Februari 10, 2019

Melalui Masa-Masa Krisis

Postingan pertama di bulan Februari. Jadi agak jarang menulis bukan karena nggak mau, tapi saya baru saja melewati beberapa masalah di kantor yang menuntut saya untuk fokus menuntaskannya. Memiliki perusahaan memang nggak seindah impian. Kalau melihat nilai uang yang kita terima sangat besar🤑, rasanya hati senang bukan kepalang. Giliran pendapatan perusahaan menurun bahkan nyaris tidak ada? Belum lagi karyawan yang terlihat setia malah kabur? Atau penjaga kantor yang nomor satu kita percaya untuk mengawasi, membersihkan, dan mengamankan inventaris kantor, malah orang yang membawa kabur semua laptop? I felt very stressed out...

Sebenarnya krisis ini sudah terjadi. Alhamdulillah atas kerjasama tim dan perencanaan keuangan yang baik, masa-masa krisis bisa dilalui. Kita memang tidak bisa selamanya berada di puncak, gemilang cahaya, tapi Allah subhanahu wata'ala memang perlu memberikan cobaan, agar belajar, dan naik kelas. Kalau bahasa ekonominya, high risk high return. Sederhananya, resiko tinggi, keuntungan juga tinggi.

Mensupport operasional perusahaan yang tidak sedikit, belum lagi pendapatan yang terus menurun membuat saya pusing tujuh keliling🥴. Melihat tabungan sudah sangat menipis, belum lagi saya harus tetap menjaga emosional karyawan dengan bersikap santai, seolah-olah semua baik-baik saja. Apa pun yang terjadi pada perusahaan, para karyawan adalah orang-orang yang paling penting dijaga emosinya. Jangan sampai mereka mendadak mengundurkan diri berjamaah hanya karena bosnya kelihatan stres memikirkan nasib keuangan. Alhasil, muka biasa aja, hati teriris-iris💔💔💔. Sudah mencoba tidak memikirkannya tapi tetap kepikiran.

Hal yang pertama saya lakukan di masa krisis adalah sering mendengar kajian para ustadz-ustadz mantab seperti Adi Hidayat, Khalid Basalamah, dan Firanda Andirja, di Youtube. Saya biarkan saja Youtube terus memutar ceramah mereka untuk menenangkan hati. Salah satu kajian yang lumayan kena di hati saya adalah tentang cerita kesabaran nabi Ayyub yang mendadak ditimpa sakit sampai 20 tahun, padahal dulu nabi Ayyub adalah orang paling gagah, raja, kaya, dan sebagainya yang baik-baik. Penyakitnya tidak membuat keimanannya berkurang, justru bertambah. Bahkan beliau tidak mengeluh sama sekali. Sampai ketika penyakitnya mulai mengganggu untuk menjalankan ibadah kepada Allah, maka nabi Ayyub berdoa:

"(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang". (QS. Al Anbiya': 83)

Penggalan kisah di kajian ini membuat saya merenung. Permasalahan saya tidak sesulit Nabi Ayyub dan juga tidak selama 20 tahun, tapi saya sudah stres. Memikirkan jalan keluar untuk permasalahan malah bikin tidur sampai larut malam. Besoknya bangun shalat Shubuh pun tidak di awal waktu. Saya berkesimpulan, mungkin cobaan ini terjadi untuk mengingatkan saya pada peningkatan keimanan. Tapi saya masih sepelekan juga. Shalat masih biasa saja, berdoa hanya sedikit, mengaji juga masih seadanya.

Lalu saya mendengar kajian ustadz Adi Hidayat tentang keutamaan Shalat Tahajjud. Salah satunya karena bisa memberikan jalan keluar dari semua masalah. Tetap, saya hanya mendengarkan saja, tidak terlalu diambil hati. Seolah-olah masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Apa sebanyak ini syaitan😈😈😈 ditubuh saya? Shalat tahajjud biasa saya lakukan kalau kebetulan berpuasa pada hari itu karena bangunnya pasti lebih awal untuk makan sahur.

Saya juga mendengar kajian tentang keutamaan istighfar yang bisa membuka jalan terhadap rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Memang dosa manusia biasa seperti saya tidak bisa dihitung dan mungkin salah satu yang menjadi penghambat rezeki. Mulai saat itu, saya mencoba untuk memperbanyak istighfar. Dimana pun kalau teringat, saya usahakan untuk bisa beristighfar.

Saya menelepon Mama, minta doa yang banyak. Sampai hari ini, saya yakin doa Mama yang sangat mempengaruhi dalam membangun perusahaan. Ustadz Firanda bilang, kalau kita berdoa pada Allah untuk meminta seisi dunia, pasti dikabulkan. Beberapa kali juga sempat kirim pesan kepada teman yang sedang melaksanakan umroh 🕋untuk mendoakan perusahaan. Doa ditempat terbaik pasti dikabulkan dan saya 100% percaya akan hal itu. Maka hampir setiap hari saya mengingatkan teman saya itu untuk berdoa, berdoa, dan terus berdoa, meminta seisi dunia.

Yang paling berat adalah bersedekah. Kalau memang duit sedang banyak sih, saya pasti bersedekah. Kali ini duit di tabungan sisa sedikit. Kalau kata ustadz Khalid, sedekah bisa melipatgandakan rezeki sampai beratus kali lipat. Kalau sedekahnya cuma seribu dua ribu, trus mengharapkan seluruh isi dunia, sepertinya kurang. Logikanya, kalau ingin panen raya, semai benih dulu yang banyak, baru panen. Jadi sedekah dulu yang banyak, baru kaya. Ummm, agak sulit sepertinya. Tapi tantangan seperti ini harus bisa dilalui. Baiklah, saya transfer sedekah, dan nggak mau login internet banking untuk melihat saldo🙈.

Sampai pada minggu dimana masalah perusahaan memuncak. Rasanya saya sudah melarikan diri terus dari masalah dan kali ini saya berada di jalan buntu dengan tembok yang tinggi di hadapan saya. Secara fisik, saya sampai demam tinggi dan sakit tenggorokan. Fisik dan pikiran sudah terkena dampaknya, tapi mengingat nabi Ayyub tidak mengeluh, dan saya sedang berusaha untuk tidak mengeluh. Hal ini membuat saya sering melamun, berpikir kalau begini 'gimana, kalau begitu 'gimana. Tetap tidak ada solusi😔😔😔. Di kereta pun jadi malas buka hp, karena banyak pikiran. Belum lagi malam-malam tidak bisa tidur.  

Saat itu, saya teringat lagi kajian ustadz Adi Hidayat dan ustadz Khalid tentang sabar dan shalat. Sabar sudah, shalat (dalam hal ini tahajjud) belum. Saya niatkan bangun disepertiga malam, hanya untuk shalat tahajjud dan memanjatkan doa. Saya sudah bingung ya Allah, kesabaran sudah hampir diambang batas, udah disabar-sabarin, udah riset sana-sini, tapi belum ada jalan keluar ya Allah. Begitulah kira-kira doa saya. Dan berlangsung terus sampai hari dimana Allah subhanahu wata'la memberikan solusi. Di suatu hari itu, 70% masalah perusahaan berakhir dan saya bernapas super lega. Saya percaya ini efek dari doa-doa di tempat paling suci umat muslim di dunia yang dipanjatkan oleh teman saya ketika berumroh, doa dari para karyawan yang selalu saya minta untuk mendoakan perusahaan, dan doa dari saya sendiri sebagai pemilik dan pemegang saham. 

Agak sulit menuliskan betapa leganya perasaan saya pada hari itu. Analoginya, seolah tembok yang semula membuat jalan buntu, ketika saya raba-raba, ternyata terdapat pintu yang pegangannya mempunyai warna sama dengan tembok. Di sela-sela waktu yang sangat mepet, permasalahan sudah mengejar saya, saya bisa membuka pintu, dan saya berlindung di balik tembok. Apa yang ada di balik tembok pun seolah seperti jawaban doa-doa saya berikutnya dan hasil riset sampai malam yang saya lakukan. Saya seolah menemukan padang hijau dimana-mana bunga-bunga sedang menguncup untuk bersiap mekar🥰🥰🥰. Seolah-olah penjualan yang selama ini menurun drastis membuat saya belajar terus dan mengaplikasikan hasil pembelajaran itu langsung ke semua website di dunia maya. Hasilnya, penjualan meningkat super tajam, bahkan naik 2 kali lipat dari tahun lalu.

Kalau dihitung secara kalkulasi matematika, Alhamdulillah kondisi perusahaan sudah membaik 80%. Jadi teringat kata mutiara yang saya baca di Instagram, "Jika ingin memperbaiki hidup namun bingung harus mulai dari mana, mulailah dengan memperbaiki sholat." Saya setuju 100% untuk hal ini. Saya sudah mengaplikasikannya. Shalat adalah kumpulan dari zikir dan doa. Ketika shalatnya baik, maka baiklah orangnya dan nasibnya. Ketika sudah di titik lega seperti saat ini, dimana krisis sudah akan berakhir, walaupun secara fisik saya masih sakit, tapi rasanya senang sekali.
"Sesungguhnya bersama dengan kesulitan, ada kemudahan." (QS: Al-Insyirah:6)
Setelah semua berlalu, saya jadi menapak tilas. Bisa jadi ini karena kesalahan saya dimana salah memprediksi penjualan di akhir tahun dan kurang riset produk. Kita masih terlalu nyaman dengan penjualan tahun lalu, sehingga menyepelekan tahun ini. Padahal, dunia tiap detik mengalami perubahan yang menuntut kita harus belajar terus. 

Salah satu hal yang paling penting adalah peran teman-teman terdekat yang memiliki jabatan juga di perusahaan. Jadi teringat sebuah kisah pada masa Khalifah Umar bin Khattab, ada seorang laki-laki berkata kepada Umar, “Sesungguhnya si Fulan itu orangnya baik.” Umar bertanya, “Apakah Engkau pernah bersafar (melakukan perjalanan) bersamanya?” Lelaki itu menjawab, “Belum pernah.” Umar bertanya lagi, “Apakah engkau pernah bermuamalah (berbisnis) dengannya?” Lelaki itu menjawab, “Belum pernah.” Umar bertanya lagi, “Apakah engkau pernah memberinya amanah?” Lelaki itu menjawab, “Belum pernah.” Umar lalu berkata, "Kalau begitu engkau tidak memiliki ilmu tentangnya (mengenalnya). Barangkali engkau hanya melihat dia shalat di masjid.” (Mawa’idz Shohabah)

Jadi, kita belum dikatakan mengenal seseorang jika kita belum melakukan perjalanan bersama, melakukan jual-beli (bisnis) bersama, dan belum pernah memberikan tugas (amanah) kepadanya. Alhamdulillah tidak ada satu teman pun yang pergi menjauh, dan ini juga bagian dari rejeki menurut saya. Kejadian seperti ini membuat saya jadi tambah mengenal karakter teman-teman seperjuangan. Alhamdulillah saya diberikan orang-orang yang baik untuk mendukung seluruh langkah dalam bisnis. Hampir semua jajaran manajemen pernah bersafar bersama, berbisnis, dan selalu melaksanakan amanah yang saya berikan. Rejeki tidak melulu dalam bentuk harta. Teman baik juga tidak ternilai harganya🥰🥰🥰.

Baiklah, mungkin postingan ini sudah telalu panjang. Sekalian curhat soalnya. Semoga kita terus menjadi orang-orang sabar, karena kesabaran selalu berbuah manis. Semoga Allah selalu memberikan solusi dalam segala permasalahan kita. Aminnn ya Rabb🤲.
"Maka Bersabarlah Dengan Sabar Yang Baik." (QS Al-Ma'rij 5)
Reactions:

3 comments:

ayaa arrayyanah mengatakan...

Ku terharuuuuuu Kk 😭😭😭
Semoga Allah selalu memudahkan segala urusan dan rezeki kka
Keberkahan dan keridhaan Allah ya kk

Meutia Halida Khairani mengatakan...

@aya: aminnn ya Rabb. terima kasih doanya. kebahagian, keberkahan rezeki, dan keridhaan Allah utk kamu juga ya :)

Zakiatur Rahmah mengatakan...

Menusuk kali... TeriTerima k atas sharing Insyaallah akan coba diapldiapl kan ke diri sendiri

Follow me

My Trip