Juli 13, 2019

Dear Efan

Dear Efan,

Anggap aja ini tulisan terakhir dari aku sebagai ucapan selamat tinggal. Jadi tolong dibaca. Kamu tenang aja, aku nggak berniat untuk bunuh diri juga, tapi kalo pun kita ke depannya enggak akan ketemu lagi atau if something happen to me, paling nggak kamu tau apa yang mengganjal di hati aku.

Sebenarnya aku udah mau nulis email ke Efan sejak kamu ngambek sama aku di sekitar tgl 16 Juni 2019 (chat terakhir kita).  Mungkin Efan bisa cek tanggal 11 Juni kita masih baek-baek aja seperti biasa dimana aku selalu mau bantuin kamu untuk cari items di Amazon. Waktu itu aku masih ajarin kamu nge-cancel order dari Carribean Garden. 

Terus tanggal 12 kamu sama sekali nggak bales Whatsapp aku dan nggak angkat telpon aku. Disini aku mulai panik, aku berpikir kalau hp kamu hilang. Walau akhirnya tanggal 13 kirim Whatsapp ke aku untuk nanya ngeconfirm Catawba Grape dari Grower Solutions apa enggak. 

Tanggal 14 masih aku kirimin link Catawba Grape yang aku cari, terus aku kirim screenshot tracking sepatu dari blibli.com karena kirimannya sudah mau sampai ke alamat dan kamu nggak ngebales chat aku sama sekali. 

Tanggal 15 aku tanya lagi sepatu cukup apa enggak, dan kamu balas seadanya. Beda banget dari sewaktu kita bahas sepatu. Biasanya kamu pasti balas chat, sekalipun itu tengah malam.

Dan tanggal 16, kamu nanya request return, aku balas. Tapi kamu bilang udah ngecancel banyak orderan. Kamu juga bilang kalau udah tau cara return, nggak akan tanya aku lagi dan hal itu aneh banget. Biasanya juga kamu tanya ke aku tapi pada saat itu statement chatnya seolah-olah bilang, "aku bisa sendiri semuanya, mengurus amazon dan yang aku belum tau adalah cara return items." Fine. Setelah itu puluhan kali telepon aku dan whatsapp call aku sama sekali nggak diangkat lagi. Ntah kenapa...
Waktu itu...
Mungkin kamu harus bisa memilah masalah pribadi dengan bisnis, dan itu sepertinya sama sekali nggak bisa Efan lakukan. Dalam urusan ini kamu ngambek sama aku (aku sendiri nggak ngerti persisnya kenapa) dan gengsi, jadi berdampak dengan bisnis. Mungkin kamu nggak berpikir secara dewasa, bahwa ada urusan duit disini, di dalam bisnis ini. Setelah semua hal yang aku ajarkan tentang amazon, dari kamu yang nggak bisa confirm order sampai bisa semua sendiri. Mungkin kamu nggak akan mau peduli dengan hal-hal seperti itu. Ketika ngambek, berarti selesai semua urusan denganku. I hope I was wrong.

Oke, itu untuk urusan bisnis. Sekarang kita pindah ke urusan pribadi. Beberapa hal ada yang ingin aku sampaikan. Mungkin bisa jadi bahan kritik untuk Efan supaya kedepannya lebih baik lagi.

Pertama, sewaktu kamu bilang ke aku, "Dasar otaknya nggak nyampe!" dengan santainya berkali-kali di Pancious Senayan City. Sepertinya itu kata-kata paling kasar yang aku dengar dari seorang cowok ke aku, dan ini pertama kalinya ada yang berani bilang begitu ke aku. Sekali pun cuma bercanda, itu sungguh keterlaluan. Padahal, waktu itu kita cuma membahas Google Storage yang ada di hp kamu. Beberapa kali aku memang diam mendengarkan penjelasan kamu tapi sampe keluar kata-kata itu dari kamu, aku langsung nggak habis pikir. Kok kamu tega banget?

Kedua, kamu terlalu sering ngambek. Aku baru sadar ketika kita di Jogja, dimana awalnya kamu ngambek sewaktu aku terlalu lama setting kamera. Awalnya aku kira ntar juga baik sendiri. Setelah itu ngambek berlanjut di hutan pinus dimana kamu ninggalin aku, terus sampai ke Parangtritis. Supir mobil waktu itu nanya pas aku balik sendirian setelah mengambil foto sunset, "Kok Mbak sendirian? Mas-nya mana?" Dan aku jawab, "Ngga tau mas,". Supirnya sampe bilang, "Masa' ninggalin mbak sendirian malam-malam? Pantai kan gelap mba." Dan aku cuma bisa diam aja sambil nelponin kamu yang nggak diangkat karena lagi solat. Menurutku, mas supir saat itu masih lebih gentleman, daripada kamu. Kita pergi bareng ke suatu tempat yang bukan daerah sendiri, tapi karena kamu ngambek sama aku, kamu ninggalin aku begitu aja. Saat itu, pernah ngga sih kamu berpikir seandainya sesuatu terjadi sama aku ntar gimana?

Aku jadi teringat setiap kita selesai jalan-jalan di Bandung, kamu nganterin aku ke rumah Anis. Selesai aku turun dari motor, kamu pulang, tanpa nungguin aku masuk pagar dulu. Pernah suatu kali pintu pagar nggak bisa dibuka dan itu udah jam 12.30 malam. Sampai aku disamperin sama hansip dan menawarkan pertolongan untuk buka gembok karena mungkin udah 15 menit aku berusaha. Hansip bilang, "Mas-nya tadi nggak nungguin ya? Ditinggalin cewek malam-malam sendirian buka gembok." Dan aku diam aja. Hansip juga bilang, "Hati-hati mbak daerah sini rawan kalau malam-malam." Pernah juga pintu rumah anis pun nggak bisa terbuka dan aku nunggu di teras lebih dari 30 menit. Akhirnya Mama Anis buka dan beliau nanya, "Mumut sendirian duduk di teras?" dan aku tetap cuma bisa diam aja.

Sewaktu main di rumah aku pun kamu sering banget ngambek. Kalau ngambek, aku bisa ditinggal sendirian di meja makan dan kamu ke ruang tv. Gara-gara nggak ikut pemilu pun kamu ngambek. Pulang jalan-jalan pun ngambek. Dan kalau udah ngambek, bisa berhari-hari. Aku jadi bingung harus gimana ngadepin kamu ngambek. Kadang aku sudah berusaha biasa aja sampai kamu baik sendiri, walaupun sebenarnya nggak enak hati.

Yang paling bikin aku sedih sewaktu minta maaf sama kamu karena bilang, "kamu terlalu banyak preferences." dan kamu nggak mau maafin. Aku bilang baik-baik, "Aku minta maaf sama kamu kalau memang bikin kamu tersinggung," berkali-kali, dan berkali-kali juga kamu jawab, "nggak akan aku maafin! Urus aja nanti di akhirat." Saat itu aku udah bilang sama kamu kalau maaf-memaafkan sangat mulia di sisi Allah SWT dan kamu tetap bersikeras nggak mau maafin aku. Akhirnya kamu berlanjut ngambek sampai besok. Pernahkah kamu berpikir gimana perasaanku saat itu?

Ketiga, terlalu asik main game. Sebenarnya aku nggak masalah sama orang main game karena abang aku juga suka banget main. Yang jadi masalah adalah sewaktu beberapa kali kita sedang bersama-sama, tapi aku didiemin aja dan kamu main game. Contohnya sewaktu kita pulang dari Skyline dan waktu itu hujan deras. Padahal kita baik-baik aja awalnya dan ketika berteduh, kamu main game. Sewaktu reda, aku udah beberapa kali ngajakin kamu udahan mainnya dan kita shalat magrib, tapi kamu nggak peduli dan terus main. Bahkan orang disekeliling kita udah pada pergi dan kita masih disitu. Sampai akhirnya magrib udah hampir habis, kamu ngambek, dan kita sampai ke Paskal Hyper Square udah hampir azan isya. Setelah itu kamu ngambek sama aku sampai ketika nonton Avenger. Padahal filmnya sebegitu kerennya, tapi jujur aja aku nggak menikmatinya. Aku nonton ulang di Jakarta.

Beberapa kali ketika kita lagi makan seperti waktu di Punclut dan di beberapa tempat makan, kamu main game dan nggak mau ngobrol sama sekali denganku. Seolah-olah nggak ada aku disitu. Mungkin main game memang bisa mengalihkan perhatian, tapi kalau terus-menerus justru nggak baik. Waktu tidur jadi berubah, nggak akan sempat riset, dan jadi sulit bersosialisasi dengan orang lain.

Terlepas dari semua hal diatas... banyak juga hal yang menyenangkan, dan menulis hal ini bikin aku sedih.

Jujur aja banyak hal-hal yang pernah kamu perbuat dan bikin aku senang. Sejak awal kita ketemu lagi di hotel California setelah 10 tahun dan kamu bawain aku kue-kue kecil. Ada juga kamu bawain aku burger sewaktu kita nonton Dilan. Apalagi kamu masakin aku udang telur sewaktu aku ulang tahun, walaupun minyaknya nyiprat sampe kemana-mana hahaha. Momen kamu masak pas waktu aku ultah itu kayaknya nggak bakalan bisa aku lupain deh, apalagi pas pulang kantor rumah jadi rapi dan bersih.

Aku sangat menikmati obrolan kita selama di telepon berjam-jam bahkan pernah sampe subuh. Seolah-olah ngobrol sama Efan tuh nggak ada habisnya. Ada terus yang bisa dibahas. Kalau nongkrong di Cafe pun, kita ngobrol panjang lebar dan aku suka dengerin kamu ngobrol dan cara kamu berbicara. Padahal awalnya kita mau belajar bikin laporan, tapi karena ngobrol terus, malah bikin laporannya ditunda-tunda.

Apalagi sewaktu kamu nginep di rumah bareng sepupuku ketika rumahku bakalan ada arisan. Jujur aja aku senang banget, jadi ada temen ngobrol. Kita bisa cerita ini itu sampe jam 1 malam, baru masuk kamar masing-masing untuk tidur. Kadang kita nonton di laptop juga sampe tengah malam. Masih inget film The Mummy yang anehnya minta ampun tapi masih tetap kita tonton. Ya mungkin karena sama kamu, jadi se-aneh apa pun filmnya tetap ditonton juga, jadi bahan untuk diketawain aja filmnya. Aku juga jadi semangat masak, karena tau bakalan ada yang habisin makanan yang aku masak. Aku juga jadi semangat main kemana-mana karena tau ada yang bakalan nemenin aku tiap hari.

Walaupun sewaktu ngetrip kamu suka ngambek, tapi sebenarnya aku senang-senang aja. Jalan-jalan kemana pun, nginep di hotel-hotel mewah seperti Rajaklana Resort dan Padma Hotel, semua itu menyenangkan. Walaupun kalau aku bangun pagi harus menelepon ke kamar kamu untuk bangunin agar kamu bisa cepat siap-siap. Kalau enggak ditelepon, pasti nggak bangun deh. Aku juga suka ngetok kamar kamu dengan berisik supaya kamu bangun. Apalagi setelah itu kita bisa jalan-jalan bareng.

Yang paling aku suka juga adalah sewaktu kita ngerjain Amazon. Kamu satu-satunya partner bisnis yang mau aku jawab semua pertanyaan dan aku cariin solusi dari semua masalah. Aku suka sewaktu kamu sibuk ngerjain Draft, aku bisa melihat keseriusan itu. Aku juga suka kamu banyak nanya dan ketika dijelasin, kamu ngerti. Rasanya apa yang aku ajarin, nggak sia-sia. Aku sebenarnya pengen kamu cepat punya banyak duit, supaya bisa ngurusin pajak motor, ganti ban motor, nyelesain skripsi, pindah kosan, traktir aku makan mie aceh, dan pergi ke dokter untuk ngecek kenapa sakit pinggang. Aku khawatir sama kamu sewaktu sakit pinggang itu karena aku teringat Papa aku. Paling nggak, kalau di cek dari sekarang kita bisa tau apa penyebabnya. Aku sempat berpikir beberapa bisnis yang bisa kita kerjakan bareng setelah Amazon Efan mulai banyak hasilnya, contohnya jualan hijab printing. Karena aku udah lama pengen jualan hijab. 

Tapi semua sudah berlalu. Mungkin pertemanan kita selama 3 bulan ini bisa jadi kenangan manis. Semoga kamu nggak amnesia lagi dan melupakan aku seperti 10 tahun yang lalu walaupun suatu hari nanti kamu akan ketemu cewek yang cantik, kulitnya putih bersih, suaranya bagus, seperti yang kamu mau, dan nggak ada di aku. Paling nggak, kamu ingat punya teman spesial yang bisa diajakin ngobrol sampe subuh dan pernah kamu masakin pas ulang tahun.

Hutang sudah dilunasi dan kamu bisa terus mengurus amazon. Aku nggak akan ambil alih karena aku yang paling tau usaha dan keseriusan kamu mengurus amazon selama ini. Tolong jaga amazon baik-baik sekalipun sudah nggak ada campur tangan aku lagi. Amazon itu bisa membuat aku membayar semua hutang, membeli rumah, dan membuat perusahaan. Aku yakin suatu hari kamu pasti sukses jika kamu serius dalam berbisnis dan menjaga hubungan baik dengan semua orang.

Akhirnya, aku minta maaf sekali lagi kalo ada salah baik yang disengaja atau enggak sengaja. Selamat tinggal Efan. Terima kasih untuk semuanya :)
Good Bye
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip