Desember 24, 2019

Bye Australia!

Semalam sebelum pulang ke Indonesia, setelah makan di Chinese Halal Restaurant, saya dan keluarga berjalan kaki menelusuri jalanan untuk pulang ke apartemen. Tidak terasa sudah seminggu kami di Australia dan sudah saatnya untuk pulang ke negri tercinta. Malam itu dingin sekali, tapi kami tidak menghiraukannya karena menganggap kapan lagi ya ke Australia. Sepertinya kalau bukan untuk bisnis trip, saya tidak akan merencanakan ke negara ini lagi. Kecuali mungkin ketika nanti sudah berkeluarga, mana tau anak-anak minta jalan-jalan ke Aussie.
Malam terakhir di Aussie
Karena apartemen kami dekat dengan Sydney Institute of Technology, jadi kita bisa melihat begitu banyak mahasiswa berlalu-lalang dan membuat suasana tidak sepi. Kita terus berjalan pelan-pelan supaya Mama juga tidak terlalu capek. Sempat mampir di toko coklat untuk membeli oleh-oleh (yang tidak ada cukup-cukupnya). Alhamdulillah ketemu kasir yang baik dan kami mendapatkan diskon karena membeli banyak coklat. Di jalan menuju apartemen, Tara (adik ipar saya) mengambil daun Maple (karena tidak ada di Indonesia) untuk kenang-kenangan. Sampai sekarang masih ada daun maplenya di dalam buku saya.
Daun Maple
Apartemen kita berada di dekat sebuah bangunan seperti kastil. Ntah apa fungsinya tapi agak seram juga kalau malam. Untung saja daerah sini ramai orang, jadi kita tidak perlu berpikir macam-macam.  Australia juga merupakan negara dengan tingkat kriminalitas sangat rendah, jadi insya Allah negara ini aman-aman saja. Jangan terlalu memusingkan berita di media ya. Karena bisa jadi, berita ditulis hanya untuk menarik pembaca saja. Sesampai di apartemen, kami mulai packing. Seperti biasa kalau sudah mau pulang, pasti isi koper jadi penuh banget, seolah-olah kami belanja banyak. Padahal yang banyak adalah oleh-oleh, belanjaan untuk diri sendiri malah sedikit sekali. Belajar dari pengalaman, sekarang saya jadi malas membelikan oleh-oleh terlalu banyak untuk orang-orang apalagi yang berupa barang bukan untuk koleksi. Kebanyakan cuma jadi rongsokan saja di rumah. Mending belanja untuk diri sendiri, sudah tau apa-apa saja yang pasti terpakai.

Selesai packing, kami tidur. Besoknya bangun pagi, masak mie instan untuk sarapan, lalu makan bareng-bareng. Setelah itu kita bersiap untuk berangkat. Jadwal pesawat Qantas pukul 10:10, sehingga dari jam 7:30 sudah berangkat menuju bandara. Perjalanan ke bandara ditempuh dalam waktu setengah jam saja, tapi cukup membuat saya melamun sambil melihat keluar jendela mobil. Sampai jumpa lagi nanti ya Aussie😊😊😊.

Setelah sampai di bandara, kami check in, proses ke imigrasi dan pengecekan barang, baru masuk ruang tunggu yang sudah seperti Mall. Enaknya di bandara-bandara luar negri, pasti ada Mall di ruang tunggu. Mana banyak banget Sale lagi. Saya langsung jalan-jalan mencari makeup, parfum, dan pernak-pernik. Sekaligus menghabiskan uang pecahan Australian Dollar karena sampai ke Indonesia juga susah ditukar. Alhasil, jadi penuh juga ransel ini dengan barang belanjaan.
Waaaah!
Sesaat sebelum panggilan boarding, kita ke toilet terlebih dahulu, baru naik pesawat. Bersiaplah penerbangan selama 8 jam 40 menit ke Singapura untuk transit, baru ke Jakarta. Karena masih suasana pagi hari, saya agak kesulitan untuk tidur di pesawat. Cuma tidur 2 jam diawal saja karena memang masih ngantuk banget, dan terbangun ketika makanan dibagikan. Selanjutnya malah susah tidur. Jadi nonton film aja sampai ke Singapura. Oh ya, sebelum mendarat, karena kami meminta makanan halal, maka disajikanlah burger bayam. Duh, rasanya aneh banget😖. Mending makan roti dan bayam secara terpisah, daripada digabungkan begitu.

Sesampai di Singapura, pinggang dan kaki sudah pada pegal semua. Ntah karena kelamaan duduk dipesawat. Kasihan Mama sampai sakit lutut, jadi kita suruh duduk di kursi roda agar bisa menyamakan langkah. Kalau Mama memaksa mau jalan kaki (sering banget memaksakan diri😐), pasti ketinggalan langkah jalannya sama kita yang masih muda. Mending Mama duduk di kursi roda dan kita tinggal dorong aja kemana pun. Awalnya Mama sempat nggak mau pakai kursi roda, sampai saya dan Tara yang duduk di kursi roda. Kita jadi main dorong-dorongan karena enak dan ringan banget kursi rodanya. Sewaktu Mama melihat kita seru-seruan naik kursi roda, baru Mama mau naik. Hufff!!
Seru-seruan pakai kursi roda
Mendorong Mama
Sebelum boarding, kita sempat makan dulu. Udah kangen makanan Asia, jadi kita memesan Nasi Lemak dan Teh Tarik. Duh, saat itu kita merasa makanannya enak banget dibandingkan dengan yang di pesawat tadi. Kita makan dengan lahap dan cepat, baru kemudian masuk ke boarding gate. Nggak lama setelah itu, kita akhirnya naik Jetstar menuju Jakarta. Walaupun nggak pakai Qantas lagi, tapi fasilitas yang kita dapatkan di Jetstar sama dengan pesawat Full Board karena memang connecting flightnya sudah bekerja sama dengan Qantas. Jadi kita dapat makan malam juga di pesawat.

Sesampai di Jakarta, udara langsung panas. Saya membuka jaket thermal karena sudah keringatan. Alhamdulillah sampai di Indonesia dengan selamat. Walaupun badan capek banget, kita bahagia. Liburan memang membawa efek positif seperti mengurangi stres dan menyehatkan pikiran. Walaupun sampai rumah rasanya capek banget dan pengen langsung tidur, tapi tetap bahagia.

Baiklah, di postingan setelah ini saya akan menuliskan tentang kesimpulan perjalanan ke Australia. Semangat💪💪💪, tinggal satu postingan lagi! Sampai jumpa...❤️
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip