Agustus 08, 2019

Cancar Spiderweb Rice Field

Sepulang dari Wae Rebo, perjalanan dilanjutkan ke desa Cancar, tempat sawah berbentuk jaring laba-laba. Kalau biasanya kita melihat sawah dengan bentuk kotak-kotak, maka di Flores kalian akan melihat sawah terpusat. Penasaran? Saya juga.
Perjalanan
Perjalanan ke desa Cancar memakan waktu 2 jam dari Desa Denge. Jalan yang kita lalui sungguh berkelok-kelok, tapi belum ada apa-apanya dari kelokan menuju kota Bajawa (nanti saya akan ceritakan). Oh ya, kalian bisa melihat Pulau Mules di perjalanan menuju Ruteng atau ke Wae Rebo. Kata bapak supir sih tidak ada tempat wisata yang terkenal di Pulau tersebut selain mayoritas masyarakatnya beragama islam. Sejam awal perjalanan ke Cancar, saya tidur. Mungkin karena masih kecapekan menuruni bukit dari Wae Rebo ke Denge. Kami sampai di Cancar sekitar pukul 2 siang dan membayar tiket masuk 10rb perorang.
Terlihat Pulau Mules
Kalau kalian ingin melihat bentuk sawah secara sempurna seperti jaring laba-laba, maka kalian harus menaiki sekitar 250 anak tangga menuju puncak Weol. Duh, baru aja turun gunung, udah harus naik tangga lagi. Banyak pulak! 😅 Tapi 250 anak tangga berhasil kita naiki hanya dalam 15 menit saja. Apa kekuatan kita sudah bertambah? 💪Sesampai di Puncak Weol, saya langsung takjub dengan bentuk sawah yang sangat unik dan benar-benar seperti jaring laba-laba. Yang membuat bangga adalah bentuk sawah seperti ini adalah satu-satunya di dunia.
Sawah jaring laba-laba
Dulu, hanya ada satu kabupaten yaitu Manggarai (mirip nama stasiun KRL di Jakarta), sebelum dimekarkan menjadi Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat. Petani padi dapat dijumpai di 8 kabupaten yang ada di pulau Flores dan yang terbanyak berada sisi barat. Bukan saja hasil sawahnya, keunikan sawah di Manggarai seperti di Kecamatan Lembor Manggarai Barat, Cancar di Kecamatan Ruteng Manggarai, dan Kampung Rawang, Kecamatan Lambaleda Manggarai Timur adalah pada bentuknya. Sawah di area ini berbentuk seperti jaring laba-laba atau yang disebut Lodok dalam bahasa lokal.
Sejauh mata memandang
Bagi masyarakat Manggarai, sawah unik ini disebut Lingko dan terkait dengan pola pengelolaan lahan secara adat. Dimana titik nolnya berada di tengah-tengah lahan (ulayat) yang akan dibagi-bagi. Petakan-petakan sawah merupakan tanah adat yang dimiliki oleh beberapa orang untuk memenuhi kebutuhan bersama masyarakat adat yang pembagiannya dilakukan oleh Tu’a Teno atau ketua adat dan Tu’a Golo atau tua kampung. Para tetua ini umumnya akan mendapatkan bagian luas sawah yang lebih besar. Konon, pembagian tanah ulayat mengikuti rumus moso (jari tangan) yang disesuaikan dengan jumlah penerima tanah warisan dan keturunannya.
Memandang takjub
Tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan disini kecuali mengambil foto. Angin juga berhembus sangat kencang dan udara siang itu lumayan dingin. Jadi menyesal tidak menggunakan sweater. Oh iya, kami sempat mengobrol dengan masyarakat lokal mengenai tempat-tempat mana saja yang bakalan kita kunjungi selama di Flores. Mereka menyarankan beberapa tempat yang memang sesuai dengan itinerary kita.
Pose dulu
Yang menjadi perhatian saya adalah perjalanan dari Ruteng menuju Bajawa yang kata orang lokal saja sungguh mengerikan kelok-keloknya. Kalau kita merasa dari Denge ke Cancar saja sudah sulit, apalagi ke Bajawa. Saya masih berpikir kalau saya tidak pernah muntah selama perjalanan tapi mendengar cerita orang-orang itu jadi serem juga. Bahkan mereka bilang, "Bajawa itu dataran tinggi dan ketika menuju kesananya, belokannya patah-patah banget. Mungkin matahari bisa berada di kiri dan kanan dan beberapa menit saja." Tunggu, kalau matahari bisa kiri dan kanan dalam waktu secepat itu, berarti patah banget dong belokannya😱😱😱.

Kami menghabiskan waktu kurang lebih sejam untuk menikmati pemandangan sawah jaring laba-laba sebelum melanjutkan perjalanan ke Ruteng untuk makan siang. Dari Cancar ke Ruteng cuma 5 menit saja waktu tempuhnya.

Baiklah, nanti saya lanjutkan lagi cerita dari Ruteng ke Bajawa yang membuat saya muntah 🤮🤮🤮 parah banget. Udah 10 tahun nggak muntah di perjalanan, akhirnya muntah.

Sampai jumpa!

Sumber:
https://www.mongabay.co.id/2017/07/28/sawah-berbentuk-jaring-laba-laba-di-manggarai-ini-hanya-satu-satunya-di-dunia/
https://www.atlasobscura.com/places/spider-web-rice-fields

After the tiring trekking from Wae Rebo, we continue our journey to Cancar Rice Fields that well known for their rice fields. It took about 2 hours from Denge to Cancar (the village of rice fields). This Cancar village really close to Ruteng city, only 5 minutes drive.

This is the only one rice fields in entire world that shaped really unique, like a spider web. The colourful rice paddies found throughout Asia are commonly laid out in rectangular plots, or sometimes as stepped terraces, adding to their natural beauty. On the island of Flores, Indonesia, however, the rice fields formed a delightfully unique shape, one that looks like a giant spider web.

This wonderful shape was not intentional, but rather the result of the traditional communal agriculture of the indigenous Manggarai people. Centuries ago, the cultivated land, known as Lingko, was shared by the entire village. The communal fields were circular, with the Lodok at the center, where ceremonial rituals were held around the harvest.

Each family was allocated a segment of the rice field, radiating from the center outward. (Each was inaugurated by the sacrifice of a water buffalo.) The more resources a family had, the larger their slice of the pie; at the time, the rice fields were shaped like pie charts. Later, the paddies were further subdivided by the decedents of the original owners, leading to the striking, web-like shape of the Lingko today. Also, the tribe or village chief will get a larger slice.

If you wanna enjoy the full scenery of the rice fields, there are 250 stairs to hike to Weol, the top of the hill. You have to pay IDR 10,000 per people (I don't know if the price is the same to foreigners) as an entrance fee.  Just take some pictures here, then we had to Ruteng to having lunch.
Reactions:

1 comments:

Follow me

My Trip