September 01, 2019

From Ruteng to Bajawa

Selesai mengambil foto di sawah berbentuk jaring laba-laba di desa Cancar, saya dan teman-teman singgah di kota Ruteng yang berjarak sekitar 5-10 menit dari Cancar untuk mengisi perut, shalat, dan beli cemilan. Sudah jam 3 sore tapi kami belum makan siang sama sekali.

Akhirnya kami mampir di sebuah warung Padang yang berada di dekat mesjid. Sengaja memilih warung padang biar makannya sesuai selera. Benar saja, masing-masing kita memesan 2 lauk. Saya memesan ayam goreng dan udang kentang balado. Kita semua juga memesan teh manis panas untuk menghilangkan angin di perut. Kami makan dengan lahap. Saking lahapnya, sampai nggak bersuara dan nggak foto-foto.

Selesai makan, kita shalat di mesjid. Ketika ambil wudhu, airnya dingin bangetttt🥶! Sudah mulai masuk dataran tinggi nih, udara pun mulai dingin walaupun belum membuat saya pakai baju tebal. Selesai shalat, kami jalan kaki ke mini market terdekat. Oh ya, di Flores nggak ada Indomaret atau Alfamart. Jadi kita jajan di mini market asli Flores. Seperti biasa yang saya lakukan ketika belanja di daerah orang adalah melihat-lihat barang yang nggak ada di Jakarta seperti air minum, body lotion, dan makanan.

Sekitar jam 4.30 sore, kami melanjutkan perjalanan karena takut kemaleman tiba di Bajawa. Kata supir, perjalanan menuju Bajawa sekitar 4 jam. Haduwh lama sekali🤦‍♀️. Mau 'gimana lagi, harus sabar banget selama di perjalanan. Apalagi teringat kata orang-orang yang kita temui di Cancar kalau jalan menuju Bajawa adalah yang paling mengerikan selama di Flores.

Perjalanan pun dimulai. Ntah karena kebanyakan makan, saya mulai merasa pusing. Ditambah lagi, jalannya sangat berkelok-kelok. Supir sempat berhenti di pom bensin dan saya ke toilet untuk muntah, tapi nggak bisa. Mungkin karena nggak pernah muntah, jadi susah banget mau mengeluarkan sesuatu dari mulut. Perjalanan dilanjutkan dan saya sudah menyediakan plastik karena takut muntah. Memasuki areal pegunungan, jalanan mulai sangat berkelok-kelok dan patah banget kelokannya. Saya tersantuk kiri dan kanan sampai tambah pusing. Belum lagi harus mempertahankan tubuh agar nggak terjatuh ke kiri dan ke kanan. Mana nggak bisa tidur lagi.

Kami akhirnya menemukan sebuah desa dan saya minta berhenti sejenak. Saya lihat ada warung bakso dan saya minta air putih panas agar bisa sendawa. Kakros sempat turun juga untuk memfoto bintang-bintang, sekalian menemani saya yang mau muntah. Yang saya heran adalah Satrio, dia sama sekali nggak terbangun di jalan berkelok-kelok itu. Jangan-jangan dia pingsan?🤔

Perjalanan kembali dilanjutkan. Saya melihat Debby udah pucat pasi karena ketakutan dengan jalan yang terlalu seram. Belum lagi tiba-tiba turun kabut tebal, trus hilang. Supir pun mengendarai mobil dengan super duper kencang dan bisa mendadak ngerem karena mau belok patah dan hal itu membuat saya mau terpental. Saya udah nggak tahan lagi. Sempat menyuruh berhenti tapi ngeri banget kalau berhenti di tengah hutan. Akhirnya saya muntah 🤮juga ke plastik. Jangan salah, saya muntah bukan sekali, tapi beberapa kali. Saya sampai nggak mau disentuh sama Kakros, nggak mau ngobrol, pokoknya jangan ada yang mengusik saya (begitu perasaan saya waktu itu).

Akhirnya kita kembali menemukan kampung. Saya berlari ke parit dan muntah lagi dan lagi🤮🤮🤮🤮🤮. Sepertinya ini muntah terparah selama 10 tahun terakhir. Ditambah saya mendadak vertigo.  Duh, mungkin karena kejedut jendela dan kursi sehingga kepala jadi pusing banget. Ditambah belum makan malam dan sisa makanan sore tadi keluar semua. Satrio yang sudah pingsan dari Ruteng mendadak sadar dan bilang, "Wah, sudah banyak korban berjatuhan." Saya ngakak 😂 tapi masih muntah. 

Selagi meredakan kepala yang sangat pusing, saya melihat bintang di langit sangat banyak. Sempat mempertimbangkan untuk mengambil foto Milky Way tapi kita harus tiba sebelum terlalu malam karena takut kabut turun semakin tebal. Saya naik ke mobil dengan sempoyongan. Sudah pusing tujuh keliling, perut kosong lagi.

Alhamdulillah tiba di penginapan di kota Bajawa. Kalian tau, ini adalah penginapan dengan suhu udara paling dingin yang pernah saya rasakan selama di Indonesia. Teringat dulu di Bromo aja nggak sedingin ini. Lantainya dingin, minuman teh panas pun cepat dingin, dan TIDAK ADA mesin pemanas ruangan🥶🥶🥶. Sebelum tidur, saya makan seadanya karena sudah tidak ada warung nasi yang buka. Setelah itu minum obat pusing dan mandi. Untung ada air panas, sehingga tidak terlalu beku. Tapi setelah keluar kamar mandi, udara dingin langsung menusuk. Awalnya sudah pakai daster dan bersiap untuk bekerja sejenak sebelum tidur. Akhirnya jadi pakai jaket thermal dan celana legging heattech untuk menangkal udara yang terlalu dingin. Baru kali itu saya tidur pakai jaket thermal dan masih kedinginan🥶. Kenapa Bajawa dingin sekali?😣😣
Telur dan pancake
Besok pagi, saya bangun, mandi, dan bersiap sarapan. Kepala udah nggak pusing, bahkan seolah-olah saya sehat banget walaupun semalam baru aja muntah dan vertigo. Alhamdulillah saya tipe orang yang cepat sembuh. Sewaktu ke ruang makan, agak kaget kenapa bule' semua dan pada pake jaket thermal. Tunggu, sebenarnya saya berada di Indonesia apa luar negeri ya? Udah udara super dingin, penghuni penginapan bule' semua, dan pada pakai jaket thermal. Menu sarapannya pun kebarat-baratan dengan roti, keju, selai butter, pancake, telur dan lainnya. Duh, padahal pengen nasi uduk😬.
Roti dan buah
Destinasi selanjutnya adalah hutan Wolobobo dan Kampung Bena. Nanti saya lanjutkan lagi ya ceritanya. Sampai jumpa!
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip