November 21, 2019

Free Tram Zone Part 2

Saya akan melanjutkan cerita tentang berkeliling kota Melbourne dengan menggunakan Tram di kawasan Free Tram Zone (FTZ). Di postingan sebelumnya, cerita usai ketika kami makan malam super banyak di Nando's. Rasanya tenaga langsung balik lagi setelah makan segitu banyak. Alhamdulillah nggak sakit perut. Kalau tiba-tiba sakit perut langsung pusing memikirkan dimana toiletnya😆.

Saya akan menampilkan peta perjalanan malam itu setelah dari Nando's. Kita memilih untuk jalan kaki sambil menikmati malam di kota Melbourne, sekaligus untuk berbelanja. Teman-teman saya bilang kalau di Bourke Street banyak sekali pertokoan yang bisa menjadi tempat wisata belanja. Apalagi karena peralihan musim dari Winter ke Spring, mereka akan melakukan Sale besar-besar untuk semua baju hangat. Saya langsung bersemangat kalau sudah mendengar kata-kata Sale😂. 
Peta perjalanan kaki
Oh ya buat kalian yang suka mengoleksi tumbler Starbucks, pas di depan Nando's ada gerai Starbucks. Saya dan keluarga membeli beberapa tumbler untuk koleksi pribadi dan oleh-oleh. Menurut saya tumblernya nggak begitu unik. Desainnya standar saja. Berbeda kalau kita ke Jepang dengan desain tumbler yang selalu berganti-ganti tiap musim. 
Starbucks
Karena Nando's berada di jalan Flinders, maka destinasi pertama adalah Stasiun kereta api Flinders. Stasiun ini merupkan ikon kota Melbourne yang sering diabadikan di souvenir. Lokasinya berada di persimpangan sudut jalan Flinders and Swanston. Stasiun ini melayani seluruh jaringan kereta api metropolitan di Melbourne. Flinders menjadi stasiun tersibuk di jaringan metropolitan Melbourne dan stasiun kereta tersibuk di Australia, dengan lebih dari 77.153 penumpang harian tercatat pada tahun 2017-2018. Flinders juga merupakan kereta api pertama di Australia dan pernah menjadi stasiun tersibuk di dunia pada akhir 1920-an.
Tampak belakang
Tampak samping
Bangunan stasiun utama selesai pada tahun 1909, yang menjadi landmark kota Melbourne terpopuler. Bangunan bergaya Art Nouveau (seni dekoratif terapan) yang biasa kita temui di negara-negara jajahan Inggris, dengan kubahnya yang menonjol, pintu masuk melengkung, menara, dan jam di atas pintu. Tercantum dalam Victorian Heritage Register, stasiun ini memiliki peron terpanjang di Australia yang panjangnya 708 meter dan juga merupakan peron kereta api terpanjang keempat di dunia. Sayangnya kami tidak masuk ke dalam stasiun karena terlalu ramai. Mungkin karena jam orang pulang kerja, stasiun jadi terlihat dipenuhi ribuan manusia. Saya hanya berdiri diantara dua penyeberangan jalan yang katanya tersibuk di Melbourne seraya memperhatikan orang-orang berlalu-lalang. Tapi menurut saya lebih ramai lagi pejalan kaki yang menyebrang di jalanan Shibuya Tokyo sampai terkenal di seluruh dunia.
Flinders tampak depan
Kami melanjutkan berjalan kaki melewati sebuah Katedral yang sangat terkenal di Melbourne bernama Katedral Anglikan St Paul. Kathedral ini merupakan sebuah bangunan bersejarah yang indah, dengan desain bangunan seperti istana di Inggris. Katedral St Paulus dibangun pada tahun 1836 dipimpin oleh Dr Alexander Thomson. Kathedral sengaja  dibangun dekat dengan stasiun kereta api Flinders dan Tram agar tepat berada di jantung kehidupan kota. Jadi masyarakat pun teringat untuk beribadah.
Kathedral St Paul
Setelah melewati Kathedral, awalnya kami mau melihat Festival of Lights di State Library, tapi malah kelewatan jamnya. Padahal udah naik tram kesana dari Flinders, tapi nggak ada apa-apa disana. Ya udah deh, balik lagi ke jalan yang sama. Saya dan keluarga melanjutkan berjalan kaki sampai di deretan pertokoan di jalan Bourke. Nah jalanan ini yang benar-benar membuat saya bahagia karena bisa cuci mata melihat-lihat barang lucu dan diskon. Saya masuk ke toko skin care bernama LUSH yang wanginya sudah tercium dari pintu. Bentuknya juga lucu-lucu banget seperti bola warna-warni. Saya hanya mencium aroma saja dan melihat-lihat produk mereka, lalu keluar toko tanpa beli apa-apa.
Sabun lucu-lucu
Body and Lip Butter
Saya masuk dan keluar beberapa toko. Kebanyakan mereka memang mendiskon pakaian musim dingin tapi kalau saya beli juga buat apa. Mana mungkin bisa memakai baju tebal di Indonesia, sedangkan ke luar negri di musim dingin saja agak jarang. Saya sempat mampir ke Sephora seperti biasa untuk membeli pelembab wajah karena udara dingin membuat muka saya kering banget. Saya juga menikmati Street Art di jalan yang unik-unik. Paling unik sih melihat pertunjukan tengkorak seolah-olah sedang bernyanyi dengan serius. Padahal hanya digerakin oleh orangnya.
Tengkorak bernyanyi
Cotton On Sale
Yang paling menakjubkan adalah gerai H & M yang luarrrr biasa besarnya. Mereka membuka toko di sebuah bangunan bergaya Victoria dengan tiga lantai. Jangan tanya betapa luasnya di dalam karena saya aja hampir nyasar. Udah seperti satu Mall sendiri untuk merek H & M aja. Tokonya juga mewah, dengan pilar-pilar besar, atap tinggi, dengan perabotan klasik. Jadi terlihat seperti pertokoan barang mewah seperti Chanel atau Gucci di Hong Kong. Padahal harga pakaian H & M nggak begitu mahal, standar dibawah sejuta semua.
Gedung sangat tinggi
Dari lantai 3
Saya dan adik ipar yang paling semangat untuk menelusuri satu demi satu ruang-ruang di gedung H & M, sedangkan Mama sudah duduk karena lelah. Kami sampai naik ke lantai tiga, masuk ke setiap ruangan, berfoto, tapi tidak membeli apa-apa😅. Agak bingung kalau mau beli sweater super tebal atau coat/mantel mau dipake' kemana? Kecuali kalau kita ke toko ini di musim panas, pasti banyak pakaian yang bisa dibeli untuk dipakai di negara sendiri. Oh ya saya mengambil foto H&M tampak depan dari Google biar kalian biasa membayangkan betapa besarnya toko ini.
http://www.melbournesgpo.com/story/
Setelah puas belanja dan jalan-jalan, kaki juga sudah pegal sekali, maka kami memutuskan untuk pulang dengan naik Tram kembali. Dari Bourke Station naik tram langsung ke Southbank tanpa transit sekitar 12 menit saja. Dari Southbank station juga udah dekat dengan apartemen. Alhamdulillah tidak memerlukan waktu lama untuk tiba di apartemen karena memang sudah capek banget, pengen cepat istirahat🥱. Mana apartemen enak banget dan bikin betah, jadi pengen cepat-cepat pulang.
Anggur, Nanking Cherry, Grapefruit
Setelah mandi, saya lanjut bekerja sejenak sambil menikmati buah-buahan yang dibeli di Victoria Market. Saya makan Nanking Cherry, baru kali ini saya mencoba Cherry dengan rasa yang manis. Saya juga makan Grapefruit, sejenis jeruk dengan daging berwarna ungu. Asam sih, tapi enak. Kalau anggur kan banyak juga di Indonesia. Kami makan banyak banget buah malam itu sehingga membuat pencernaan lancar besoknya, hahaha😂.

Baiklah, nanti saya lanjutkan lagi cerita ke Botanical Garden. Sampai jumpa!
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip