lilin memang selalu menyenangkan buat saya. Apalagi setelah itu saya diharuskan untuk membuka kado yang super duper besar dan ribet. Dari kardus besar, yang berisi anak kardus yang agak kecil dan ada beberapa kado lainnya seperti minyak dan Astor, sampai yang kecilll banget. Makasih banget buat kado lumba-lumbanya yang memang favorit saya banget🥰.
Kue ulang tahun. Jangan tanya kenapa captionnya begitu?
Setelah acara ulang tahun selesai, waktunya makan siang. Khanti menyarankan untuk makan di Resto Ajwad milik Ustadz Khalid Basalamah. Saya sih oke saja, tapi jaraknya agak jauh dari kantor. Lokasinya berada di Jl. Raya Condet no. 50 Jakarta Timur (0815 1626 205). Kami shalat Zuhur dulu, baru jalan ke Resto. Sampai resto sudah jam 2 siang dan semua karyawan pada kelaparan. Saya sih udah makan dulu tadi, hahaha. Dari depan, Resto Ajwad ini tidak terlihat seperti Resto, tapi malah kayak kantor. Saya membuka pintu, mengintip terlebih dahulu, lalu disapa oleh seorang pegawai, "Assalamu'alaikum mba, ada yang bisa dibantu?" Saya jawab mau ke Resto. Pegawai tersebut menunjukkan jalan ke resto dan ternyata Khanti sudah membooking ruang VIP. Jadi lebih private.

Resto Ajwad ini tidak besar, tapi sudah jam 2 siang pun masih rame banget yang makan disini. Interiornya bergaya Timur Tengah. Ada swalayan juga dan kantor. Menu makanan semuanya ala Arab dan harganya lumayan mahal. Sebaiknya memilih menu sharing agar lebih murah. Yang saya sukai adalah semua pegawai akan memberi salam ketika mau menghidangkan makanan, menyapa, atau hanya berpapasan.

Menu:
1 Whole Chic Packet Rp. 350,000
1/4 Portion of Lamb Rp. 487,500
Chocolate Rp. 19,500
Extra Sambal Rp. 5,000
Sweet Ice Tea Rp. 12,500
Ice Tea Rp. 10,000
Orange Rp. 27,500
Samosa Laham Rp. 30,000
Tamarin Rp. 15,000
Uam Ali Rp. 25,500

Kita makan dengan lahap. Ntah karena udah lapar banget, ntah juga karena memang rasa makanannya enak banget. Kambingnya lembut, nggak berbau, nasi Arabnya enakkkk banget. Ayam juga enak, tapi kalau makan di resto Arab memang lebih baik makan kambing karena ayam kan sudah biasa. 
Whole Chic Packet
1/4 portion of Lamb
Kita nungguin Rezki yang telat datang. Sewaktu dia datang, baru makan sebentar, adzan Ashar berkumandang. Seketika semua cowok-cowok di Resto hilang😲😲😲. Bayangkan, pegawai resto dan swalayan semuanya shalat ke Mesjid dan nggak ada pegawai cewek. Gimana itu kalau yang makan di Resto pulang dan nggak bayar🤔? Cuma mengingat dosa bakalan dua kali lipat (Pertama, dosa karena kabur nggak bayar makan. Kedua, karena ini resto ustadz😐), jadi kayaknya nggak ada yang berani kabur😅. Waktu shalat sekitar 15-20 menit saja, jadi masih bisa menunggu.
Selamat makan🍴
Setelah pegawai pada datang, waktunya saya bayar. Permasalahan selanjutnya adalah tidak bisa bayar pakai kartu debit atau kredit. Untungnya Khanti udah mengingatkan saya dari awal, jadi saya sudah ambil duit dulu tadi. Sesudah membayar, baru kami semua kembali ke kantor. Sampai kantor udah jam 4 lebih 15 sore, tapi tetap harus melaksanakan weekly meeting.
Happy Birthday to me
Selesai weekly meeting, kita shalat Magrib dulu, baru dilanjutkan dengan acara makan kue ulang tahun. Saya memotong kue dalam porsi jumbo agar semuanya bisa menyantapnya dengan puas. Saya juga membawa pulang untuk dimakan di rumah. Kue coklat memang selalu menjadi favorit saya sih, hihihihi.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya biasanya akan menulis harapan di tahun ini. Semoga Rancupid tidak pernah krisis lagi karena saya bakalan super duper pusing di kala krisis seperti kemarin. Mau jalan-jalan nggak tenang karena mikirin duit, harus riset sampai malam, dan terus dihantui rasa takut kalau tidak bisa mengatasinya. Semoga tidak pernah begitu lagi ya Allah. Semoga selalu dalam lindungan Allah subhanahu wata'la, diberikan rezeki yang berkah dan melimpah, dijauhkan dari kesulitan, diberikan jalan keluar untuk setiap permasalahan, menjadi wanita shalehah, dan dapat jodoh yang baik. Aminnn🤲!

Maret 23, 2019

Arisan di Rumah

Sebagai ibu komplek yang baik (bukan ibu deh, mbak komplek), ada saatnya dimana rumah saya ketempatan arisan. Sejak Agustus 2015 pindah ke komplek, ntah berapa kali saya mengelak untuk mengadakan arisan di rumah saya. Saya punya segudang alasan untuk menolak, nggak punya karpet, nggak ada pembantu, nggak punya peralatan makan, saya cuma sendiri di rumah, dan berbagai macam alasan yang selalu ada saja😆😆😆.

Sampai pada tanggal 17 Februari 2019 kemarin (setelah 3,5 tahun menjadi penduduk komplek), akhirnya saya menyetujui untuk menjadikan rumah saya tempat arisan ibu-ibu. Sebenarnya arisan terdiri dari 3 orang tuan rumah, tapi karena saya selalu mengelak, jadilah rumah saya yang di-HARUS-kan untuk dijadikan tempat arisan. Padahal, saya sudah mengelak juga seperti biasa:
"Bu, saya nggak punya karpet." 
"Tenang, kita pinjemin." kata Ibu depan rumah.
"Bu, saya nggak punya piring."
"Tenang, bisa pinjem ke RT." kata ibu ketua RT.
"Bu, saya nggak ada pembantu."
"Tenang, nanti saya bantuin. Semua anak-anak dan keponakan saya kerahkan." kata ibu tetangga sebelah.

Mau beralasan apa lagi coba?? 🙈🙈🙈

Baiklah, saya janjian sama Rezki dan Mba Ummi dari 2 minggu sebelum hari H untuk menginap di rumah dan bantuin saya arisan. Nggak enak juga kalau dari tuan rumah sama sekali nggak ada pasukan bantu-membantu. Saya juga mengajak Efan dan Nufus (sepupu saya dari Jogja) untuk menginap juga, tapi mereka masih tentatif. Paling nggak Rezki dan Mba Ummi sudah konfirmasi bisa nginep jadi saya ada teman.

Sekitar 2 minggu sebelum arisan, saya membabu-buta🧹. Dibantu oleh tukang kebun yang membersihkan halaman dan saya beberes di dalam rumah. Baru kali itu saya mencuci gorden dan mengelap kaca yang saya lakukan bertahap. Semua perabot saya lap 🧽juga (lebih tepatnya saya cuci) agar debu-debunya hilang. AC juga saya servis agar teman-teman yang menginap bisa nyaman. Sudah seperti kalau mau Lebaran di rumah dimana kita semua bebersih dan beberes. Untung pada dasarnya rumah saya nggak begitu kotor karena saya memang suka bersih-bersih rumah. Hanya saja debu di jendela yang tebalnya minta ampun. Selesai beberes, rumah jadi cling-cling ✨ tapi saya sampai encok dan flu saking banyaknya debu dan capek angkat-angkat barang.

Tiga hari sebelum arisan, Nufus datang dari Jogja. Alhamdulillah jadi juga sepupu saya itu datang, sehingga bisa lumayan membantu di dapur. Besoknya Efan datang dan bisa menemani saya beli perintilan ini itu di dekat komplek dan juga Ace Hardware. Orang-orang yang tentatif datang (Efan dan Nufus), malah tiba lebih awal daripada yang konfirmasi untuk datang (Rezki dan Mba Ummi).

Seru juga ketika rame di rumah. Sehabis magrib di malam minggu, kita nongkrong dulu sambil makan bakso bakar yang paling hits di Depok. Kalau sendirian di rumah, saya biasanya malas banget kemana-mana. Karena rame, bawaannya mau jalan-jalan aja😂😂. Sepulang makan bakso, saya dan Mba Ummi bikin jelly untuk Arisan besok, sedangkan Efan dan Rezki merakit gantungan tas di ruang tamu. Kami nggak tidur larut malam itu karena besok pagi saya harus menemani anak tetangga beli kue di pasar.

Jam 6 pagi, saya bangun, cuci muka, dan ganti baju. Saya lihat Efan udah masak air panas di dapur dan dia udah mandi. Mba Ummi, Nufus, dan Rezki masih bobo. Saya meninggalkan Efan di dapur dan pergi ke rumah tetangga untuk barengan ke Pasar Pucung. Saya baru tau kalau di Pasar ini ada toko jajanan kue yang diserbu ibu-ibu arisan. Sekalinya beli kue 🍰🧁🥐 sampai 200-300 biji. Masya Allah! Belum lagi berlomba dengan ibu-ibu yang berebutan kue tanpa mengantri agak melelahkan juga. Alhamdulillah dapat juga kue-kue 🥯🍩🥧 lebih dari 150 biji. Saya udah nggak mau berebutan lagi sama ibu-ibu, mending pulang saja😫.

Sampai di rumah, saya melihat Rezki sudah mandi dan Nufus sedang memarut timun. Mba Ummi masih tidur nyenyak, tapi tidak lama kemudian dia bangun. Saya menyuruh teman-teman untuk sarapan dulu, baru setelah itu saya mandi. Rezki dan Efan kemudian menyikat garasi setelah sarapan untuk akhirnya dialaskan karpet agar tamu-tamu yang nggak kebagian duduk di dalam rumah bisa duduk di garasi. Jam 8.30 saya sudah siap berpakaian ungu untuk arisan (dresscodenya ungu). Ibu tetangga sebelah dan depan juga sudah datang untuk membantu. Rezki dan Efan mengeluarkan sofa, sedangkan Nufus dan Mba Ummi menggelar karpet. Setelah itu saya menyusun kue yang banyaknya minta ampun diatas piring hasil pinjaman ke semua tetangga. Bakso sebagai main course juga sudah datang, tinggal dihangatkan diatas kompor.

Jam 10 tepat, ibu-ibu berdatangan. Saya duduk agak kebelakang karena saya sedikit awkward juga nggak tau mau ngapain diantara ibu-ibu. Mau basa-basi, bukan saya banget. Saya hanya senyum-senyum saja kalau ada ibu-ibu datang. Beberapa kali malah ke belakang untuk ngumpul bareng Mba ummi, Nufus, Rezki, dan Efan. Kayaknya ngumpul sama mereka lebih nyaman, hahaha 😂. 
Ibu-ibu arisan
Arisan mulai berjalan. Ibu-ibu berdiskusi dengan serius, sedangkan saya menaruh bakso dan es jelly dibelakang. Kami kemudian mengoper makanan dan minuman dari dapur. Setelah makan selesai, ada acara dimana saya disuruh untuk sedikit berbagi pengalaman sebagai Pengusaha Digital. Jadilah saya berbicara tentang apa yang selama ini saya kerjakan dan sedikit bercerita tentang Rancupid. Ibu-ibu mendengarkan dengan antusias karena mereka juga ibu-ibu keren yang pinter-pinter. Jadi pada nyambung ketika saya bahas dunia enterpreneur. Saya berbicara sekitar 30 menit, baru akhirnya acara usai tepat ketika adzan Zuhur. Cowok-cowok pada ke Musola dekat rumah, sedangkan kita cewek-cewek beberes sampah-sampah.
Makanan dan minuman di dapur
Setelah Zuhur, barulah teman-teman dan sepupu saya datang untuk makan siang. Saya sengaja memesan makanan lebih untuk menjamu mereka, sekalian bersilaturahmi karena udah lama nggak ketemu. Kita ngobrol seru, sekalian saya membungkus makanan untuk mereka bawa pulang. Saya sempat lupa untuk beli plastik bungkus makanan, jadi agak panik ketika acara usai malah nggak ada plastik. Terpaksa minta tolong Rezki untuk beli plastik di warung.

Setelah Ashar, teman-teman dan saudara-saudara satu-persatu pulang. Saya mandi 🛁 dulu karena udah keringetan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sofa sudah dibawa masuk kembali oleh sepupu-sepupu saya, piring sudah dicuci, lantai sudah di pel, dan yang terpenting saya sudah mandi keramas🚿. Fiuhhh akhirnya segar juga. Lelah sekali hari itu, tapi ntah kenapa saya senang☺️. Beberapa piring milik tetangga belum saya kembalikan karena saya sudah capek banget. Pengennya cepetan rebahan di kasur tapi masih harus membereskan perintilan ini dan itu.
Ibu-ibu komplek
Sekitar jam 11 malam, saya tertidur lelap dengan kondisi sangat lelah hayati. Rumah juga mendadak sepi karena teman-teman dan saudara sudah pada pulang. Alhamdulillah semua berjalan lancar.

Maret 21, 2019

Postingan ke 1000

Akhirnya sampai juga di postingan ke 1000. Huff, tanpa terasa sudah pernah menuliskan 1000 artikel di blog baik yang bermanfaat maupun tidak, baik berupa informasi, ataupun curhat semata. Rasanya senang banget bisa bertahan sampai ke titik ini, sungguh proses yang tidak mudah dimana sekarang kesibukan sudah semakin menyita waktu. Meluangkan waktu sedikit untuk konsisten menulis itu sangat sulit. Apalagi kesadaran untuk menuliskan hal yang bermanfaat semakin besar, sehingga harus benar-benar memilah apa yang akan dituliskan. Saya tidak mau kalau tulisan saya nanti malah diminta pertanggungjawaban di akhirat oleh Allah subhanahu wata'ala hanya karena kontennya memberikan pengaruh buruk bagi orang lain.
From http://www.mrmediatraining.com
Saya mulai menulis blog pada tahun 2009, berarti membutuhkan waktu 10 tahun untuk bisa menyelesaikan 1000 postingan. Kalau dibandingkan tulisan saya 10 tahun yang lalu dengan sekarang, sangat banyak mengalami perubahan. Pemilihan kosa kata dan cara menyampaikannya juga sudah berubah 100%. Belum lagi hampir semua isi blog berupa cerita jalan-jalan saya ke semua tempat baru. Sebenarnya saya lebih mencintai blog daripada semua sosial media yang ada. Mungkin karena saya memang suka menulis yang panjang. Kalau menulis status di sosial media yang cuma satu atau dua kalimat, sepertinya kurang. Pengennya sih menulis sampai beberapa paragraf biar terasa ceritanya dan dapat perasaannya📝.
Postingan pada saat awal menulis
Dulu, saya sempat kebingungan mencari ide untuk menulis. Maka saya memulai dari curhat di blog atau menuliskan cerita pendek yang memang menjadi hobi saya. Saya memang suka menghayal, bisa jadi ini, bisa jadi itu, dan merasa sayang kalau semua khayalan itu hilang. Kalau dituliskan di blog, tulisan tersebut akan ada selamanya. Bahkan sampai sekarang saya masih bisa membacanya dan langsung flashback dikala itu sedang membayangkan apa sehingga bisa menghayal demikian. Mungkin karena otak kita terbatas, sehingga tidak semua kejadian bisa diingat. Kalau membaca kembali cerita di kala itu, langsung bisa ingat dan kangen pada momen yang saya tuliskan.

Apa yang terjadi selama 10 tahun? 

Dulu saya hanya mahasiswi yang sedang berjuang menyelesaikan tugas akhir, lagi naksir (beberapa) cowok, uang saku terbatas dan nggak berani minta tambahan uang jajan karena nggak mau merepotkan orang tua, muka tanpa perawatan dan makeup, hobi tidur siang, berat badan sekitar 46-48kg, tinggal di asrama Aceh yang berada di Badung, dan jadi ketua asrama yang kerjanya 'ngurusin teman-teman se-asrama.

Sekarang saya punya perusahaan, tinggal di rumah sendiri, sudah berpergian ke 18 negara dan 18 provinsi di Indonesia, berat badan masih tetap, hobi tidur siang masih juga😄, suka ke klinik kecantikan untuk perawatan agar muka tetap pada usia 25 tahun💆, suka pakai makeup, dan sedang menikmati hidup. Waktu keseharian tersita untuk perusahaan yang kemarin sempat krisis, sekarang bangkit, modal yang keluar tambah besar, dan saya sering pusing tujuh keliling. Belum lagi urusan pasangan hidup yang jadi prioritas sekarang, tapi belum yakin sama si 'ini' atau si 'itu'. Baru saja kemarin merasa yakin, tapi sudah disisipi dengan berbagai macam problematika yang membuat saya super duper ragu🤔. Efek doa kali ya...

Jadi berpikir, seolah-olah kehidupan 10 tahun lalu begitu santai, yang dipikirkan hanya skripsi, jalan-jalan, nonton, dan merasa sudah bahagia sekali. Sekarang? Terlalu banyak yang saya pertimbangkan. Bagaimana nanti kalau begini, bagaimana kalau begitu. Sudah harus mengambil keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Belum lagi tagihan yang harus dilunasi dan perencanaan keuangan yang begitu kompleks.

Tapi saya bersyukur masih bisa hidup sampai sekarang ini, alhamdulillah. Terlepas dari proses yang begitu berat yang harus jalani, saya bersyukur. Allah memberikan begitu banyak rezeki untuk menjelajah begitu banyak tempat indah di dunia dan bisa menjadi bahan tulisan di blog. Sudah begitu jauh melangkah, kehilangan orang tersayang seperti Papa, atau dikaruniai para keponakan lucu, semua hal itu begitu membuat hidup saya berwarna.

Menurut saya, hal terindah di dunia ini adalah "kenangan". Di setiap sudut kota, setiap perjalanan, di seluruh penjuru dunia. Tinggal mencari orang yang tepat untuk terus menemani sampai postingan ke 2000 nanti atau sampai 10 tahun lagi. Tahun ini saya ingin menjelajah lebih jauh, agar bisa terus menulis blog. Saya juga ingin menuliskan berbagai solusi atas segala macam permasalahan yang ada di perusahaan yang dirintis dari awal. Agar bisa menjadi pelajaran dan menginspirasi.

Akhirnya, terima kasih untuk yang selalu membaca setiap tulisan saya dari awal sampai sekarang. Mohon maaf kalau jarang posting tapi akan diusahakan mulai minggu ini untuk menulis. Semangat!!!

Hampir Lupa Kontrol Gigi

Saking padatnya jadwal saya selama ini, jangankan mau menulis blog, saya bahkan lupa jadwal kontrol gigi. Agak sedih juga mengingat kesibukan yang menyita waktu saya untuk menyalurkan hobi menulis dan jalan-jalan mencari inspisrasi. Insya Allah dimulai bulan ini, saya mulai bisa melakukan kegemaran yang selama ini tertunda. Untung blog ini belum sampai bersarang laba-laba dan saya nggak mau hal itu terjadi. Pokoknya saya akan kembali menulis, no matter what.

Saya baru sadar ketika melihat kalender kalo saya harus ke dokter gigi keesokan harinya. Jadwal dokter gigi memang sudah dibuat sejak 2 bulan yang lalu makanya jadi lupa kapan harus datang lagi. Gigi juga nggak bermasalah sama sekali. Warna karet gigi juga nggak menguning, makanya saya lupa banget.

Ketika kontrol, dokter bilang kalau celah di gigi sudah semakin sempit dan struktur rahang sudah lebih baik lagi. Saya sempat disuruh buka mulut dan bercermin untuk membuktikan kalau lengkungan deretan gigi kian sempurna dan saya senang banget. Struktur wajah juga semakin baik karena menyesuaikan dengan senyuman. Tinggal diluruskan saja secara horizontal deretan giginya. Oh ya, kali ini gigi saya kembali dipasang karet elastis untuk menarik gigi geraham maju ke depan. Hal ini yang paling saya nggak suka sebenarnya, karena kalau tersenyum bakalan jelek banget😓.
Ada karet elastis
Alhamdulillah, tidak sia-sia pengorbanan gigi kenceng selama ini. Saya puas banget dengan hasilnya. Semoga tahun ini bisa beneran Perfect Smile 2019. Semangat!

Service Charge Rp. 25,000
Kontrol dengan Spesialis Ortho Rp. 275,000
Karet Elastis Rp. 40,000

Februari 23, 2019

Aku Pamit

Mengawali tahun 2019 dengan perasaan tidak menentu, sehingga saya memutuskan untuk menulis cerita saja. Kalau dilihat-lihat, tahun 2018 saya hanya menulis satu cerita saja lho😗. Tahun 2017 hanya 3 cerita, dan 2016 lumayan banyak yang saya tulis. Sebenarnya dari dulu hobi saya memang menulis cerita, tapi ntah kenapa dua tahun belakangan ini saya merasa kekurangan inspirasi. Mungkin mengurusi perusahaan dan jalan-jalan kesana-kemari menjadi faktor utamanya. Walaupun postingan tentang petualangan saya terus bertambah, tapi saya merasa perlu menulis cerita pendek yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari.

Sebenarnya cerita ini sudah saya tulis di bulan November 2018 dan terus menjadi draft karena saya belum tau endingnya. Sempat menuliskan ending yang berbeda di Desember, lalu berubah lagi di Januari, dan saya rasa di Februari ini sudah nggak boleh berubah lagi😅. Kan ntar pusing mau ending yang mana dan berakhir seperti apa. Baiklah, saya akan menuliskan dengan ditambah banyak bumbu penyedap agar lebih enak dibaca. Mari disimak!

***

Ini sebenarnya adalah cerita tentang sebuah perpisahan. Aku mengingatkan kalian dulu sebelum menuliskan detilnya. Lusa aku akan berangkat ke Amerika untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Aku memegang Visa Amerika multiple entry selama 5 tahun. Bisa jadi, aku tidak akan pulang ke Indonesia dalam waktu dekat. Untuk mengakali jatah waktu perkunjungan selama 5 tahun, aku akan menetap di Shanghai karena bisnisku juga ada disana. Kebetulan aku memegang Visa China multiple entry juga.

Ada hal yang paling menyakitkan tentang semua ini. Bukan karena aku akan tinggal lama di luar negri dan meninggalkan negaraku tercinta, tapi aku tidak bisa mengajaknya untuk ikut. Bahkan aku harus berpisah dengannya.

Sekitar seminggu yang lalu, perasaanku hancur berantakan karena dia. Bahkan dengan wajah tanpa merasa bersalah dia bilang, "Kamu seharusnya tidak usah terlalu ambisius mengejar duit sampai ke Amerika dan meninggalkan Indonesia." Saat itu aku terdiam dan berpikir bahwa di dalam pikirannya berarti aku adalah orang seperti itu. Kalau saja bukan karena mempertaruhkan perusahaan dan karyawan, aku lebih memilih di Indonesia. Dan dia dengan egoisnya mengambil kesimpulan tentangku. Saat itu, dia langsung meninggalkan aku di lobi hotel dan pulang ke kosannya dengan keadaan marah, sedangkan aku terdiam mematung. Beberapa hari ke depan aku tidak akan melihatnya lagi tapi dia malah bersikap seperti itu padaku.

Hari itu hujan turun dan aku harus check out dari hotel tempat aku menginap. Aku harus pulang ke rumah dan bersiap-siap packing untuk ke Amerika. Sebelum pulang ke rumah, aku menyuruh supir untuk mengarahkan mobil ke daerah kosannya. Sudah hampir sebulan kami hilang kontak dan aku ingin melihatnya sekali lagi sebelum pergi. Aku turun dari mobil, mengambil payung, dan berjalan kaki melewati gang yang hanya bisa dilalui sepeda motor. Sesampai didepan kosan, aku hanya berdiri diam sambil memperhatikan teras depan kosan yang sepi. Ntah ada apa tidak dia disana. Dari warung sebelah kosan, tiba-tiba mengalun lagu:

🎵Kasih, dengarkanlah aku
Kini hatiku yang berbicara
Resah yang ada di jiwaku
Ingin kulalui bersamamu🎵

Aku terbawa suasana. Tiba-tiba air mataku menetes. Teringat dulu pertama kali dia menyapaku di media sosial setelah 10 tahun hilang kontak dan dia langsung meneleponku untuk menceritakan semua tentang dirinya selama ini. Dia pandai bercerita, bahkan sangat detail. Awalnya aku tidak mau mendengarkannya karena ceritanya terlalu biasa dan aku merasa memiliki hidup yang lebih kompleks. Waktu itu aku berpikir, mendengar dia mengoceh hanya akan membuang-buang waktuku saja. Tapi aku tetap tidak menutup telepon. Aku memasang earphone agar tidak usah memegang hp dan mendengarkannya bercerita sampai 2 jam. Tidak terasa bisa mengobrol selama itu.

Kami kemudian bertemu ketika aku mengadakan seminar. Dia datang ke hotel tempat acara berlangsung dan aku kaget. Aku menatap wajahnya, kurang lebih masih sama dengan beberapa tahun yang lalu. Hampir tidak ada yang berubah. Karena terlalu ramai peserta seminar di resto hotel yang membuat aku tidak akan bisa mengobrol dengan leluasa, aku mengajaknya (kabur) makan diluar. Untung dia bawa sepeda motor, sehingga aku tidak usah memanggil supir lagi untuk mengantarkan kita ke tempat makan.

Kita makan di sebuah resto dengan pemandangan citylights yang indah. Disitu dia bertanya beberapa bisnis padaku dan aku memang lumayan mengerti tentang dunia jual-beli. Selama ini dia membuka toko kue yang katanya pelanggannya tidak terlalu banyak. Memang dia tidak sampai rugi, tapi terkadang ingin juga banyak pelanggan. Aku menyarankan beberapa hal padanya yang lumayan gampang untuk dipraktekkan. Dia mendengarkan dengan serius semua yang aku bilang. Kita mengobrol sampai jam 11 malam. Setelah itu dia mengantarkanku kembali ke hotel.

Besoknya setelah seminar, dia datang lagi ke hotel sambil membawakan kue dari tokonya. Aku membukanya dan melihat ada beragam bentuk kue imut dengan berbagai rasa. Aku kaget dengan pemberian sederhana ini. Dia bilang, "aku sendiri yang membuat, membungkus, dan menatanya di dalam kotak untuk kamu. Dimakan ya." Mungkin, hal ini agak sepele. Tapi ini yang benar-benar menyentuh hati.

Aku memasukkan kue ke kamar hotel dan turun kembali untuk makan malam bersamanya. Kali ini aku bawa kamera dan kami berfoto di sebuah resto indah yang memiliki banyak lampu. Mungkin sejak malam itu, aku jadi ingin terus mengobrol dengannya. Kalau bisa sampai pagi. Tapi tidak mungkin karena besoknya aku harus mengisi seminar dan talkshow yang nggak ada habis-habisnya. Sepulang dari resto, aku meminta dia untuk mengajakku ke toko kuenya. Eksterior toko sangat klasik seperti bangunan jaman Belanda dulu, tapi aku suka. Sayang karena sudah malam, toko tutup. Dia juga mengajakku mampir ke kosannya yang berada tidak jauh dari toko kue. Aku duduk di ruang tamu dan dia menghidangkan teh panas bikinannya sendiri. It was so lovely back then.

Karena sudah dua malam berturut-turut aku makan diluar, panitia penyelenggara seminar mulai mencurigaiku pergi tanpa memberi kabar. Di malam ketiga, aku sama sekali tidak boleh keluar hotel. Aku melihatnya datang ke lobi dari lantai dua hotel. Aku turun sebentar dan bilang padanya kalau kali ini aku tidak bisa keluar dan tidak bisa makan bersamanya. Panitia langsung menyuruhku masuk kembali ke ruang seminar ketika melihatku mengobrol dengannya. Sejak itu, aku malah tidak bisa bertemu dengannya lagi karena dia pergi ke luar kota untuk belajar menu baru untuk toko kuenya.

Selama ini hidupku diwarnai dengan pekerjaan yang tiada habisnya. Kehadiran dia lumayan merusak konsentrasiku. Aku tidak bisa bertemu dengannya dan agak susah juga untukku meneleponnya. Tidak bisa setiap hari, bahkan hanya seminggu sekali baru ada waktu menghubunginya. Mengirim pesan pun tidak bisa setiap hari juga, tapi aku tetap melakukannya. Kalau sudah menelepon, kita bisa 3 jam. Pulsa hpku memang tidak akan habis karena memang fasilitas dari provider yang aku dapatkan bisa menelepon siapa saja sampai 10rb menit gratis.

Sampai saat aku menerima surat tugas untuk tinggal di luar negri. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, aku bingung. Biasanya aku akan pergi tanpa memikirkan apa pun. Berbeda dengan sekarang dimana tiba-tiba aku berpikir tidak akan melihatnya lagi. Selama ini aku memang jarang bercerita tentang apa pekerjaanku sebenarnya kepadanya, bagaimana aku memulai bisnis, karena aku tidak ingin mengubah cara pandangnya terhadapku. Tapi kalau tiba-tiba pergi tanpa pamit, seolah-olah aku sangat buruk dalam berteman. Aku harus memikirkan cara untuk menceritakan tentangku padanya.

Aku tetap menatap teras kosannya. Tiba-tiba mataku panas dan air mata mulai menetes.  Rasanya pedih sekali mengingat hal-hal indah bersamanya selama ini. Ntah bagaimana, dia keluar dari kosan dan melihatku berpayung di kala hujan gerimis seraya menangis. Dia membuka pagar kosan dan menyuruhku masuk, tapi aku menggeleng.

Aku teringat kembali saat aku ingin bilang padanya untuk ikut aku ke Amerika. Sebelum terus-terang, aku mengajaknya jalan-jalan ke Singapura. Dia hampir tidak pernah ke luar negri dan ini adalah jalan-jalan pertama dengannya. Kita jalan-jalan dan makan-makan kemana-mana. Saat itu begitu bahagia. Rasanya kami adalah orang yang tidak punya beban sama sekali. Sampai saat aku bilang padanya kalau aku akan pergi ke Amerika ketika di pesawat pulang ke Indonesia. Wajahnya berubah dan dengan santainya dia jawab, "Oh, ya udah pergi aja." 

Aku terdiam. Dia dengan entengnya jawab seperti itu. Aku berpikir, mungkin karena memang aku nggak penting untuknya. Selama 2 jam di pesawat, kami jadi diam saja. Sampai tiba-tiba dia bilang, "Kamu seharusnya tidak usah terlalu ambisius mengejar karir sampai ke Amerika dan meninggalkan Indonesia. Kamu kan cewek."

Sambil menunggu taksi, aku melihat dia terus mengetik pesan kepada seorang cewek. Ntah apa maksudnya, tapi hal itu lumayan mengganggu pikiranku. Taksi datang dan aku mengantarkannya duluan ke kosan, baru ke rumahku. "I don't have time for ego, anger, and jealousy by the way". Tapi cukup membuatku merasa nggak penting baginya setelah tanpa sengaja membaca nama cewek itu di hpnya. Sejak itu, sampai waktu aku akan berangkat, aku tidak lagi menghubunginya.

Aku menatap matanya dan mengatakan, "Selamat tinggal..," lalu membalikkan badan dan melangkah pergi. Aku sudah tidak sanggup membendung semua air mata yang ingin mengalir deras. Baru kali ini aku seperti ini. Aku tidak mau menoleh. Ntah apa yang ada dipikirannya saat ini. Mungkin saat-saat kita bersama sama sekali nggak berarti baginya. Mungkin pertemuan kita kembali murni untuk urusan bisnis dan dia memintaku jadi mentornya. Mungkin obrolan berjam-jam selama ini hanya sebagai pelampiasan karena bosan dengan toko kuenya yang mulai kehilangan pelanggan.

Sampai saat dia menarik lenganku dan memelukku erat...
rain...
🎶Sejujurnya ingin kukatakan saja
Dari hati ini, 'ku mencintaimu
Kuharapkan kau mengerti dan percayakan hatimu
Semuanya kini terserah padamu 🎶

Celah Gigi Mengecil

Sepertinya kemarin adalah waktu kontrol gigi paling sederhana selama saya memakai kawat gigi. Saya dijadwalkan jam 10:40 pagi, tapi saya datang sejam kemudian. Maklum, saya baru saja selesai mengadakan arisan di hari Minggu kemarin (sepertinya akan saya tulis di postingan terpisah), sehingga banyak yang harus dibereskan dulu sebelum beraktifitas.

Saya kira ketika sampai di OMDC, saya bakalan menunggu lama untuk akhirnya dapat menemui dokter spesialis karena antrian saya sudah terlewat. Alhamdulillah ternyata hari ini klinik agak sepi sehingga walaupun saya sampai sejam kemudian, saya adalah pasien pertama yang kontrol. Baru duduk sebentar, tidak sampai 5 menit dokter datang dan saya masuk ruang rawat.

Dokter bilang, celah gigi saya (dulunya tempat gigi gingsul) sudah tinggal kira-kira 1-2 mm lagi. Hal ini membuat dokter menarik gigi dengan kencang untuk dirapatkan. Bahkan sepertinya struktur rahang diubah lagi. Jangan ditanya betapa mengerikannya proses tarik-menarik dan melilitkan kawat yang membuat berbagai macam alat perawatan gigi keluar masuk mulut😖😖😖. Saya hanya pasrah🏳️🏳️🏳️ mendengar bunyi krak kruk, teng teng, krik! So Scary...

Tidak lama kemudian, gigi dan rahang saya berhasil di edit. Rasanya kenceeeng banget. Antara gigi atas dan bawah pun jadi ngilu kalau sempat tersentuh. Ntah apalagi prosesnya, saya nurut saja. Demi Perfect Smile 2019. Saya juga suka banget melihat gigi setelah selesai kontrol kawat gigi. Serasa gigi jadi bersih. Mungkin karena saya suka pakai karet transparan yang warnanya akan berubah kalau kita sering makan makanan yang mengandung kunyit (biasanya karet gigi bakalan berubah jadi kuning). Setelah kontrol, jadi terlihat bening lagi dan bersih banget deh gigi saya😃.
Senyumin aja~
Kontrol Sapphire Braces Rp. 275,000
Service Charge Rp. 25,000
Total Rp. 300,000

Per tahun 2019, ada kenaikan harga tapi nggak terlalu signifikan. Masih okelah... Oh ya, kalau dilihat dari foto, senyuman saya masih agak miring. Tapi percayalah, kalau kalian lihat saya langsung, struktur wajah saya banyak berubah dan senyuman sudah lurus secara vertikal. Kalau horizontal masih belum. Bingung kan? Sama, saya juga bingung cara mendeskripsikannya ke dalam sebuah tulisan😅.

Ok deh, sampai jumpa!

Follow me

My Trip