Agustus 03, 2019

Walkthrough Wae Rebo

Dimulailah perjalanan berkelok-kelok tahap satu menuju Wae Rebo, sebuah kampung tradisional yang terletak di dusun terpencil tepatnya di Kabupaten Manggarai Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang begitu terkenal dengan sebutan kampung di atas awan.  Wae Rebo dinyatakan UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia pada Agustus 2012 menyisihkan 42 negara lain. Makanya saya sangat antusias untuk mengunjungi tempat ini. 

Mungkin sekitar 30 menit perjalanan baru dimulai, Satrio muntah🤮 (pertanda korban mulai berjatuhan🤔) dan hal ini membuat kami semua mulai was-was. Wah, ini perjalanannya masih belum jauh, 'gimana setelah ini? Setelah berhenti 10 menit dan bertukar duduk di dalam mobil (kali ini Rezki duduk di belakang) perjalanan pun dilanjutkan.

Sewaktu saya baca di blog, perjalanan melewati jalan Lintas Flores ke Denge menempuh waktu 5 jam karena harus melewati Ruteng. Saya sejak awal sudah bertanya pada bapak sopir apakah memungkinkan melewati jalan potong karena di blog disebutkan terkadang ada jembatan rusak makanya harus melewati Ruteng. Supir bilang kalau banyak jembatan sudah diperbaiki, sehingga kita bisa mempersingkat perjalanan. Alhamdulillah! Kita terus melanjutkan perjalanan dan hanya berhenti sejenak untuk ke toilet dan minum teh saja. Bahkan makan siang pun ditunda dulu. Oh ya, mulai saat ini kita akan memasuki daerah tanpa sinyal hp. Saya menghubungi keluarga untuk mengabarkan kalau dalam 24 jam ke depan saya nggak bisa dihubungi karena nggak ada sinyal.

Kita tiba di Denge pukul 3.30 sore. Sebelumnya, bapak supir sudah menelepon salah satu penginapan untuk mempersiapkan makan siang. Saya kira bakalan dipersiapkan banyak menu. Ternyata hanya nasi jagung, mie instant, dan sayur labu. Mana saya nggak makan mie instant lagi🤦‍♀️. Tapi kita tetap harus makan karena bakalan melakukan trekking yang jauh. Untuk menu sederhana tersebut, perorang kita membayar Rp. 35,000.
Menunggu makanan di Denge
Nasi jagung, telur, dan mie instant
Makanlah yang banyak sebelum trekking
Selesai makan dan ke toilet, kami bersiap mendaki. Kita hanya membawa ransel saja, sedangkan koper ditinggal di mobil. Oh iya, kita harus bayar ojek Rp. 100,000 perorang pulang-pergi untuk menuju ke tempat pendakian. Sekalian membayar guide Rp. 50,000 perorang agar ada yang menemani selama perjalanan. Sebenarnya kalau kalian mau jalan kaki sih bisa-bisa aja dari parkiran mobil sampai ke daerah pendakian. Tapi jauhhhhh dan jalannya menanjak. Mending menghemat tenaga dengan bayar ojek. Walaupun agak mahal, tapi yang penting kalian lebih cepat sampai. Apalagi kita mulai naik ojek jam 4:15 sore dan kalau saja masih mau jalan kaki, bisa-bisa terlalu malam sampai ke Wae Rebonya. Sewaktu naik ojek pun saya agak pegal menahan badan agar tidak terlalu kebelakang karena jalannya menanjak sekali. Awalnya sempat mau merekam video di hp malah nggak bisa karena harus pegangan.

Sesampai di tempat perhentian motor, kita turun dan berfoto dulu sebelum memulai trekking. Di foto saya kok tampak agak gendut ya? Tapi tenang aja, sepulang trip Flores ini body saya sudah seperti Captain Marvel😝. Pendakian pun di mulai. Awalnya saya masih sanggup menyandang ransel dan mendaki dengan kecepatan konstan. Saya nggak buru-buru walaupun teman-teman sudah lebih duluan ke depan. Agak susah memang untuk orang Asma seperti saya karena jadi gampang ngos-ngosan. Harus selalu berhenti beberapa detik untuk menstabilkan nafas baru deh bisa jalan lagi. Bayangkan jarak pendakian kita kali ini adalah 9 km, 3 kali lipat dari jarak mendaki gunung Ijen.
Bersiap mendaki setelah turun dari motor
Berfoto di plang Wae Rebo
Saya melihat perlahan keatas, betapa tingginya gunung yang harus didaki. Semula sewaktu mau ngetrip ke Wae Rebo, sempat kepikiran kalau untuk orang Asma medan seperti ini pasti menyulitkan. Tapi saya tidak pernah berpikir "tidak mampu". Semua hal pasti bisa dilakukan! Yang paling penting adalah kalau udah terlalu ngos-ngosan, bisa berhenti beberapa detik baru jalan lagi. Sampai akhirnya saya menyerahkan ransel pada Guide karena saya kewalahan kalau harus bawa ransel agak berat. Memang nggak bisa bawa apa-apa kalo mendaki karena untuk memperjuangkan diri sendiri dalam mendaki aja udah susah😵. Setelah nggak pakai ransel, tubuh jadi ringan banget. Serasa mau terbang. Sayangnya rasa itu hanya sementara saja karena ketika terus mendaki, tetap saja ngos-ngosan.
Pemandangan gunung dan hutan
Sampailah di POS 1. Fiuh! Saya dan teman-teman langsung duduk beristirahat sambil meneguk air. Rasanya capek banget dan perjalanan masih jauhhhh. Kita semua udah keringatan banget. Untung udah sore, jadi nggak tambah kepanasan karena efek sinar matahari. Sebaiknya kalau mendaki memang pakai kaos aja biar bisa menyerap keringat. Kita hanya beristirahat beberapa menit, kemudian melanjutkan perjalanan untuk mengejar waktu agar tidak sampai terlalu malam di Wae Rebo.
Istirahat di POS 1
Sekitar sejam perjalanan, kabut mulai turun dan suara langkah kaki kita jadi terdengar sangat jelas. Saya masih fokus mendaki dan mengatur napas. Sebisa mungkin terus melihat kebawah dan nggak mendadak mendongakkan kepala. Saya bersama Rezki dan Guide berada di jarak sekitar 100 meter dari Kakros, Debby, dan Satrio. Mungkin karena saya sering berhenti beberapa detik untuk mengatur napas, jadi jalannya agak lebih lama sedikit.

Saya menyuruh Guide bercerita tentang Wae Rebo untuk mengalihkan perhatian saya ketika mengatur napas. Guide mulai bercerita, Nenek Moyang Wae Rebo disebut Maro yang diyakini berasal dari Minangkabau. Mungkin kita ketahui bersama kalau orang Padang suka berpetualang, hidup berpindah-pindah, untung dulu enggak sekalian buka warung di Wae Rebo. Sebagai informasi, saya jadi harus googling lagi tentang sejarah Wae Rebo karena beberapa cerita dari Guide saya sudah agak lupa.

Semula leluhur Maro tinggal di Wriloka, ujung barat Pulau Flores, pindah ke Pa’ang, lalu bergeser ke daerah pegunungan, Todo. Mereka berpindah lagi ke Popo. Dulu Popo sempat dibumihanguskan karena ada kesalahpahaman dan konflik keluarga, lalu mereka mengungsi ke Liho. Dari Liho mereka ke Ndara, Golo Damu, dan Golo Pandu. 

Di Golo Pandu, Maro bermimpi bertemu roh leluhur yang memberi tahu mereka harus menetap di suatu tempat yang ditunjuk dan jangan berpindah lagi. Ada tempat yang letaknya tidak jauh dari Golo Pandu, dan di sana terdapat sungai dan mata air. Itulah Wae Rebo.  Sampai sekarang, penduduk Wae Rebo meyakini kalau desa yang mereka tinggali dikelilingi tujuh kekuatan alam yang berperan sebagai penjaga kampung. Tujuh titik itu adalah di Ponto Nao, Regang, Ulu Wae Rebo, Golo Ponto, Golo Mehe, Hembel, dan Polo. Maka dari itu mereka tidak boleh melupakan ritual adat agar warga tidak terkena bencana.

Guide mengatakan kalau nanti masuk desa harus ada upacara adat dulu untuk menghormati arwah leluhur dan minta ijin kalau kita mau tinggal di desa. Batas upacara adat sampai jam 6 sore, dan setelah itu acara adat akan dimulai lagi keesokan harinya pada pukul 6 pagi.  Saya melihat jam tangan, sekarang aja sudah pukul 6 dan kita sudah melewati POS 2. Berarti tidak akan ada lagi upacara adat hari ini.

Hari mulai gelap, kabut turun, dan suara jangkrik semakin terdengar. Saya hanya bisa berdoa kepada Allah agar menjaga kita semua diperjalanan. Kalau mendaki gunung memang nggak boleh sombong karena kita nggak akan tau apa yang akan terjadi dihadapan kita. Saya mulai menyalakan senter hp karena suasana jadi gelap gulita. Walaupun ada cahaya bulan yang terang-benderang, tapi tetap aja gelap. Ntah berapa kali saya tanya ke Guide, "Mas, nggak ada ular kobra 'kan? Nggak ada beruang 'kan? Nggak ada harimau 'kan?" Alhamdulillah nggak ada.

Ketika beberapa meter lagi mencapai POS 3, mulai ada kawanan orang Flores yang datang beramai-ramai. Fiuh, suasananya jadi nggak hening dan mereka juga ramah banget menyapa kita. Kita sempat mengobrol sejenak sampai tiba di POS 3. Alhamdulillah kita tiba di POS terakhir ini dalam waktu 2 jam lebih sedikit. Sempat was-was juga karena tulisan di blog yang menuliskan kalau perjalanan ke Wae Rebo itu minimal 3 jam dan saya sudah menghitung-hitung bisa jadi kita sampai jam 8 malam, apalagi ditambah saya yang sesak napas dan sebentar-bentar berhenti sejenak. Untungnya kita tiba jam 6.30 dan dianggap hari baru mulai malam.

Saya langsung antusias melihat rumah-rumah adat (Mbaru Niang) diantara kabut tebal. Bayangkan, tadinya kita di hutan, sekarang seolah menemukan komplek perumahan dengan rumput sangat rapi dan tempatnya begitu bersih. Tidak ada sampah sama sekali di halaman. Guide menyuruh kami masuk rumah agar tidak kedinginan karena desa ini terletak pada ketinggian 1000 mdpl. Kami menaruh tas, lalu duduk di tengah-tengah rumah. Saya dan teman-teman disambut oleh warga lokal dengan disuguhkan teh atau kopi. Sempat mencoba kopinya tapi pada dasarnya saya memang nggak suka kopi🥴.
Tempat kita tidur nanti malam
Disuguhkan teh dan kopi
Seorang warga lokal mengucapkan sepatah dua patah kata sebagai prosesi penyambutan dalam 2 bahasa. Saya takjub dengan bahasa Inggris bapak itu yang sangat bagus dan lancar. Beliau juga bilang kalau sekarang sedang dipersiapkan makan malam dan diharapkan kita sabar menunggu. Oh ya, karena saya dan teman-teman belum mengikuti prosesi adat, seharusnya kami nggak boleh mengambil foto. Tapi karena memang keadaan yang membuat kami tiba lewat pukul 6 sore, maka boleh berfoto tapi nggak boleh jauh-jauh dari rumah adat. Saya sempat khawatir nggak boleh berfoto, bahkan kita jadi diam-diam memotret seisi rumah. Baru ketika Guide mendiskusikan hal ini ke orang rumah kalau kita sampainya malam, kita akhirnya diijinkan untuk mengambil foto dan merekam video. 

Sebelum makan, saya minta ijin shalat dulu. Awalnya saya agak ragu mau shalat dimana dan takut nggak enak sama pemilik rumah, tapi ternyata orang rumah bahkan menunjukkan arah kiblatnya. Jadi terharu😥. Pemilik rumah dan para tamu juga tidak berisik ketika kami sedang shalat. Sewaktu saya, Rezki, dan Satrio shalat, Kakros mengurus pembayaran menginap di rumah adat Rp. 325,000 perorang dan harus uang tunai. Jangan berharap ada mesin EDC disini apalagi membayar pakai kartu kredit.
Bersiap makan malam
Makanan mulai dihidangkan
Makan malam pun dihidangkan di tengah rumah. Secara bergiliran kami mengambil menu sederhana yang rasanya enak banget. Ntah karena kecapekan naik gunung dan lapar, jadi seolah-olah rasa makanan jadi mantap banget. Malah ayam sepotong rasanya kurang. Jadi nambah sepotong lagi. Malam itu menunya ayam, sayur labu, dan sambal yang pedasnya minta ampun😰. Kita menikmati hidangan sambil bercengkrama dengan para tamu lainnya juga. Sekalian bertukar pengalaman dalam pendakian menuju Wae Rebo.
Selamat makan
Setelah makan, kami keluar sejenak untuk melihat bintang. Rencananya mau nyari Milky Way tapi masih terlalu berkabut di luar. Saya ingat dulu pernah baca kalau bintang akan bersinar terang pada pukul 11 malam keatas. Jadi kami semua memutuskan untuk tidur dulu sejenak, baru deh nyari Milky Way. Jangan tanya ada yang mandi apa enggak? Semuanya enggak mandi 😂😂 karena suhu udara diluar dingin sekali. Padahal tadi kita keringatan parah banget, tapi tetap mengurungkan niat untuk mandi. Tadi aja sewaktu berwudhu, saya sempat kedinginan karena kamar mandi berada diluar rumah dan airnya dingin banget.

Kami menyetel alarm jam 11 malam, lalu semua tidur jam 9 malam. Berhubung nggak ada sinyal sama sekali, nggak bisa main hp, jadi kita langsung bisa tidur tanpa harus mengecek hp. Jam 11 malam, Satrio bangun untuk mengecek langit. Katanya sih masih berkabut dan Milky Waynya belum keluar. Saya percaya aja dan melanjutkan tidur. Sampai pukul 3 pagi, Satrio ngecek langit lagi tapi katanya masih nggak ada Milky Way. Sebenarnya saya udah mulai curiga. Jangan-jangan Satrio salah paham tentang langit seperti apa yang ada Milky Way, tapi karena saya juga ngantuk berat, ya udah saya percaya aja sama Satrio. Mana suasana dalam rumah adat sangat gelap. Ada sebuah lampu darurat yang menyala beberapa menit, lalu mati, nyala lagi, lalu mati lagi. Saya terbangun lagi jam 4 pagi dan mendengar suara ayam berkokok sangat keras. Duh, udah lama nggak mendengar suara kukuruyukkkk🐓.

Sampai ketika Shubuh, saya bangun dan MANDI! Saya memang udah berencana mandi pagi agar bisa menjemur handuk dulu sebelum turun gunung. Jam 5 pagi saya melihat ibu-ibu sudah menyalakan tungku api untuk memasak. Karena kamar mandi berada di dekat dapur, jadi hangatnya tungku terasa ke kamar mandi. Saya jadi nggak terlalu kedinginan ketika mandi. Selesai mandi, saya shalat Shubuh dalam kondisi gelap gulita. Saya menyadari ada salah satu tamu yang menyenter saya dan kaget melihat saya pakai mukenah. Mungkin dikira hantu kali ya😂😂😂? Sampai saya lagi shalat jadi melihat ke arah cowok yang menyenter saya. Selesai shalat, saya dandan dan keluar. Udara pagi begitu segar dan mulai terlihat cahaya kemerahan karena matahari mulai terbit.
Selamat pagi
Saya akhirnya bisa melihat bentuk Mbaru Niang dengan jelas ketika matahari sudah terbit. Meskipun lokasi tempat ini berada jauh dari keramaian dan sulit terjangkau, namun desa Wae Rebo sangat terkenal terutama oleh wisatawan asing dari negara-negara di Eropa karena desain arsitekturnya bangunan rumah yang unik sehingga memiliki daya tarik tinggi. Ada total 7 rumah adat di desa ini dengan atap berbentuk kerucut (seperti keong). Dalam satu rumah ada 6 sampai 8 kepala keluarga yang tinggal disini. Untuk anak-anak yang berusia sekolah, mereka akan tinggal di desa bawah agar memudahkan mereka pergi sekolah, dan akan kembali ke Wae rebo ketika akhir pekan.
Diantara Mbaru Niang
Saya masuk kembali ke dalam rumah, membangunkan Kakros dan Debby, juga menyuruh mereka mandi walaupun kedinginan. Kakros heran karena saya udah mandi karena seharusnya saya adalah orang yang sangat bersikeras untuk nggak mandi semalam. Karena setelah bangun pagi, saya merasa nggak enak banget kalau nggak mandi. Kakros jadinya mandi juga karena tau saya mandi. Saya kemudian keluar lagi seraya membawa kamera dan hp untuk menikmati udara pagi yang begitu segar. Sampai akhirnya Kakros dan Satrio keluar dari rumah adat dengan membawa kamera juga.
Berfoto dengan kain khas Flores
Beberapa teman-teman dari Flores juga keluar dari rumah adat. Mereka meminjamkan kain Flores dan kami bertiga jadi bisa berfoto dengan beragam macam gaya menggunakan kain yang menyerupai sarung tapi lebih tebal. Mereka bilang kalau seluruh orang Flores pasti punya kain itu. Lumayan hangat sih kalau membungkus diri dengan kain tersebut.

Sekitar pukul 6:30, Guide memanggil kita untuk ke rumah kepala suku menjalani prosesi acara adat. Saya dan teman-teman masuk ke rumah yang paling besar dan berada di tengah, lalu kami duduk dengan berjajar rapi. Kepala suku masuk, berbicara berkomat-kamit menggunakan bahasa Manggarai yang tidak kami mengerti, dan setelah itu acara adat selesai. Kami bingung, udah? Gitu doang?😲 Saya kira bakalan ada prosesi seperti apa begitu, ternyata enggak. Kata Guide, tadi kepala suku sedang mendoakan kita agar para arwah leluhur menjaga kita dalam perjalanan pulang. Baiklah!
Diluar rumah kepala suku
Setelah prosesi adat, kami pun boleh berfoto dimana pun, asal bukan di bagian gundukan tanah yang berada di tengah kampung. Kata Guide, tanah tersebut hanya diperuntukkan untuk kepala suku ketika ada acara adat besar. Kami menurut saja dan mengambil foto ditempat lain. Saya naik ke atas bukit agar bisa mengambil gambar 7 Mbaru Niang sekaligus. Sayangnya karena ada satu rumah yang agak kebelakang, jadi susah mengambil foto panoramik untuk semua rumah. Jadi cuma bisa mengambil foto 6 rumah saya. Duh, rasanya indah sekali pemandangan hari itu. Jadi betah berlama-lama. 
6 Mbaru Niang
Foto gaya
Sekitar jam 7.30 pagi, panggilan sarapan pun tiba (udah kayak pentungan hansip). Kali ini menu sarapan adalah nasi kuning, telur dadar, dan kerupuk. Seperti biasa, walaupun sederhana, kami melahapnya dengan sampai habis. Bahkan telurnya sampah tambah sepotong lagi. Apalagi makannya bareng-bareng dengan semua tamu yang menginap. Sungguh pengalaman yang luar biasa.
Menu sarapan
Selesai sarapan, kami pun mempersiapkan barang-barang untuk pulang. Jangan sampai ada yang tertinggal apalagi kamera dan aksesorisnya. Satrio juga akhirnya mandi setelah membujuknya dalam waktu yang lama (dia paling kedinginan diantara kita semua). Saya hanya membawa tas serbaguna yang ringan saja, sedangkan ransel saya titipkan pada guide. Sebelum pulang, kami berfoto dulu untuk dokumentasi Rancupid Travel dari segala sisi.
Bersama para tamu
Bersama teman-teman Flores
Sebelum perjalanan pulang menuruni gunung dimulai, kami berfoto di gapura Wae Rebo dulu karena semalem nggak kelihatan karena gelapnya situasi gunung. Baru setelah itu kita berjalan pulang. Hampir semua pengunjung yang menginap bareng kita semalem, pulang di waktu yang sama. Jadi ramai di jalan, tidak seperti ketika kita datang kemarin sore yang begitu sepi.

Gapura Wae Rebo
Perjalanan pulang ternyata tidak segampang yang saya bayangkan. Karena kabut semalam, jalanan jadi basah dan licin sehingga kita harus jalan perlahan. Sebaiknya tidak terburu-buru mengejar waktu karena jalan setapak menuruni gunung ini berada di pinggir jurang. Kalian harus ekstra hati-hati kalau tidak mau jatuh terpeleset. Saya kira perjalanan menurun akan menempuh waktu paling tidak setengah perjalanan mendaki. Ternyata kita menghabiskan waktu 1 jam 45 menit untuk turun gunung. Hanya selisih kurang lebih 30 menit dari perjalanan pergi. Padahal udah sempat melewati jalan potong yang ditunjukkan teman-teman Flores, tapi tetap aja tidak bisa memotong jarak tempuh dengan signifikan. Enak banget melihat orang Flores turun gunung, seolah-olah nggak ada ngos-ngosannya dan kakinya nggak terpeleset, padahal cuma pakai sendal jepit. Mereka sudah terbiasa naik turun gunung.
Mari turun gunung
Sempat bertemu beberapa orang yang mulai mendaki dan saya menyemangati mereka kalau jalan masih panjang🤭. Jadi harus bersemangat! Jadi kasihan melihat wajah letih orang-orang yang kecapekan padahal belum pun sampai POS 1. Semangat ya teman-teman! 

Alhamdulillah saya sampai ke bawah juga. Fiuhhhh! Teman-teman sudah duluan berhenti di air terjun sejenak untuk menyegarkan diri dengan membasuh muka dan berfoto. Rasanya segar sekali memang melihat air begitu deras dari bebatuan. Tapi kami tidak berlama-lama disini karena kasihan ojek motor sudah menunggu. Kami kemudian berjalan beberapa meter lagi ke parkiran motor, naik ke motor yang sama, menuju parkiran mobil.
Bahagia ketemu air terjun
Saran saya (menurut pengalaman pribadi) kalau mau mendaki ke desa Wae Rebo adalah sebagai berikut:
  1. Siapkan alas kaki yang mengigit supaya nggak terpeleset ketika trekking. Boleh sendal gunung atau sepatu. Saya pakai sepatu boots kemarin karena takut ada pacet. Tapi kalau tidak sedang musim hujan, pacet jarang ditemukan. Sewaktu ngetrip kemarin, cuma Rezki yang kena pacet sedangkan kita semua nggak ada yang kena.
  2. Bawa isi ransel sedikit saja, yaitu : handuk kecil dan tipis, alat mandi, baju ganti 1 helai, skin care dan makeup ala kadarnya aja dan dimasukkan ke tempat-tempat kecil. Ingat! kalian hanya akan mandi sekali, jadi nggak usah bawa piyama, baju malam, baju siang, dan lain-lain yang bikin berat.
  3. Bawa satu jaket aja. Mending bawa jaket thermal (Ultra Light Jacket Uniqlo) seperti saya yang bisa dilipat sangat kecil seperti mukenah. Selain ringan, jaket thermal juga sangat ampuh menahan dingin, angin, dan hujan.
  4. Bawa kamera dengan lensa wide aja, nggak usah bawa dua lensa (seperti saya). Kecuali kalau mau berbagi lensa dengan teman seperjalanan. Jadi ada yang bawa lensa wide, ada yang bawa lensa normal, dan ada yang bawa tripod. Jangan satu orang bawa semuanya kecuali kalau sanggup. Kamera gopro boleh juga karena kecil dan ringan.
  5. Bawa powerbank yang tipis saja. Kalau bisa semua gadget sudah di cas duluan sebelum ke Wae Rebo untuk menghindari bawa banyak kabel. Mungkin bisa sharing power atau batre kamera sama teman-teman seperjalanan.
  6. Kalau bisa bawa ransel kain aja yang berbahan ringan, bukan yang tebal seperti merk Herchel yang saya bawa bikin berat aja😑.
  7. Bawa air minum sebotol aja.
  8. Kalau memungkinkan, jangan lupa bawa permen, buku bacaan, buku dan alat tulis, yang bisa dibagi-bagikan ke anak-anak di Wae Rebo.
Sebelum ke Wae rebo, saya terlalu banyak membaca blog yang suruh bawa ini-itu, tetapi ternyata nggak dipake. Bahkan ada yang menyuruh bawa sleeping bag, bantal, selimut, emang mau kemping? Untung nggak disuruh bawa tenda sekalian. Bawa barang yang penting saja karena selimut, bantal, dan kasur sudah tersedia. Kamar mandi juga cukup baik dan bersih di desa Wae Rebo. Jujur aja saya paling nggak bisa ke suatu daerah kalau kamar mandinya nggak baik. Saya nggak bisa kalau harus pipis di areal terbuka atau mandi di sungai seperti gadis-gadis desa🤭.

Baiklah, sekian tulisan saya yang panjang ini. Destinasi berikutnya adalah mengunjungi sawah berbentuk jaring laba-laba. Sampai jumpa!

Sumber:
https://travel.kompas.com/read/2013/10/28/1117022/Yosef.Katup.Menjaga.Warisan.Leluhur.di.Wae.Rebo?page=all
https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/wae-rebo-kisah-sebuah-kampung-di-atas-awan
https://lifestyle.kompas.com/read/2018/03/23/153100227/5-fakta-menarik-tentang-wae-rebo-di-flores

Wae Rebo was declared by UNESCO as World Cultural Heritage in August 2012 aside 42 other countries. So I was very enthusiastic to visit this place. It was like a dream come true where you can see a very beautiful village laying above the clouds.

From Komodo International Airport, you can ride a motor cycle or rent a car to go to Denge, a village that is very close to Wae Rebo. But you have to know that there's a shortcut road and it doesn't even exist on the Google Maps. I talked to some foreigners who stay with me on Wae Rebo that they have to ride motorbike from Labuan Bajo then crossing Ruteng, after finally reach Denge. That journey took more than 5 hours and it wasn't good at all sitting on the motor bike that long time. It'd broke my backbone or I'll get backache.

Maybe because we rent a car with local people as a driver, so we can get so many shortcut when we gone overland Flores. Google Maps only detect the big road like "Lintas Flores", that's why not only foreigners crossing that road but also Indonesian people. Our journey only took 3 hours and 45 minutes from Labuan Bajo to Denge. If you brave enough, you can ask local people where to go to Wae Rebo, despite of following Google Maps.

Although the journey was kinda short, but you'll experience the winding road almost all of the journey. I felt dizzy, my friend already vomit, but we reached the destination faster. We parked our car in front of an Inn in Denge, then have lunch. At 4.30 PM, we were going on trekking. If you felt insecure about the possibility reach Wae Rebo at night, you can overnight in Denge. There's so may Inn to stay a night. But because we hired a local guide (price IDR 50,000 per person), we just go on trekking. The guide will accompany us until we came back to Denge. We took a motorbike ride (called "ojek") for IDR 100,000 vice versa to the place that very close to the mountain so we can save the energy to go on trekking. So many people walk from the Inn to the mountain just to save money. In this case, for me, saving the energy better that saving money. 

The trekking took about 2 hours until you reach Wae Rebo. Because it's already 6.30 PM, so we're not attend the ceremonial event that must be followed by all of the people who stay overnight in Wae Rebo to respect the spirit of the ancestor. You have to pay IDR 325,000 cash if you wish to stay overnight included dinner and breakfast. We ate dinner together on the center of the house with all of the guests and the house owner. This kind of ambience really good for me as the people who live on the big city.

After dinner, it's better to sleep while the sky getting clearer to take the Milky Way shoot. That night was so foggy so we can't see anything outside. At midnight, the sky became clearer but I still didn't take the Milky Way shoot because one of my friends said that there's no milky way outside. I suspected him not knowing how to see the sign of the Milky way but I just trust him and continue sleeping.

Wae Rebo is very beautiful in the morning. After took a very freezing shower, I went outside and enjoy the morning with my friends before the ceremonial event we have to follow. I thought the event is just like a dance or some ritual will be shown but I was wrong. The village head talked to us using Manggarai language then he also prayed to spirit of the ancestor, may we have safe trip going back home.

We took so many pictures here until the breakfast time. After that, we prepared our backpack to go back to Denge. Going down the mountain took 1 hour and 45 minutes. The road a bit slippery because of the foggy last night.

Before we reach the motor bike parking lot, we stop by the waterfall at the end of the footsteps. It's really refreshing when you met a waterfall after a very tiring trekking. But we didn't spent so much time on it. We need to continue our journey to next destination.

Things to know about Wae Rebo:
1. Their ancestors (Maro) were from West Sumatra called Minangkabau. After internal conflict in the Wriloka (their home village), they live nomadic, moved from one village to the other village several times and finally end up in Wae Rebo.
2. Because you will get into long trekking, I suggest you to wear comfortable and non-slippery shoes. It's dangerous and sometimes if the road got slippery because of the rain or the fog. Beware of the cliff.
3. Bring a lite backpack so you can't easily get tired.
4. Bring Powerbank.
5. If you're lucky enough, at night you'll capture one of the best and the clearest milky way ever in Indonesia.

See you on the next post!
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip