Agustus 01, 2019

Perjalanan ke Labuan Bajo

Sebenarnya, rencana berlibur ke Flores ini sangat mendadak. Awalnya kantor saya hanya mengatur perjalanan outing ke Sukabumi, eh kok berbelok ke Flores? Jauh banget 'kan beloknya😆. Mungkin karena saya lagi galau dan butuh berpergian yang jauh, sehingga waktu mendengar kata Sukabumi jadi kurang menarik. Hal ini bisa jadi karena udah sering banget dulu jalan-jalan ke salah satu kota di Jawa Barat itu. Bahkan hampir semua Curug (air terjun) di Sukabumi sudah pernah saya kunjungi. Masa muda dihabiskan untuk keliling Curug😂.

Sewaktu di weekly meeting, saya bilang ke teman-teman kalau pengen banget liburan yang jauh, yang capek, yang benar-benar menguras tenaga dan pikiran. Kenapa? Balik lagi karena saya lagi galau. Udah beberapa hari sebelum berangkat rasanya pikiran dan hati ini nggak menentu, jadi memang harus refreshing. Belum lagi jadi sering flu dan demam, ntah karena udara Jakarta begitu kotor sekarang, jadi harus keluar sebentar dari ibukota. Padahal baru balik dari Aceh karena Lebaran, tapi mau jalan-jalan lagi.

Akhirnya kita memutuskan untuk berangkat ke Labuan Bajo karena ketemu tiket promo Citilink. Beberapa kali saya membujuk Kakros untuk ikut liburan, tapi dia belum dapat ijin suaminya. Sampai akhirnya diijinin juga. Trus ajak Rezki, Satrio, dan Debby yang waktu itu baru saja pulang dari Korea. Udah ajakin orang lain tapi tetap nggak ada lagi yang mau ikut karena kata mereka tiket ke Labuan Bajo mahal, mending ke luar negri. Memang sih harga tiket pulang perginya lebih mahal daripada saya ke Sydney kalau promo, tapi kapan lagi menjelajah Indonesia bersama Rancupid Travel? Menurut saya kalau mau jalan-jalan yang capek dan susah, teman-temannya harus enak. Kecuali nanti kalian mau dicuekin sama teman-teman yang baru kenal (biasa kalau ikut Open Trip 'kan sering dapat teman dan baru kenal saat itu saja).

Sebelum berangkat, kita googling dulu tentang Flores. Saya mengira kota Labuan Bajo itu pulau sendiri dan terpisah dari Flores. Ternyata masih satu pulau. Saya membriefing Kakros dan Rezki dulu di meeting agar mereka tidak buta arah ketika nanti akan menjelajah Flores. Kita berbagi tugas sebelum berangkat. Saya seperti biasa membuat jadwal perjalanan (itinerary), Rezki urusan mengontak beberapa orang untuk sewa mobil dan kapal, sedangkan Kakros booking hotel dan transfer uang deposit. Kita juga membuat daftar barang bawaan agar tidak lupa. Baru setelah itu mulai booking tiket pesawat dengan memanfaatkan promo tiket.com seperti biasa. Selama saya melakukan riset Flores, ntah berapa puluh blog dan artikel yang saya baca. Pada kenyataan di lapangan banyak sekali yang berbeda dengan tulisan di blog🤔.

Oh iya, sekarang jarang banget orang menulis blog. Bahkan sedikit sekali artikel yang menuliskan tentang Flores di tahun 2019. Lebih banyak orang yang suka nge-vlog akhir-akhir ini. Memang sih dengan mengupload di Youtube, vlog bisa di monetize untuk menghasilkan uang. Tapi jujur aja saya bukan tipe orang yang punya waktu untuk nonton. Kalau berangkat kerja, saya lebih suka membaca atau bermain game di kereta. Kalau pun harus nonton, mungkin serial tv seperti drama Korea dan itu pun super duper jarang.

Hari H pun tiba. Saya datang paling awal ke bandara karena mau shalat Shubuh dulu. Kalau saya shalat di rumah, takut nggak keburu karena penerbangan Citilink jam 7 pagi. Untung saya datang duluan karena antrian check in pada hari itu panjang banget. Ketika mengantri, teman-teman yang datang terlambat bisa langsung maju ke depan menyesuaikan antrian saya. Oh ya, pada awalnya saya, Kakros, dan Rezki, mau minta duduk bareng karena kode booking pesawat kita bertiga beda. Eh karena sibuk check in, malah lupa minta duduk bareng. Jadi deh duduk terpisah. Hari itu Citilink super duper ontime. 30 menit sebelum jadwal keberangkatan, kita udah boarding. Saya malah tertidur di pesawat sampai sejam lebih. Bahkan nggak sadar ketika pesawat mulai terbang. Sewaktu terbangun, saya sarapan A&W yang saya beli di bandara, lalu melanjutkan tidur. Mungkin karena terbangun terlalu pagi, jadi rasanya ngantuk terus.
Bandar Udara Komodo
Yang mau menginap di Ayana
Setiba di bandara Komodo, saya langsung bersemangat. Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Nusa Tenggara Timur. Seolah-olah semua tempat ingin difoto, padahal baru bandara doang😜😜😜. Hal yang menarik lainnya adalah hampir semua pengunjung adalah bule'. Wah, ternyata Labuan Bajo dan Pulau Komodo sudah seterkenal itu. Ya iyalah, kan masuk 7 Wonder of Nature. Jujur aja ada perasaan bangga ketika mengetahui begitu banyak turis asing yang datang kesini. Apalagi nanti AirAsia sudah buka rute ke Bandara Komodo, tambah banyak lagi deh yang datang. Jadi bisa meningkatkan devisa dalam negeri.

Setelah semua bagasi diambil, saatnya beres-beres dulu untuk memilah barang apa aja yang mau ditaruh di ransel. Karena nanti menuju Wae Rebo kita semua bakalan trekking selama 3-5 jam tergantung situasi, jadi sebaiknya bawa barang yang perlu aja di ransel. Kita akan meninggalkan koper di mobil, jadi pastikan barang-barang berharga yang berat seperti laptop harus dikunci. Nggak mungkin juga bawa laptop ke Wae Rebo, nggak ada sinyal juga. Nanti saya kasih tips trekking Wae Rebo di postingan selanjutnya ya.

Selesai menutup koper kembali, kami keluar bandara. Mobil jemputan sudah datang dan kita langsung naik untuk melanjutkan perjalanan ke Denge, desa paling dekat sebelum trekking ke Wae Rebo. Untuk sementara, posisi duduk kita di mobil Toyota Innova adalah Rezki di depan, saya, Debby, dan Kakroz ditengah, Satrio dipaling belakang. Nanti saya tuliskan di postingan berikutnya betapa meliuk-liuknya jalan ke Denge. Belum lagi nggak ada sinyal dan Google Maps mendeteksi kita sudah di antah berantah😂😂😂. Sampai jumpa!

Because so many foreigners come to visit Labuan bajo, I will write some posts using English. I hope it will give some informations needed if you planned to go overland Flores and sailing the Komodo islands.

I never thought that finally I can made it to Labuan Bajo. I really wanted to go to see the Komodo dragon since it was announced as 7 wonder of nature. Literally, I’m an Indonesia citizen, but it seems that visiting the island of the dragon somehow unnecessary. I thought maybe one day I can visit it at least once of my life time because it still here, in Indonesia, my home country. 

The facts that the airline ticket to Labuan bajo was so expensive. It’s about $150 one way. I have the Qantas ticket to Sydney this August vice versa just for $250, so I think it might be more worth it if I just going overseas with that flight ticket price. But finally the government decrease the airlines ticket. I got around $240 vice versa direct from Jakarta to Labuan bajo (still expensive for me, but it’s better). I asked my friends who wanna join me on this trip and finally we can made up to 5 people.

We arranged the itinerary, checklist the items what should be bring (since we will have 8 days trip overland Flores and sailing Komodo islands), and reading so many blog posts. Indonesian people nowadays not to keen on write an article. They really like to video blogging so they can monetize it on Youtube. I actually don’t like watching vlog, I’d prefer reading on my way to office or anywhere. Me and friends also manage to rent a car and sailing boat before the trip begin. Everything was well-managed back then.

So the day has come, we arrived safely in Komodo Airport, and taken selfie as a proof that we just landed on the land of the dragon. After we took our baggage, we rearranged it and select some cloth to be put on our backpack. Remember we have to go on trekking to Wae rebo for about 3 hours, do don't put unnecessary item on your backpack. After that, we close the luggage, the rent car also already arrive on the airport, so our first journey to Denge (the village that really close to Wae rebo) begun. I will write the trip on the next post. Stay tuned!
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip