November 01, 2019

Welcome To Australia

Tulisan ini ditulis setelah lebih 2 bulan sejak saya pulang dari negara kangguru🦘dan koala🐨. Alhamdulillah kesampaian juga bisa ke negara ini. Dulu di tahun 2016, saya pernah transit di Gold Coast sepulang dari New Zealand. Tapi tidak bisa dihitung sebagai negara yang pernah di eksplorasi karena memang cuma transit 45 menit. Pada saat itu saya cuma ke toilet dan beli souvenir, lalu naik pesawat lagi menuju Kuala Lumpur.

Bulan Februari kemarin, saya mendapat tiket pesawat Qantas Jakarta - Sydney pulang pergi seharga Rp. 3,5 juta sudah sekaligus asuransi perjalanan (sekarang kalau pergi ke luar negri jadi beli asuransi agar ada pergantian apabila barang hilang, koper rusak, atau penerbangan ditunda). Saya beli tiket untuk adik-adik dan Mama. Hampir tidak pernah berpikir untuk membawa Mama ke Sydney, tapi alhamdulillah bisa berangkat juga. Duh, jadi teringat Papa deh. Dulu kami pernah sudah beli tiket ke Shanghai sekeluarga tapi tidak jadi berangkat karena Papa sakit sampai meninggal. Kalau teringat akan hal itu, rasanya masih ada luka yang belum sembuh di hati. Bahkan sampai hari ini😢.

Pengurusan Visa alhamdulillah juga berjalan lancar. Adik-adik dan Mama berangkat ke Jakarta dari Banda Aceh H-3 keberangkatan agar sempat beristirahat dulu sebelum perjalanan 6 jam lebih nonstop dari Jakarta menuju Sydney. Akibat terlalu banyak membaca artikel di internet yang menuliskan kalau kita tidak boleh bawa ini itu ke Aussie karena pengecekan di bandara sangat ketat, jadilah nggak bawa sambal dan teri yang biasa kita lakukan. Takut di endus-endus sama anjing bandara, yang membuat kita tertahan lebih lama nantinya. Padahal, makanan di dalam kemasan semuanya aman. Kecuali olahan daging seperti rendang (kemaren sempat kepikiran membawa rendang karena masih suasana Idul Adha) dan keju (nah ini nggak mungkin bawa).

H-1 sebelum keberangkatan, saya baru menyadari kalau penerbangan lanjutan dari Sydney ke Melbourne yang telah saya booking ternyata salah jadwal. Seharusnya saya ingin booking pukul 10 AM (siang), malah yang dibooking 10 PM (malam). Baru sadar ketika mendapat email dari Virgin Australia sebagai pemberitahuan kalau kita sudah boleh melakukan web check-in. Duh, saya kurang teliti karena waktu itu sedang terburu-buru. Sempat panik, tarik napas, langsung berpikir cepat. Akhirnya saya mengontak host apartemen di Sydney dan Melbourne untuk melakukan beberapa perubahan, tapi ternyata tidak bisa karena waktunya terlalu mepet. Akhirnya saya menelepon Dora, istrinya Bang Suryadi untuk nebeng mandi dan taruh barang dulu sebelum berangkat ke Melbourne.

Rencana jadi agak berubah dari semula, tapi mungkin ada hikmahnya. Lain kali harus lebih teliti dalam mengecek harga tiket pesawat agar tidak merugikan. Oh ya, kita juga belum beli tiket pesawat balik dari Melbourne ke Sydney karena semakin dekat hari H, harga semakin mahal. Jadi menunda-nunda deh, berharap harga turun walaupun hanya sedikit.

Hari keberangkatan pun tiba. Kami berangkat menuju bandara Soekarno-Hatta setelah shalat Zuhur dan makan siang. Sepanjang perjalanan ke bandara saya mules banget lagi, terasa perjalanan begitu menyiksa😫😫😫. Sampai akhirnya ketika tiba di bandara, saya harus berlari ke toilet. Mungkin karena mau haid, jadilah perut terasa di aduk-aduk. Setelah selesai, kami check in. Kita sudah mempersiapkan hasil print out Visa, tapi ternyata nggak diminta oleh petugas check in. Katanya di data online sudah tertera kalau kita memiliki Visa. Check in lancar, imigrasi lancar, tibalah kami di ruang tunggu. Agak deg-degan juga karena udah lama nggak melakukan perjalanan yang jauh bersama keluarga. Terakhir ke Turki dulu dan itupun 1,5 tahun yang lalu. Sekitar pukul 21.30, kami boarding. Bismillahi majreha wa mursaha~

Kami sekeluarga duduk berempat berderet. Ketika pesawat sudah terbang, saya menarik selimut, menurunkan sandaran kursi, bersiap posisi untuk tidur. Tidak memerlukan waktu lama bagi saya untuk tertidur pulas. Saya terbangun sejenak untuk makan (oh ya untuk teman-teman Muslim, bisa meminta makanan halal di website Qantas), lalu tidur lagi. Terus saya terbangun juga di tengah malam ketika Mama minta temenin ke toilet. Saat itu ternyata sudah lebih setengah perjalanan dan kami hampir tiba di Sydney. Terlihat dari peta kalau pesawat kita sudah memasuki benua Australia. Saya terbangun lagi ketika akan shalat Shubuh baru deh nggak tidur lagi karena sudah akan mendarat. Enak juga kalau penerbangan malam karena waktu terasa singkat karena tidur bangun tidur bangun, begitu saja terus.
Makanan di pesawat
Sesampai di Sydney Kingsford International Airport, kami turun dari pesawat dan berjalan menuju imigrasi. Karena Mama sudah capek, saya dan Mama naik mobil golf sampai ke depan imigrasi, baru menunggu adik-adik. Banyak artikel yang saya baca kalau imigrasi bandara Sydney sangat ketat bahkan ada yang sampai ditanya kerja dimana di Indonesia dan mau kemana aja di Australia. Alhamdulillah saya dan keluarga aman-aman saja. Mungkin hanya beberapa detik di imigrasi, lalu ambil bagasi. Sempat deg-degan juga di pemeriksaan bagasi karena sepertinya saya terlalu banyak membaca blog orang yang kena random check. Alhamdulillah saya aman, lancar, dan mulussss. Nggak ada masalah sedikit pun di bandara. Intinya ikuti peraturan untuk tidak membawa makanan aneh-aneh, berpakaianlah yang baik agar nggak menimbulkan pertanyaan. Biasanya kalau berpakaian lusuh pasti mengundang kecurigaan (pernah liat di bandara Singapura ada yang pakai kaos tanpa lengan, celana super pendek, dan sendal jepit, sering tertahan di bandara). Jangan lupa isi form kedatangan yang dibagi di pesawat dengan sejelas mungkin.
Imigrasi Sydney
Hal pertama yang biasa kita lakukan ketika tiba di negara orang adalah membeli SIM Card. Karena diantara kita yang paling jarang main hp adalah Mama, jadi SIM Card dimasukkan ke hp Mama dan dijadikan modem. Kalau tidak salah, kami beli paket data seharga $45 untuk 70 giga. Bisa buat dibagi berempat. Oh ya, di Australia nggak ada Gojek dan Grab. Kalian harus menginstall Uber dan beberapa aplikasi transportasi online buatan lokal. Agak kaget melihat harga Uber dari bandara ke Eastlake (tempat Bang Suryadi tinggal) seharga $20an, padahal cuma kurang dari 6km. Ya mungkin kalau untuk mata uang disini, harga $20 seperti Rp. 20,000 kali ya. Makanya agak syok. 
Bandara Sydney
Alhamdulillah sampai
Untuk menaiki Uber juga ada tempat tersendiri di Bandara Kingsford. Kalian harus berjalan kaki menuju "Express Pick Up" area yang terletak 200m-300m dari pintu keluar. Cukup mudah menemukan tempat penjemputan ini karena kita tinggal menyebrang dari pintu keluar, lalu mengikuti tanda berwarna kuning saja melewati parkiran. Ketika sampai di area penjemputan, sudah terlihat mobil pesanan kami sedang parkir. Mungkin dia sudah menunggu kurang lebih 5 menit. Oh ya, peraturan berlalu-lintas di Australia sangat ketat, lebih ketat dari New Zealand. Kalian harus menggunakan sabuk pengaman bahkan untuk yang duduk di belakang. Supir Uber tidak akan mau jalan sebelum semua penumpang sudah memasang sabuk.

Baiklah, kami akan mengunjungi Eastlakes, tempat dimana keluarga Bang Suryadi tinggal. Nanti saya cerita lagi ya. Sampai jumpa!
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip