Mei 24, 2019

Celah Gigi

Setelah dua hari menyesuaikan diri dari dengan suasana leyeh-leyeh di Aceh, baru kemudian kembali bekerja. Ternyata kalau sudah di kampung halaman, saya jadi lebih semangat untuk bekerja sih. Ntah karena disini rame, jadi bisa nge-laptop sambil duduk di ruang tengah sekalian ngobrol.

Baiklah, seperti biasa saya akan mengupdate laporan perkembangan Perfect Smile 2019. Sewaktu ke dokter hari Selasa kemarin, gigi saya ditarik-tarik ke kiri dan ke kanan. Bahkan alat untuk menariknya itu beberapa kali meleset dan saya bingung kenapa nggak membuat gusi saya berdarah. Padahal sakit banget deh sewaktu gusi terkena alat kedokteran yang mirip seperti tang😵. Biasanya salah sikat gigi aja atau gusi kena ujung sikat gigi pasti bikin sariawan. Ini kenapa enggak ya?🤔

Proses tarik-menarik gigi juga agak menyeramkan dan melibatkan 2 orang perawat. Mungkin karena karet giginya kenceng banget, atau karena celah gigi saya yang memang agak dipaksa untuk dirapatkan. Apa pun alasan dibalik itu semua, yang pasti kontrol gigi kemarin lumayan menyeramkan😨.
Senyuman belum pas di tengah

Kalau dilihat secara kasat mata oleh saya, celah gigi sebelah kiri memang agak lebih besar sehingga proses penarikannya lebih menyeramkan. Tapi saya puas banget dengan gigi saya sekarang gini dan nggak sabar untuk menunggu sampai benar-benar bisa Perfect Smile. Sekarang kalau berfoto udah bisa sambil tersenyum. Kalau dulu masih malu karena terlihat jelek banget.

Semoga urusan gigi ini cepat beres Ya Allah. Aminnn🤲.

Kontrol Sapphire Braces Rp. 275,000.
Service Charge Rp. 25,000

Mei 14, 2019

Jalan-Jalan ke Bantul

Kalau postingan yang lalu bercerita tentang jalan-jalan di sekitar kota Yogyakarta dan Magelang, sekarang kita akan bergeser sedikit ke Kabupaten Bantul. Ini pertama kalinya saya menjelajah Bantul. Sempat melihat-lihat Instagram dimana saja spot bagus untuk berfoto dan ternyata banyak banget. Kayaknya nggak bisa kalau mau dijelajahi dalam sehari semalam. Mungkin suatu hari harus balik lagi kesini untuk eksplorasi tempat lainnya.

Semula setelah sarapan di Hotel Jambuluwuk Malioboro, saya mau sewa sepeda motor yang berada di dekat kampus sepupu saya Nufus bernama Al Jawi Motor Rent. Setiba disana, ternyata kalau bukan mahasiswa dikenakan Deposit senilai 2 juta untuk satu motor dan harus dibayar tunai. Mana mungkin saya bawa duit sebanyak itu didalam dompet dan nggak bisa pakai debit lagi😠. Mau nyari ATM ntah dimana. Saya menghubungi Nufus untuk meminjam kartu mahasiswa. Berhubung Nufus lagi kuliah, jadi susah banget dihubungi. Waktu jadi terus berjalan dan kita nggak bisa diam aja di rental motor. Nanti malah udah kesiangan, jadi nggak bisa kemana-mana lagi. Mana hotel belum check out. Melihat langit mulai agak mendung (kemarin sempat hujan super duper lebat sewaktu sedang jalan-jalan ke Magelang), dan saya juga malas ribet bawa-bawa koper kalau naik motor, jadilah saya sewa mobil lagi. Saya menyuruh Efan mengontek sopir sewa mobil kemarin. Setelah nego tipis dan deal harga, kami balik ke hotel untuk check out. Kami bakalan dijemput di hotel oleh supir mobil yang disewa. 

1. Hutan Pinus
Salah satu destinasi wisata yang paling ingin saya kunjungi di Bantul adalah Hutan Pinus. Ternyata di Bantul ini banyak banget hutan pinusnya. Ada Pengger, Mangunan, Asri, Puncak Becici, dan lainnya. Saya bertanya pada supir yang menurutnya banyak dijadikan spot foto dan instagramable. Pak supir bilang, mendingan ke Hutan Pinus Pengger aja karena sekalian bisa melihat alam dari ketinggian. Baiklah, saya ikut aja.
Hutan Pinus
Mereka tidak saling bersentuhan
Kami tiba di Hutan Pinus Pengger. Harga tiket masuk  adalah Rp. 2.500 ditambah asuransi Rp. 500, jadi total Rp. 3000. Untuk biaya perkir kendaraan Rp. 5000 seharian. Murah sekali😃. Saya turun dari mobil dan mulai menaiki anak tangga untuk mengeksplorasi hutan. Saya mulai berjalan kearah yang ada spot foto berbentuk tangan, dimana latar belakangnya adalah alam dari ketinggian. Saya mulai menyetel kamera lagi yang kemaren ntah apa yang saya setting sehingga jadi aneh modenya. Berhubung saya udah lama nggak pegang kamera, mengulik-ulik settingannya jadi memakan waktu juga.
Ini spot foto paling hits, katanya...
Saya kemudian memotret pemandangan beberapa kali. Jangan ditanya betapa panasnya cuaca saat itu. Baru melakukan beberapa pose saja, keringat sudah bercucuran. Saya juga pindah spot foto ketempat lain. Sempat berjalan-jalan sampai ke ujung hutan pinus, tapi jadi kecapekan karena terlalu banyak berkeringat.
Memandang kejauhan
Kalau dilihat-lihat sih, sebenarnya tempat wisata ini biasa aja. Tidak seindah yang saya bayangkan. Kalau mau berfoto dengan gemerlap lampu kota, mending pergi di malam hari. Pakailah baju berwarna mencolok seperti merah, orange, atau warna-warna pastel supaya ketika difoto jadi bagus. Saya sarankan untuk melihat angle foto di Instagram supaya bisa terinspirasi mau berfoto dengan gaya seperti apa. Kalian juga bisa melakukan outbond disini.
Salah satu angle foto
Banyak anyaman begini di hutan pinus untuk spot motret
Sudah capek bereksplorasi, saya ngemil pisang goreng dulu di sebuah toko kecil. Pisang goreng sebanyak itu harganya cuma Rp. 10,000. Sampai harus dibungkus untuk dimakan di perjalanan saking banyaknya. Setelah perut kenyang, kami balik ke mobil. Supir sempat bertanya pada kita apa mau mampir di hutan-hutan pinus setelah ini karena memang tempatnya sederetan semua. Berhubung pasti sama aja yang bakalan dilihat dan udah mulai sore, mending langsung lanjut aja ke Parangtritis.

Objek wisata Hutan Pinus ini mulai buka pada pukul 06.00 – 24.00 WIB. Jadi kalian bisa datang kapan saja ya.

2. Pantai Parangtritis
Setelah sejam perjalanan dari Hutan Pinus, akhirnya ketemu juga dengan pantai. Walaupun Pantai Parangtritis sudah terkenal ke mancanegara, ini pertama kalinya saya berkunjung kesini. Pantai yang satu ini adalah tempat legenda Nyi Roro Kidul berasal. Katanya, kalian bisa melihat matahari terbenam dengan super duper indah disini.
Andong dan matahari terbenam
Berhubung masih beberapa menit lagi sebelum sunset, saya berjalan-jalan dulu menyusuri bibir pantai sambil melihat orang-orang berlalu-lalang. Disini terkenal sekali andongnya yang berjalan bolak-balik. Jadi foto andong dan sunset adalah yang paling diburu di tempat ini. Sayang banget kemaren mendung. Jadi nggak dapat matahari terbenam secara penuh. Hanya pendaran cahaya orange dan merah saja yang berhasil saya abadikan.

Mendengar suara debur ombak memberikan ketenangan tersendiri buat saya.  Walaupun hari semakin gelap, selama belum sepenuhnya gelap, saya tetap duduk-duduk di pinggir pantai. Setelah sudah tidak terlihat apa-apa lagi, baru deh kembali ke mobil. Katanya ada tempat untuk menikmati sunset dari ketinggian tapi karena terbatasnya waktu jadi nggak bisa kesana. Mungkin lain kali.

Salah satu resort tempat saya menginap yang bagussss banget. Kemarin sempat dapat harga yang murah karena promo Gledek Tiket.com. Memang sengaja ingin menginap dan bersantai di resort bagus dan berada di pedalaman, supaya terasa suasana desa yang mewah. Saking nyamannya, rasanya nggak mau pulang☺️☺️☺️.
Katanya kolam renang ini tempat terbaik menikmati matahari terbenam
Setelah seharian jalan-jalan, akhirnya tiba di resort. Sayangnya nggak bisa menikmati sunset disini karena tiba sudah terlalu malam. Awalnya, saya memesan Resort Rumah Batu dan karena sedang renovasi, ditingkatkan ke rumah batu juga tapi yang premium. Suasananya sepi dan hening. Hanya terdengar suara-suara jangkrik. Semua interior kamar terbuat dari batu (jadi teringat hotel Goa di Cappadocia, Turki) dan bambu. Tempatnya apik sekali. Saya sangat suka. Yang uniknya nggak ada telepon di kamar. Kalau mau memanggil pelayan hotel, harus memukul pentungan. Kebayang 'kan kalo pentungan itu suaranya keras banget. Bisa-bisa seluruh penghuni Resort terbangun karena mendengar suara pentungan saya.

Yang paling unik adalah ketika harus sarapan pagi. Saya kira tempat sarapan hanya tinggal jalan ke depan seperti hotel-hotel biasa. Ternyata saya salah sangka. Kami dijemput dengan Rubicon Jeep untuk menuju Resto yang berada di puncak gunung😱. 
Resto untuk sarapan
Pemandangan indah
Yang jadi masalah adalah karena saya masih pakai baju batik untuk tidur, dengan kerudung seadanya, tanpa makeup. Suasana sudah super duper keren tapi kostum saya seperti babu🙈🙈🙈. Curangnya si Efan malah udah mandi dan dia udah ganteng, sedangkan saya masih muka bantal. Kata dia kalau hotel atau resort mewah itu sebaiknya sarapan dalam kondisi udah cakep. Saya jadi nggak pede banget. Seolah-olah seluruh pelayan bilang, "kamu kok belum mandi😨?" Untung pakai jaket dan berapa kali saya menutupi kepala dengan hoodie jaket karena malu. 
Sarapan ala carte
Karena bukan weekend, sarapannya ala carte dan saya memilih nasi soto dan jus semangka. Rasanya enak banget dan porsinya seperti untuk makan siang. Yang paling enak Mie Jawa pesanan Efan. Rasanya gurih, asinnya pas, dan porsinya segunung. Duh, sampai sekarang masih teringat betapa enaknya mie itu. Sayangnya saya lupa mengambil foto Mie Goreng tersebut. Mungkin sedang sibuk dengan kondisi enggak pede sama diri sendiri.

Banyak turis mancanegara yang menginap Rajaklana resort ini. Mungkin karena orang bule' memang mencari suasana pedesaan atau hutan. Saya suka resort yang tenang seperti ini, jadi betah berlama-lama sampai last minute check out. Kalau sudah menginap di resort, saya pasti suka banget mandi berlama-lama. Nggak peduli ada yang tungguin apa enggak, yang penting mandi dulu😂.

Setelah check out, saya kembali ke pusat kota Yogyakarta untuk melanjutkan jalan-jalan. Sampai jumpa!

Mei 12, 2019

Tempat Wisata di Yogyakarta

Mungkin sudah 7 tahun tidak menginjakkan kaki di kota Yogyakarta. Kali ini saya kembali dengan kondisi keuangan yang lebih baik, hahahaha😆😆😆. Kenapa harus disebutkan lebih baik? Karena dulu ke kota ini dengan sangat irit. Nebeng di rumah teman di Salatiga untuk nyuci baju karena bawa ransel doang dan baju sendikit. Trus sewaktu teman saya dinas ke luar kota, saya harus menyewa kos-kosan yang jauh dari pusat kota Jogja agar lebih murah. Belum lagi kemana-mana naik angkutan umum atau sharing taksi bersama teman-teman. Kalau dipikir-pikir, saat itu sebenarnya begitu melelahkan dan menyita waktu. Belum lagi kulit gosong dan berfoto dengan wajah tanpa riasan apa pun menggunakan kamera saku sederhana. Tapi saya tetap bahagia bisa menjelajah Jawa Tengah dan Yogyakarta sampai kepelosok dengan budget super duper minimalis.

7 tahun kemudian...

Ntah udah berapa kali berencana ke kota ini dari tahun-tahun sebelumnya. Mungkin karena hampir seluruh pelosok Yogyakarta pernah saya kunjungi sehingga ada saja alasan saya untuk mending pergi ke kota lain yang belum pernah saya datangi. Hanya saja, seperti yang kita ketahui kalau tiket pesawat domestik sekarang sangat mahal. Rasanya lebih baik kalau kita ke luar negeri saja dengan tiket seharga segitu daripada jalan-jalan di dalam negeri. Berhubung saya sudah agak lama tidak jalan-jalan karena Rancupid sempat krisis (alhamdulillah sudah berakhir krisisnya) dan kebetulan tiket.com ada promo harga gledek, jadilah saya memantapkan hati untuk pergi ke Yogyakarta.

Karena memiliki banyak poin AirAsia hasil dari poin belanja dengan menggunakan kartu kredit, Alhamdulillah saya bisa naik pesawat dengan harga murah ke Yogyakarta. Penerbangan dari Jakarta ke Yogyakarta hanya satu jam. Setiba di bandara Adisutjipto, seperti biasa langsung diserbu dengan orang-orang yang menawarkan taksi. Saya sempat cek taksi online terlebih dahulu yang harganya kurang dari 30rban, sedangkan taksi bandara menawarkan harga 100rb😱😱😱. Yang benar saja? Saya sampai menawar taksi bandara dari 100rb ke 50rb pun mereka nggak mau. Akhirnya saya berjalan keluar bandara (mumpung bawa koper kecil jadi nggak berat), baru memesan taksi online (di dalam bandara nggak boleh memesan taksi online). 

Saya menginap di Hotel Jambuluwuk yang dekat dengan Malioboro (bisa jalan kaki). Setelah sampai di hotel, awalnya mau mandi dulu. Tapi keran showernya rusak. Bukan kamar saya saja yang rusak, kamar Efan juga rusak. Padahal Jambuluwuk adalah hotel bintang lima dan saya menyewa kamar Premiere, tapi keran malah rusak dan sofa ada bercak tumpahan air😑😑😑. Memang sih teknisi hotel langsung datang ketika saya laporkan kalau keran rusak, tapi memperbaiki keran saja sudah menghabiskan waktu. Nggak jadi mandi deh.

Baiklah, saya akan menceritakan beberapa tempat yang saya kunjungi selama di Yogyakarta. Mari di simak:

1. Malioboro dan Keraton Yogyakarta
Sepertinya kalau ke Jogja nggak sah kalau nggak ke Malioboro. Saya tinggal jalan kaki dari hotel kesini. Masih banyak pertokoan, ada pentas seni jalanan, dan juga angkringan. Karena sudah waktunya makan malam, kita memilih angkringan yang terlihat ramai untuk makan. Ada yang bilang kalau angkringan di Jogja harus kita cari yang ada daftar menunya kalau nggak mau diketok harga. Tadinya pengen makan bakmi Jogja yang pernah saya makan 7 tahun yang lalu. Udah jalan kesana-sini malah nggak ketemu angkringannya. Ya sudahlah, akhirnya saya dan Efan memilih angkringan yang menjual ayam penyet.
Jajanan
Mau makan apa?
Setelah makan, kita jalan menuju Keraton Jogja. Kata Nufus, kalau Keraton Jogja di malam hari nggak buka. Palingan kita cuma bisa jalan-jalan saja dan menikmati keramaian kota. Saya tidak masalah kalau hanya bisa menikmati Keraton Jogja dari luarnya saja. Malah lebih senang melihat keramaian di sekitar Malioboro sampai ke Keraton. Kangen juga dengan suasana Jogja di malam hari.
KM 0
Kami berjalan menuju Keraton melewati Kilometer 0 Yogyakarta yang pada malam itu sedang mati lampu. Jangan tanya betapa ramainya suasana Malioboro, Keraton, dan Kilometer 0. Mungkin karena sedang malam minggu, jadi penduduk lokal pun keluar semua. Cuaca pun cerah dan tidak hujan (teringat dulu pas ke Jogja sedang hujan deras dan nggak seru kalau mau jalan kaki mengelilingi kota). 
Yuk naik!
Karena sudah berjalan terlalu jauh dan udah keringetan, akhirnya saya memutuskan untuk pulang dengan naik becak. Kalau di Aceh, saya masih sering naik becak sama Mama kemana-mana. Berbeda dengan di Jakarta atau Depok, nggak pernah sama sekali naik becak. Karena jaraknya dekat dari Malioboro ke hotel, ongkos becak hanya Rp. 15,000 saja.

2. Candi Borobudur
Siapa yang tidak tau Candi yang pernah menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia ini? Ini kali kedua saya kesini. Dari Jambuluwuk hotel, saya menyewa mobil via tiket.com (lagi promo juga) supaya bisa santai dan tidur di mobil karena jarak kota Magelang lumayan jauh dari hotel. Sewaktu bangun tidur, kita sudah tiba di parkiran candi. Tiket masuk  seharga Rp. 40,000 dan parkir Rp. 10,000.
Selamat datang
Salah satu stupa paling ikonik
Saya sarankan untuk bawa air minum dan topi sebelum masuk candi karena cuaca panasnya minta ampunnnn......😖😖😖!!! Nggak ada tempat untuk berteduh juga kecuali di sela-sela batu-batu candi. Kalau mau ke Borobudur juga mending nggak usah di weekend karena pengunjungnya terlalu rame. Jadi susah kalau mau berfoto karena dimana-mana ada orang. Belum lagi waktu itu saya udah lama nggak pegang kamera jadi untuk mensetting kamera agar pencahayaannya benar itu lumayan memakan waktu juga. Keburu kebakar matahari😩.
Buru-buru mengambil foto mumpung sepi
Oh ya, seingat saya dulu ngos-ngosan banget ketika menaiki tangga candi. Sekarang kok kayaknya gampang banget. Apa karena sudah sering yoga jadi stamina bertambah? Padahal dulu masih muda tapi stamina lebih bagus sekarang. Bagus lah😆. Rutin olah raga itu ternyata penting banget lho!

3. Gereja Ayam
Mungkin saya salah satu korban film Ada Apa Dengan Cinta 2 yang ingin banget mengunjungi tempat ini. Berhubung 7 tahun yang lalu tempat ini belum terkenal. Jaraknya memang cuma 10 menit doang dari Candi Borobudur dan berada di puncak bukit Rhema yang katanya pemandangannya menakjubkan. Jadi sayang banget kalau sampai tidak mengunjungi tempat ini.
Ayam apa burung?
Tiket masuk ke gereja ayam Rp. 15,000 perorang. Karena gerejanya berada di bukit, jadi kami harus naik jeep untuk menelusuri tanjakan setinggi 500 meter. Ongkos naik jeep sekali jalan Rp. 5000 peorang. Kalau naik bukit mungkin ngos-ngosan, tapi turunnya malah enak jadi nggak usah sewa jeep lagi deh.
Di dalam gereja
Sebenarnya gereja ayam ini dibangun untuk tempat beribadah segala agama. Bisa dilihat disini banyak tempat-tempat beribadah misalnya untuk muslim ada sajadah, tempat wudhu, dan mukenah. Kalau untuk agama lainnya juga ada. Gereja ini juga sangat terawat, catnya tampak baru, dan bersih banget. Kata tukang bersih-bersih, sejak film AADC memang dilakukan renovasi besar-besaran agar pengunjung nyaman. Mungkin kalau kita lihat di film AADC, gereja ini masih gelap dan berdebu kan? Sekarang udah rapi dan berwarna-warni.
Kepala ayam
Kalian bisa menukarkan tiket masuk dengan makanan ringan di kantin. Lumayan bisa ngemil sambil menikmati pemandangan Bukit Rhema yang Masya Allah indahnya. Sekaligus bisa berfoto di setiap sudut kantin. Setelah puas berfoto, saya menuruni jalan menuju parkiran dengan curam. Harus hati-hati jalan disini kalau nggak mau terpeleset. Apalagi sudah mulai becek karena gerimis.
Pemandangan di kantin
Awalnya ingin langsung ke candi Prambanan. Tapi karena hujan derasss banget dan pengalihan jalan, jadilah sampai ke Candi Prambanan sudah lebih dari jam 5 sore dan tutup. Agak kecewa sih, tapi supir kita yang gaul banget mengalihkan tujuan ke Tebing Breksi. Untuk mengobati kekecewaan dan kebetulan saya belum pernah ke Tebing Breksi, mari kita kunjungi!

4. Tebing Breksi
Sebelum menjadi tempat wisata, Taman Tebing Breksi adalah tempat penambangan batuan alam. Kegiatan penambangan ini dilakukan oleh masyarakat sekitar dan bisa dilihat terdapat tempat-tempat pemotongan batuan hasil penambangan untuk dijadikan bahan dekorasi bangunan. Sejak tahun 2014, kegiatan penambangan di tempat ini ditutup oleh pemerintah. Penutupan ini berdasarkan hasil kajian yang menyatakan bahwa batuan yang ada di lokasi penambangan ini merupakan batuan yang berasal dari aktivitas vulkanis Gunung Api Purba Nglanggeran. Kemudian lokasi penambangan ditetapkan sebagai tempat yang dilindungi dan tidak diperkenankan untuk kegiatan penambangan.

