Januari 19, 2019

Talkshow & Seminar : Bagaimana Memulai Bisnis di Amazon

Seminggu lagi, Rancupid dan Nest School (sebelumnya bernama Woimedia) akan mengadakan Talkshow dan Seminar tentang memulai bisnis menggunakan platform Amazon.  Karena kali ini berupa acara ngobrol dan tanya jawab dimana kita akan dipandu oleh MC, jadi persiapannya tidak seribet workshop Connecting The Dot di bulan Oktober 2018 yang lalu. Acara kali ini sifatnya santai, tidak perlu terlalu banyak orang, tapi yang penting pesan dari kami untuk mengajak para peserta seminar berjualan di Amazon tersampaikan. Jadi terkesan Rancupid adalah duta Amazon ya. Padahal disini kita cuma berbagi ilmu dan pengalaman bagaimana selama ini menjalankan bisnis di Amazon sejak tahun 2015.

Dari para pendaftar yang masuk, banyak yang ingin Talkshow/Seminar kali ini diselenggarakan di kota masing-masing seperti Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, bahkan Banda Aceh. Ntah kenapa mereka tidak telalu antusias dengan Jakarta yang semula saya kira peserta bakalan banyak karena diselenggarakan di ibukota. Tapi acara masih seminggu lagi, biasanya kalau acara udah mau dekat baru banyak yang daftar. Kalau seperti ini malah tim kita yang bingung mau booking tempat dan untuk berapa peserta😅. Mau book untuk 100 peserta, nanti malah kegedean ruangannya kalau yang hadir hanya sekitar 50an. Tapi kalau tiba-tiba semakin dekat ke hari H malah semakin banyak yang ikut, dan ternyata kita book ruangan untuk 40 peserta, malah jadi kurang tempat😅. Dilema kan?
Oh ya, bulan ini Rancupid berulang tahun yang kedua. Kalau diibaratkan pada manusia, perusahaan saya sudah bisa mengenal dunia luar, mulai bergaul, dan belajar berlari. Kadang masih banyak banget badai yang menerpa seperti krisis moneter, karyawan tiba-tiba resign, tapi anggap aja ini semua ujian dari Allah subhanahu wata'ala agar Rancupid naik kelas. Kalau tidak ada ujian, hidup mana seru. Justru cara menghadapi ujian itulah yang perlu terus ditingkat. Saya merasa, setiap Allah memberi ujian, pasti selalu ada jalan keluar. Asalkan bisa bersabar, terus berikhtiar, dan bertawakkal pada Allah.

Rancupid bakalan membuat surprised party 🥳🥳🥳 di acara Talkshow dan Seminar nanti. Mau tau bakalan ada apa? Rahasia dong🤐. Yuk ikutan acaranya dulu biar tau bakalan ada apa nanti disana, hihihi.

Hari dan Tanggal : Sabtu, 26 Januari 2019
Pukul : 13.30 - 17.00
Tempat : Hotel Harris, Tebet, Jakarta.
HTM : Rp. 249,000

Untuk pendaftaran, silakan langsung klik link ini 👉 https://ctdworkshop.com/

See you there!🎉

Januari 13, 2019

Tahun Baruan di Kuala Lumpur

Salah satu alasan ke Kuala Lumpur tahun baru kemarin adalah karena tiket pesawat dari Banda Aceh ke Jakarta langsung atau transit Medan sangatlah mahal. Saya saja terpaksa memanfaatkan poin-poin atau special privilege yang sudah ditabung di beberapa website untuk bisa membeli tiket pulang dari Jakarta ke Lhokseumawe. Kalau tidak salah, tiket ke Lhokseumawe itu nyaris 1.8 juta menggunakan Lion Air dan saya dapat diskon sehingga harga yang harus dibayar adalah sekitar 1.5 juta. Lupa persisnya berapa tapi menurut saya ke Lhokseumawe seharga 1.5 juta itu normal.

Bagaimana dengan tiket kembali ke Jakarta? Waktu itu harganya sekitar 1.9 juta dari Banda Aceh pakai Lion Air. Batik sekitar 2.8juta dan Garuda 3.3juta. Saya hanya bisa tepok jidat 🤦‍♀️kalau harganya semahal itu. Sudah sama dengan tiket pesawat ke Asia Timur atau ke Australia sekali jalan dengan durasi perjalanan diatas 5 jam dengan maskapai full board. Saya mulai memutar otak, bagaimana caranya agar pulang ke Jakarta dengan tiket agak murah sedikit. Akhirnya saya memutuskan untuk lewat Kuala Lumpur. Kebetulan poin Airasia saya banyak dan saya hanya membayar sekitar 1 juta berdua sudah sama bagasi dan kursi (saya suka beli kursi di Airasia biar nggak dapat duduk terlalu jauh dibelakang). Akhirnya saya (diharuskan) tahun baruan di Kuala Lumpur dan ini untuk pertama kalinya.

Nah, di bulan Desember 2018 kemarin, Traveloka sedang promosi besar-besaran untuk fitur Traveloka Pay Later. Saya awalnya cek tiket dari Kuala Lumpur ke Jakarta, tapi jamnya nggak ada yang pas (terlalu pagi dan terlalu malam). Akhirnya karena ada panggilan meeting ke Bandung, saya memutuskan untuk naik Malindo Air ke Bandung menggunakan PayLater diskon Rp. 750rb. Total yang saya bayar untuk pesawat full board berdua tetap sejutaan saja. Murah sekali kan? Hitung-hitung, total dari Banda Aceh ke Bandung hanya 1 jutaan perorang dan bisa menikmati tahun baruan di negara orang.

Tanggal 31 Januari 2018, saya naik pesawat ke Kuala Lumpur dengan membawa bagasi 20 kg. Perjalanan ini terkesan seperti mau transit ke negara lebih jauh karena bawa koper gede, padahal cuma pulang ke Jakarta doang😅. Disini saya baru merasa kerepotan bawa koper gede kalau cuma transit doang. Untung pergi dengan teman cowok bernama Efan, jadi bisa dibantuin angkat koper. Seperti biasa kalau ke luar negri pasti banyak yang menitip ini itu dan saya biasanya mau beliin. Jadi setelah mendarat, makan sebentar, lalu pergi ke Mitsui Outlet untuk belanja. Hari itu bus ke Mitsui penuh banget dan kita kesulitan memegang koper yang kalau mobil berbelok, kopernya kabur😆. Jadi harus dipegangin karena takut kena orang nanti. Setelah turun di Mitsui, kita bisa menitip koper dan ransel di luggage storage dengan gratis. Huff, akhirnya ringan juga bawaan kita.

Setelah selesai belanja, keribetan kita kembali lagi. Kali ini penumpang bus agak sepi, jadi bisa duduk di dekat pintu masuk. Tapi koper tetap harus dipegangin biar nggak kabur. Kita kembali ke bandara untuk kemudian naik bus ke KL Sentral. Selama dalam perjalanan saya tidur karena sudah kecapekan keliling-keliling Mitsui Outlet.

Sesampai di KL Sentral, saya lupa-lupa ingat dimana Hotelnya sehingga harus bertanya pada petugas. Ada petugas yang tau jalan, ada yang salah kasih tau juga dan membuat saya bolak-balik (jadi menghabiskan waktu). Yang ribet kalau bawa koper besar adalah apabila harus naik eskalator. Saya sampai menemukan cara untuk bawa koper plus tentengan ketika menaiki eskalator. Saya nggak bisa memegang atau bersandar di dinding eskalator karena tangan kiri dan kanan sudah penuh. Jadilah berfokus supaya tetap seimbang.

Sempat bertanya dengan orang lokal dimana posisi hotel saya.
"Excuse me, do you know where's My Hotel at KL Sentral?"
"Your hotel?"🤔
Saya tertawa. Nama hotel ini emang agak ambigu😄.
"No, no. I mean, the name of the hotel is My Hotel at KL Sentral," sambil menunjukkan bookingan di tiket.com

Alhamdulillah ternyata hotelnya super dekat dengan KL Sentral dan jalanannya juga rata. Jadi nggak memberatkan ketika harus menggerek koper. Sesampai di hotel, rasanya ingin melempar koper dan tentengan yang meribetkan saya. Baru lega rasanya. Saya mandi, shalat, lalu keluar lagi setelah magrib untuk makan. Tidak lupa membawa kamera karena saya berharap bisa memotret kembang api. Destinasi pertama adalah Mall NU Sentral karena mau makan Nando's dulu. Mall ini juga banyak banget SALE dan saya sempat nongkrong agak lama disana. Setelah makan dan belanja, kami pulang ke hotel sebentar untuk menaruh barang, ambil sweater (karena gerimis), baru naik monorail ke Pavilion KL.

Kalian tau, monorail kala itu penuhnya minta ampun. Dari KL Sentral sih kosong karena pemberhentian pertama. Tapi di stasiun selanjutnya, orang yang naik rame banget😱. Sampai-sampai saya kesulitan keluar stasiun. Bukit Bintang juga sudah seperti lautan manusia. Jangankan kendaraan bermotor, kita jalan kaki aja udah susah banget bergerak dengan leluasa. Semua Mall dan toko juga sudah tutup dan rencana saya mau jajan di Pavilion sirna. Saya langsung merasa salah besar merayakan tahun baru di KL. Saya mengajak Efan langsung jalan ke KLCC karena suasana Pavilion sudah kacau balau. Orang ramai, berisik, banyak yang teriak-teriak sambil meniup terompet, dan saya mulai sakit kepala melihat situasi begitu. Teman-teman Efan yang semula pada janjian di Pavilion,  udah hilang di lautan manusia. Kalau Efan hilang dan dia nggak daftar paket data, lebih pusing lagi saya 'nyarinya😵.

Kita jalan kaki diantara orang-orang yang berisik meniupkan terompet. Pusing banget sebenarnya, tapi saya sedang berusaha santai saja. Kalau kita nggak santai, bisa-bisa habis energi untuk bete. Di jalan juga saya beli air minum, supaya nggak kehausan karena keringat terus keluar karena jalan kaki. Sesampai di KLCC, WOW banget penuh manusia😱. Ada pentas musik, tapi mendekat ke panggung itu ide yang buruk. Kita sudah berusaha mendekat ke kolam, tapi nggak berhasil sama sekali. Jadi hanya bisa duduk di taman melihat orang-orang sibuk berpesta dan meniup terompet. Rasanya pusing sekali dan saya hanya bisa diam saja. Mau ngobrol sama Efan, tapi muka dia lebih bete lagi daripada saya😣. Pohon-pohon di sekitar taman KLCC menurut saya bakalan mengganggu penglihatan kalau ingin menonton kembang api deh. Akhirnya saya mengajak Efan berdiri di dekat pintu keluar saja supaya kalau acara usai, kita bisa cepat keluar, dan juga lebih leluasa melihat kembang api.

Tepat pukul 12 malam, kembang api ditembakkan ke langit. Saya langsung kaget tapi bahagia seketika. Ntah kenapa, saya suka banget dengan kembang api. Dulu sempat menonton di Disneyland Jepang dan saya merasa jadi orang paling bahagia di dunia. Rencananya mau menikmati menit-menit awal kembang api dulu, baru kemudian ngambil kamera di ransel. Sayangnya, kembang api di KLCC cuma berlangsung 5 menit. UDAH SEGITU DOANG😨😨😨😨. Kamera aja belum sempat dikeluarin, eh acara sudah selesai. Saya jadi merasa kecewa berattt😖😖😖. Sewaktu saya datang ke KL di bulan November pas acara Deewali, kembang api berlangsung satu jam dan saya sangat bahagia. Lha, ini?
Ngambil foto dari kamera hp aja
Kembang api kedua
Pesta bubar dan orang-orang mulai berjalan pulang. Alhamdulillah masih lumayan tertib tapi kita jadi bingung mau jalan ke arah mana. Semua monorail sudah tidak beroperasi, Grab nggak ada yang mau angkut, taksi nggak ada yang mau di stop, dan kaki sakit karena jalan terus. Otak mulai nggak bisa berpikir jernih tapi saya tetap berusaha santai. Kita jalan ke tempat yang agak sepi atau ke depan hotel, berharap ada taksi yang mangkal dan kita bisa menawar harga. Proses berjalan itu juga menghabiskan pikiran dan energi, termasuk menguji kesabaran karena harus mendengar keributan orang-orang bernyanyi-nyanyi dan suara terompet bersahut-sahutan. Belum lagi ntah harus berapa kali berjalan memutar untuk menjauh dari keramaian.

Alhamdulillah akhirnya dapat taksi juga yang sedang mangkal di pinggir jalan. Duduk di taksi tuh rasanya enak banget karena pinggang seakan-akan mau copot. Belum lagi keringat sudah bercucuran. Menurut data di Iphone saya, malam itu saya sudah berjalan 20rb langkah. Pantas kaki ini agak nyut-nyutan. Tapi saya memang sudah terbiasa jalan jauh jadi sakit segitu masih okelah. Sepatu yang dipakai juga enak. Yang kasihan si Efan yang sepertinya baru kali ini jalan kaki sejauh dan sebanyak itu. Sesampai di hotel saya mandi, lalu langsung tidur.

Besok paginya, keribetan terulang lagi karena kami harus kembali ke bandara dengan koper besar dan saya tetap menenteng belanjaan walaupun hanya satu plastik saja. Sesampai di tempat bus, koper besar dimasukkan ke dalam bagasi bus lebih awal, jadi mengurangi keribetan. Kami datang kecepatan ke terminal bus KL Sentral dan berdiri di samping bus untuk menunggu jadwal keberangkatan. Tanpa sadar, ternyata orang-orang malah mengantri di belakang kita untuk masuk ke dalam bus. Jadi merasa aneh sendiri, padahal berdiri di samping bus juga bukan karena mau membuat antrian😂.
Koper dan ransel kita
Sarapan di Kopi Time
Selama perjalanan ke bandara saya tidur. Setelah sampai, kita cek in, sarapan di Kopi Time seperti biasa, lalu proses imigrasi. Fiuhhh akhirnya selesai juga keribetan, kelelahan, dan kecapekan di Kuala Lumpur. Kapok nggak nyari kembang api? Enggak juga sih. Tapi mungkin suatu hari di negara lain lagi. Saya sampai di Bandung, cek in hotel Grand Preanger di Braga, lalu tidur dari sore sampai Magrib. Awalnya memilih hotel ini karena mau foto-foto di jalan Asia Afrika tapi kondisi tubuh hayati terlalu lelah. Tidur lebih baik🛌🏼.

Sebenarnya dari dan ke Banda Aceh transit di Kuala Lumpur sudah biasa saya lakukan. Selain karena memang lebih murah, terkadang saya memang baru saja pulang dari negara mana dan mau ketemu Mama sejenak di Aceh, sebelum kembali ke Jakarta. Fenomena kenaikan tiket domestik sekarang ini yang membuat transit di KL jadi alternatif paling dipilih oleh warga Aceh atau Medan. Memang lebih murah, tapi kalau yang nggak terbiasa akan sedikit kesulitan. Apalagi kalau harus pindah bandara seperti saya. Banda Aceh ke KL itu akan mendarat di KLIA2 karena menggunakan maskapai Air Asia, sedangkan Malindo Air (seperti saya ke Bandung) harus melalui bandara KLIA1. Kalau kalian bawa koper kecil, ada shuttle bus dari KLIA2 ke KLIA1 gratis. Atau kalau mau naik KLIA Ekspres (kereta) harus membayar 2 RM tapi lebih enak buat yang bawa koper gede karena aksesnya pakai lift dan nggak harus angkat koper masuk kereta. Pintu kereta dan peron selisihnya hampir tidak kelihatan, sehingga koper tinggal di dorong saja. Kalau saya, kereta udah pernah, bus juga udah pernah, mau bawa koper gede atau kecil semua udah pernah dilakukan.

Semoga ada solusi untuk permasalahan tiket domestik ya. Saya masih berhutang 15 provinsi lagi belum dijelajahi di Indonesia. Sampai jumpa!

Januari 01, 2019

2019 Reflections & Resolutions

Belum ada postingan yang bertengger di bulan Januari 2019. Saya akan memulainya dengan menuliskan resolusi dan refleksi. Sebenarnya ada beberapa postingan yang saya tulis di bulan ini tapi karena bercerita tentang hal di bulan-bulan yang lalu, jadi saya ubah saja tanggalnya agar lebih sesuai. Sebelum menulis, saya baca lagi 2017 Reflections yang pernah saya tulis ketika memasuki tahun 2018 sebagai napak tilas apa yang telah terjadi di tahun 2017. Sayangnya saya nggak menuliskan resolusi untuk tahun 2018 secara jelas sehingga saya sendiri nggak tau apakah keinginan di tahun 2018 benar-benar sudah tercapai.

Teringat dulu pernah merekam video untuk Instagram Story kalau saya ingin ke India dan Turki di tahun 2018. Alhamdulillah tercapai. Ada juga tentang ingin membuka Rancupid Farm e-commerce dan tercapai juga. Ingin fokus dengan Rancupid Travel sampai bertemu dengan tim IT di Bandung. Rancupid Travel ini adalah tantangan terberat di perusahaan yang sangat menguras uang, tenaga, dan waktu. Tapi saya belum berpikir untuk menyerah. Apa pun tantangannya akan saya hadapi dengan bismillah.
Saya akan bercerita beberapa hal:

Kondisi Perusahaan
Januari 2019 ini perusahaan saya ulang tahun ke-dua (2). Kalau diibaratkan dengan manusia, perusahaan saya sudah bisa ngomong beberapa patah kata, sudah bisa lari, dan bergaul. Alhamdulillah sudah  dua tahun mengelola perusahaan berbadan hukum. Banyak sekali cerita-cerita seru, suka, dan duka selama setahun kemarin yang tidak bisa dijabarkan satu-persatu.

Sama seperti di kehidupan nyata, memiliki anak berumur 2 tahun tantangannya semakin besar. Pengeluaran lebih banyak, riset harus lebih mendalam, belum lagi saya membutuhkan waktu untuk bercengkrama dengan orang-orang tercinta. Kata siapa jadi CEO enak? Memang kadang enak, kadang malah lebih enak jadi karyawan. Tapi hidup ini pilihan dan kita harus bertanggung jawab dengan pilihan yang sudah kita tetapkan. Dan saya sudah memilih untuk tetap mempertahankan perusahaan.

Sebenarnya sekarang kondisi perusahaan sedang tidak terlalu baik karena kita melakukan re-investing yang lumayan besar di line of business yang lain. Tapi alhamdulillah masih bisa bertahan (ini yang penting) dan membutuhkan kesabaran, usaha, dan doa, lebih dari biasanya. Tapi saya selalu percaya, hasil tidak akan mengkhianati usaha keras kita. Sejak awal tahun baru sampai hari ini, saya sibuk sekali mengurusi perusahaan. Jangan tanya betapa menguras tenaga dan pikiran semua hal ini. Mungkin saya terlihat santai, tapi itu mungkin sekadar pengalihan. Semoga cepat berlalu dan Allah subhanahu wata'ala memberikan petunjuk dan jalan keluar. Aminnnn🤲.

Bisnis Baru
Tahun 2018 akhirnya kita bisa memiliki tim IT di Bandung untuk mengembangkan aplikasi Rancupid Travel. Walaupun sampai sekarang belum launch ke publik, tapi Insya Allah dalam bulan ini sudah bisa menunjukkan hasil. Jadi nggak sabar ingin melihat Rancupid Travel seperti apa website Marketplacenya. Semoga sesuai dengan harapan🤩.

Rancupid juga akhirnya bisa mengadakan Training untuk Amazon Seller. Nggak nyangka akhirnya bisa jadi mentor dan tahu detail tentang materi yang disampaikan. Teringat dulu sewaktu masih bekerja di Oracle, kalau disuruh presentasi pasti keringat dingin. Berbeda dengan training yang diadakan perusahaan sendiri tuh bisa lebih improvisasi dan percaya diri dalam menyampaikan materi. Mungkin karena penguasaan materi yang berdasarkan pengalaman pribadi.

Negara Baru
Setiap tahunnya saya berusaha berkunjung ke negara baru paling tidak satu saja. Alhamdulillah di tahun 2018 ada 3 negara baru yang saya kunjungi yaitu : India, United Arab Emirates, dan Turki. Ada juga beberapa negara yang saya kunjungi lagi seperti Malaysia dan Korea.

Bagaimana di tahun ini? Saya ingin sekali berada sebulan di Eropa. Rasanya ingin mengoleksi foto-foto indah disana, bermain salju di Iceland, melihat aurora, merasakan warna-warni musim semi di Belgia, ke Paris yang katanya kota paling romantis di dunia, Spanyol, dan lainnya. Saya ingin kesana dibulan Oktober ke November agar dapat musim gugur dan musim saljunya. 

Untuk musim semi, saya ingin ke China dan Taiwan. Seharusnya sekalian ke Mongol biar khatam Asia Timur tapi sepertinya sulit walaupun di sisi Allah nggak ada yang sulit. Bisa saja saya mendapat rejeki yang tidak disangka-sangka untuk mengunjungi Ulaan Bataar. 

Oh ya, salah satu teman jalan saya si Wilay malah ngajakin travelling ke Russia. Duh, negara yang satu ini benar-benar menjadi salah satu keinginan saya yang hakiki😆. Tapi nggak bisa dijalanin semua karena nanti uang saya habis dong. Doakan saja uang saya ada terus dan nggak habis-habis.

Mengunjungi Tempat-Tempat Baru di Indonesia
Supaya orang-orang nggak berisik bilangin kalau saya lebih memilih trip Internasional, jadi saya berusaha mengunjungi tempat-tempat baru di Indonesia juga selama 2018. Selain untuk keperluan Rancupid Travel, saya juga suka kok jalan-jalan di dalam negeri. Saya telah mengunjungi Palembang dan Lombok. 

Tahun lalu cuma bisa berkunjung ke dua provinsi saja. Insya Allah ditahun ini bisa lebih banyak lagi. Tapi dengan permasalahan maskapai domestik menaikkan harga tiket pesawat dan menghilangkan kebijakan gratis bagasi, jangankan mau ke provinsi baru, pulang ke Aceh aja sulit karena tiket mahal😓.

Sebenarnya saya ingin sekali mengunjungi Sumba, Labuan Bajo, sampai ke Wae Rebo. Mungkin membutuhkan waktu sekitar semingguan untuk bisa menjelajah 3 tempat itu. Biasanya kendala yang saya alami adalah nggak ada teman jalan. Banyak teman yang agak susah cutinya kalau mau jalan-jalan sampai seminggu. Saya juga nggak mungkin jalan sendiri karena ada perasaan takut kalau menjelajah tempat baru tanpa tau keadaan masyarakatnya.

Keinginan selain yang diatas ☝️:

  1. Menikah👰🏻, supaya ada teman jalan terus tanpa perlu minta ijin sana-sini dan mempertimbangkan ini-itu. Kalau saya menikah tahun ini, pengen banget bikin Intimate Wedding Ceremony 💐 di Jakarta yang dihadiri teman-teman terdekat aja. Nggak perlu rame-rame seperti resepsi pernikahan yang biasa diselenggarakan keluarga saya di Aceh, yang penting acaranya sweet, memorable, bisa ngobrol sama teman-teman, makanan enak, ada tema acaranya, dan nggak mau di gedung. Pengennya di Cafe aja atau pesta kebun. Banyak maunya ya😅.
  2. Melunasi rumah🏡 supaya nggak tercekik dengan bunga bank. Kadang kalau lagi nggak ada duit, membayar cicilan segede itu perbulan berat juga. Apalagi kalau mau merenovasi kecil-kecilan sepertinya nanggung. Mending lunasin rumahnya, trus direnovasi seperti yang saya mau.  Pengen punya ruang kerja yang dikeliling lemari kaca berisi buku-buku📚. Pengen punya desain kamar mandi 🛀kering dan bersih juga. Semoga rejeki lancar.
Akhirnya, mari kita berusaha semaksimal mungkin, bersabar, berdoa, dan berserah diri pada Allah. Semoga Allah subhanahu wata'ala mendengar dan mengabulkan doa-doa saya. Aminn🤲. Tolong di-aminkan juga ya teman-teman.

Follow me

My Trip