Desember 04, 2019

University of Sydney

Hari itu sebenarnya rencana saya dan keluarga adalah pergi ke Blue Mountain. Saya sudah bangun pagi, membuat sarapan untuk keluarga, mandi, dan bersiap-siap. Pokoknya kita semua hari itu beres cepat. Kami janjian dengan Bang Suryadi sekitar jam 7.30 pagi untuk menuju Blue Montain. Tidak lupa membawa jaket 3 lapis karena suhu disana pasti masih dingin banget.

Sayangnya, cuaca pada saat itu kurang bersahabat. Dari pagi hujan deras dan suhu udara di Sydney saja dingggiinnnn banget🥶. Awalnya masih berharap bisa ke Blue Montain dan tetap berangkat ke apartemen Bang Suryadi pukul 7.30 pagi. Sesampai disana, Bang Suryadi bilang kalau mau melihat scenic view (pemandangan dari atas) menggunakan cable car tidak mungkin kalau sedang hujan karena daerah pegunungan sudah dapat dipastikan akan berkabut. Hiks, jadi kecewa berat☹️☹️☹️. Selama di Australia sama sekali nggak berwisata ke alam seperti yang saya pernah lakukan di New Zealand. Tapi mau 'gimana lagi, mungkin Allah belum menginjinkan kita kesana😔. 

Kita akhirnya mencari alternatif lain. Mau kemana ya hari ini🤔? Kata adik saya, temannya menyarankan untuk mengunjungi University of Sydney (UNSYD). Hah? Ngapain ke universitas? Eits jangan salah, karena bangunannya seperti Hogwarts, sekolah sihir di film Harry Potter. Wah, saya langsung antusias lagi, mengingat memang negara-negara jajahan Inggris memiliki bangunan kampus yang keren dan megah. Kami juga memutuskan untuk jalan-jalan menggunakan kendaraan umum saja, jadinya Bang Suryadi dan Amad harus balikin dulu mobil yang kita sewa kemarin. Ternyata mobil itu pun lampun sen-nya rusak. Untung aja kemarin nggak ada pemeriksaan lampu karena peraturan berlalu-lintas di Australia sangat ketat.

Kami naik bus dari Eastlake ke UNSYD. Sempat transit bus yang membuat kami harus menunggu di halte. Saat itu angin berhembus kencang membuat telapak tangan dan wajah saya dingin sekali. Kalau di dalam bus masih mending nggak begitu dingin. Padahal suhu hari itu cuma 10 derajat dan hujan. Dulu sewaktu di Jepang dan Korea, hujan membuat suhu udara sedikit lebih hangat. Hal ini berkebalikan dengan di Australia karena hujan membuat udara semakin dingin. Apa karena Australia berada dekat dengan kutub selatan, sehingga kalau hujan maka udara akan berkali-lipat lebih dingin. Saking dinginnya, semua jaket yang awalnya saya bawa untuk berfoto saja, jadi dipakai semua. Dinginnnn banget hari itu🥶🥶🥶. Kasihan Mama, baru kali ini merasakan udara sedingin itu.
University of Sydney
Antusias sekali

Sesampai di halte bus UNSYD, angin masih sangat kencang dan saya hampir terhempas. Kami naik lift terlebih dahulu ke pelataran kampus baru bisa masuk ke area dimana mahasiswa berlalu lalang. Duh, serasa menjadi mahasiswa lagi. Saya sebenarnya sangat ingin merasakan kuliah di luar negri, tapi sepertinya untuk sekarang-sekarang tidak bisa lagi deh. Kecuali Allah mengijinkan. Oh ya, kalau mau jalan kaki di area kampus jadi harus setengah berlari untuk menerjang angin. Ketika hari semakin siang, barulah angin sudah mulai berkurang dan kami jadi bisa menikmati UNSYD tanpa harus merasa terlalu beku. Universitas ini sangatttt luas, besar, dan megah, sangat mirip dengan Hogwarts dimana gedung kampus seperti kastil dengan pilar-pilar besar.
Ada yang curhat di lift 😅
Mama sudah hampir beku
University of Sydney adalah universitas pertama di Australia yang didirikan pada tahun 1850. Universitas ini dianggap sebagai salah satu universitas terkemuka di dunia yang merupakan salah satu dari 6 universitas yang terbuat dari batu pasir di Australia. Kampus in juga masuk dalam 10 besar universitas terindah di dunia berdasarkan media British Daily Telegraph dan The Huffington Post. Tidak heran kalau memang tempatnya sangat instagramable bahkan di semua sisi. Siap-siap membawa Memory Card berkapasitas gede dan batre kamera dan hp yang banyak ya. Jangan lupa bawa powerbank juga biar maksimal dalam mengambil foto dan nggak kehabisan batre.
Tempat penitipan sepeda
Berpose di depan gedung utama
Pada 2018 sampai 2019, World University Rankings menempatkan University of Sydney sebagai salah satu dari 25 universitas paling terkemuka di dunia. Lima penerima Nobel dan dua penerima hadiah Crafoord (penghargaan untuk ilmu pengetahuan) telah berafiliasi dengan universitas ini. Kampus ini juga telah mendidik tujuh perdana menteri Australia, dua Gubernur Jenderal Australia, sembilan Gubernur negara bagian dan administrator wilayah, juga 24 hakim agung Pengadilan Tinggi Australia. Sydney telah menghasilkan 110 penerima beasiswa Rhodes dan 19 penerima beasiswa Gates.
Lambang kampus
Bukan hanya kita saja yang sibuk mengambil foto di area kampus. Banyak sekali turis yang sengaja datang kesini untuk berfoto. Eh tunggu, mereka turis apa orang tua mahasiswa ya🤔? Terlalu majemuk orang-orang yang kuliah disini. Mayoritas orang China sih. Dimana-mana di Sydney dan Melbourne, kalian akan melihat orang China. Bahkan yang mengendarai mobil-mobil mewah pun orang China. Warga lokal atau bule' terlihat lebih sedikit disini. 
Berfoto ala Queen Victoria versi syariah
Setelah puas berfoto di luar area universitas, kami masuk ke lorong-lorong kampus yang sangat indah. Seolah-olah kita sedang berada di sebuah kastil yang begitu luas. Untung adik ipar saya membawa mantel bulu-bulu. Jadi kita bisa berpose seolah-olah ratu Victoria yang sedang berada di kastil sedang merenung seraya duduk di jendela. Ya mirip-mirip 'dikitlah dengan sang ratu, tapi versi syariah😆😆😆.

Kami kemudian duduk di pinggir jendela seraya menikmati suasana mendung yang dingin. Jadi terbawa perasaan mellow kalau suasananya seperti ini. Kami sekalian makan siang disini karena si Dora membawa bekal yang sudah dimasaknya di rumah untuk menghindari kebingungan dalam mencari makanan halal di area kampus. Untuk kalian yang mau shalat, bisa memilih tempat agak di pojokan untuk menggelar sajadah. Kita bisa berwudhu di toilet kampus yang super bersih, tapi airnya sangat dingin🥶.
Lorong-lorong kampus
Kita masih berjalan menelusuri lorong-lorong kampus sampai sore. Asyik sekali di kampus ini sampai kami hampir lupa waktu. Kalau musim panas, kita bisa sekalian piknik di halaman rumput sambil membawa makanan. Semoga suatu hari bisa kesini lagi. Aminnn🤲.

Baiklah, di postingan berikutnya saya akan membahas transportasi, kuliner, dan tempat belanja di Sydney. Semua dalam masing-masing postingan karena nggak mungkin untuk menyatukan semua cerita di satu artikel. Nanti malah kurang indah. 

Oke deh, sampai jumpa lagi!
Reactions:

1 comments:

N Firmansyah mengatakan...

Berasa ikutan jalan-jalan bacanya, wkwk. Makasih kak udah bagiin ceritanya. Aku tunggu bahasan kuliner dan tempat belanjanya. Hehe

Follow me

My Trip