September 13, 2019

From Bajawa to Ende

Selesai berendam di Air Panas Malanage, kami kembali melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya yaitu kota Ende, tempat dimana Danau Kelimutu berada. Dibutuhkan waktu lebih dari 4 jam untuk menuju kota tersebut. Huft, kita sudah terlalu lelah di perjalanan tapi masih berusaha untuk kuat sampai di kota terakhir. Kepala masih puyeng 😵😵, mungkin karena kekurangan cairan akibat muntah parah banget semalam dan diare tadi pagi. Seharusnya bawa oralit nih untuk mencegah kehilangan cairan tubuh. Alhamdulillah saya tetap sehat sampai waktunya pulang.
Kabutttt
Sepanjang perjalanan, turun kabut sangat tebal seperti asap. Jangan tanya betapa dinginnya udara disitu sampai-sampai kami lebih baik berada di dalam mobil. Belum lagi angin membuat suasana terasa seperti saya sedang berada di luar negeri. Ini Indonesia apa Sydney😅? (Perbandingannya dengan Sydney karena ketika menulis blog ini saya baru pulang dari Australia.

1. Manulalu Bed and Breakfast
Pengalaman dari beberapa hari sebelumnya dimana kita nggak boleh telat makan (baik siang maupun malam) daripada nanti malah masuk angin dan muntah-muntah lagi. Kali ini bapak supir mengajak ke sebuah resto mewah yang (seharusnya) memiliki pemandangan alam nan indah. Sayangnya, kemarin kabut terlalu tebal, sehingga kami tidak bisa melihat gunung sambil makan siang.
Interior ruangan
Setelah memesan makanan, saya masih harus ke toilet karena perut masih mules. Sekalian bersih-bersih sebelum shalat. Enak banget toiletnya karena bersihhhh. Teringat tadi di Kampung Bena😣 kotor banget. Maunya tempat wisata yang terkenal harus diperhatikan kebersihan toilet karena akan dinilai oleh wisatawan.
Shalat diantara kabut
Saya minta tempat untuk shalat pada karyawan resto dan katanya saya boleh memilih tempat dimana saja. Mereka menyarankan shalat diatas (roof top) karena lebih tenang. Sewaktu saya keatas, memang suasananya tenang sih, tapi kabutnya teballll banget. Sudah seperti asap yang mengelilingi saya ketika sedang shalat. Karena ini adalah pengalaman unik, sekalian saya menyuruh Rezki untuk mengambil foto ketika saya shalat agar bisa mengenang suasananya.

Selesai shalat, makanan pun dihidangkan. Ntah karena saya lapar, jadi rasa makanannya menjadi enak banget. Menunya mie goreng, nasi goreng, gado-gado, dan lainnya versi restaurant, sehingga harganya diatas 50rban semua. Maklumlah, tempatnya aja mewah, makanya harga makanan dan minuman agak mahal. Yang penting masih sesuai dengan selera saya.
Mie Goreng
Gado-gado
Harga makanan
Saya sempat mengobrol dengan karyawan resto yang katanya beliau juga mantan tur guide Waerebo. Katanya, Manulalu ini milik orang lokal yang dulunya suka berpergian ke luar negri. Makanya resto ini sangat memperhatikan kebersihan, rasa makanan, pemandangan, yang disukai para turis asing. Kalau dilihat sih memang desain interior dan dekorasi restonya saja keren banget. Kalian harus datang kesini deh.

2. Pantai Penggajawa
Setelah berkendara dua jam lebih dari Manulalu, sudah tertidur, terbangun, tidur lagi, bangun lagi, akhirnya sampai ke sebuah Pantai. Sebenarnya pantai ini sudah tutup karena menjelang magrib, tapi bapak supir memaksa untuk buka😅 dan akhirnya dibuka. Awalnya mau menikmati matahari terbenam disini, tapi mendung banget. Jadi hanya bisa menikmati pantainya saja.

Yang menarik dari Pantai Penggajawa ini adalah memiliki batu dengan warna gradasi biru muda yang sangat indah. Sayangnya karena sudah malam dan suasana mendung, saya jadi tidak bisa memotret keindahan batunya. Sempat melihat foto di internet di siang hari ketika batu-batu baru terhempas ombak dan basah, sungguh indah gradasi warnanya😍. Bahkan ada yang berwarna pink dan hijau botol.
Gradasi batu
Biar lebih jelas
Beberapa sumber yang saya baca kalau batu-batu ini berasal dari dalam laut yang dibawa ombak menuju pantai. Makanya warnanya indahhh banget😍. Batu-batu ini juga diperjualkan ke Bali seharga Rp. 25,000-Rp. 30,000 per kilo. Murah banget ya! Kasihan pengepul batu dan saya jadi khawatir juga batu-batu ini bisa habis.
Menikmati pantai
Warna batu
Hijau botol
Tidak ada lagi kegiatan yang bisa dilakukan di pantai selain mengambil foto bebatuan. Setelah itu suasana mulai semakin dingin yang membuat kita semua harus memakai jaket. Berhubung masih harus menempuh jarak 2 jam lagi menuju Ende, kami memutuskan untuk ngemil gorengan dulu sebelum melanjutkan perjalanan.
Pisang goreng sambal penyet 😂😂😂
Ubi goreng sambal penyet
Kita memesan pisang dan ubi goreng, serta kelapa muda yang berwarna oranye. Dulu di rumah saya di komplek PT PIM, saya punya pohon kelapa oranye tapi sudah lupa rasanya 'gimana. Ternyata air dan daging buah kelapa oranye ini enakkkk banget ya🤤🤤. Oh ya, orang Flores suka memakan gorengan dengan sambal yang kalau di Jakarta menjadi teman untuk menikmati ayam penyet😆. Agak aneh, tapi kita tetap suka kok.
Kelapa Oranye
Foto Bareng
Setelah menyantap cemilan, kita melanjutkan perjalanan menuju Ende. Yang paling menyeramkan adalah jalan tertutupi kabut super tebal sampai-sampai jarak pandang hanya 1 meter. Bapak supir menyetir mobil sampai harus fokus melihat jalan apalagi kiri dan kanan jurang😱😱. Saya berdoa sepanjang jalan agar Allah menjaga kita dalam perjalanan. Kebayangkan seolah-olah menuju tempat di film-film horor, padahal nggak horor juga sih.

Alhamdulillah kami sampai di penginapan Ende jam 8an malam. Kita menaruh koper di kamar, lalu kembali ke ruang makan dengan laptop masing-masing. Kata siapa jadi pengusaha enak? Padahal tetap harus bekerja dimana-mana dan banyak kerjaan yang harus diselesaikan hari itu juga.

Beberapa teman-teman turis sampai heran memperhatikan kita semua memainkan laptop, padahal besok kita harus bangun jam 4 pagi untuk mengejar sunrise di puncak Danau Kelimutu. Kita berada di ruang makan sampai jam 11 malam, baru masuk kamar. Saya bahkan sempat mandi dulu baru tidur, sedangkan Debby dan Kakros udah tidur duluan.

Baiklah, besok kita akan berangkat ke Danau yang paling terkenal di Indonesia, Kelimutu. Sampai jumpa!
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip