Februari 23, 2019

Aku Pamit

Mengawali tahun 2019 dengan perasaan tidak menentu, sehingga saya memutuskan untuk menulis cerita saja. Kalau dilihat-lihat, tahun 2018 saya hanya menulis satu cerita saja lho😗. Tahun 2017 hanya 3 cerita, dan 2016 lumayan banyak yang saya tulis. Sebenarnya dari dulu hobi saya memang menulis cerita, tapi ntah kenapa dua tahun belakangan ini saya merasa kekurangan inspirasi. Mungkin mengurusi perusahaan dan jalan-jalan kesana-kemari menjadi faktor utamanya. Walaupun postingan tentang petualangan saya terus bertambah, tapi saya merasa perlu menulis cerita pendek yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari.

Sebenarnya cerita ini sudah saya tulis di bulan November 2018 dan terus menjadi draft karena saya belum tau endingnya. Sempat menuliskan ending yang berbeda di Desember, lalu berubah lagi di Januari, dan saya rasa di Februari ini sudah nggak boleh berubah lagi😅. Kan ntar pusing mau ending yang mana dan berakhir seperti apa. Baiklah, saya akan menuliskan dengan ditambah banyak bumbu penyedap agar lebih enak dibaca. Mari disimak!

***

Ini sebenarnya adalah cerita tentang sebuah perpisahan. Aku mengingatkan kalian dulu sebelum menuliskan detilnya. Lusa aku akan berangkat ke Amerika untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Aku memegang Visa Amerika multiple entry selama 5 tahun. Bisa jadi, aku tidak akan pulang ke Indonesia dalam waktu dekat. Untuk mengakali jatah waktu perkunjungan selama 5 tahun, aku akan menetap di Shanghai karena bisnisku juga ada disana. Kebetulan aku memegang Visa China multiple entry juga.

Ada hal yang paling menyakitkan tentang semua ini. Bukan karena aku akan tinggal lama di luar negri dan meninggalkan negaraku tercinta, tapi aku tidak bisa mengajaknya untuk ikut. Bahkan aku harus berpisah dengannya.

Sekitar seminggu yang lalu, perasaanku hancur berantakan karena dia. Bahkan dengan wajah tanpa merasa bersalah dia bilang, "Kamu seharusnya tidak usah terlalu ambisius mengejar duit sampai ke Amerika dan meninggalkan Indonesia." Saat itu aku terdiam dan berpikir bahwa di dalam pikirannya berarti aku adalah orang seperti itu. Kalau saja bukan karena mempertaruhkan perusahaan dan karyawan, aku lebih memilih di Indonesia. Dan dia dengan egoisnya mengambil kesimpulan tentangku. Saat itu, dia langsung meninggalkan aku di lobi hotel dan pulang ke kosannya dengan keadaan marah, sedangkan aku terdiam mematung. Beberapa hari ke depan aku tidak akan melihatnya lagi tapi dia malah bersikap seperti itu padaku.

Hari itu hujan turun dan aku harus check out dari hotel tempat aku menginap. Aku harus pulang ke rumah dan bersiap-siap packing untuk ke Amerika. Sebelum pulang ke rumah, aku menyuruh supir untuk mengarahkan mobil ke daerah kosannya. Sudah hampir sebulan kami hilang kontak dan aku ingin melihatnya sekali lagi sebelum pergi. Aku turun dari mobil, mengambil payung, dan berjalan kaki melewati gang yang hanya bisa dilalui sepeda motor. Sesampai didepan kosan, aku hanya berdiri diam sambil memperhatikan teras depan kosan yang sepi. Ntah ada apa tidak dia disana. Dari warung sebelah kosan, tiba-tiba mengalun lagu:

🎵Kasih, dengarkanlah aku
Kini hatiku yang berbicara
Resah yang ada di jiwaku
Ingin kulalui bersamamu🎵

Aku terbawa suasana. Tiba-tiba air mataku menetes. Teringat dulu pertama kali dia menyapaku di media sosial setelah 10 tahun hilang kontak dan dia langsung meneleponku untuk menceritakan semua tentang dirinya selama ini. Dia pandai bercerita, bahkan sangat detail. Awalnya aku tidak mau mendengarkannya karena ceritanya terlalu biasa dan aku merasa memiliki hidup yang lebih kompleks. Waktu itu aku berpikir, mendengar dia mengoceh hanya akan membuang-buang waktuku saja. Tapi aku tetap tidak menutup telepon. Aku memasang earphone agar tidak usah memegang hp dan mendengarkannya bercerita sampai 2 jam. Tidak terasa bisa mengobrol selama itu.

Kami kemudian bertemu ketika aku mengadakan seminar. Dia datang ke hotel tempat acara berlangsung dan aku kaget. Aku menatap wajahnya, kurang lebih masih sama dengan beberapa tahun yang lalu. Hampir tidak ada yang berubah. Karena terlalu ramai peserta seminar di resto hotel yang membuat aku tidak akan bisa mengobrol dengan leluasa, aku mengajaknya (kabur) makan diluar. Untung dia bawa sepeda motor, sehingga aku tidak usah memanggil supir lagi untuk mengantarkan kita ke tempat makan.

Kita makan di sebuah resto dengan pemandangan citylights yang indah. Disitu dia bertanya beberapa bisnis padaku dan aku memang lumayan mengerti tentang dunia jual-beli. Selama ini dia membuka toko kue yang katanya pelanggannya tidak terlalu banyak. Memang dia tidak sampai rugi, tapi terkadang ingin juga banyak pelanggan. Aku menyarankan beberapa hal padanya yang lumayan gampang untuk dipraktekkan. Dia mendengarkan dengan serius semua yang aku bilang. Kita mengobrol sampai jam 11 malam. Setelah itu dia mengantarkanku kembali ke hotel.

Besoknya setelah seminar, dia datang lagi ke hotel sambil membawakan kue dari tokonya. Aku membukanya dan melihat ada beragam bentuk kue imut dengan berbagai rasa. Aku kaget dengan pemberian sederhana ini. Dia bilang, "aku sendiri yang membuat, membungkus, dan menatanya di dalam kotak untuk kamu. Dimakan ya." Mungkin, hal ini agak sepele. Tapi ini yang benar-benar menyentuh hati.

Aku memasukkan kue ke kamar hotel dan turun kembali untuk makan malam bersamanya. Kali ini aku bawa kamera dan kami berfoto di sebuah resto indah yang memiliki banyak lampu. Mungkin sejak malam itu, aku jadi ingin terus mengobrol dengannya. Kalau bisa sampai pagi. Tapi tidak mungkin karena besoknya aku harus mengisi seminar dan talkshow yang nggak ada habis-habisnya. Sepulang dari resto, aku meminta dia untuk mengajakku ke toko kuenya. Eksterior toko sangat klasik seperti bangunan jaman Belanda dulu, tapi aku suka. Sayang karena sudah malam, toko tutup. Dia juga mengajakku mampir ke kosannya yang berada tidak jauh dari toko kue. Aku duduk di ruang tamu dan dia menghidangkan teh panas bikinannya sendiri. It was so lovely back then.

Karena sudah dua malam berturut-turut aku makan diluar, panitia penyelenggara seminar mulai mencurigaiku pergi tanpa memberi kabar. Di malam ketiga, aku sama sekali tidak boleh keluar hotel. Aku melihatnya datang ke lobi dari lantai dua hotel. Aku turun sebentar dan bilang padanya kalau kali ini aku tidak bisa keluar dan tidak bisa makan bersamanya. Panitia langsung menyuruhku masuk kembali ke ruang seminar ketika melihatku mengobrol dengannya. Sejak itu, aku malah tidak bisa bertemu dengannya lagi karena dia pergi ke luar kota untuk belajar menu baru untuk toko kuenya.

Selama ini hidupku diwarnai dengan pekerjaan yang tiada habisnya. Kehadiran dia lumayan merusak konsentrasiku. Aku tidak bisa bertemu dengannya dan agak susah juga untukku meneleponnya. Tidak bisa setiap hari, bahkan hanya seminggu sekali baru ada waktu menghubunginya. Mengirim pesan pun tidak bisa setiap hari juga, tapi aku tetap melakukannya. Kalau sudah menelepon, kita bisa 3 jam. Pulsa hpku memang tidak akan habis karena memang fasilitas dari provider yang aku dapatkan bisa menelepon siapa saja sampai 10rb menit gratis.

Sampai saat aku menerima surat tugas untuk tinggal di luar negri. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, aku bingung. Biasanya aku akan pergi tanpa memikirkan apa pun. Berbeda dengan sekarang dimana tiba-tiba aku berpikir tidak akan melihatnya lagi. Selama ini aku memang jarang bercerita tentang apa pekerjaanku sebenarnya kepadanya, bagaimana aku memulai bisnis, karena aku tidak ingin mengubah cara pandangnya terhadapku. Tapi kalau tiba-tiba pergi tanpa pamit, seolah-olah aku sangat buruk dalam berteman. Aku harus memikirkan cara untuk menceritakan tentangku padanya.

Aku tetap menatap teras kosannya. Tiba-tiba mataku panas dan air mata mulai menetes.  Rasanya pedih sekali mengingat hal-hal indah bersamanya selama ini. Ntah bagaimana, dia keluar dari kosan dan melihatku berpayung di kala hujan gerimis seraya menangis. Dia membuka pagar kosan dan menyuruhku masuk, tapi aku menggeleng.

Aku teringat kembali saat aku ingin bilang padanya untuk ikut aku ke Amerika. Sebelum terus-terang, aku mengajaknya jalan-jalan ke Singapura. Dia hampir tidak pernah ke luar negri dan ini adalah jalan-jalan pertama dengannya. Kita jalan-jalan dan makan-makan kemana-mana. Saat itu begitu bahagia. Rasanya kami adalah orang yang tidak punya beban sama sekali. Sampai saat aku bilang padanya kalau aku akan pergi ke Amerika ketika di pesawat pulang ke Indonesia. Wajahnya berubah dan dengan santainya dia jawab, "Oh, ya udah pergi aja." 

Aku terdiam. Dia dengan entengnya jawab seperti itu. Aku berpikir, mungkin karena memang aku nggak penting untuknya. Selama 2 jam di pesawat, kami jadi diam saja. Sampai tiba-tiba dia bilang, "Kamu seharusnya tidak usah terlalu ambisius mengejar karir sampai ke Amerika dan meninggalkan Indonesia. Kamu kan cewek."

Sambil menunggu taksi, aku melihat dia terus mengetik pesan kepada seorang cewek. Ntah apa maksudnya, tapi hal itu lumayan mengganggu pikiranku. Taksi datang dan aku mengantarkannya duluan ke kosan, baru ke rumahku. "I don't have time for ego, anger, and jealousy by the way". Tapi cukup membuatku merasa nggak penting baginya setelah tanpa sengaja membaca nama cewek itu di hpnya. Sejak itu, sampai waktu aku akan berangkat, aku tidak lagi menghubunginya.

Aku menatap matanya dan mengatakan, "Selamat tinggal..," lalu membalikkan badan dan melangkah pergi. Aku sudah tidak sanggup membendung semua air mata yang ingin mengalir deras. Baru kali ini aku seperti ini. Aku tidak mau menoleh. Ntah apa yang ada dipikirannya saat ini. Mungkin saat-saat kita bersama sama sekali nggak berarti baginya. Mungkin pertemuan kita kembali murni untuk urusan bisnis dan dia memintaku jadi mentornya. Mungkin obrolan berjam-jam selama ini hanya sebagai pelampiasan karena bosan dengan toko kuenya yang mulai kehilangan pelanggan.

Sampai saat dia menarik lenganku dan memelukku erat...
rain...
🎶Sejujurnya ingin kukatakan saja
Dari hati ini, 'ku mencintaimu
Kuharapkan kau mengerti dan percayakan hatimu
Semuanya kini terserah padamu 🎶
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip