November 05, 2019

Sydney Opera House dan Harbour Bridge

Kami tiba di Eastlakes 10 menit kemudian, tempat dimana keluarga Bang Suryadi tinggal. Beliau adalah salah satu sahabat abang saya dan juga tetangga saya di kampung yang sudah seperti saudara sendiri. Karena mendapatkan beasiswa di University New South Wales (UNSW), maka seluruh keluarganya dibawa ke Australia. Rasanya agak aneh melihat mereka di Sydney, seolah-olah saya sedang pulang kampung dan bertemu dengan mereka. Hanya saja sekarang berbeda negara.

Istri Bang Suryadi, si Dora, senang banget ketemu sama Mama bahkan sampai terharu dan menitikkan air mata😢. Mungkin karena seperti ketemu Ibu sendiri, atau mungkin saking kangennya dengan keluarga di kampung. Maklumlah, hidup di negara orang tanpa ada sanak saudara tidak jarang membuat kita homesick. Selagi homesick, eh saudara dari kampung datang bersilaturahmi. Kebayang betapa bahagianya😣. Dulu juga sewaktu ke Abu Dhabi, saudara saya disana senang banget ketika kami datang. Apalagi sambil membawa emping, kerupuk khas dari negara kita. Melihat emping, matanya langsung berbinar-binar seolah-olah kita membawa makanan dari surga. Mana mungkin menemukan emping di Abu Dhabi.

Kami dipersilahkan masuk ke apartemen Bang Suryadi. Rencananya kami akan menumpang mandi dan menaruh barang, sebelum melanjutkan perjalanan ke Melbourne nanti malam. Sebelum mandi, kita mengobrol dan beristirahat sejenak sambil bergantian mandi. Mana saya sempat salah menyalakan air panas dan nggak nyala. Awalnya sempat nyala sebentar, lalu mati lagi. Berhubung udah terlanjur memakai sabun, mau nggak mau harus bilas badan dengan mandi air dingin di musim dingin🥶. Duh, saya sampai gemetaran. Mau sikat gigi aja nggak sanggup ketika harus berkumur-kumur kecuali pakai air panas. Karena kedinginan di kamar mandi, jadilah mandi buru-buru. Nggak tau deh udah bersih mandinya apa nggak.
Sekitar apartemen
Bersiap berangkat
Setelah semua selesai mandi, adik saya Achmad dan Bang Suryadi pergi ke minimarket untuk mengisi saldo di kartu yang bakalan digunakan untuk naik kendaraan umum. Sama seperti kartu serbaguna yang biasa sering kita pakai di Jakarta, kartu di Sydney juga bisa dipakai untuk naik bus, MRT, dan ferry. Setelah mereka pulang, barulah kami memulai perjalanan hari ini. Kita jalan kaki menuju halte bus sekitar 2 menit. Kalau mencari rute di Google Maps, kalian bisa langsung menemukan nomor bus atau jalur MRT tanpa kesulitan sedikit pun dengan menggunakan Google Maps. Sepertinya untuk urusan transportasi akan saya bahas di postingan tersendiri nanti saja ya. Biar lebih enak ketika mau membacanya.
Menunggu bus
Sydney Harbour Bridge
Setelah turun dari MRT dan berjalan kaki sedikit ke arah pelabuhan, kalian akan melihat jembatan lengkung berkerangka besi bernama Harbour Bridge yang berdiri kokoh diatas pelabuhan Sydney di Port Jackson. Jembatan ini dilintasi kereta api, kendaraan umum, sepeda, dan pejalan kaki antara Sydney Central Business District (CBD) dan North Shore. Pemandangan jembatan ini meyakinkan saya kalau saya sudah berada di Sydney. Apalagi kalian langsung bisa melihat Sydney Opera House di dekatnya. Jembatan ini juga dijuluki "The Coathanger" (seolah-olah seperti tempat menggantungkan 'coat'-jaket) karena desain berbasis lengkungannya. Bayangkan bagaimana melengkungkan baja yang berukuran 134 meter dari atas permukaan air ini? Jembatan ini juga dinobatkan sebagai jembatan terluas di dunia dengan lebar 48,8 meter sebelum pembangunan Jembatan Port Mann baru di Vancouver selesai pada 2012.
Berpose di jembatan
Di bawah arahan Dr. John Bradfield dari Departemen Pekerjaan Umum NSW, Harbour Bridge dirancang dan dibangun oleh perusahaan Inggris Dorman Long and Co Ltd dari Middlesbrough, dan dibuka pada tahun 1932. Desain jembatan dipengaruhi oleh Hell Gate Bridge di New York City. Sydney Harbour Bridge ditambahkan ke Daftar Warisan Nasional Australia pada 19 Maret 2007 dan ke Daftar Warisan Negara Bagian New South Wales pada 25 Juni 1999.
Foto keluarga
Saya sangat menikmati pemandangan jembatan ini dengan perairan yang luas dan burung camar terbang kesana kemari. Belum lagi saat itu suhu udara terasa dingin sekali dengan angin sangat kencang. Maklumlah, kalau di pelabuhan pasti anginnya gede. Kalian bisa menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan menelusuri pinggir pelabuhan dimana banyak pertokoan dan cafe. Yang uniknya, banyak sekali burung camar bertengger di tiang-tiang Cafe sampai harus diusir oleh pelayan atau pengunjung Cafe.

Sydney Opera House
Kalau sudah ke Sydney, Opera House merupakan destinasi yang harus dan wajib dikunjungi. Rasanya sewaktu melihat gedung Opera dari kejauhan saja saya langsung meyakinkan diri saya kalau saya sudah benar-benar berada di kota Sydney. Rasanya seperti mimpi bisa kesini karena dulu hanya berupa angan-angan saja. Ntah berapa kali mau ke Sydney pakai AirAsia karena merasa sudah cukup murah, tetapi Allah subhanahu wata'ala malah memberikan maskapai full-board terbaik di Australia yaitu Qantas untuk kita naiki dengan harga lebih murah lagi dari AirAsia. Alhamdulillah.
Sydney Opera House
Sydney Opera House adalah pusat seni pertunjukan di Sydney Harbour, New South Wales Australia, yang merupakan salah satu bangunan paling terkenal di abad ke-20. Gedung opera ini dirancang oleh arsitek Denmark Jørn Utzon yang memenangkan kompetisi desain internasioal untuk gedung ini pada tahun 1957. Pemerintah New South Wales, yang dipimpin oleh Joseph Cahill, baru mengizinkan pekerjaan pembangunan gedung dimulai pada tahun 1958 dengan Utzon mengarahkan pembangunan. Setelah kurang lebih 15 tahun pembangunan, Sydney Opera House secara resmi dibuka pada 20 Oktober 1973. 
Santai
Saya dan keluarga berjalan mendekat ke gedung raksasa ini. Kalau dilihat lebih dekat memang gedung ini besar dan tinggi sekali. Gedung ini terdiri dari beberapa tempat pertunjukan, yang bersama-sama menyelenggarakan lebih dari 1,500 pertunjukan setiap tahun, dan dihadiri oleh lebih dari 1,2 juta orang. Pertunjukan disini ditampilkan oleh banyak seniman, termasuk tiga perusahaan: Opera Australia, Sydney Theatre Company, dan Sydney Symphony Orchestra. Sayangnya saya tidak masuk ke dalam gedung untuk menikmati pertunjukan karena keterbatasan waktu harus mengejar pesawat ke Melbourne.

Pada tanggal 28 Juni 2007, Gedung Opera Sydney menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO. Gedung ini juga pernah menjadi finalis dalam New 7 Wonders of the World. Sebagai salah satu tempat wisata paling populer di Australia, bangunan ini dikunjungi lebih dari delapan juta orang setiap tahun, dan sekitar 350.000 pengunjung melakukan tur berkeliling gedung. Bangunan ini dikelola oleh Sydney Opera House Trust, sebuah agen dari Pemerintah Negara Bagian New South Wales.

Kebanyakan pengunjung datang kemari untuk berfoto dan menikmati pemandangan. Banyak juga yang jogging dalam kondisi udara yang dingin. Setelah puas menikmati dua ikon kota Sydney ini, saya dan keluarga melanjutkan perjalanan untuk mencari makanan halal karena sudah sore dan kita belum makan.

Nanti akan saya tuliskan lagi ya. Sampai jumpa!

Sumber: wikipedia.com
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip