Desember 06, 2019

Sydney Transportation

Setelah menunda untuk menuliskan segala macam transportasi di Sydney, dipostingan kali ini saya akan membahasnya secara rinci supaya memudahkan kalian untuk membacanya. Siapa tau ada yang sedang googling tentang berkendara atau moda transportasi di Sydney, bisa masuk ke artikel yang saya tulis dan sudah lengkap semuanya.

Hal yang pertama kalian lakukan kalau mau menuju suatu lokasi di Sydney, gunakan Google Maps dulu. Contohnya saya mau mencari moda transportasi dari Eastlakes ke Harbour Bridge. Tinggal masukkan tujuan ke Google Maps, maka kemudian muncul beberapa alternatif rute menggunakan bus (lambangnya 'B') dan MRT (lambangnya 'T'). Karena kami mau mencoba semua moda, jadilah kita memilih rute yang bisa menaiki bus dan kereta. Perbedaan waktu tempuh hanya sedikit kok, paling 1-5 menit saja.
Google Maps
Baiklah, saya akan menjabarkan 3 moda transportasi yang saya naiki untuk berkeliling kota Sydney.

1. Bus 🚌
Moda transportasi yang satu ini sepertinya memiliki rute paling banyak di Sydney. Kalian bisa menaiki bus bahkan untuk menelusuri jalan-jalan sampai pelosok kota. Dari Apartemen Bang Suryadi menuju kemana pun, kami pasti naik bus. Selain nyaman banget, busnya juga mirip busway terbaru yang ada di Jakarta.
Tempat menunggu bus
Bus datang
Ada dua Bus Stop di dekat apartemen Bang Suryadi. Kalau lagi beruntung (jadwalnya pas), kami bisa naik bus langsung di lorong terdekat apartemen. Apabila jadwalnya sudah kelewatan, biasanya kami harus jalan sekitar 500 meter menuju Bus Stop berikutnya. Karena naik bus dari daerah pemukiman, pengendara bus biasanya agak sepi. Berbeda dengan area kampus dan pusat perbelanjaan yang biasanya sangat ramai. Saya hampir tidak pernah berdiri di dalam bus, selalu dapat tempat duduk.
Suasana dalam bus
Mirip busway di Indonesia
Pernah dua kali kita mengalami kejadian tidak mengenakkan di dalam bus. Pertama, waktu itu ada wanita yang berteriak-teriak di dalam bus seolah sedang curhat. Awalnya saya sedang main Pokemon di hp dan tidak terlalu peduli dengan apa yang dia omongin. Sampai akhirnya wanita itu terus berteriak dan mendekat ke arah saya karena dia mau menegur cewek dibelakang yang merekam video ketika dia ngoceh. Wanita itu membentak si cewek di belakang saya dan saya jadi merasa terganggu. Ibu-ibu bule' yang duduk di sebelah saya pun ikut-ikutan merasa tidak nyaman. Dengan bahasa tubuh, ibu bule' itu mengisyaratkan kepada saya kalau wanita itu sudah tidak waras.

Kedua, ada seorang bapak-bapak mengajak 'ngobrol adik saya. Awalnya beliau memberikan kursi untuk adik saya yang ingin duduk dekat istrinya. Eh malah diajak ngobrol nggak jelas. Saya nggak terlalu ingat isi obrolannya. Yang pasti udah nggak nyambung ntah kemana dia ngoceh. Pakaian yang dipakai Bapak itu pun lusuh banget dan Bapaknya bau🤢. Kita berusaha semaksimal mungkin untuk biasa aja tanpa menunjukkan wajah kurang senang. Tapi perjalanan jadi terasa lama banget karena direcokin sama dia. Rasanya lega banget sewaktu sampai tujuan. Fiuhh...😑😑

2. MRT 🚇
Sepertinya Mass Rapid Transit selalu jadi moda transportasi wajib di kota besar. Setiap negara maju yang saya kunjungi, saya pasti berusaha untuk naik MRT. Padahal suasana di dalam kereta sama aja dengan di negara lain, bahkan sama dengan MRT di Jakarta. Hanya saja MRT di Sydney memiliki dua tingkat. Nah, ini pertama kalinya saya melihat ada dua lantai di dalam kereta. Bahkan di Jepang pun saya nggak melihatnya (apa mungkin ada, tapi saya yang nggak naik ya🤔).
Ada dua tingkat
Latar belakang Harbour Bridge
MRT merupakan moda transportasi untuk menjangkau jarak yang lumayan jauh. Sebenarnya dari apartemen Bang Suryadi bisa naik bus ke Sydney Harbour. Bberhubung kita ingin mengendarai macam-macam transportasi dan ingin merasakan jadi warga lokal, jadilah naik MRT juga. Sekaligus mengambil foto dengan latar belakang Harbour Bridge yang megah atau gedung-gedung kota Sydney yang mirip kastil-kastil di Inggris.
Sydney Clock Tower
3. Ferry ⛴️
Karena Sydney dilalui oleh perairan dan memiliki banyak teluk, pemerintah negara Australia memaksimalkan juga moda transportasi air dengan menggunakan kapal feri. Waktu itu kami ingin makan siang di sebuah resto halal yang kalau menggunakan moda transportasi darat akan terlalu memutar dan jadinya malah terlalu lama di jalan. Akhirnya Bang Suryadi mengajak kita naik feri aja, sekaligus mencoba moda transportasi yang berbeda  agar memiliki pengalaman yang berbeda pula.
Google Maps
Saya coba membuka Google Maps dan mencari jalur feri. Kalian bisa melihat logo F melambangkan feri dan memotong rute perjalanan hampir setengahnya. Yang uniknya lagi, untuk akses menuju feri juga kita bisa menggunakan metode pembayaran tap-and-go menggunakan kartu yang biasa kita pakai untuk MRT dan bus. 
Gerbang tap and go
Sedang memasang jembatan
Ketika kapal feri merapat, kita harus menunggu para petugas untuk menghubungkan feri dan dermaga dengan jembatan penyebrangan terlebih dahulu. Setelah penumpang di dalam feri keluar, baru kita boleh naik kapal. Saat itu angin berhembus begitu kencang dan riak-riak ombak di perairan lumayan tinggi. Insya Allah perjalanan ini aman dan menyenangkan, jadi kita tidak takut.
Duduk di dek
Pose dulu
Karena ingin menikmati pemandangan perairan dan mengambil foto sebanyak mungkin, maka kami duduk di dek feri. Jadi teringat sewaktu menyusuri Selat Bosphorus di Turki dulu. Awalnya kita kegirangan menikmati pemandangan indah sekitar perairan, seolah-olah kita kuat menerjang angin yang begitu dingin. Kita berfoto sambil menahan dinginnya hembusan angin. Sampai pada saat jari-jari saya sudah beku, mau memencet kamera atau menyentuh touch screen hp saja sudah tidak kuat lagi. Kami semua kedinginan, super duper kedinginan🥶🥶🥶. Bahkan kerudung dan baju terus-menerus dihempas angin. Oh tidak! 
Di dalam kapal
Akhirnya kami memutuskan untuk masuk kedalam kapal. Fiuhhh, suasana langsung menghangat. Memang sih nggak bisa melihat apa pun kalau sedang berada di dalam kapal, tapi sepertinya kita sudah puas berfoto dan merekam video tadi. Daripada dipaksain nanti malah mati beku🥶.

Saat ini, sudah lebih dari 14 juta orang melintasi Sydney Harbour dengan feri setiap tahun. Kapal-kapal hijau-kuning meluncur keluar dari pusat utama Circular Quay untuk menuju ke barat di atas Sungai Parramatta, berlayar ke utara ke perairan Manly atau ke timur Teluk Watsons. Total ada 32 kapal feri yang menghubungkan Sydneysiders dengan 29 dermaga di 37 km dari pelabuhan. Menaiki kapal feri adalah alternatif yang murah untuk berwisata di perairan Sydney karena bisa sekaligus menikmati pemandangan spektakuler, dan dapat juga mengakses pulau-pulau di sekitar pelabuhan Sydney yang indah. Kita juga dapat mengunjungi lokasi dengan mercusuar yang menakjubkan. Sayangnya kami tidak ke mercusuar karena singkatnya waktu.

Baiklah, selanjutnya saya akan membahas tempat belanja. Atau kuliner dulu ya? Tergantung mood besok deh. Stay tuned!
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip