Oktober 29, 2019

Gua Rangko

Seperti yang saya ceritakan di postingan sebelum ini, semalam kami tidur jam 1 dini hari, besoknya harus bangun shalat Shubuh dan bersiap untuk ke destinasi berikutnya. Pukul 5:45 saja mobil yang kita sewa sudah menjemput, sedangkan kita masih bergantian cuci muka dan ganti baju. Pukul 6:05, kita sudah siap untuk berangkat ke Gua Rangko yang terletak di Desa Rangko, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, Labuan Bajo, seraya membawa sarapan yang sudah disediakan oleh hotel.

Destinasi wisata Gua Rangko ini baru saja ngehits sejak banyak selebgram memposting keindahan warna air laut yang terdapat di dalam gua. Matahari baru saja terbit ketika kami menuju desa ini dan saya merasa ngantuk sekali. Dari Sylvia Resort ke Desa Rangko memakan waktu kurang lebih 30 menit. Sesampai di desa, supir kita menawar harga perahu kepada penduduk setempat dan kami mendapatkan harga Rp. 50,000 perorang.
Bersiap berlayar kembali
Untuk menuju ke Gua Rangko kita memang harus menempuh perjalanan menggunakan perahu. Baru saja udahan naik kapal kemarin, sekarang naik perahu (lagi). Belum pulih dari perasaan terombang-ambing, sekarang balik lagi rasa 'goyang' tersebut. Walaupun demikan, kami sangat antusias menuju Gua Rangko. Sepanjang perjalanan kita akan dimanjakan dengan hamparan laut jernih. Waktu tempuh perjalanan mungkin hanya 15 menit ditemani anak-anak yang mengendarai kapal. Tidak ada orang dewasa yang menemani kami ke Gua Rangko.
Selamat datang
Setelah sampai, seharusnya kita membayar tiket masuk terlebih dahulu. Tapi karena masih terlalu pagi dan objek wisata ini seharusnya belum buka, jadi kita bisa langsung masuk. Jangan salah, kita harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menelusuri jalan setapak dan mendaki bebatuan selama kurang lebih 5 menit untuk sampai ke mulut gua. Huft, mendaki lagiii... Sudah capek sekali. Saya sarankan untuk memakai alas kaki yang menggigit karena batu-batunya licin agar kita tidak terpeleset.
Jalan setapak
Mulut Gua
Ketika tiba di mulut Gua, saya teman-teman mulai merasa takut untuk turun karena suasana Gua gelap sekali😰. Ada perasaan takut menghinggap sampai kita bertanya sama anak kapal apakah Gua ini aman? Apakah ada binatang seperti ular atau buaya (mana ada buaya di laut)? Atau hiu mungkin? Anak itu bilang, "Tenang aja, aman!" Kami meyakinkan hati, baru turun ke dalam Gua yang masih gelap. Anak itu pun ikut turun dan bilang, "Kalau mau bagus dan masuk cahaya matahari, mending kesini diatas jam 12 siang." Mana mungkin kita kesini jam segitu karena sudah ada jadwal penerbangan kembali ke Jakarta.
Danau air asin di dalam Gua
Sesampai di dalam Gua, ada rasa sesak karena pengap. Seolah-olah jadi sulit bernafas. Tapi tubuh beradaptasi dengan cepat. Mulai bisa bernapas seperti biasa. Ada beberapa kelelawar yang hinggap di stalaktit yang memenuhi langit Gua. Ketika kita datang, mereka berterbangan. Untung jumlahnya hanya sedikit. Karena masih terlalu gelap di dalam Gua, kami memutuskan untuk naik dan sarapan terlebih dahulu selagi mengulur waktu agar matahari mulai naik. Hal ini termasuk pengalaman yang unik karena saya nggak pernah sarapan di mulut Gua sebelumnya.
Mari sarapan
Setelah 30 menit sarapan, matahari mulai sedikit lebih terang dari sebelumnya. Kami turun lagi ke dalam Gua dan mencoba menikmati suasana. Teman-teman turun terlebih dahulu ke danau air asin, sedangkan saya menjadi juru foto. Saya harus berpijak di stalagmit yang benar agar tidak terpeleset karena sangat licin. Bayangkan stalakmit begitu banyak bagian yang tajam dan saya harus berdiri diantaranya. Saya jadi harus terus waspada dan mempertahankan keseimbangan agar tidak terjatuh.
Berfoto di pinggir danau
Kita bergantian mengambil foto. Setelah itu semuanya turun ke danau untuk bermain air atau berenang. Awalnya kita takut karena sunyi sekali tempat ini. Suara cipratan air yang mengenai dinding Gua pun terasa menyeramkan. Masih merasa takut ada binatang misterius yang tiba-tiba muncul. Tetapi setelah beberapa menit berlalu, kita mulai menikmati suasana. Kita terus bermain air, tertawa, berfoto, merekam video, serasa Gua dan danau milik pribadi. Sampai tiba waktunya harus kembali karena kami mengejar jadwal penerbangan. Para wisatawan pun mulai berdatangan. Ada yang langsung turun, ada yang malah balik lagi karena cahaya matahari belum masuk.
Tempat membeli tiket masuk
Kami pun berjalan pulang. Sampai di dermaga, petugas menagih tiket masuk seharga Rp. 20,000 perorang. Saya kira karena udah masuk, nggak akan ditagih lagi😬. Gua Rangko adalah destinasi terakhir kita sebelum pulang ke Jakarta. Ada rasa sedih juga karena liburan telah usai. Seolah baru kemarin kita mendarat di Bandara Komodo dan langsung ke Wae Rebo, sekarang sudah harus kembali.
Mari pulang~
Berlayar pulang
Kita kembali ke hotel, mandi, dan bersiap untuk check out. Perjalanan dari Sylvia Resort ke Bandara Komodo memakan waktu 40 menit. Setelah tadi naik perahu, sekarang naik mobil, ada rasa pusing juga di kepala. Sepertinya sampai di Jakarta, saya bakalan tidur seharian untuk menyeimbangkan kepala yang rasanya trus bergoyang.

Sesampai di Bandara, kami check in bagasi, lalu mencari makan siang. Selayaknya bandara, harga makanan mahalnya nggak masuk akal. Padahal di kantin biasa dan cuma mau memesan ayam bakar saja Rp. 60,000😱. Akhirnya kami memutuskan makan siang di Exotic Komodo Resort (hotel tempat kita menginap sebelum berlayar) yang berlokasi pas di depan Bandara. Selain menunya banyak, makanan enak, tempatnya bagus, harganya juga nggak semahal kantin bandara. Kita makan sambil bermain Pokemon bareng-bareng, sampai akhirnya harus naik pesawat. Sampai jumpa lagi Labuan Bajo, semoga suatu hari bisa kesini lagi aminnn🤲.

Selama di pesawat, saya tidur sampai ke Jakarta. Setelah itu berpamitan pada teman-teman dan kita semua pulang ke rumah masing-masing. Saya seperti biasa naik bus bandara Hiba Utama menuju Depok. Di perjalanan menuju Depok saya tidur lagi. Sampai rumah, saya beberes sebentar, pesan makanan favorit, mandi, lalu tidur lagi. Sepertinya saya tidur selesai adzan Isya dan shalat (kira-kira jam 7 malam), dan bangun besok di waktu shalat Shubuh. Setelah itu tidur lagi sampai jam 8 pagi. Rasanya badan ini pegal sekali, tapi hati senang bukan kepalang. Alhamdulillah masih diberikan kesehatan oleh Allah subhanahu wata'ala untuk menyelesaikan perjalanan ini dengan baik, sehat, selamat pergi dan pulang.

Sampai jumpa di tulisan saya berikutnya mengenai Australia, Insya Allah 👋👋👋.

Sumber:
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip