Juni 30, 2019

Amnesia

Cerita yang ditulis kali ini mengambil sudut pandang seorang cowok. Seperti biasa, ini adalah cerita yang terinspirasi dari kehidupan pribadi yang dibumbui agar cita rasanya semakin mantap👍🏻. Mari disimak!

***

Sudah lebih dua bulan gw jalan dengannya. Cewek bernama Rika ini ini cepat sekali klik sama gw, padahal gw baru putus dan dia menjadi tempat curhat gw. Awalnya kita memang cuma berteman, tapi gw rasa dia suka sama gw bahkan sejak gw belum putus. Mungkin salah satu penyebab gw putus dengan cewek gw yang lalu adalah karena Rika, tapi Rika nggak tau kalau gw punya pacar. Mungkin kalian mengira kalau gw adalah cowok kampret yang udah punya cewek tapi malah ngedeketin Rika? Bukan begitu ceritanya.

Pada awal cerita, gw melihat Facebook Rika yang akan memberikan seminar di Bandung (kota gw berasal). Kita sudah kenal dari dulu, sewaktu gw masih kuliah. Ntah kenapa jadinya gw mengonteknya lagi setelah 10 tahun karena gw pengen belajar bisnis darinya. Kita chatting di Facebook Messenger, kemudian berteleponan, baru bisa janjian ketemu di sela-sela dia memberikan training.

Pertama kali aku melihatnya lagi setelah 10 tahun, kita saling bertatapan lama. Nggak ada yang berubah dari wajahnya. Justru semakin bertambah umur kenapa semakin cantik? Mungkin perawatannya mahal dan dia memang sudah sangat mapan. Selama dua hari dia di Bandung, kita makan malam bareng dan bercerita banyak hal. Yang aneh adalah kenapa tampaknya kita pernah begitu dekat? Nggak canggung sama sekali. Padahal terakhir kita bertemu di pentas seni kampusnya.

Rika pulang ke Jakarta dan gw melanjutkan hidup seperti biasa. Hanya saja kita jadi sering chatting dan telponan sampai akhirnya cewek gw tau. Cewek gw ini manja banget, selalu curiga, selalu nyariin gw, sampai-sampai kalau lagi nge-date, dia ngecekin hp gw. Bahkan dia sampai menghubungi Rika untuk bilang jangan ganggu gw lagi sewaktu kita di bandara menunggu boarding mau ke Jogja. Rika sampai kaget. Selama ini kalau telponan dengan Rika memang gw seolah-olah nggak punya pacar karena Rika juga enggak pernah nanya. Sampai sewaktu dia tau kalau gw punya pacar, sepulang dari Jogja, dia berhenti menghubungi gw.

Singkat cerita, gw akhirnya putus dengan cewek gw, fiuhh😓~

Gw menghubungi Rika lagi setelah berminggu-minggu hilang kontek. Rika tetap mengangkat telpon gw dan meladeni gw. Gw langsung cerita kalau gw baru putus dan Rika tampaknya tidak tertarik mendengar cerita gw. 
Rika kemudian bertanya, "Kamu inget Nadia ngga? Dulu kita bertiga pernah main bareng." Gw jawab enggak. 
Rika bilang, "Dulu sewaktu aku main ke kosan kamu, aku pernah ajak Nadia." 
Gw heran, "Ha? Main ke kosan? Kapan?"
"Dulu~," Rika berhenti sejenak, "sewaktu kita masih bareng."
"Emang kita pernah bareng?"
Rika terdiam, "Kamu nggak ingat?"
Gantian gw yang terdiam seraya berpikir keras.
Rika melanjutkan, "Kamu bilang sama aku kalau terakhir kita ketemu sewaktu di pentas seni perpisahan kampus aku. Disitu kita bercerita seru sambil tertawa sebelum aku pindah ke Jakarta."
"Iya, aku ingat." Jawab gw.
"Sebelumnya, kamu ingat kalau kita suka nongkrong makan bakso di warung Mang Basuki?"
"Emang iya?" tanya gw balik.
Rika kemudian mengirimkan screenshot Facebook dimana gw dan Rika berbalas Wall dan terlihat hal itu terjadi 11 tahun yang lalu. Gw berpikir keras, tapi sama sekali nggak ingat.
Rika tertegun, "Kamu nggak sedang pura-pura amnesia kan?"
"Aku nggak ingat apa-apa Rika."
"Baiklah, aku nggak akan memaksamu untuk mengingat." Kemudian Rika menutup telepon.

Gw jadi sakit kepala. Gw membuka Facebook dan ternyata memang benar kalau dulu kita sering kirim Wall. Dulu gw memanggil Rika dengan sebutan Icha. Gw baca satu-persatu Wall yang pernah gw kirim ke dia, seolah-olah itu bukan gw banget yang menulis Wall seperti itu ke cewek. Agak mesra dan agak alay, iuuhh🤢. Masa gw begini semasa kuliah? MASA GW GA INGAT RIKA?

Kita memang kuliah di kampus yang berbeda, tapi dari foto-foto hasil tag, tampaknya gw suka main ke kampusnya begitu juga sebaliknya. Gw lihat terus Facebook gw dan Rika sampai pada saat Rika summer school ke Jepang sekitar beberapa bulan dan setelah itu hampir nggak ada Wall lagi antara kita. Apa yang terjadi? Yang ada pada saat bulan itu, tahun itu, gw inget gw suka sama cewek bernama Lidya dan sampai sekarang gw masih ingat tentang Lidya. Lydia teman sekampus gw dari awal sampai sekarang dia sudah menikah dengan orang lain pun kita masih sering kontek.

Gw lihat lagi Facebook Rika setelah pulang dari Jepang, ada beberapa status galau seperti, "Aku pulang, tapi dia pergi." Gw nggak ngerti apa status itu maksudnya untuk gw apa bukan? Gw sudah pusing malam itu dan memutuskan untuk tidur saja. Mungkin besok gw dapat ilham agar bisa mengingat Rika kembali.

Besoknya gw mulai berniat untuk mencari tau sendiri apa yang terjadi dulu, sebelum gw menelepon Rika lagi. Gw memetakan beberapa bulan sebelum Rika summer school dan hal yang gw ingat tentang Lydia. Berarti gw pacaran sama Lydia setelah Rika pergi summer school. Gw ngecek Facebook dan teringat kalau dulu gw kerja sebagai kasir mini market untuk menambah uang jajan. Gw sering pulang kampus bareng Lydia dan mengantarnya pulang dulu, baru bekerja. Saat itu, Rika masih summer school. Dulu nggak ada Whatsapp, hanya ada email. Pasti dulu kita sering berkirim email. Tapi email yang mana? Mana gw ingat lagi.

Tidak ada clue sama sekali... Gw masih terus melihat FB Rika dimana ada gw. Tunggu, Rika lulus 2010, tapi kenapa gw 2011? Padahal kita satu angkatan. Kalau dia summer school, seharusnya gw bisa lulus duluan. Ini kok gw jadi telat 2 tahun? Seingat gw sempat nggak kuliah dulu karena.... eh? Karena gw sakit. Gw terkena infeksi radang otak. Alhamdulillah sekarang sudah sembuh total karena penanganan dokter ahli. Gw mulai browsing mengenai radang otak seharian dan gw jadi paham kalau penyakit ini membuat amnesia tapi hanya sebagian. Amnesia yang menghilangkan seluruh ingatan gw tentang Rika.

Gw terduduk terdiam di atas kasur. Apa pun yang gw usahakan tidak akan mengembalikan ingatan gw tentang Rika. Yang gw ingat, terakhir ketika gw ke pentas seni kampusnya bukan karena gw diajak olehnya. Tapi karena teman di kampus gw ingin menonton pentas seni dan mengajak gw ikut. Disitu terakhir gw ketemu Rika. Kita mengobrol dan tertawa, seolah-olah gw sudah biasa melakukannya dulu. Tapi tetap, gw nggak ingat lagi. Apa yang pernah terjadi dulu bersamanya, gw nggak akan pernah ingat lagi. Sekuat apa pun gw berusaha.

Seminggu kemudian gw bertemu Rika. Gw meminta maaf tentang hal yang terjadi 10 tahun yang lalu karena gw sudah tidak ingat lagi. Rika sama sekali nggak tau kalau gw sakit dulu. Dia memang nggak salah, karena masih berada di Jepang. Tapi gw yakin dia pasti sakit hati banget sewaktu pulang dan tau kalau gw malah pacaran dengan Lydia. Pasti dia menyangka gw jahat banget pada saat itu.
"Masih suka Gundam nggak?" tanya Rika tiba-tiba setelah lama termenung mendengar cerita gw sakit. Gundam nama robot dari Jepang.
Gw mengangguk.
Rika mengeluarkan miniatur Gundam di dalam kaca dari tasnya. "Ini aku beli dulu sewaktu summer school. Sewaktu mengantarkan aku ke bandara, kamu berkali-kali mengingatkan aku untuk membeli Gundam. Karena uang jajanku masih terbatas, aku cuma bisa beli yang kecil."
Aku menerima miniatur Gundam dan melihat tahun pembuatannya adalah 2009. Dia sudah menyimpannya 10 tahun dan tidak rusak sama sekali.
"Dulu aku bergegas ke kosan kamu sepulang dari Jepang tapi kamu nggak ada di kosan. Besoknya aku ke kampus kamu dan kamu sedang bersama seorang cewek berdua saja di kantin sambil suap-suapan makanan. Terus kalian pulang bareng dan kamu memboncengnya di sepeda motor." 

Rika kemudian tersenyum, "Tenang saja, aku udah move on. Bahkan semenjak pindah ke Jakarta aku beberapa kali pacaran dan aku sayang sama pacar-pacar aku. Cuma ntah kenapa kita bisa ketemu lagi. Dan seperti biasa, setiap aku ketemu lagi denganmu, pasti kamu punya pacar."
"Sekarang nggak punya," lanjut gw.
"Gw bakal pergi lagi nih, " kata Rika, "minggu depan."
"Kemana?"
"Ke Jepang lagi dalam waktu beberapa bulan. Sepertinya kejadian 10 tahun yang lalu akan berulang."
Gw menggeleng. "Kita masih bisa video call, skype, dan lainnya. Dunia sekarang sudah canggih."
Rika mengeluarkan hpnya, lalu mendadak foto selfie dengan gw. Foto tersebut dikirim ke hp gw. "Tolong disimpan ke Cloud, dan gw juga akan menyimpannya di Cloud. Kalau ada yang terjadi antara kita yang menyebabkan kita lupa, setidaknya ini foto selfie terakhir kita."
Kenapa gw jadi sedih mendengar pernyataan dia, "Rika... Jangan bilang begitu."
Rika kemudian beranjak dari duduknya, "Sampai jumpa lagi..."

Dan sampai sekarang kita sudah hilang kontek...

Juni 20, 2019

Pasca Odontectomy

Setelah 5 hari pasca operasi pencabutan gigi bungsu (Odontectomy), saya kembali ke Jakarta karena sudah jadwal kontrol behel. Pipi masih bengkak, jahitan masih belum sembuh, dan kawat penyangga di gigi geraham paling ujung sebelah kiri malah copot. Saya ceritakan ke Orthodentist tentang saya baru cabut gigi, sekalian memberikan hasil rotgen terbaru. Dokter melihat hasil rotgen hanya beberapa detik (saya bingung kenapa bisa secepat itu), dan memasukkan kembali ke amplop.  Ntah ada kesimpulan yang bisa beliau baca dengan hanya melihat secepat kilat🤔. Beliau sempat ingin menunda penarikan gigi saya karena takut nanti terlalu sakit.

Gigi saya kemudian di cek. Sebenarnya saya nggak mau ditunda karena jadwal dokter di OMDC ini kan lama ya🤔. Harus nunggu sebulan baru bisa kontrol gigi lagi. Mana karet gigi udah kuning gara-gara makan rendang selama Lebaran😄😄. Akhirnya dokter tidak memasang kembali kawat penyangga di gigi paling pojok kiri dan melepas yang sebelah kanan supaya seimbang. Mengantisipasi kalau hasil bedah malah bikin sakit. Dokter sih udah mengingatkan kalau menggerakkan gigi setelah operasi itu bakalan sakit dan saya tetap pasrah untuk digerakkan aja. Daripada harus ditunda nanti malah lebih lama lagi.
Karet gigi jadi bening kembali
Orthodentist mulai memasang tambahan lilitan kawat di gigi atas. Duh, ntah karena memang gigi lagi nggak enak, saya jadi merasa lebih sakit. Tapi saya berusaha menahan. Demi Perfect Smile 2019. Karet untuk power chain juga ditambah agar celah gigi cepat menutup. Untuk sementara kawat gigi bagian bawah dipasang dengan longgar sehingga tidak menyiksa bagian gusi yang baru saja di operasi.

Setelah pulang ke rumah, baru deh terasa sakit semulut😣. Kalau pasca bedah yang sakit cuma pipi kiri saja, sekarang ditambah pipi kanan. Gigi atas terasa kencang banget tapi masih sanggup ditahan. Alhamdulillah masih bisa makan dan mengunyah. Tapi saya merasa bengkak di rahang bawah jadi merata di pipi kanan dan kiri. Saya jadi terlihat gendut dan muncul double chin.

Hari ini gigi tambah sakit lagi. Gigi atas nggak bisa menggigit buah melon, mengunyah jadi lebih susah, bekas operasi nyut-nyutan, dan rahang bawah ngilu-ngilu semua😵😵😵. Semalam sebelum tidur sengaja nggak minum Cataflam lagi karena perut mulai sakit (efek samping meningkatkan asam lambung). Nah tadi sahur (hari ini saya puasa), saya minum lagi Cataflam karena nyeri gigi udah satu mulut. Ntah karena sahur seadanya dan minum obat Cataflam lagi, sampai tulisan ini diposting, perut saya periiiihhh banget ditambah gigi ngilu-ngilu terutama gigi atas. Rasanya puasa hari ini jadi sangat berat, padahal nggak ke kantor dan tidur seharian.

Semoga segera usai proses per-gigi-an ini. Doakan semoga saya cepat pulih. Amin🤲.

Kontrol Saphire Rp. 275,000
Service Charge Rp. 25,000

Juni 18, 2019

Operasi Gigi Bungsu (Odontectomy)

Akhirnya setelah bertahun-tahun menunda, saya memantapkan hati dan pikiran untuk mencabut gigi bungsu yang tumbuhnya miring. Kenapa sampai harus berpikir terlalu lama untuk mencabut gigi doang? Karena gigi bungsu itu tidak bisa dicabut dengan biasa melainkan harus dilakukan pembedahan😵 atau bahasa kerennya adalah Odontectomy

Odontectomy atau Odontektomi adalah suatu tindakan bedah atau operasi sederhana yang dilakukan untuk mengeluarkan gigi bungsu yang impaksi. Sebagai pengingat, gigi impaksi adalah gigi yang tidak dapat keluar sama sekali atau tidak dapat keluar secara sempurna pada rongga mulut. Gigi bungsu yang impaksi terjadi karena posisi gigi dan ruang pada lengkung rahang yang tidak memenuhi syarat untuk gigi bungsu tersebut dapat tumbuh sempurna.

Karena gigi saya sudah dibraces, gigi bungsu yang tumbuhnya miring itu sudah mulai sering mengganggu gigi di depannya yang berdampak saya sering sakit gigi. Kadang sampai bikin pipi bengkak, nggak bisa tidur, dan nggak bisa makan. Kalau pas lagi jadwal kontrol behel, Orthodentist pasti bilang, "Ini karena gigi bungsunya miring. Sebaiknya segera dicabut ya." Dan saya tetap nggak cabut. Takuttt 😰😰!

Sebenarnya saya memang bermaksud untuk operasi gigi di Klinik Kutaraja Dental Center di Banda Aceh karena dokternya Syahrial Prosthodontist, Sp.Prost (Spesialis Prosthodonsi/Ahli Gigi Turunan) yang merupakan teman saya dan dulunya dia praktek di Kalibata City. Hampir semua tambalan gigi saya sangat sempurna dibikin olehnya dan karena teman jadi bisa bilang, "Bang, pelan-pelan ya." Trus kalau mau nangis kesakitan, tinggal nangis aja😭😭. Teringat dulu sewaktu cabut gingsul di OMDC, nggak kenal sama dokternya, jadi agak digalakin karena saya sedikit rese' dan ketakutan. Wajar dong takut, namanya juga mau cabut gigi yang notabene pasti sakittt 😭😭.

Saya menelepon Novi sahabat saya, adiknya bang Syahrial, untuk menjadwalkan operasi gigi. Saya bilang ke Novi nggak usah diusahakan banget karena saya sebenarnya takut. Kalau bang Syahrial nggak mau praktek juga nggak apa-apa (pasrah amat) karena kebetulan hari Kamis bukan jadwal praktek Sp. Prost. Ternyata Bang Syahrial mau praktek dan saya disuruh untuk Panoramic Rontgen dulu di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) agar ketauan persis gigi mana yang mau dioperasi.
Panoramic Rotgen
Dari rumah adik saya ke RSGM, saya pakai Grab Car. Setiba di RSGM, malah mati lampu dan saya harus menunggu lampu hidup untuk rotgen. Untung cuma satu jam jadi nggak terlalu lama menungg, sekalian jalan-jalan di RS. Tapi RS kalau mati lampu tuh panas banget. Mana nggak ada genset. Banda Aceh emang super duper panas sih cuacanya. Padahal saya udah mandi, eh malah keringetan parah. Setelah rotgen, saya mengajak Novi untuk makan es campur dulu (menyenangkan hati) sebelum menghadapi operasi. Baru setelah itu kami ke klinik dan saya deg-degan abis😣. Apalagi mendengar pertanyaan bang Syahrial, "Gimana, udah siap?" Rasanya pengen kabur keluar klinik.
Pose dulu
Sebelum operasi, saya, dokter, dan beberapa perawat berfoto dulu. Menurut saya ini peristiwa bersejarah dalam hidup saya, jadi harus difoto. Baru setelah itu, dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, akhirnya gusi dan rongga mulut saya dibius. Bius pertama dan kedua sih ngilunya setengah mati, tapi saya tahan. Bius ketiga, karena bius sebelumnya sudah bereaksi jadi nggak sakit lagi. Dokter kemudian memberikan penyangga gigi agar mulut saya nggak reflek menutup. Setelah itu mulailah dikeluarkan peralatan tajam-tajam untuk proses operasi.
Bersama dokter dan dua suster
Sebenarnya operasi adalah hal yang super duper menakutkan bagi saya. Cuma karena obat biusnya banyak, yang saya lakukan hanya buka mulut saja. Dokter dibantu dua suster untuk mengoprek-oprek gigi saya. Paling seram ketika ditunjukkan di layar monitor kalau gusi saya sudah dibelah-belah dan tulang rongga mulut kelihatan. Kaki mendadak lemas😣😣.

Proses operasi berlangsung kurang lebih 1.5 jam. Di waktu 30 menit terakhir saya mulai lemas beneran. Mungkin karena menahan rongga mulut yang sedang diacak-acak. Suara bor, suara air, semuanya berdengung sampai ke kepala. Sampai akhirnya proses operasi selesai setelah gusi dan rongga pipi dijahit 3 jahitan😩. Penyangga mulut dilepas dan rasanya rahang dan sendi saya ikut lepas. Dokter memberikan pijatan ringan di bawah telinga karena memang sendi saya sering berbunyi klik dan sudah hampir tidak berbunyi lagi sejak pakai kawat gigi. Buka mulut selama 1.5 jam memang bikin rahang pegal.

Saya disuruh untuk berkumur. Ternyata bius masih membuat otot wajah susah reflek sehingga saya nggak bisa berkumur. Air baru masuk ke mulut langsung disembur. Sewaktu dokter menyuruh minum paracetamol pun saya kesulitan. Saya paksakan minum agar tidak sakit bekas operasi ketika bius sudah benar-benar hilang. Yang lucunya adalah bibir saya miring dan tidak bisa menutup dengan sempurna. Kata Bang Syahrial sih itu efek bius makanya bibir tidak bisa mengatup di tengah. Deretan gigitan gigi saya sempat diperiksa untuk antisipasi kalau-kalau operasi berdampak ke tempat lain. Alhamdulillah semua berlangsung baik-baik saja dan lancar.

Sebenarnya saya tipe orang yang tahan sakit. Setelah operasi, walaupun masih ngilu, saya nggak mengeluh kesakitan. Sewaktu sujud di dalam shalat, seolah-olah mulut dan rahang mau jatuh ke sajadah. Rasanya perih dan ngilu, tapi masih biasa saja dan mampu saya tahan. Mungkin efek obat-obatan pasca bedah juga yang membuat saya tahan sakit. Besoknya baru deh terlihat banget pipi bengkak seperti orang sedang emut rambutan. Semua saudara saya di Banda Aceh menertawakan wajah saya. Mana kami harus menghadiri pesta pernikahan saudara dan pipi saya harus bengkak sebelah. Saudara-saudara saya mengira kalau saya sudah gendut, tapi pas lihat pipi sebelahnya lagi kok nggak gendut😂? Terkadang juga keponakan saya suka salah nepuk dan kena ke pipi itu rasanya 😩😩😩. Kalau tidur nggak bisa menghadap ke kiri beberapa malam karena pasti ngilu.
Bengkak
Ke acara nikahan jadi pake cadar 😂😂
Sampai tulisan ini di posting, pipi saya masih bengkak tapi tinggal sedikit lagi. Pipi masih terlihat tembem tapi sudah berangsur normal. Nanti akan saya lanjutkan cerita kontrol behel di OMDC ya.

Kutaraja Dental Center Banda Aceh
Odentectomy/Impasi Tipe 1 Rp. 1,550,000
Administrasi Rp. 10,000
Obat-obatan Rp. 167,000

Juni 07, 2019

Ramadhan dan Idul Fitri 1440 Hijriah

Saya kira pulang kampung dapat membuat lebih aktif mengisi blog atau riset Amazon. Riset Amazon sih tetap bisa di sela-sela kesibukan mengejar target Ramadhan. Tapi untuk mengisi blog, rasanya sungguh malas sekali. Dulu, saya bisa menulis dua kali sehari. Sekarang hanya bisa seadanya saja, mungkin karena sedang tidak jalan-jalan kemana-mana. Ditambah lagi kalau kepikiran mau melakukan sesuatu (distracted), malah meninggalkan blog dan lanjut melakukan hal itu.

Baiklah, saya akan bercerita sedikit kisah Ramadhan 2019 kali ini. Diawali dengan flu berat di saat-saat menjelang pulang ke Aceh. Karena kecapekan, ditambah nggak bangun sahur, jadilah semakin sakit. Saya termasuk orang yang jarang flu, karena sudah vaksin influenza. Tapi sekalinya flu, lebayyyy banget🤧🤧🤧. Mungkin antivirus ditubuh saya sudah tidak sanggup menahan virus yang pada saat itu sangat hebat. Hampir semua karyawan sakit dan saya jadi tertular.

Karena masih sakit, saya memutuskan untuk tidak puasa ketika akan pulang ke Aceh. Perjalanan menuju rumah juga sangat panjang. Diawali keluar rumah Depok pukul 3.30 pagi menuju bandara. Setiba di bandara, shalat Shubuh sebentar, lalu check in pesawat. Saat itu AirAsia lumayan mengantri, tapi waktu masih cukup panjang sampai boarding. Setelah check in, saya sarapan terlebih dahulu agar bisa minum obat. Kemudian saya ke imigrasi. Sempat berbincang dengan petugas imigrasi tentang mahalnya pesawat domestik yang mengharuskan saya lewat Kuala Lumpur. Petugas sampai geleng-geleng kepala mengingat betapa mahalnya pesawat ke Aceh untuk penerbangan langsung.

Sepanjang perjalanan ke Kuala Lumpur saya tidur (pengaruh obat). Sampai di KL, saya proses ke imigrasi, ambil bagasi, check in lagi, baru makan Subway. Udah kepikiran banget pengen makan Subway. Sayang lemon teanya cuma ada yang dingin, jadi makin pilek. Ada rasa perih di lambung karena pengaruh obat. Sebenarnya perut saya sudah mules sejak di Soekarno Hatta dan tenggorokan semakin gatal. Sudah berusaha ke toilet tapi masih sakit perutnya. Jadi harus ditahan. Setelah zuhur, saya boarding pesawat ke Banda Aceh. Paling nggak enak ketika di pesawat, perut melintir kesakitan. Saya tetap berusaha menahan agar tidak ke toilet pesawat.

Sesampai di bandara Sultan Iskandar Muda, saya berlari ke toilet dan menuntaskan urusan. Mungkin saya ditoilet sekitar 30 menit. Lega sih, tapi badan jadi bertambah lemes. Untungnya adik saya sudah menjemput dan kami akan melakukan perjalanan ke Matang Glumpang Dua (kota tempat saya tinggal) selama 4 jam. Selama di jalan saya tidur. Ketika sampai di gunung Seulawah dimana jalan berkelok-kelok, saya mau muntah. Tumben saya hampir muntah, tapi tetap berusaha ditahan. Adik saya sudah menawarkan minum dan cemilan karena saya nggak puasa, tapi saya nggak mood makan. Kepala pusing, perut sakit, dan badan lemes. Bahkan ketika waktunya buka puasa, saya cuma minum segelas teh dan sepotong martabak saja.

Sekitar jam 9 malam, baru sampai di rumah dan saya teparr😵😵😵. Bayangkan perjalanan saya dari jam 4 pagi sampai jam 9 malam. Untung adik saya dokter dan saya langsung diberikan obat. Rasanya udah hampir nggak sanggup bergerak lagi. Setelah shalat Isya, saya merangkak ke kasur untuk tidur. Badan pegel-pegel dan encok, ditambah lagi hidung merah karena pilek. Alhamdulillah besoknya saya sudah kuat bangun sahur dan berpuasa.

Bagaimana dengan target Ramadhan?
Sudah berapa kali Ramadhan, saya hampir tidak pernah khatam Al-Qur'an karena kesibukan mengejar dunia. Sebelum Ramadhan kemarin, sempat mendengar ustadz Firanda ceramah dan mengatakan kalau mengaji 1 juz sehari itu sebenarnya mudah. Hanya 2 lembar saja seusai shalat Fardhu. Saya jadi berpikir, "iya juga ya mudah." Karena biasanya saya mengaji pakai hp, jadi nggak tau udah berapa lembar mengajinya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengaji di Al-Qur'an saja dan alhamdulillah jadi bisa cepat.

Selama di Aceh, saya jadi bisa mengaji di sela-sela riset Amazon menggunakan Al-Quran. Nggak terasa ternyata bisa lebih dari satu juz sehari. Sekalian mengejar ketinggalan karena mens di awal Ramadhan dan bakalan dapat mens lagi di akhir Ramadhan. Akhirnya, setelah bertahun-tahun, bisa juga khatam. Rasanya bahagia sekaliiii🥰🥰🥰.

Hal menarik lainnya adalah berburu baju lebaran di wearingklamby.com. Kalau bukan karena adik, saya nggak tau sama sekali kalau merek baju yang satu ini sangat diburu oleh orang-orang se-Indonesia untuk membeli baju lebaran. Websitenya sampai down, pembayarannya susah banget, belum lagi antrian pemesanannya bikin bosan menunggu. Kalau tau sudah selaris itu, kenapa nggak meningkatkan infrastuktrur website ya? Jadi orang nggak bete karena nggak kebagian. Saya sih udah males rebutan baju di website itu. Tapi jadi add to cart juga dan mencoba membelinya. Herannya, ntah kenapa saya berhasil beli bajunya padahal orang udah rebutan banget. Hmmm, aneh sekali🤔.

H-2 sebelum Idul Fitri, saya beres-beres rumah. Karena debu dan sarang laba-laba, saya jadi pilek lagi🤧🤧🤧. Pilek ini berlangsung sampai Lebaran kedua yang membuat saya lemas dan demam. Ternyata bukan saya doang yang pilek, hampir seluruh keluarga dan saudara pada pilek semua di hari raya Idul Fitri. Mungkin karena capek beres-beres rumah juga, dan capek perjalanan mudik, jadilah semua pada flu. Apalagi tamu ketika Idul fitri memenuhi rumah dengan anak-anak lari sana-sini. Lengkaplah prosedur pening pala berbie.

Alhamdulillah masih bisa diberikan kesempatan menikmati Ramadhan dan Idul Fitri. Teringat banyak sekali orang-orang yang saya kenal berpulang ke Rahmatullah di bulan Ramadhan, bulan terbaik. Semoga husnul khotimal, diterima amalannya oleh Allah subhanahu wata'ala.
From Rancupid🙏
Akhir kata, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440H. Mohon maaf lahir dan batin🙏.
Taqabalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum wa ja’alna minal ‘aidin wal faizin.
تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَمَنَا وَ صِيَمَكُمْ وَجْعَلْنَا مِنَ الْعَائِدِين وَالْفَائِزِين
"Semoga Allah menerima (amal) dari kami dan (amal) dari kalian, puasa kami dan puasa kalian. Dan Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang kembali (kepada ketaqwaan/kesucian) dan orang-orang yang menang (dari melawan hawa nafsu dan memperoleh ridha Allah)."

Mei 24, 2019

Celah Gigi

Setelah dua hari menyesuaikan diri dari dengan suasana leyeh-leyeh di Aceh, baru kemudian kembali bekerja. Ternyata kalau sudah di kampung halaman, saya jadi lebih semangat untuk bekerja sih. Ntah karena disini rame, jadi bisa nge-laptop sambil duduk di ruang tengah sekalian ngobrol.

Baiklah, seperti biasa saya akan mengupdate laporan perkembangan Perfect Smile 2019. Sewaktu ke dokter hari Selasa kemarin, gigi saya ditarik-tarik ke kiri dan ke kanan. Bahkan alat untuk menariknya itu beberapa kali meleset dan saya bingung kenapa nggak membuat gusi saya berdarah. Padahal sakit banget deh sewaktu gusi terkena alat kedokteran yang mirip seperti tang😵. Biasanya salah sikat gigi aja atau gusi kena ujung sikat gigi pasti bikin sariawan. Ini kenapa enggak ya?🤔

Proses tarik-menarik gigi juga agak menyeramkan dan melibatkan 2 orang perawat. Mungkin karena karet giginya kenceng banget, atau karena celah gigi saya yang memang agak dipaksa untuk dirapatkan. Apa pun alasan dibalik itu semua, yang pasti kontrol gigi kemarin lumayan menyeramkan😨.
Senyuman belum pas di tengah

Kalau dilihat secara kasat mata oleh saya, celah gigi sebelah kiri memang agak lebih besar sehingga proses penarikannya lebih menyeramkan. Tapi saya puas banget dengan gigi saya sekarang gini dan nggak sabar untuk menunggu sampai benar-benar bisa Perfect Smile. Sekarang kalau berfoto udah bisa sambil tersenyum. Kalau dulu masih malu karena terlihat jelek banget.

Semoga urusan gigi ini cepat beres Ya Allah. Aminnn🤲.

Kontrol Sapphire Braces Rp. 275,000.
Service Charge Rp. 25,000

Mei 20, 2019

Sehari Semalam di Solo

Destinasi selanjutnya adalah berlibur ke kota Solo setelah 4 hari 3 malam jalan-jalan di sekitar Yogyakarta dan Bantul. Awalnya mau naik kereta Prambanan Ekspres dengan tarif murah, tapi ternyata pemberangkatan kereta terakhir jam 7 malam. Mana mungkin keburu, sedangkan jam 6 aja kami baru keluar dari Candi Ratu Boko dan masih harus ke Mall Ambarukmo untuk bertemu teman lama. Oh ya, sewaktu perjalanan ke Ratu Boko menggunakan Grab, kita sempat berdiskusi tentang sempat apa enggaknya kita naik kereta Prambanan Ekspres. Supir Grab mendengar kita kebingungan dan menyarankan untuk nanti taksi online aja kesana. Saya cek deh di aplikasi Grab dan ternyata memang bisa. Hmm..., menarik! Padahal Solo kan agak jauh ya, sekitar 1 jam naik mobil dari pusat kota Jogja, tapi ternyata bisa naik Grab.

Efan yang kebetulan duduk di jok depan lalu langsung menawar rental mobil ke supir Grab. Supir bilang kalau jam 9an malam, dia sudah ada janji dengan keluarganya. Selesai menawar rental mobil, mendadak banyak yang Whatsapp ke hp saya untuk bertanya apa saya jadi ke Solo? Rata-rata menawar dengan harga 200rb-225rb. Sampai ada seorang bapak menawar 175rb, baru saya mau. Kami dijemput di kosan Nufus, lalu berangkat ke Solo. Selama perjalanan, jok mobil saya turunkan hampir 40 derajat agar bisa lebih santai. Udah capek foto-foto hari ini sambil lompat-lompatan, mana badan masi keringatan banget, tadinya mau sekalian beristirahat saja di mobil. Eh malah jadi ngobrol, nggak jadi tidur.

1. Warisan Heritage Resort & Resto
Sekitar jam 10 malam, kami tiba di Warisan Heritage Resort & Resto. Duh, rasanya badan ini lelah sekali. Untung hotelnya bagus banget, ada kolam renang, banyak pohon dan bunga, kamar mandi enak, suasananya tempo dulu dengan perabotan yang mewah. Wah, kalau Resort bagus begini bisa males kemana-mana nih besok😅. Sempat buka laptop sejenak untuk bekerja, setelah itu saya langsung mandi, shalat, dan tidur. 
Suasana kamar remang-remang
Keesokan paginya, setelah shalat Shubuh, saya masih lanjut tidur. Bener 'kan jadi pengen tidur melulu😅. Nggak enaknya kalau memilih hotel/resort mewah itu jadi malas kemana-mana. Bahkan mau jalan sarapan ke depan aja malas. Jadilah tidur dulu sampai jam 8 pagi, bangun, baru sarapan. Karena bukan weekend, sarapan kali ini ala carte. Saya memesan nasi goreng dan jus dan porsinya Masya Allah jumbonya. Sarapan serasa makan siang.
Bunga di resort
Selesai makan, kami kembali ke kamar. Saya mandi duluan karena mau menikmati suasana kamar mandi yang mewah. Bisa berendam di bath tub seperti puteri raja. Saya baru selesai mandi sejam kemudian. Saya memaksa Efan dan Nufus untuk mandi, tapi mereka masih asyik menonton tv tanpa mau beranjak sama sekali. Ya ampun, saya jadi ngantuk lagi kan?

Setelah semuanya mandi, kita akhirnya checkout juga setelah berjuang dengan memaksa orang-orang untuk mandi dan berkemas🤦‍♀️🤦‍♀️. 

2. Pusat Grosir Solo
Saya sempat bertanya pada resepsionis enaknya kalau belanja selain Pasar Klewer kemana? Teringat dulu pasar itu sumpek dan panas. Masa' udah dandan harus panas-panasan dan sumpek-sumpekan? Resepsionis menyarankan kami untuk ke PGS (Pusat Grosir Solo). Selain karena disana banyak pilihan juga seperti Pasar Klewer, tempatnya sudah berbentuk Mall dan ada AC. Baiklah, saya langsung pesan Grab kesitu.

Sesampai di PGS, saya melihat banyak jajanan pinggir jalan. Jadi pengen minum es deh karena cuaca panas bangetttt. Kami mampir ke sebuah warung tenda dan memesan es campur durian. Penyajiannya cepat banget. Ada tape ketan, beberapa isian yang biasa di es campur (saya nggak hafal namanya), dan yang pastinya ada durian. Kebayang 'gimana kolesterol saya naik pada saat itu makan tape ketan dikombinasikan dengan durian😆.
Tape dan Durian
Setelah kenyang, kami masuk ke PGS. Suasanya persis sama seperti ITC di Jakarta yang nggak seramai Pasar Tanah Abang. Kebanyakan kios-kiosnya menjual batik. Jujur aja saya bingung mau beli apa. Kantor saya nggak mengharuskan memakai batik dan saya nggak begitu suka pakai daster. Akhirnya cuma membelikan Mama dan adik saya Yuni baju daster dan kain batik saja. Efan juga beli batik untuk pergi ke acara kondangan. Disini segala jenis batik ada. Mau yang murah sampai yang mahal banget pun ada.
Daster Mak!
3. Es Masok (Warung Makan Masuk)
Tujuh tahun yang lalu, saya makan Nasi Garang Asem disini dan masih teringat betapa enaknya makanan itu. Saya khusus kembali ke warung ini untuk merasakan menu makanan yang sama. Sayangnya, tidak seperti 7 tahun yang lalu, suasana warung kotor banget. Banyak sampah bekas makanan bertebaran di warung dan nggak enak banget dilihat. Padahal pelayannya banyak yang sedang duduk-duduk doang sambil main hp. Bukannya nyapu lantai gitu ya😠? Kalau saya pemilik warung, udah pasti saya marahin tuh para pelayan.
Daftar Menu
Terlepas dari suasana warung yang kotor dan pelayan yang malas, saya tetap bisa menikmati Nasi Garang Asam dengan rasa yang sama enaknya. Kalau kalian penasaran apa itu Garang Asam? Seperti pepes ayam yang dimasak pakai belimbing wuluh, tomat, cabe rawit, dibungkus dengan daun pisang. Rasanya asam pedas, gurih, dan nikmat banget. Sayangnya kemarin sisa 2 bungkus saja, sehingga kita bertiga jadi makan sambil berbagi.
Garang Asem
Selesai makan Garang Asam, kami kembali ke hotel untuk bersiap pulang. Saya dan Efan melanjutkan perjalanan ke bandara, sedangkan Nufus ke terminal bus untuk kembali ke Jogja (sepupu saya ini kuliah di UIN Jogja). Selesailah sudah liburan kali ini. Semoga suatu hari bisa jalan-jalan bareng lagi, ke tempat yang lebih jauh dan lebih indah. Aminnn ya Allah🤲.

Mei 18, 2019

Kuliner di Jogja

Tidak lengkap rasanya ketika mampir ke kota Yogyakarta tanpa wisata kuliner. Teringat dulu saya suka banget dengan bakmi Jogja dan sekarang ingin mencicipinya lagi. Adik saya juga merekomendasikan untuk makan es krim di kota ini karena Gelato Jogja juga sudah terkenal enak sampai ke telinga orang Jakarta. 

Berikut beberapa kuliner yang saya santap ketika berlibur ke kota Jogja di akhir Maret 2019 kemarin.

1. Bakmi Mbah Gito
Berlokasi di jalan Nyi Ageng Nis 9, Peleman-Rejowinangun Sleman, Bakmi yang satu ini adalah rekomendasi dari supir rental mobil. Saya bilang ke Mas supir kalau pengen banget makan bakmi tapi yang mantap. Akhirnya saya dibawa ke tempat makan yang menurut saya bangunannya unik banget. Saya kemudian dibuat kagum dengan interiornya yang antik. Mas supir bilang,  tempat ini adalah bekas kandang sapi. Hah😱? 
Antik kan?
Kalian nggak usah membayangkan kandang sapi literally, karena suasana sebenarnya seperti rumah pohon. Seluruh bangunan terbuat dari kayu dan anyaman daun kelapa. Jadi terkesan seperti sedang berada di desa tempo dulu. Apalagi seluruh pelayannya menggunakan baju adat Jawa.
Bakmi
Yang paling terkenal disini adalah Bakmi Spesial yang merupakan campuran mie kuning dan mie bihun yang disajikan dengan kuah kental, taburan ayam, telur, dan bawang goreng. Kuahnya enak dan nggak amis, tapi kurang pedas. Jadi saya meminta potongan cabe rawit lagi agar rasa kuahnya lebih pedas menusuk. Saya juga memesan teh jahe untuk mengembalikan energi tubuh yang sudah habis terkuras hari ini.

Selesai makan, Mas supir bilang ada Mbah Gito (pemilik tempat makan) disini. Ketika Mbah Gito lewat, Mas supir memanggil beliau dan mengajak berfoto. Orangnya ramah dan sempat mengobrol sebentar dan bertanya asal kita dari mana. Kata Mas Supir, memang si Mbah ini suka banget bercengkrama dengan orang-orang. Kalau mau kritik makanannya jadi bisa langsung ke si Mbah.
Foto bareng Mbah Gito
2. Kedai Rakyat di Bukit Rhema
Kalau kalian mampir ke Gereja ayam, jangan lupa ke Kedai Rakyat untuk menikmati sore. Kalian bisa nongkrong seraya menikmati pemandangan nan indah sambil minum teh hijau dingin dan singkong goreng.
Green tea dan singkong
Cafe ini cuma buka sampai jam 5 sore sesuai jadwal buka Gereja ayam. Padahal duduk-duduk santai dan berfoto disini tuh asyik banget😍. Kita jadi lupa waktu sampai akhirnya diperingatkan (diusir) kalau Kedai akan segera tutup😬. Kalau mau berfoto, kalian bisa minta tolong pelayan resto untuk mengambil foto. Dia lebih tau angle foto yang bagus daripada kita. Hehehehe😆.
Pemandangan indah
3. Move On Cafe
Cafe Gelato yang satu ini adalah yang terdekat dari Hotel Jambuluwuk. Lokasinya berada di Jl. Prawirotaman No.4-10, Brontokusuman, Kec. Mergangsan, Kota Yogyakarta. Saya nggak tau kalau Cafe ini hits apa enggak, yang pasti hari itu saya pengen banget makan Gelato. Menurut saya, konsep interior Cafe ini bertema industrial dan cukup cozy. Apalagi dengan tagline, "Our Gelato is colder than your Ex." Umm, okay😅.
Rambutnya kopi
Saran saya kalau mau membeli Gelato, tanya dulu pada pelayannya yang mana rasa es krim terlaris. Saya memilih Coklat dan Chesecake yang katanya banyak disukai orang. Rasanya es krimnya memang enyaakkk banget🤤🤤. Hanya saja karena suhu kota Jogja yang panasnya minta ampun, es jadi cepat meleleh. Jadi harus buru-buru makannya🍨. 
Berbagai cita rasa es krim🍨
Mulai meleleh🍦
Baiklah, ternyata cuma sedikit makanan yang saya cicipi selama di Jogja. Setelah ini kita akan move on ke kota Solo. Sampai jumpa lagi!
Pose dulu

Mei 14, 2019

Jalan-Jalan ke Bantul

Kalau postingan yang lalu bercerita tentang jalan-jalan di sekitar kota Yogyakarta dan Magelang, sekarang kita akan bergeser sedikit ke Kabupaten Bantul. Ini pertama kalinya saya menjelajah Bantul. Sempat melihat-lihat Instagram dimana saja spot bagus untuk berfoto dan ternyata banyak banget. Kayaknya nggak bisa kalau mau dijelajahi dalam sehari semalam. Mungkin suatu hari harus balik lagi kesini untuk eksplorasi tempat lainnya.

Semula setelah sarapan di Hotel Jambuluwuk Malioboro, saya mau sewa sepeda motor yang berada di dekat kampus sepupu saya Nufus bernama Al Jawi Motor Rent. Setiba disana, ternyata kalau bukan mahasiswa dikenakan Deposit senilai 2 juta untuk satu motor dan harus dibayar tunai. Mana mungkin saya bawa duit sebanyak itu didalam dompet dan nggak bisa pakai debit lagi😠. Mau nyari ATM ntah dimana. Saya menghubungi Nufus untuk meminjam kartu mahasiswa. Berhubung Nufus lagi kuliah, jadi susah banget dihubungi. Waktu jadi terus berjalan dan kita nggak bisa diam aja di rental motor. Nanti malah udah kesiangan, jadi nggak bisa kemana-mana lagi. Mana hotel belum check out. Melihat langit mulai agak mendung (kemarin sempat hujan super duper lebat sewaktu sedang jalan-jalan ke Magelang), dan saya juga malas ribet bawa-bawa koper kalau naik motor, jadilah saya sewa mobil lagi. Saya menyuruh Efan mengontek sopir sewa mobil kemarin. Setelah nego tipis dan deal harga, kami balik ke hotel untuk check out. Kami bakalan dijemput di hotel oleh supir mobil yang disewa. 

1. Hutan Pinus
Salah satu destinasi wisata yang paling ingin saya kunjungi di Bantul adalah Hutan Pinus. Ternyata di Bantul ini banyak banget hutan pinusnya. Ada Pengger, Mangunan, Asri, Puncak Becici, dan lainnya. Saya bertanya pada supir yang menurutnya banyak dijadikan spot foto dan instagramable. Pak supir bilang, mendingan ke Hutan Pinus Pengger aja karena sekalian bisa melihat alam dari ketinggian. Baiklah, saya ikut aja.
Hutan Pinus
Mereka tidak saling bersentuhan
Kami tiba di Hutan Pinus Pengger. Harga tiket masuk  adalah Rp. 2.500 ditambah asuransi Rp. 500, jadi total Rp. 3000. Untuk biaya perkir kendaraan Rp. 5000 seharian. Murah sekali😃. Saya turun dari mobil dan mulai menaiki anak tangga untuk mengeksplorasi hutan. Saya mulai berjalan kearah yang ada spot foto berbentuk tangan, dimana latar belakangnya adalah alam dari ketinggian. Saya mulai menyetel kamera lagi yang kemaren ntah apa yang saya setting sehingga jadi aneh modenya. Berhubung saya udah lama nggak pegang kamera, mengulik-ulik settingannya jadi memakan waktu juga.
Ini spot foto paling hits, katanya...
Saya kemudian memotret pemandangan beberapa kali. Jangan ditanya betapa panasnya cuaca saat itu. Baru melakukan beberapa pose saja, keringat sudah bercucuran. Saya juga pindah spot foto ketempat lain. Sempat berjalan-jalan sampai ke ujung hutan pinus, tapi jadi kecapekan karena terlalu banyak berkeringat.
Memandang kejauhan
Kalau dilihat-lihat sih, sebenarnya tempat wisata ini biasa aja. Tidak seindah yang saya bayangkan. Kalau mau berfoto dengan gemerlap lampu kota, mending pergi di malam hari. Pakailah baju berwarna mencolok seperti merah, orange, atau warna-warna pastel supaya ketika difoto jadi bagus. Saya sarankan untuk melihat angle foto di Instagram supaya bisa terinspirasi mau berfoto dengan gaya seperti apa. Kalian juga bisa melakukan outbond disini.
Salah satu angle foto
Banyak anyaman begini di hutan pinus untuk spot motret
Sudah capek bereksplorasi, saya ngemil pisang goreng dulu di sebuah toko kecil. Pisang goreng sebanyak itu harganya cuma Rp. 10,000. Sampai harus dibungkus untuk dimakan di perjalanan saking banyaknya. Setelah perut kenyang, kami balik ke mobil. Supir sempat bertanya pada kita apa mau mampir di hutan-hutan pinus setelah ini karena memang tempatnya sederetan semua. Berhubung pasti sama aja yang bakalan dilihat dan udah mulai sore, mending langsung lanjut aja ke Parangtritis.

Objek wisata Hutan Pinus ini mulai buka pada pukul 06.00 – 24.00 WIB. Jadi kalian bisa datang kapan saja ya.

2. Pantai Parangtritis
Setelah sejam perjalanan dari Hutan Pinus, akhirnya ketemu juga dengan pantai. Walaupun Pantai Parangtritis sudah terkenal ke mancanegara, ini pertama kalinya saya berkunjung kesini. Pantai yang satu ini adalah tempat legenda Nyi Roro Kidul berasal. Katanya, kalian bisa melihat matahari terbenam dengan super duper indah disini.
Andong dan matahari terbenam
Berhubung masih beberapa menit lagi sebelum sunset, saya berjalan-jalan dulu menyusuri bibir pantai sambil melihat orang-orang berlalu-lalang. Disini terkenal sekali andongnya yang berjalan bolak-balik. Jadi foto andong dan sunset adalah yang paling diburu di tempat ini. Sayang banget kemaren mendung. Jadi nggak dapat matahari terbenam secara penuh. Hanya pendaran cahaya orange dan merah saja yang berhasil saya abadikan.

Mendengar suara debur ombak memberikan ketenangan tersendiri buat saya.  Walaupun hari semakin gelap, selama belum sepenuhnya gelap, saya tetap duduk-duduk di pinggir pantai. Setelah sudah tidak terlihat apa-apa lagi, baru deh kembali ke mobil. Katanya ada tempat untuk menikmati sunset dari ketinggian tapi karena terbatasnya waktu jadi nggak bisa kesana. Mungkin lain kali.

Salah satu resort tempat saya menginap yang bagussss banget. Kemarin sempat dapat harga yang murah karena promo Gledek Tiket.com. Memang sengaja ingin menginap dan bersantai di resort bagus dan berada di pedalaman, supaya terasa suasana desa yang mewah. Saking nyamannya, rasanya nggak mau pulang☺️☺️☺️.
Katanya kolam renang ini tempat terbaik menikmati matahari terbenam
Setelah seharian jalan-jalan, akhirnya tiba di resort. Sayangnya nggak bisa menikmati sunset disini karena tiba sudah terlalu malam. Awalnya, saya memesan Resort Rumah Batu dan karena sedang renovasi, ditingkatkan ke rumah batu juga tapi yang premium. Suasananya sepi dan hening. Hanya terdengar suara-suara jangkrik. Semua interior kamar terbuat dari batu (jadi teringat hotel Goa di Cappadocia, Turki) dan bambu. Tempatnya apik sekali. Saya sangat suka. Yang uniknya nggak ada telepon di kamar. Kalau mau memanggil pelayan hotel, harus memukul pentungan. Kebayang 'kan kalo pentungan itu suaranya keras banget. Bisa-bisa seluruh penghuni Resort terbangun karena mendengar suara pentungan saya.

Yang paling unik adalah ketika harus sarapan pagi. Saya kira tempat sarapan hanya tinggal jalan ke depan seperti hotel-hotel biasa. Ternyata saya salah sangka. Kami dijemput dengan Rubicon Jeep untuk menuju Resto yang berada di puncak gunung😱. 
Resto untuk sarapan
Pemandangan indah
Yang jadi masalah adalah karena saya masih pakai baju batik untuk tidur, dengan kerudung seadanya, tanpa makeup. Suasana sudah super duper keren tapi kostum saya seperti babu🙈🙈🙈. Curangnya si Efan malah udah mandi dan dia udah ganteng, sedangkan saya masih muka bantal. Kata dia kalau hotel atau resort mewah itu sebaiknya sarapan dalam kondisi udah cakep. Saya jadi nggak pede banget. Seolah-olah seluruh pelayan bilang, "kamu kok belum mandi😨?" Untung pakai jaket dan berapa kali saya menutupi kepala dengan hoodie jaket karena malu. 
Sarapan ala carte
Karena bukan weekend, sarapannya ala carte dan saya memilih nasi soto dan jus semangka. Rasanya enak banget dan porsinya seperti untuk makan siang. Yang paling enak Mie Jawa pesanan Efan. Rasanya gurih, asinnya pas, dan porsinya segunung. Duh, sampai sekarang masih teringat betapa enaknya mie itu. Sayangnya saya lupa mengambil foto Mie Goreng tersebut. Mungkin sedang sibuk dengan kondisi enggak pede sama diri sendiri.

Banyak turis mancanegara yang menginap Rajaklana resort ini. Mungkin karena orang bule' memang mencari suasana pedesaan atau hutan. Saya suka resort yang tenang seperti ini, jadi betah berlama-lama sampai last minute check out. Kalau sudah menginap di resort, saya pasti suka banget mandi berlama-lama. Nggak peduli ada yang tungguin apa enggak, yang penting mandi dulu😂.

Setelah check out, saya kembali ke pusat kota Yogyakarta untuk melanjutkan jalan-jalan. Sampai jumpa!

Mei 12, 2019

Tempat Wisata di Yogyakarta

Mungkin sudah 7 tahun tidak menginjakkan kaki di kota Yogyakarta. Kali ini saya kembali dengan kondisi keuangan yang lebih baik, hahahaha😆😆😆. Kenapa harus disebutkan lebih baik? Karena dulu ke kota ini dengan sangat irit. Nebeng di rumah teman di Salatiga untuk nyuci baju karena bawa ransel doang dan baju sendikit. Trus sewaktu teman saya dinas ke luar kota, saya harus menyewa kos-kosan yang jauh dari pusat kota Jogja agar lebih murah. Belum lagi kemana-mana naik angkutan umum atau sharing taksi bersama teman-teman. Kalau dipikir-pikir, saat itu sebenarnya begitu melelahkan dan menyita waktu. Belum lagi kulit gosong dan berfoto dengan wajah tanpa riasan apa pun menggunakan kamera saku sederhana. Tapi saya tetap bahagia bisa menjelajah Jawa Tengah dan Yogyakarta sampai kepelosok dengan budget super duper minimalis.

7 tahun kemudian...

Ntah udah berapa kali berencana ke kota ini dari tahun-tahun sebelumnya. Mungkin karena hampir seluruh pelosok Yogyakarta pernah saya kunjungi sehingga ada saja alasan saya untuk mending pergi ke kota lain yang belum pernah saya datangi. Hanya saja, seperti yang kita ketahui kalau tiket pesawat domestik sekarang sangat mahal. Rasanya lebih baik kalau kita ke luar negeri saja dengan tiket seharga segitu daripada jalan-jalan di dalam negeri. Berhubung saya sudah agak lama tidak jalan-jalan karena Rancupid sempat krisis (alhamdulillah sudah berakhir krisisnya) dan kebetulan tiket.com ada promo harga gledek, jadilah saya memantapkan hati untuk pergi ke Yogyakarta.

Karena memiliki banyak poin AirAsia hasil dari poin belanja dengan menggunakan kartu kredit, Alhamdulillah saya bisa naik pesawat dengan harga murah ke Yogyakarta. Penerbangan dari Jakarta ke Yogyakarta hanya satu jam. Setiba di bandara Adisutjipto, seperti biasa langsung diserbu dengan orang-orang yang menawarkan taksi. Saya sempat cek taksi online terlebih dahulu yang harganya kurang dari 30rban, sedangkan taksi bandara menawarkan harga 100rb😱😱😱. Yang benar saja? Saya sampai menawar taksi bandara dari 100rb ke 50rb pun mereka nggak mau. Akhirnya saya berjalan keluar bandara (mumpung bawa koper kecil jadi nggak berat), baru memesan taksi online (di dalam bandara nggak boleh memesan taksi online). 

Saya menginap di Hotel Jambuluwuk yang dekat dengan Malioboro (bisa jalan kaki). Setelah sampai di hotel, awalnya mau mandi dulu. Tapi keran showernya rusak. Bukan kamar saya saja yang rusak, kamar Efan juga rusak. Padahal Jambuluwuk adalah hotel bintang lima dan saya menyewa kamar Premiere, tapi keran malah rusak dan sofa ada bercak tumpahan air😑😑😑. Memang sih teknisi hotel langsung datang ketika saya laporkan kalau keran rusak, tapi memperbaiki keran saja sudah menghabiskan waktu. Nggak jadi mandi deh.

Baiklah, saya akan menceritakan beberapa tempat yang saya kunjungi selama di Yogyakarta. Mari di simak:

1. Malioboro dan Keraton Yogyakarta
Sepertinya kalau ke Jogja nggak sah kalau nggak ke Malioboro. Saya tinggal jalan kaki dari hotel kesini. Masih banyak pertokoan, ada pentas seni jalanan, dan juga angkringan. Karena sudah waktunya makan malam, kita memilih angkringan yang terlihat ramai untuk makan. Ada yang bilang kalau angkringan di Jogja harus kita cari yang ada daftar menunya kalau nggak mau diketok harga. Tadinya pengen makan bakmi Jogja yang pernah saya makan 7 tahun yang lalu. Udah jalan kesana-sini malah nggak ketemu angkringannya. Ya sudahlah, akhirnya saya dan Efan memilih angkringan yang menjual ayam penyet.
Jajanan
Mau makan apa?
Setelah makan, kita jalan menuju Keraton Jogja. Kata Nufus, kalau Keraton Jogja di malam hari nggak buka. Palingan kita cuma bisa jalan-jalan saja dan menikmati keramaian kota. Saya tidak masalah kalau hanya bisa menikmati Keraton Jogja dari luarnya saja. Malah lebih senang melihat keramaian di sekitar Malioboro sampai ke Keraton. Kangen juga dengan suasana Jogja di malam hari.
KM 0
Kami berjalan menuju Keraton melewati Kilometer 0 Yogyakarta yang pada malam itu sedang mati lampu. Jangan tanya betapa ramainya suasana Malioboro, Keraton, dan Kilometer 0. Mungkin karena sedang malam minggu, jadi penduduk lokal pun keluar semua. Cuaca pun cerah dan tidak hujan (teringat dulu pas ke Jogja sedang hujan deras dan nggak seru kalau mau jalan kaki mengelilingi kota). 
Yuk naik!
Karena sudah berjalan terlalu jauh dan udah keringetan, akhirnya saya memutuskan untuk pulang dengan naik becak. Kalau di Aceh, saya masih sering naik becak sama Mama kemana-mana. Berbeda dengan di Jakarta atau Depok, nggak pernah sama sekali naik becak. Karena jaraknya dekat dari Malioboro ke hotel, ongkos becak hanya Rp. 15,000 saja.

2. Candi Borobudur
Siapa yang tidak tau Candi yang pernah menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia ini? Ini kali kedua saya kesini. Dari Jambuluwuk hotel, saya menyewa mobil via tiket.com (lagi promo juga) supaya bisa santai dan tidur di mobil karena jarak kota Magelang lumayan jauh dari hotel. Sewaktu bangun tidur, kita sudah tiba di parkiran candi. Tiket masuk  seharga Rp. 40,000 dan parkir Rp. 10,000.
Selamat datang
Salah satu stupa paling ikonik
Saya sarankan untuk bawa air minum dan topi sebelum masuk candi karena cuaca panasnya minta ampunnnn......😖😖😖!!! Nggak ada tempat untuk berteduh juga kecuali di sela-sela batu-batu candi. Kalau mau ke Borobudur juga mending nggak usah di weekend karena pengunjungnya terlalu rame. Jadi susah kalau mau berfoto karena dimana-mana ada orang. Belum lagi waktu itu saya udah lama nggak pegang kamera jadi untuk mensetting kamera agar pencahayaannya benar itu lumayan memakan waktu juga. Keburu kebakar matahari😩.
Buru-buru mengambil foto mumpung sepi
Oh ya, seingat saya dulu ngos-ngosan banget ketika menaiki tangga candi. Sekarang kok kayaknya gampang banget. Apa karena sudah sering yoga jadi stamina bertambah? Padahal dulu masih muda tapi stamina lebih bagus sekarang. Bagus lah😆. Rutin olah raga itu ternyata penting banget lho!

3. Gereja Ayam
Mungkin saya salah satu korban film Ada Apa Dengan Cinta 2 yang ingin banget mengunjungi tempat ini. Berhubung 7 tahun yang lalu tempat ini belum terkenal. Jaraknya memang cuma 10 menit doang dari Candi Borobudur dan berada di puncak bukit Rhema yang katanya pemandangannya menakjubkan. Jadi sayang banget kalau sampai tidak mengunjungi tempat ini.
Ayam apa burung?
Tiket masuk ke gereja ayam Rp. 15,000 perorang. Karena gerejanya berada di bukit, jadi kami harus naik jeep untuk menelusuri tanjakan setinggi 500 meter. Ongkos naik jeep sekali jalan Rp. 5000 peorang. Kalau naik bukit mungkin ngos-ngosan, tapi turunnya malah enak jadi nggak usah sewa jeep lagi deh.
Di dalam gereja
Sebenarnya gereja ayam ini dibangun untuk tempat beribadah segala agama. Bisa dilihat disini banyak tempat-tempat beribadah misalnya untuk muslim ada sajadah, tempat wudhu, dan mukenah. Kalau untuk agama lainnya juga ada. Gereja ini juga sangat terawat, catnya tampak baru, dan bersih banget. Kata tukang bersih-bersih, sejak film AADC memang dilakukan renovasi besar-besaran agar pengunjung nyaman. Mungkin kalau kita lihat di film AADC, gereja ini masih gelap dan berdebu kan? Sekarang udah rapi dan berwarna-warni.
Kepala ayam
Kalian bisa menukarkan tiket masuk dengan makanan ringan di kantin. Lumayan bisa ngemil sambil menikmati pemandangan Bukit Rhema yang Masya Allah indahnya. Sekaligus bisa berfoto di setiap sudut kantin. Setelah puas berfoto, saya menuruni jalan menuju parkiran dengan curam. Harus hati-hati jalan disini kalau nggak mau terpeleset. Apalagi sudah mulai becek karena gerimis.
Pemandangan di kantin
Awalnya ingin langsung ke candi Prambanan. Tapi karena hujan derasss banget dan pengalihan jalan, jadilah sampai ke Candi Prambanan sudah lebih dari jam 5 sore dan tutup. Agak kecewa sih, tapi supir kita yang gaul banget mengalihkan tujuan ke Tebing Breksi. Untuk mengobati kekecewaan dan kebetulan saya belum pernah ke Tebing Breksi, mari kita kunjungi!

4. Tebing Breksi
Sebelum menjadi tempat wisata, Taman Tebing Breksi adalah tempat penambangan batuan alam. Kegiatan penambangan ini dilakukan oleh masyarakat sekitar dan bisa dilihat terdapat tempat-tempat pemotongan batuan hasil penambangan untuk dijadikan bahan dekorasi bangunan. Sejak tahun 2014, kegiatan penambangan di tempat ini ditutup oleh pemerintah. Penutupan ini berdasarkan hasil kajian yang menyatakan bahwa batuan yang ada di lokasi penambangan ini merupakan batuan yang berasal dari aktivitas vulkanis Gunung Api Purba Nglanggeran. Kemudian lokasi penambangan ditetapkan sebagai tempat yang dilindungi dan tidak diperkenankan untuk kegiatan penambangan.

Setelah penutupan aktivitas tambang tersebut, masyarakat mendekorasi lokasi bekas pertambangan ini menjadi tempat wisata yang layak untuk dikunjungi. Tepatnya pada bulan Mei 2015, Tebing Breksi ini diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai tempat wisata baru di Jogja. Wajar saja kalau 7 tahun yang lalu tempat ini belum ada, sehingga saya belum pernah kesini.
Lampu-lampu dari tebing
Sebenarnya kalau untuk berfoto yang instagramable sih, Tebing Breksi bisa menjadi salah satu pilihan. Berhubung saya nggak begitu suka foto-foto cute untuk dimasukkan ke Instagram, jadi saya nggak mengambil banyak foto. Agak bingung juga mau berfoto seperti apa🤔. Tiba-tiba ada beberapa pemandu wisata datang menghampiri saya dan menawarkan jasa foto. Berbeda dengan cetak foto langsung jadi yang biasa ada di tempat wisata, mereka adalah anak-anak muda yang udah mengerti angle bagus di Tebing Breksi yang keren untuk diunggah ke Instagram. Mereka membawa tripod juga dan saya menyuruh mereka pakai kamera saya aja. Foto malam hari memang lebih baik pakai tripod sedangkan saya nggak punya.
Angle-nya keren ya
Sesi foto dimulai lebih dari sejam. Berhubung saya juga sebenarnya sudah capek, muka juga kayaknya udah amburadul, saya nggak yakin kalau foto-foto disini bakalan bagus. Belum lagi beberapa gaya foto membuat saya dan Efan ketawa dulu baru bisa difoto. Ternyata oh ternyata, hampir semua fotonya baguuuus😍. Seru juga memakai jasa fotografer seperti ini karena mereka tau banget spot foto di setiap sudut tebing breksi. Selesai sesi foto, saya masih tetap bertanya biasanya mereka dibayar berapa? Mereka tetap menjawab seikhlasnya. Kata-kata ikhlas ini ambigu. Kalau dikasih Rp. 5000 nanti ngambek😄. Akhirnya saya kasih deh Rp. 50,000.

5. Candi Prambanan
Tempat ini kurang lebih masih sama dengan yang saya kunjungi 7 tahun yang lalu. Tiket masuk seharga Rp. 40,000. Untung saja dulu saya mengunjungi candi-candi ini dulu baru ke Siem Reap di Kamboja yang memiliki candi agak mirip dengan penuh cerita kebudayaan Hindu-Buddha. Negara-negara Asia Tenggara memang terkenal sekali dengan candi dan saya sarankan kalian untuk mengunjungi semua candi di negara-negara Indo-China agar bisa menelusuri sejarahnya.
Foto begini tuh capek banget loh! Ntah berapa kali retake😪.
Gaya dulu
Disini saya hanya berfoto saja dan menceritakan sedikit sejarah kepada Nufus, sepupu saya. Oh ya, kalau kalian sudah puas mengambil foto di candi, mungkin bisa main ke Taman Rusa atau tempat bermain lainnya (7 tahun yang lalu belum ada) yang berada di komplek candi.

6. Candi Ratu Boko
Dulu saya sudah khatam berkeliling candi yang super duper luas ini. Sekarang jadi malas karena harus menaiki banyak tangga dan saya sudah capek mengambil foto lompat di candi Prambanan tadi. Saya sudah menyuruh Efan dan Nufus untuk berkeliling candi, sedangkan saya mau menunggu matahari terbenam. Eh mereka jadi malas juga. Mungkin karena saya nggak ikut. 

Awalnya saya mau menemani mereka berkeliling, tapi memang kita sudah terlalu sore berada di candi ini. Maklumlah, keluar dari hotel juga udah jam 12 siang, sampai ke kosan Nufus sejam kemudian, baru jalan ke candi Prambanan. Waktu saat itu terasa begitu cepat berlalu, eh udah mau tenggelam aja mataharinya.
Sunset
Sebenarnya candi Ratu Boko adalah tempat terindah untuk mengambil foto sunset. Tapi jangan terlalu berharap, apalagi ribuan manusia juga berebutan untuk mengabadikan foto matahari tenggelam. Alhasil, susah banget mendapat foto dimana sedang sepi. Teringat sewaktu di Jepang dulu, khusus untuk spot foto bagus orang-orang akan langsung berbaris mengantri. Tapi agak tidak mungkin mengingat waktu matahari tenggelam sangat singkat.
Siluet
Baiklah, setelah ini saya akan memposting tempat wisata yang saya kunjungi di Bantul. Sampai jumpa!

Follow me

My Trip