Setelah penutupan aktivitas tambang tersebut, masyarakat mendekorasi lokasi bekas pertambangan ini menjadi tempat wisata yang layak untuk dikunjungi. Tepatnya pada bulan Mei 2015, Tebing Breksi ini diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai tempat wisata baru di Jogja. Wajar saja kalau 7 tahun yang lalu tempat ini belum ada, sehingga saya belum pernah kesini.
Lampu-lampu dari tebing
Sebenarnya kalau untuk berfoto yang instagramable sih, Tebing Breksi bisa menjadi salah satu pilihan. Berhubung saya nggak begitu suka foto-foto cute untuk dimasukkan ke Instagram, jadi saya nggak mengambil banyak foto. Agak bingung juga mau berfoto seperti apa🤔. Tiba-tiba ada beberapa pemandu wisata datang menghampiri saya dan menawarkan jasa foto. Berbeda dengan cetak foto langsung jadi yang biasa ada di tempat wisata, mereka adalah anak-anak muda yang udah mengerti angle bagus di Tebing Breksi yang keren untuk diunggah ke Instagram. Mereka membawa tripod juga dan saya menyuruh mereka pakai kamera saya aja. Foto malam hari memang lebih baik pakai tripod sedangkan saya nggak punya.
Angle-nya keren ya
Sesi foto dimulai lebih dari sejam. Berhubung saya juga sebenarnya sudah capek, muka juga kayaknya udah amburadul, saya nggak yakin kalau foto-foto disini bakalan bagus. Belum lagi beberapa gaya foto membuat saya dan Efan ketawa dulu baru bisa difoto. Ternyata oh ternyata, hampir semua fotonya baguuuus😍. Seru juga memakai jasa fotografer seperti ini karena mereka tau banget spot foto di setiap sudut tebing breksi. Selesai sesi foto, saya masih tetap bertanya biasanya mereka dibayar berapa? Mereka tetap menjawab seikhlasnya. Kata-kata ikhlas ini ambigu. Kalau dikasih Rp. 5000 nanti ngambek😄. Akhirnya saya kasih deh Rp. 50,000.

5. Candi Prambanan
Tempat ini kurang lebih masih sama dengan yang saya kunjungi 7 tahun yang lalu. Tiket masuk seharga Rp. 40,000. Untung saja dulu saya mengunjungi candi-candi ini dulu baru ke Siem Reap di Kamboja yang memiliki candi agak mirip dengan penuh cerita kebudayaan Hindu-Buddha. Negara-negara Asia Tenggara memang terkenal sekali dengan candi dan saya sarankan kalian untuk mengunjungi semua candi di negara-negara Indo-China agar bisa menelusuri sejarahnya.
Foto begini tuh capek banget loh! Ntah berapa kali retake😪.
Gaya dulu
Disini saya hanya berfoto saja dan menceritakan sedikit sejarah kepada Nufus, sepupu saya. Oh ya, kalau kalian sudah puas mengambil foto di candi, mungkin bisa main ke Taman Rusa atau tempat bermain lainnya (7 tahun yang lalu belum ada) yang berada di komplek candi.

6. Candi Ratu Boko
Dulu saya sudah khatam berkeliling candi yang super duper luas ini. Sekarang jadi malas karena harus menaiki banyak tangga dan saya sudah capek mengambil foto lompat di candi Prambanan tadi. Saya sudah menyuruh Efan dan Nufus untuk berkeliling candi, sedangkan saya mau menunggu matahari terbenam. Eh mereka jadi malas juga. Mungkin karena saya nggak ikut. 

Awalnya saya mau menemani mereka berkeliling, tapi memang kita sudah terlalu sore berada di candi ini. Maklumlah, keluar dari hotel juga udah jam 12 siang, sampai ke kosan Nufus sejam kemudian, baru jalan ke candi Prambanan. Waktu saat itu terasa begitu cepat berlalu, eh udah mau tenggelam aja mataharinya.
Sunset
Sebenarnya candi Ratu Boko adalah tempat terindah untuk mengambil foto sunset. Tapi jangan terlalu berharap, apalagi ribuan manusia juga berebutan untuk mengabadikan foto matahari tenggelam. Alhasil, susah banget mendapat foto dimana sedang sepi. Teringat sewaktu di Jepang dulu, khusus untuk spot foto bagus orang-orang akan langsung berbaris mengantri. Tapi agak tidak mungkin mengingat waktu matahari tenggelam sangat singkat.
Siluet
Baiklah, setelah ini saya akan memposting tempat wisata yang saya kunjungi di Bantul. Sampai jumpa!

Follow me

My Trip