November 25, 2019

Royal Botanic Gardens Victoria

Hari ini kita harus kembali ke Sydney menggunakan pesawat Tiger Airways pukul 15:15. Berhubung agak bingung juga mau kemana lagi karena memang tidak begitu banyak tempat wisata di kota Melbourne, jadinya sengaja masih bermalas-malasan dan sarapan makan mie instan di apartemen. Ketika jam 9 pagi, baru deh kami mandi dan bersiap check out

Nggak enaknya menyewa apartemen adalah kita nggak bisa menitipkan koper ketika check out. Pemilik apartemen menyarankan saya untuk menitipkan koper di BagBNB. Kalau kalian mau menyewa properti melalui AirBnB, ternyata ada juga BagBnB yang menawarkan jasa untuk penitipan koper. Sayangnya karena harga sewa yang lumayan mahal untuk satu koper seharian dan kita hanya butuh beberapa jam saja, mau nggak mau jadi membawa koper kalau jalan-jalan deh. Saya jadi harus googling dulu tempat wisata mana yang jalanannya nggak merusak roda koper. 

Akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi Royal Botanical Garden yang terlihat nyaman untuk pejalan kaki dan banyak kursi taman. Paling nggak kalau memang nggak bisa menggerek koper, nanti gantian jagain koper sambil duduk di kursi taman. Kami check out dari apartemen dengan menaruh kunci di atas meja makan, lalu memesan Uber seperti biasa menuju Royal Botanical Garden. Tidak memerlukan waktu lama, kami sampai di taman yang merupakan paru-paru kota Melbourne. Supir Uber bertanya kita mau turun dimana karena luassss banget dan kita juga bingung mau turun dimana.
Patung
Saya dan keluarga akhirnya turun di dekat The Shrine of Remembrance. Kami menurunkan koper dari mobil, lalu mencoba menggereknya perlahan. Ternyata enak banget jalannya, roda koper pun bisa melaju cepat. Cuma ya aneh aja kalau mau menggerek koper besar dan banyak untuk mengeliling taman. Kami menaruh koper di pojokan sejenak, lalu mengambil foto. Ada momen unik. Tiba-tiba angin berhembus kencang dan membuat koper-koper kami kabur😂. Hal ini terjadi beberapa kali, bahkan koper sampai jatuh. Jadinya kami menaruh koper di dekat kursi taman dulu dan bergantian dalam menjaga koper agar tidak kabur lagi😂😂😂.
Pohon-pohon hijau
Langit sangat cerah
Royal Botanical Garden didirikan pada tahun 1846. Sebelumnya tempat ini adalah taman milik kerajaan. Pemandangannya yang menakjubkan dengan danau-danau yang tenang, dan koleksi tanaman yang beragam tersusun rapi membuat taman ini menarik lebih dari 1.900.000 pengunjung setiap tahunnya. Taman-taman indah ini adalah rumah bagi hampir 50.000 tanaman individu yang mewakili 8.500 spesies berbeda dan juga memiliki 30 koleksi tanaman hidup yang menakjubkan dan beragam seperti Camelia, flora hutan hujan, sukulen dan kaktus, mawar, dan tanaman dari Cina Selatan. Royal Botanical Garden juga merupakan tempat perlindungan alami bagi satwa liar asli Australia. Luasnya mencapai 36 hektar yang miring ke sungai dengan pepohonan, taman, danau, dan halaman rumput. Tempat ini juga memiliki 1,5 juta tanaman yang diawetkan, ganggang dan jamur, dan perpustakaan botani paling komprehensif di Australia

Kami tidak mungkin mengelilingi seluruh taman karena keterbatasan waktu. Karena itu, kita memang memilih salah satu tempat di taman bernama The Shrine of Remembrance (The Shrine), yang merupakan bangunan untuk memperingati perang di Melbourne, dan untuk menghormati pria dan wanita Victoria yang bertugas dalam Perang Dunia I. The Shrine sekarang berfungsi sebagai tempat peringatan bagi semua warga Australia yang telah melayani dalam perang apa pun. Tempat ini juga menyelenggarakan peringatan tahunan untuk Hari ANZAC (25 April) dan Hari Peringatan (11 November), yang merupakan salah satu peringatan perang terbesar di Australia.
Bisa dibaca sejarahnya
Pilar-pilar besar bangunan
Bangunan The Shrine of Remembrance ini bergaya klasik dirancang oleh arsitek Phillip Hudson dan James Wardrop, yang merupakan veteran Perang Dunia I. Inspirasi bangunan mencontoh Makam Mausolus di Halicarnassus dan Parthenon di Athena, Yunani. Proses pembangunan dimulai pada 1918 dengan proposal awal untuk membangun tugu peringatan Victoria. Batu fondasi diletakkan pada 11 November 1927, dan The Shrine secara resmi dibuka untuk umum pada tahun 11 November 1934.
Melompat
Kalau kalian mau mengambil foto Royal Botanical Garden dengan lebih puas, maka masuklah ke dalam The Shrine bangunan utama, dan naik elevator ke lantai paling atas. Sayangnya karena keterbatasan waktu, saya hanya berfoto-foto di tangga-tangga dan teras bangunan. Nggak bisa berlama-lama juga karena kasihan Mama sendirian duduk di bangku taman karena sudah kecapekan dan juga sekalian menjaga koper. Setelah berfoto, saya dan adik-adik turun tangga lalu masuk ke dalam The Shrine secara bergantian dari pintu bawah, sekedar untuk mengetahui apa isi didalamnya.
Barang-barang di dalam The Shrine
The Shrine
Di dalam The Shrine sangat sepi, bahkan langkah kaki saya pun sangat terdengar. Banyak foto-foto, emblem, lukisan, dan patung, dengan cahaya temaram membuat suasana agak angker. Tidak banyak yang bisa dilihat di dalam. Dalam waktu 15 menit, saya sudah selesai berkeliling semua ruangan di bawah. Saya nggak masuk ke bangunan utama.

Saya duduk di bangku taman (kena giliran jaga koper). Ternyata kalau duduk, diam, nggak ngapa-ngapain jadi terasa udara sangat dingin. Padahal saya sudah memakai sweater tebal dan matahari menyinar sangat terik, tetap saja saya kedinginan. Akhirnya saya jadi jalan-jalan mondar-mandir, hanya untuk merasa lebih hangat.

Setelah semuanya keluar dari The Shrine, kami memutuskan untuk menyudahi jalan-jalan di Royal Botanical Garden dan kembali menuju bandara. Sekalian mengucapkan selamat tinggal ke kota Melbourne. 

Sesampai di bandara, kami melakukan self-check in koper-koper. Setelah itu kita makan siang. Karena sedikit sekali variasi makan halal, jadilah kami makan makanan India. Sebenarnya kami sekeluarga nggak begitu suka makanan India, tapi mau bagaimana lagi. Kita makan kentang goreng dicampur ayam dan diberi saus. Sudah sangat cukup untuk mengisi perut, tapi tidak terlalu puas makannya hehehe😀.

Setelah makan, kami masuk ruangan untuk menunggu boarding pesawat. Huff rasanya singkat sekali waktu di Melbourne. Pengennya sih kalau kesini lagi cuma santai-santai aja di apartemen dan ke Victoria Market untuk belanja. Semoga suatu hari bisa berkunjung kesini lagi ya. Aminnn🤲!

Baiklah, nanti saya cerita lagi tentang kota Sydney. Sampai jumpa!

November 21, 2019

Free Tram Zone Part 2

Saya akan melanjutkan cerita tentang berkeliling kota Melbourne dengan menggunakan Tram di kawasan Free Tram Zone (FTZ). Di postingan sebelumnya, cerita usai ketika kami makan malam super banyak di Nando's. Rasanya tenaga langsung balik lagi setelah makan segitu banyak. Alhamdulillah nggak sakit perut. Kalau tiba-tiba sakit perut langsung pusing memikirkan dimana toiletnya😆.

Saya akan menampilkan peta perjalanan malam itu setelah dari Nando's. Kita memilih untuk jalan kaki sambil menikmati malam di kota Melbourne, sekaligus untuk berbelanja. Teman-teman saya bilang kalau di Bourke Street banyak sekali pertokoan yang bisa menjadi tempat wisata belanja. Apalagi karena peralihan musim dari Winter ke Spring, mereka akan melakukan Sale besar-besar untuk semua baju hangat. Saya langsung bersemangat kalau sudah mendengar kata-kata Sale😂. 
Peta perjalanan kaki
Oh ya buat kalian yang suka mengoleksi tumbler Starbucks, pas di depan Nando's ada gerai Starbucks. Saya dan keluarga membeli beberapa tumbler untuk koleksi pribadi dan oleh-oleh. Menurut saya tumblernya nggak begitu unik. Desainnya standar saja. Berbeda kalau kita ke Jepang dengan desain tumbler yang selalu berganti-ganti tiap musim. 
Starbucks
Karena Nando's berada di jalan Flinders, maka destinasi pertama adalah Stasiun kereta api Flinders. Stasiun ini merupkan ikon kota Melbourne yang sering diabadikan di souvenir. Lokasinya berada di persimpangan sudut jalan Flinders and Swanston. Stasiun ini melayani seluruh jaringan kereta api metropolitan di Melbourne. Flinders menjadi stasiun tersibuk di jaringan metropolitan Melbourne dan stasiun kereta tersibuk di Australia, dengan lebih dari 77.153 penumpang harian tercatat pada tahun 2017-2018. Flinders juga merupakan kereta api pertama di Australia dan pernah menjadi stasiun tersibuk di dunia pada akhir 1920-an.
Tampak belakang
Tampak samping
Bangunan stasiun utama selesai pada tahun 1909, yang menjadi landmark kota Melbourne terpopuler. Bangunan bergaya Art Nouveau (seni dekoratif terapan) yang biasa kita temui di negara-negara jajahan Inggris, dengan kubahnya yang menonjol, pintu masuk melengkung, menara, dan jam di atas pintu. Tercantum dalam Victorian Heritage Register, stasiun ini memiliki peron terpanjang di Australia yang panjangnya 708 meter dan juga merupakan peron kereta api terpanjang keempat di dunia. Sayangnya kami tidak masuk ke dalam stasiun karena terlalu ramai. Mungkin karena jam orang pulang kerja, stasiun jadi terlihat dipenuhi ribuan manusia. Saya hanya berdiri diantara dua penyeberangan jalan yang katanya tersibuk di Melbourne seraya memperhatikan orang-orang berlalu-lalang. Tapi menurut saya lebih ramai lagi pejalan kaki yang menyebrang di jalanan Shibuya Tokyo sampai terkenal di seluruh dunia.
Flinders tampak depan
Kami melanjutkan berjalan kaki melewati sebuah Katedral yang sangat terkenal di Melbourne bernama Katedral Anglikan St Paul. Kathedral ini merupakan sebuah bangunan bersejarah yang indah, dengan desain bangunan seperti istana di Inggris. Katedral St Paulus dibangun pada tahun 1836 dipimpin oleh Dr Alexander Thomson. Kathedral sengaja  dibangun dekat dengan stasiun kereta api Flinders dan Tram agar tepat berada di jantung kehidupan kota. Jadi masyarakat pun teringat untuk beribadah.
Kathedral St Paul
Setelah melewati Kathedral, awalnya kami mau melihat Festival of Lights di State Library, tapi malah kelewatan jamnya. Padahal udah naik tram kesana dari Flinders, tapi nggak ada apa-apa disana. Ya udah deh, balik lagi ke jalan yang sama. Saya dan keluarga melanjutkan berjalan kaki sampai di deretan pertokoan di jalan Bourke. Nah jalanan ini yang benar-benar membuat saya bahagia karena bisa cuci mata melihat-lihat barang lucu dan diskon. Saya masuk ke toko skin care bernama LUSH yang wanginya sudah tercium dari pintu. Bentuknya juga lucu-lucu banget seperti bola warna-warni. Saya hanya mencium aroma saja dan melihat-lihat produk mereka, lalu keluar toko tanpa beli apa-apa.
Sabun lucu-lucu
Body and Lip Butter
Saya masuk dan keluar beberapa toko. Kebanyakan mereka memang mendiskon pakaian musim dingin tapi kalau saya beli juga buat apa. Mana mungkin bisa memakai baju tebal di Indonesia, sedangkan ke luar negri di musim dingin saja agak jarang. Saya sempat mampir ke Sephora seperti biasa untuk membeli pelembab wajah karena udara dingin membuat muka saya kering banget. Saya juga menikmati Street Art di jalan yang unik-unik. Paling unik sih melihat pertunjukan tengkorak seolah-olah sedang bernyanyi dengan serius. Padahal hanya digerakin oleh orangnya.
Tengkorak bernyanyi
Cotton On Sale
Yang paling menakjubkan adalah gerai H & M yang luarrrr biasa besarnya. Mereka membuka toko di sebuah bangunan bergaya Victoria dengan tiga lantai. Jangan tanya betapa luasnya di dalam karena saya aja hampir nyasar. Udah seperti satu Mall sendiri untuk merek H & M aja. Tokonya juga mewah, dengan pilar-pilar besar, atap tinggi, dengan perabotan klasik. Jadi terlihat seperti pertokoan barang mewah seperti Chanel atau Gucci di Hong Kong. Padahal harga pakaian H & M nggak begitu mahal, standar dibawah sejuta semua.
Gedung sangat tinggi
Dari lantai 3
Saya dan adik ipar yang paling semangat untuk menelusuri satu demi satu ruang-ruang di gedung H & M, sedangkan Mama sudah duduk karena lelah. Kami sampai naik ke lantai tiga, masuk ke setiap ruangan, berfoto, tapi tidak membeli apa-apa😅. Agak bingung kalau mau beli sweater super tebal atau coat/mantel mau dipake' kemana? Kecuali kalau kita ke toko ini di musim panas, pasti banyak pakaian yang bisa dibeli untuk dipakai di negara sendiri. Oh ya saya mengambil foto H&M tampak depan dari Google biar kalian biasa membayangkan betapa besarnya toko ini.
http://www.melbournesgpo.com/story/
Setelah puas belanja dan jalan-jalan, kaki juga sudah pegal sekali, maka kami memutuskan untuk pulang dengan naik Tram kembali. Dari Bourke Station naik tram langsung ke Southbank tanpa transit sekitar 12 menit saja. Dari Southbank station juga udah dekat dengan apartemen. Alhamdulillah tidak memerlukan waktu lama untuk tiba di apartemen karena memang sudah capek banget, pengen cepat istirahat🥱. Mana apartemen enak banget dan bikin betah, jadi pengen cepat-cepat pulang.
Anggur, Nanking Cherry, Grapefruit
Setelah mandi, saya lanjut bekerja sejenak sambil menikmati buah-buahan yang dibeli di Victoria Market. Saya makan Nanking Cherry, baru kali ini saya mencoba Cherry dengan rasa yang manis. Saya juga makan Grapefruit, sejenis jeruk dengan daging berwarna ungu. Asam sih, tapi enak. Kalau anggur kan banyak juga di Indonesia. Kami makan banyak banget buah malam itu sehingga membuat pencernaan lancar besoknya, hahaha😂.

Baiklah, nanti saya lanjutkan lagi cerita ke Botanical Garden. Sampai jumpa!

November 17, 2019

Free Tram Zone Part 1

Siang ini saya dan keluarga ingin mencoba salah satu moda transportasi gratis di Melbourne, yaitu Tram. Memang sih nggak semua rute Tram di Melbourne gratis, tapi kita memang sudah sengaja memilih tempat tinggal yang dekat dengan Free Tram Zone (FTZ). Pemerintah Australia sengaja membuat FTZ sebagai alat transportasi yang akan memudahkan turis berkeliling kota Melbourne sejak tahun 2015. FTZ memang dapat mencapai daerah-daerah wisata di Central Business District (CBD) Melbourne seperti Victoria Market, Stasiun Flinders, St. Paul Cathedral, dan lainnya. 
Peta Free Tram Zone
Tanda Free Tram Zone berwarna hijau
Suasana di dalam Tram
Kita jalan kaki dari apartemen di Southbank ke Casino East/Queens Bridge Station sekitar 10 menit. Hari sangat cerah tapi udara begitu dingin. Jadi nggak terasa capek walaupun harus berjalan kaki. Sesampai di stasiun Tram, masih agak ragu apa benar Tram yang bakalan kita naiki itu beneran gratis apa enggak🤔. Walaupun demikian, saya dan keluarga tetap naik saja. Sambil masih memperhatikan orang-orang apakah mereka nge-tap kartu apa enggak. Saya sudah mencoba nge-tap kartu yang dibeli di Sydney, tapi malah error. Jadi terus saja bertanya-tanya dalam hati kalau ternyata Tram ini harus bayar, 'gimana bayarnya?🤔 Sampai akhirnya saya bertanya kepada salah satu penumpang apakah tram ini termasuk dalam FTZ? Dia langsung menjawab dengan tegas, "Yes this is Free Tram Zone." Fiuhhh☺️, baru deh merasa lega dan bisa duduk santai sampai tempat tujuan.

Destinasi pertama kami dalam kawasan FTZ adalah Queen Victoria Market. Salah satu tempat yang direkomendasikan oleh semua penulis blog untuk belanja oleh-oleh. Sayangnya kami sampai disini sekitar jam 3 sore dan sudah banyak banget pertokoan yang sedang berkemas-kemas karena akan segera tutup. Saya baru tau kalau toko-toko souvenir akan tutup di pukul 4, sedangkan bagian pasar lebih lama tutupnya.
Queen Victoria Market sudah banyak yang tutup
Mau nggak mau kami sekeluarga harus agak terburu-buru ketika belanja karena takut tokonya tutup. Kita kemudian memilih sebuah toko yang penjualnya adalah orang Melayu supaya enak menawar harga.  Mulai deh saya mengambil keranjang dan memilih barang-barang untuk oleh-oleh. Dimulai dari gantungan kunci, magnet kulkas (wajib), dompet, tas, boneka kecil, dan sebagainya. Haduwh kalau udah melihat pernak-pernik, saya pasti agak kalap. Belum lagi nama-nama orang yang harus dikasih souvenir harus di data terlebih dahulu agar semua kebagian😁. Merasa udah banyak beli ini-itu dan pelayan juga toko mulai beres-beres, kita menyudahi belanja dan bayar ke kasir. Sekalian minta diskon yang banyak😬😬😬. Saya lupa dapat diskon berapa, yang pasti lumayan banyak.
Souvenir lucu-lucu
Kita pindah ke toko sebelah yang beberapa masih pada buka. Kebanyakan mereka menjual kaos, pernak-pernik souvenir, dengan harga variatif. Kita merasa udah belanja banyak (padahal masih belum cukup), jadi sudah nggak banyak mampir-mampir lagi di toko souvenir.

Ketika kami terus berjalan, sampailah pada pasar sayuran🥬 dan buah🍊. Karena penasaran ada buah apa saja di pasar lokal, kami pun mampir. Saya takjub melihat banyak sekali sayuran dan buah-buah yang tidak ada di Indonesia😮. Padahal saya banyak menjual tanaman buah di Amazon Amerika walaupun tidak pernah melihat wujud asli buah atau sayur tersebut. Pasar ini membuat saya betah berlama-lama. Saya melihat kentang🥔 berbagai macam jenis, bawang🧅, dan cabe🌶️super besarrrr! Saya sampai bingung 'gimana kalau mau diuleg jadi sambal ya?
kentang🥔
Ubi jalar🥔, jeruk🍊, Mangga🥭
Perbandingan cabe dengan tangan saya🌶️🌶️🌶️
Saya terus berjalan masuk ke dalam dan semakin menemukan banyak sayur/buah unik. Baru kali ini saya melihat daun bawang segede lengan saya, asparagus, dan berbagai macam buah cherry. Saya juga mengajak penjual mengobrol dan mengatakan padanya kalau di negara saya tidak ada sayur begini. Dia menanggapi dengan bilang kalau di negaranya juga nggak ada. Eh ternyata dia pendatang juga ke Australia.
Ada daun bawang, pak choi, asparagus, dll 🥬🥬🥬
Saya dan keluarga membeli beberapa buah yang unik untuk dinikmati di apartemen. Asik banget bisa belanja untuk dibawa pulang, seolah-olah sedang berada di rumah sendiri karena ada Mama dan adik-adik. Rasanya kalau saya tinggal di Australia bakalan betah deh, asal di musim dingin hehehe😆. Saya nggak suka musim panas di negara subtropis, mending di Indonesia saja. Setelah puas berbelanja macem-macem baik oleh-oleh maupun buah-buahan dan sayur-mayur, kami kembali menunggu Tram. Tidak perlu waktu lama, Tram datang dan kami pun naik.
Menunggu Tram
Destinasi selanjutnya adalah Flinder's Station (kita turun Tram di stasiun ini) dan berjalan-jalan disekitarnya. Berhubung tadi siang makannya cuma hotdog doang, mau nggak mau kita jadi cepat lapar. Akhirnya kami memutuskan untuk nyari makan malam dulu (walaupun masih sore) supaya ada tenaga untuk berjalan-jalan nantinya. Kami sengaja langsung menuju Pusat Makanan Halal yang memang ada di jalan ini. 
Suasana kota
Adem
Kalian tinggal mengikuti arah di Google Maps saja dari stasiun Flinder's menuju Nando's, resto yang menyajikan makanan yang bisa dipastikan sesuai selera. Banyak sih makanan halal di Melbourne, tapi saya lebih suka makanan Melayu daripada Arab dan India. Oh ya, saya sangat menikmati jalan kaki di kota Melbourne dengan suasana dingin menusuk, pohon-pohon yang masih botak, dan orang-orang yang sibuk berlalu-lalang kesana kemari. Kotanya juga rapi dengan sedikit kendaraan, sehingga udara sangat bersih. Sebenarnya kalau di Indonesia ada FTZ, sudah dapat dipastikan orang-orang pasti malas naik kendaraan pribadi sehingga bisa terhindar dari polusi.

Setiba di Nando's, kami memesan makanan yang banyak dan makan dengan lahap. Rasanya makan pagi, siang, malam jadi satu pada saat itu. Rasanya laper banget deh! Memang kurang pas untuk perut orang Indonesia kalau disuruh makan roti-rotian, jadinya makan Nando's bisa kalap. Apalagi daging ayam di Nando's terkenal dengan ukuran super besar dan kita bisa habis dong. Kebayang betapa laparnya saat itu. Setelah makan, baru merasakan ada tenaga ekstra untuk eksplorasi kota lagi.

Baiklah, nanti saya tuliskan kembali tempat wisata mana saja yang kami kunjungi malam itu. Sampai jumpa!

November 14, 2019

Brighton Beach

Sudah membaca banyak referensi dan blog orang yang sudah bepergian ke Melbourne, ternyata kota ini memiliki tujuan wisata yang lumayan sedikit. Selain jalan-jalan keliling kota, yang paling hits adalah Brighton Beach. Mungkin kalian pernah melihat foto-foto tempat ganti baju yang berupa rumah-rumah kecil dengan ukuran yang sama di pantai Melbourne? Nah, tempatnya memang di pantai Brighton.

Perjalanan dari apartemen kami di Southbank ke Pantai Brighton memakan waktu tempuh sekitar 20 menit menggunakan Uber dengan tarif $20an. Sesampai disana, saya agak bingung melihat pantai yang sebenarnya biasa aja. Warna lautnya tidak seindah pantai-pantai di negara-negara Asia Tenggara. Yang menarik dan mencolok memang rumah imut-imut berwarna-warni sebagai tempat berfoto berdiri di sepanjang pingir pantai Brighton bernama Bathing Boxes. Karena kotak-kotak ini berbentuk seperti rumah, saya sebut saja rumah-rumah ya daripada kotak-kotak jadi terdengar aneh. 
Lagi sepi
Sebenarnya fungsi rumah-rumah ini untuk berganti baju setelah berenang di pantai. Karena bulan Agustus masih musim dingin di Australia, jangan berharap bisa berenang di pantai karena airnya memang sedingin es. Dalam sejarahnya, Bathing Box ini merupakan salah satu cara bagaimana dahulu orang-orang Victoria berganti pakaian dan menikmati pantai. Rumah-rumah ini sudah ada sejak tahun 1800an dan masih terus dirawat sampai sekarang. Struktur bangunannya hampir tidak ada yang berubah, semua mempertahankan fitur arsitektur klasik Victoria dengan bahan kayu, papan, dan atap seng bergelombang, seperti asbes. Tidak ada listrik dan air terhubung ke Bathing Box karena memang hanya diperuntukkan untuk ganti baju saja. Jadi kita tidak bisa menginap disini.
Mengajak Mama
Masing-masing Bathing box yang berada di Pantai Brighton ini, dimiliki oleh pemegang lisensi. Mereka memilih untuk membedakan Bathing Box dengan variasi warna dan lukisan, tanpa mengubah desain bangunan. Hanya orang Australia saja yang boleh memegang lisensi Bathing Box dan juga boleh diturunkan lisensinya ke ahli waris. Ada artikel yang menuliskan kalau rumah-rumah ini juga dijual tapi memang tidak terlalu laku. Ya untuk apa juga?😅 Oh ya, Bathing boxes bukan hanya berada di negara Australia, tapi juga ada di pantai-pantai Inggris, Prancis dan Italia.
Ganti gaya lagi
Suasana di Pantai
Tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan di pantai ini selain berfoto. Memang sih jumlah rumah-rumahnya banyak banget yaitu 82 rumah jadi bisa berganti-ganti latar belakang dalam berfoto. Setelah mengambil foto yang banyak, jadi bingung juga mau ngapain lagi. Pengunjung pun semakin ramai membuat kita jadi kesulitan berfoto sendirian. Karena hari pun sudah siang, kami pun memutuskan untuk kembali ke apartemen untuk shalat. Awalnya sempat bingung mau makan siang dimana, tapi alhamdulillah ada penjual hotdog halal di parkiran Pantai Brighton. Sempat berpikir makan hotdog doang bakalan kenyang nggak ya? Ternyata porsinya gede banget. Sekalian kita juga beli es krim yang terlihat sangat menggiurkan. Lagi musim dingin makan es krim membuat es krim tidak cepat meleleh. Tapi tetap aja kita harus makan buru-buru karena supir Uber sudah menjemput.
Mengantri
Es krim dan Hotdog besarrr
Makan es krim
Ada yang unik dalam perjalanan ke apartemen. Supir Uber bercerita banyak hal. Beliau mengatakan bahwa rumah-rumah disekitar Brighton sekarang harganya sangat mahal. 10 tahun yang lalu mungkin kita masih sanggup beli, tapi sekarang udah nggak sanggup lagi. Beliau juga bercerita kalau 30 tahun yang lalu banyak pabrik di Melbourne yang membuat polusi sangat tinggi. Pemerintah kemudian memutuskan untuk menutup pabrik dan hanya menerima impor barang untuk menjamin Australia memiliki udara yang segar. Lihat saja langit birunya begitu cerah.

Waktu itu kita memang mendapat supir Uber sudah tua dan senang ngobrol. Mungkin usianya sekitar 60-70 tahun tapi masih sehat dan kuat menyetir. Beliau juga bertanya tentang pemindahan ibukota Indonesia ke Kalimantan dan menurutnya hal tersebut bisa menjadi jalan untuk mengurangi polusi. Ada benarnya sih, tapi 'kan warga negara Indonesia super banyak kalau dibandingkan Australia sehingga pemindahan ibukota bukan perkara gampang.

Sesampai di apartemen, kita shalat dan makan siang. Jadi berasa seperti di rumah sendiri dimana kita pulang untuk makan siang dan beristirahat. Tapi kita tidak bisa berlama-lama beristirahat, paling hanya sejam saja. Kita masih harus jalan-jalan melihat kota Melbourne karena besok kita sudah kembali ke Sydney.

Baiklah, nanti saya akan bercerita tentang berkeliling kota Melbourne. Sampai jumpa!

November 12, 2019

Dua Lapis Karet Elastis

Seperti biasa, setiap bulannya saya akan melakukan kontrol gigi. Selama sebulan ini saya menggunakan karet elastis dua lapis agar geraham belakang lebih cepat majunya dan celah gigi semakin rapat. Hal ini tentu saja membuat saya lebih susah lagi makan. Mau mengunyah daging atau keripik/kerupuk pasti 'nyangkut. Terkadang karetnya lepas sendiri karena terlalu lama mengunyah makanan atau menguap terlalu lebar. Pernah juga lagi tertawa bersama teman-teman eh karetnya putus dan bunyinya sampai terdengar oleh mereka😅. Bikin malu aja...😂
Sudah lebih bagus
Walaupun demikian, Orthodentist bilang kalau geraham saya maju secara signifikan. Terlihat dari kawat indikator yang paling belakang maju beberapa milimeter dan itu tandanya signifikan. Dokter bilang, memakai karet elastis sebanyak dua lapis ternyata sangat efektif merapatkan celah di gigi. Saya juga merasa demikian karena struktur senyuman secara horizontal sudah lebih lurus hanya dalam waktu satu bulan. Dokter berharap semoga di Januari nanti urusan gigi saya sudah selesai. Paling tinggal dibenerin sedikit lagi. Alhamdulillah...

Oh iya, hari ini saya lihat ada yang berubah di OMDC. Interior ruangan terasa lebih luas. Meja pendaftaran pasien posisinya juga sudah berubah. Sebulan yang lalu masih ada tiga ruang praktek di sekitar ruang tunggu dan sekarang hanya dua saja. Ruangan lainnya sudah diubah posisinya ntah kemana. Saya tadi tidak terlalu bereksplorasi karena masih dalam kondisi nggak enak badan. Pengennya cuma duduk manis saja dan nggak bergerak kemana pun.
Meja resevasi
Sewaktu melakukan pembayaran di kasir, saya sempat mengambil foto harga terbaru untuk pemasangan kawat gigi. Kalau kalian punya kartu kredit, pembelian minimal Rp. 500,000 bisa dicicil 0% sampai 12 bulan menggunakan BNI, sedangkan BCA hanya sampai 6 bulan. Hal ini berlaku untuk segala perawatan yang ada di OMDC. Lumayan banget daripada saya dulu harus mendebit 9 juta langsung untuk pasang Sapphire Braces tanpa bisa cicilan. Sakit hati ini sewaktu melihat tabungan hilang 9 juta. Mana dulu kantor belum ada asuransi lagi😫.
Harga terbaru pemasangan kawat gigi
Total pengeluaran hari ini:
Service Charge Rp. 25,000
Kontrol Sapphire Braces Orthodentist Rp. 275,000
Karet Elastis Rp. 60,0000.

November 08, 2019

Welcome to Melbourne

Sempat bingung mau melanjutkan menulis tentang Sydney, atau Melbourne dulu ya?🤔 Kita memang mendarat di Sydney pagi hari, tapi malamnya langsung terbang ke Melbourne. Sudah sempat menuliskan tentang tempat wisata paling hits di Sydney yaitu Opera House dan Harbour Bridge, tapi belum menuliskan transportasinya. Setelah menimbang-nimbang alur cerita di blog, akhirnya saya memutuskan untuk posting tentang Melbourne dulu baru nanti melanjutkan Sydney lagi. Semoga tidak mengurangi esensi cerita ya. 

Setelah puas berkeliling Sydney hari itu, sekitar pukul enam sore, kita kembali ke apartemen Bang Suryadi. Dora langsung menyibukkan diri dengan memasak bakso🍜 untuk makan malam, agar nanti tidak perlu lagi mencari makan di bandara dan tinggal tidur saja di pesawat. Kita makan secukupnya, lalu bersiap ke bandara Kingsford sekitar pukul 8 malam. Setelah berpamitan dan Uber juga sudah datang, kami melanjutkan perjalanan ke bandara terminal domestik. Setiba di bandara, sempat bingung kok bandaranya sepi banget? Apa karena sudah malam? Oh iya, jangan berharap melihat konter check in yang ada petugas untuk membantu memberikan label di koper kita. Semua bandara di Australia dan New Zealand memberlakukan self check-in. Lebih enak sih sebenarnya karena mesinnya banyak banget dan kita tidak perlu mengantri. Semoga suatu hari bisa diterapkan di Indonesia apalagi penumpang pesawat semakin meningkat setiap tahunnya sedangkan konter check-in malah beberapa sering tutup yang mengakibatkan orang-orang mengantri dan sering telat. Huff!
Welcome to Melbourne
Pesawat Virgin Australia pun terbang dan saya tidur seperti biasa. Mungkin karena masih capek, jadi rasanya ngantuk sekali. Apalagi setelah berjalan-jalan seharian berkeliling Sydney. 1,5 jam kemudian, kita tiba di Melbourne. Semua proses terasa begitu cepat mulai dari turun pesawat dan pengambilan bagasi. Nah, sewaktu keluar bandara, mulailah udara dingin menusuk terasa di kulit. Saya langsung mengancing jaket (semula cuma dibuka saja). Saya cek di hp kalau suhu udara saat itu berkisar 5-6 derajat celcius. Kalau sudah berada di tempat dingin, penanda pertama adalah kalau kita ngomong pasti berasap. Saya dan adik-adik langsung meniup-niup agar asap dari mulut semakin banyak keluar😆😆😆. Padahal kami sudah kedinginan, tapi malah keasyikan mengeluarkan asap dari mulut. Baru akhirnya kami memesan Uber ke apartemen setelah Mama mengeluh kedinginan. Agak kaget dengan harga uber $70, oh tidak😱! Mungkin kalau di Indonesia seperti harga 70rb kali ya (menenangkan diri).

Ada hal yang menarik ketika harus mencari apartemen yang saya booking melalui Airbnb. Lokasinya berada di 88 Southbank Blvd, Southbank VIC 3006, Australia. Karena saya dan keluarga tiba di malam hari, jadinya tuan rumah menaruh kunci di sebuah lockbox yang disematkan pada kunci sepeda yang terpakir di papan penanda jalan di bawah pohon. Tuan rumah mengirim pesan pada saya melalui Airbnb dan mengirimkan foto pohon mana, sepeda mana, dan peta apartemen. Ntah berapa kali saya baca petunjuk mencari kunci tersebut yang menurut saya seperti sebuah teka-teki.
Teka-teki masuk rumah
Kami sudah tiba di lokasi sesuai Gmaps tapi kok nggak ada tulisan nama apartemen sehingga membingungkan. Kami sudah berputar sekali tapi tetap tidak menemukan gedung yang dimaksud. Akhirnya saya bilang pada supir Uber kalau kami turun disini saja. Kasihan juga sudah tengah malam beliau masih berputar-putar mencari apartemen kami. Supir Uber sampai bertanya berkali-kali, "Are you sure the apartement right here?"- Apa Anda yakin apartemennya disini? Saya jawab, "Not sure, but I will ask somebody and follow the instructions to get the key." - Nggak yakin sih, tapi nanti saya tanya sama orang aja, sekalian mengikuti instruksi mencari kunci.

Akhirnya kami sekeluarga turun dengan koper kami yang besar-besar. Saya mulai mencari penanda jalan, pohon, dan sepeda. Setelah ketemu sepeda, saya berjongkok dan mencari-cari lockbox. Duh, terasa seperti mau maling sepeda. Tiba-tiba saya di klakson dan saya berpura-pura nggak tau, takut dikira maling. Mana susah pulak menyesuaikan kode pada gembok. Setelah gembok terbuka, kunci saya ambil, dan saya mendongak untuk melihat siapa yang mengklakson saya. Dalam hati sudah mempersiapkan alasan kalau saya memang terciduk dan disangka maling. Ternyata yang mengklakson adalah supir Uber dan beliau menunjuk kalau apartemen yang kita maksud ada di depan. Saya mengangguk-angguk tanda (berpura-pura) mengerti (karena yang dia katakan tidak kedengaran), baru akhirnya supir pun pergi. 

Saya berjalan ke teras sebuah apartemen dan masih kebingungan bagaimana cara masuknya? Kunci sudah berada di tangan tapi bagaimana cara mengakses masuk? Tidak ada tanda-tanda kunci otomatis atau memang kita yang belum tau? Kita jadi menunggu beberapa saat diluar, mana udara semakin malam semakin dingin. Akhirnya ada seorang wanita keluar dan saya bertanya padanya bagaimana cara masuk ke apartemen. Wanita itu bilang kalau gantungan kunci itu adalah aksesnya yang tinggal di dekatkan ke sensor, nanti pintu lobi terbuka. Begitu pula dengan akses ke lantai apartemen. Huff, ternyata mudah sekali😅.

Alhamdulillah akhirnya bisa masuk juga ke apartemen dan takjub melihat interior yang minimalis, rapi, bersih, dan cantik. Saya jadi jalan-jalan dulu melihat-lihat seluruh ruang apartemen termasuk kamar mandi, dapur, ruang tengah, dan kamar. Duh, semua perabotan tertata rapi dan bikin betah. Ditambah akses internet super kencang. Saya menyalakan AC yang juga bisa menjadi heater untuk menghangatkan ruangan. Karena ada mesin cuci, saya kemudian memasukkan baju kotor untuk dicuci. Tenang saja, mesin cuci ini bisa langsung kering kok. Jadi nggak usah pusing memikirkan nanti pakaian malah nggak kering. Nggak terasa ternyata sudah pukul 2 malam. Saya kemudian sikat gigi dan cuci muka, baru deh tidur nyenyak.
Apartemen minimalis dan cantik
Besoknya saya bangun agak telat dan masih santai-santai dulu sambil memasak mie instant. Kita mau menikmati apartemen yang bikin betah terlebih dahulu sekalian mengecek penjualan di Amazon.  Rasanya ingin punya meja makan seperti di apartemen dengan meja yang besar, sederhana, dan minimalis. Semoga suatu saat bisa punya apartemen seenak ini biar bisa betah lama-lama nggak usah keluar rumah. 

Setelah sarapan, kami mandi dan bersiap ke Brighton Beach. Nanti saya cerita lagi ya. Sampai jumpa!

November 05, 2019

Sydney Opera House dan Harbour Bridge

Kami tiba di Eastlakes 10 menit kemudian, tempat dimana keluarga Bang Suryadi tinggal. Beliau adalah salah satu sahabat abang saya dan juga tetangga saya di kampung yang sudah seperti saudara sendiri. Karena mendapatkan beasiswa di University New South Wales (UNSW), maka seluruh keluarganya dibawa ke Australia. Rasanya agak aneh melihat mereka di Sydney, seolah-olah saya sedang pulang kampung dan bertemu dengan mereka. Hanya saja sekarang berbeda negara.

Istri Bang Suryadi, si Dora, senang banget ketemu sama Mama bahkan sampai terharu dan menitikkan air mata😢. Mungkin karena seperti ketemu Ibu sendiri, atau mungkin saking kangennya dengan keluarga di kampung. Maklumlah, hidup di negara orang tanpa ada sanak saudara tidak jarang membuat kita homesick. Selagi homesick, eh saudara dari kampung datang bersilaturahmi. Kebayang betapa bahagianya😣. Dulu juga sewaktu ke Abu Dhabi, saudara saya disana senang banget ketika kami datang. Apalagi sambil membawa emping, kerupuk khas dari negara kita. Melihat emping, matanya langsung berbinar-binar seolah-olah kita membawa makanan dari surga. Mana mungkin menemukan emping di Abu Dhabi.

Kami dipersilahkan masuk ke apartemen Bang Suryadi. Rencananya kami akan menumpang mandi dan menaruh barang, sebelum melanjutkan perjalanan ke Melbourne nanti malam. Sebelum mandi, kita mengobrol dan beristirahat sejenak sambil bergantian mandi. Mana saya sempat salah menyalakan air panas dan nggak nyala. Awalnya sempat nyala sebentar, lalu mati lagi. Berhubung udah terlanjur memakai sabun, mau nggak mau harus bilas badan dengan mandi air dingin di musim dingin🥶. Duh, saya sampai gemetaran. Mau sikat gigi aja nggak sanggup ketika harus berkumur-kumur kecuali pakai air panas. Karena kedinginan di kamar mandi, jadilah mandi buru-buru. Nggak tau deh udah bersih mandinya apa nggak.
Sekitar apartemen
Bersiap berangkat
Setelah semua selesai mandi, adik saya Achmad dan Bang Suryadi pergi ke minimarket untuk mengisi saldo di kartu yang bakalan digunakan untuk naik kendaraan umum. Sama seperti kartu serbaguna yang biasa sering kita pakai di Jakarta, kartu di Sydney juga bisa dipakai untuk naik bus, MRT, dan ferry. Setelah mereka pulang, barulah kami memulai perjalanan hari ini. Kita jalan kaki menuju halte bus sekitar 2 menit. Kalau mencari rute di Google Maps, kalian bisa langsung menemukan nomor bus atau jalur MRT tanpa kesulitan sedikit pun dengan menggunakan Google Maps. Sepertinya untuk urusan transportasi akan saya bahas di postingan tersendiri nanti saja ya. Biar lebih enak ketika mau membacanya.
Menunggu bus
Sydney Harbour Bridge
Setelah turun dari MRT dan berjalan kaki sedikit ke arah pelabuhan, kalian akan melihat jembatan lengkung berkerangka besi bernama Harbour Bridge yang berdiri kokoh diatas pelabuhan Sydney di Port Jackson. Jembatan ini dilintasi kereta api, kendaraan umum, sepeda, dan pejalan kaki antara Sydney Central Business District (CBD) dan North Shore. Pemandangan jembatan ini meyakinkan saya kalau saya sudah berada di Sydney. Apalagi kalian langsung bisa melihat Sydney Opera House di dekatnya. Jembatan ini juga dijuluki "The Coathanger" (seolah-olah seperti tempat menggantungkan 'coat'-jaket) karena desain berbasis lengkungannya. Bayangkan bagaimana melengkungkan baja yang berukuran 134 meter dari atas permukaan air ini? Jembatan ini juga dinobatkan sebagai jembatan terluas di dunia dengan lebar 48,8 meter sebelum pembangunan Jembatan Port Mann baru di Vancouver selesai pada 2012.
Berpose di jembatan
Di bawah arahan Dr. John Bradfield dari Departemen Pekerjaan Umum NSW, Harbour Bridge dirancang dan dibangun oleh perusahaan Inggris Dorman Long and Co Ltd dari Middlesbrough, dan dibuka pada tahun 1932. Desain jembatan dipengaruhi oleh Hell Gate Bridge di New York City. Sydney Harbour Bridge ditambahkan ke Daftar Warisan Nasional Australia pada 19 Maret 2007 dan ke Daftar Warisan Negara Bagian New South Wales pada 25 Juni 1999.
Foto keluarga
Saya sangat menikmati pemandangan jembatan ini dengan perairan yang luas dan burung camar terbang kesana kemari. Belum lagi saat itu suhu udara terasa dingin sekali dengan angin sangat kencang. Maklumlah, kalau di pelabuhan pasti anginnya gede. Kalian bisa menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan menelusuri pinggir pelabuhan dimana banyak pertokoan dan cafe. Yang uniknya, banyak sekali burung camar bertengger di tiang-tiang Cafe sampai harus diusir oleh pelayan atau pengunjung Cafe.

Sydney Opera House
Kalau sudah ke Sydney, Opera House merupakan destinasi yang harus dan wajib dikunjungi. Rasanya sewaktu melihat gedung Opera dari kejauhan saja saya langsung meyakinkan diri saya kalau saya sudah benar-benar berada di kota Sydney. Rasanya seperti mimpi bisa kesini karena dulu hanya berupa angan-angan saja. Ntah berapa kali mau ke Sydney pakai AirAsia karena merasa sudah cukup murah, tetapi Allah subhanahu wata'ala malah memberikan maskapai full-board terbaik di Australia yaitu Qantas untuk kita naiki dengan harga lebih murah lagi dari AirAsia. Alhamdulillah.
Sydney Opera House
Sydney Opera House adalah pusat seni pertunjukan di Sydney Harbour, New South Wales Australia, yang merupakan salah satu bangunan paling terkenal di abad ke-20. Gedung opera ini dirancang oleh arsitek Denmark Jørn Utzon yang memenangkan kompetisi desain internasioal untuk gedung ini pada tahun 1957. Pemerintah New South Wales, yang dipimpin oleh Joseph Cahill, baru mengizinkan pekerjaan pembangunan gedung dimulai pada tahun 1958 dengan Utzon mengarahkan pembangunan. Setelah kurang lebih 15 tahun pembangunan, Sydney Opera House secara resmi dibuka pada 20 Oktober 1973. 
Santai
Saya dan keluarga berjalan mendekat ke gedung raksasa ini. Kalau dilihat lebih dekat memang gedung ini besar dan tinggi sekali. Gedung ini terdiri dari beberapa tempat pertunjukan, yang bersama-sama menyelenggarakan lebih dari 1,500 pertunjukan setiap tahun, dan dihadiri oleh lebih dari 1,2 juta orang. Pertunjukan disini ditampilkan oleh banyak seniman, termasuk tiga perusahaan: Opera Australia, Sydney Theatre Company, dan Sydney Symphony Orchestra. Sayangnya saya tidak masuk ke dalam gedung untuk menikmati pertunjukan karena keterbatasan waktu harus mengejar pesawat ke Melbourne.

Pada tanggal 28 Juni 2007, Gedung Opera Sydney menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO. Gedung ini juga pernah menjadi finalis dalam New 7 Wonders of the World. Sebagai salah satu tempat wisata paling populer di Australia, bangunan ini dikunjungi lebih dari delapan juta orang setiap tahun, dan sekitar 350.000 pengunjung melakukan tur berkeliling gedung. Bangunan ini dikelola oleh Sydney Opera House Trust, sebuah agen dari Pemerintah Negara Bagian New South Wales.

Kebanyakan pengunjung datang kemari untuk berfoto dan menikmati pemandangan. Banyak juga yang jogging dalam kondisi udara yang dingin. Setelah puas menikmati dua ikon kota Sydney ini, saya dan keluarga melanjutkan perjalanan untuk mencari makanan halal karena sudah sore dan kita belum makan.

Nanti akan saya tuliskan lagi ya. Sampai jumpa!

Sumber: wikipedia.com

Follow me

My Trip