Oktober 01, 2019

Sailing Komodo Part 2 : Pulau Rinca

Tujuan tim Rancupid Travel berikutnya dalam rangkaian Sailing Komodo adalah melihat Komodo. Awalnya saya sudah berharap bakalan dibawa ke Pulau Komodo. Ternyata bagi wisatawan yang ingin melihat Komodo memang semua diarahkan ke Pulau Rinca. Guide bilang, Komodo di Pulau Rinca masih baik-baik, tidak terlalu buas, dan ukurannya nggak terlalu besar. Jadi masih aman untuk wisatawan. Lain halnya Komodo di Pulau Komodo yang ukurannya saja bisa mencapai 3 meter😱😱😱. Di pikiran saya cuma terbayang biawak segede 3 meter. Serammm 😱😱😱! Biasaya Pulau Komodo didatangi oleh para ilmuwan dan pakar binatang untuk penelitian. 

Walaupun tidak berkunjung ke Pulau Komodo, jangan khawatir. Taman nasional Komodo sendiri terdiri atas tiga pulau besar yaitu Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar serta beberapa pulau kecil. Wilayah darat taman nasional ini 603 km² dan wilayah total adalah 1817 km². Selain karena keindahannya yang diakui dunia karena berhasil menyandang predikat ”New 7 Wonders of Nature” berjajar dengan tempat-tempat cantik lainnya di seluruh dunia, pulau-pulau ini juga merupakan bagian dari situs warisan dunia UNESCO. Secara administratif, pulau ini termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT. Letak Pulau Rinca sendiri lebih dekat dari Labuan Bajo jika dibandingkan dengan Pulau Komodo, dengan titik tertinggi pulau ini berada di Doro (Gunung) Ora dengan ketinggian sekitar 670 mdpl. Tak hanya komodo saja, di pulau ini juga hidup berbagai jenis binatang seperti komodo, babi liar, kerbau dan burung.
Selamat datang
Pulau Rinca yang kita kunjungi ini, ternyata juga merupakan habitat asli komodo dengan populasi terbanyak kedua setelah Pulau Komodo. Meskipun luasnya lebih kecil dibandingkan dengan Pulau Komodo, populasi komodo sekitar 1500-an akan lebih mudah ditemui di Pulau Rinca dibandingkan dengan di Komodo. Sebenarnya di Pulau Padar juga dahulu terdapat komodo, namun putusnya rantai makanan yang menyebabkan ekosistem di pulau tersebut menjadi tidak berkembang sehingga pada akhirnya populasi komodo pun menjadi punah. 

Tiket masuk Taman Nasional Komodo Rp. 200,000 perorang dan harus cash. Duh, kita jadi kelabakan harus membayar sejuta untuk berlima dan habislah uang cash. Awalnya kami tidak mengira kalau harga tiket masuk semahal itu, jadi tidak mempersiapkan duit cash. Setelah beli tiket, kami berjalan masuk dan sudah bisa melihat Komodo kecil berjalan-jalan secara liar. Yang mengagetkan adalah Komodo yang berada dibawah jembatan. Saya kaget melihat ukurannya yang gedeee banget😱 lagi bermalas-malasan. Kelihatan wajahnya males banget. Guide menyuruh kita terus berjalan sampai bertemu petugas (ranger).
Peta Jalur Trekking
Ranger kemudian menjelaskan sedikit tentang Komodo dimana sekarang sedang musim kawin, jadi Komodo lebih suka di daerah dingin. Makanya mereka tidak banyak ditemukan berjalan-jalan di siang hari. Komodo juga bisa memakan apa saja seperti Kerbau, Rusa, dan lainnya, jadi jangan menganggap hal ini sepele. Oh ya, kita juga bilang kepada ranger kalau salah satu teman (Debby) sedang datang bulan (menstruasi). Komodo memang paling sensitif dengan bau darah, tapi asalkan kita tidak terpisah sendiri, insya Allah semuanya aman.
Komodo kecil sedang berjalan-jalan
Ranger kemudian memberikan pilihan jalur trekking yaitu mulai dari trekking pendek, medium hingga yang panjang. Kita bebas menentukan sendiri pilihan rute tersebut, disesuaikan dengan kondisi fisik demi keselamatan dan meminimalisir resiko di lapangan nantinya. Kami memilih jalur medium agar menghemat tenaga (padahal sudah capek juga). Maka perjalanan pun dimulai. Baru jalan sebentar saja sudah bertemu dengan Komodo gedeee banget😱😱😱. Ranger menawarkan kita untuk berfoto tapi tidak boleh dari jarak dekat.
Sebelum
Sesudah
Setelah berfoto, kita melanjutkan trekking. Rangernya berjalan sangat cepat dan saya jadi ngos-ngosan. Sebaiknya kalian tidak menggunakan kacamata hitam karena takut nggak bisa melihat Komodo yang warnanya mirip seperti warna pohon. Kami bertemu seekor Komodo penuh luka yang katanya kalah bertarung memperebutkan Komodo Betina. Kita juga dibawa ke sarang Komodo (kedengarannya seram banget kan?), tempat mereka bertelur. Tenang aja, sepanjang jalan kita cuma bertemu 4-5 ekor Komodo dan itu pun sudah sangat mencekam suasananya. Seolah-olah kita sedang berada di Hunger Game.
Ini gedeeee😱
Selesai masuk hutan mencari Komodo, kini saatnya mendaki (lagi) ke atas bukit. Walaupun jalur pendakian tidak terjal, tapi akumulasi capek sudah mulai terasa. Mana harus mengikuti ranger yang jalannya cepet banget lagi. Di sepanjang jalur trekking, kalian akan melihat pemandangan indah berupa jajaran perbukitan dan hamparan laut biru. Bukit ini akan kering dan bewarna kuning di saat musim kemarau sedangkan apabila masuk musim penghujan, bukit ini akan berubah warna menjadi hijau. Subhanallah indahnya😍😍. Ketika sudah berada di puncak, kita langsung berhenti sejenak dan berfoto.
Menuju puncak
Hamparan laut dan kapal sangat indah
Setelah puas berfoto dan beristirahat karena kecapekan trekking, kita pun turun bukit. Duh, pegal sekali kaki ini. Udah keringetan banget disini tapi bahagia melihat pemandangan ciptaan Allah subhanahu wata'ala yang begitu indahnya. Sangat wajar Taman Nasional Komodo menjadi salah satu dari 7 Keajaiban Dunia secara natural karena keunikan Komodo dan pemandangan yang sangat indah. Dulu saya pernah pergi ke Ha Long Bay dan saya takjub karena keindahannya. Sama dengan ketika berkunjung ke Pulau Komodo.

Baiklah, nanti saya akan bercerita lagi destinasi selanjutnya. Stay tuned!

Sumber:
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip