Desember 19, 2020

Odontektomi Kedua

Setelah menunda terus, akhirnya saya melakukan operasi gigi bungsu (odontectomy) lagi. Kali ini giliran gigi pojok sebelah kanan yang menjadi korban😨. Sebenarnya sudah saya usahakan untuk tidak dicabut, karena kalau dilihat dari hasil rotgen panoramic memang gigi ini tidak terlalu mendesak gigi depannya. Tetapi giginya sudah terlalu sering ditambal dan rusak lagi tambalannya. Terlalu sering juga cenat-cenut yang membuat gusi saya bengkak. Yang paling menyebalkan adalah saya jadi susah mengunyah di sisi sebelah kanan. Setelah konsultasi ke beberapa dokter, akhirnya saya putuskan untuk dicabut saja.

Yang kuning bakalan dicabut, yang merah sudah dicabut

Saya putuskan untuk operasi di Banda Aceh dengan Dr. Syahrial Sp.Pros. Saya biasanya memang suka ditambal atau dioperasi oleh beliau karena kita sudah berteman sejak lama. Jadi kalau kesakitan masih enak bilangnya, "Bang, sakit bang😭😭!" Berbeda dengan operasi potong gusi kemaren yang membuat saya ketakutan dan nangis belakangan karena sewaktu proses operasi saya tegang banget. Padahal dokter Arbi Sp.BM (Spesialis Bedah Mulut) baik banget.

Tidak perlu menunggu lama, saya datang ke klinik, konsultasi sebentar, lalu langsung ditindak. Bang Syahrial menyuntik bius ke gusi dan rongga mulut berkali-kali sampai menetes air mata ini. Setelah itu mulailah pisau belah, tang, dan bor mengobok-ngobok rongga mulut saya. Memang sih nggak sakit, tapi ketika di bor itu dengungnya bikin sakit kepala. Ntah karena saya punya vertigo, jadi terasa nguuuunngggg banget😵.

Mari mulai operasi
Bang Syahrial bilang, karena di gigi geraham saya ada kawat gigi, jadi proses operasi agak sulit. Takut kena ke behelnya jadi harus pelan-pelan. Akhirnya si abang mengeluarkan tang dan mencabut gigi saya dengan cara di goyang-goyang dan bunyi krak, krek, kruk! OMG😵😵! Langsung deh terlihat gigi saya dikeluarkan dari dalam mulut. Ugh horor banget sihhh😵, melihat gigi sendiri diatas meja dokter.
Gusi bolong
Sebelum dijahit, bang Syahrial menunjukkan kondisi bolong di gusi bekas tempat gigi saya. Haduwh, terlihat seram sekali karena penuh darah. Akhirnya gusi saya dijahit sebanyak 2 jahitan, maka selesailah proses operasi hari ini. Ntah kenapa beberapa menit kemudian mulai terasa sakitttt banget. Padahal di bagian bibir masih kebas, tapi di bagian tulang gigi sakittt banget😭😭😭. Saya langsung merasa pusing saking sakitnya. Bang Syahrial lalu memberikan resep obat dan harus diminum segera agar rasa sakitnya bisa hilang.

Saya buru-buru ke apotek untuk menebus obat. Haduh rasa sakitnya semakin menjadi-jadi 😭😭tapi saya masih sanggup menahannya. Sampai di rumah saya makan kebab dulu, lalu minum obat. Seraya menunggu reaksi obat, saya main dulu dengan keponakan, tapi ternyata sudah tidak bisa ditahan. Saya masuk kamar, tanpa cuci muka dan sikat gigi, langsung tidur. Pipi mulai bengkak dan nyeri sekali.

Besok paginya rasa sakit di gigi sudah jauh berkurang. Saya bercermin dan mendapati wajah sangaaaat bengkak, hahahaha😂😂😂. Bahkan kulit pipi sampai ketarik ke sebelah kanan dan mengkilat saking gedenya bengkak. Memang kalau operasi rongga mulut pasti bakalan bengkak dan muka jadi aneh banget. Ya udah deh, sabar aja. Nanti juga seminggu kemudian sudah kembali normal.
Wajah bengkak sudah mulai berkurang setelah 5 hari

Kutaraja Dental Center Banda Aceh (Drg. Syahrial Sp. Pros)

  • Odentectomy/Impasi Tipe 1 Rp. 1,550,000
  • Administrasi Rp. 10,000

Desember 15, 2020

Lepas Jahitan dan Kontrol

Hari ini saya kontrol gigi lagi berbarengan dengan buka jahitan di gusi. Ntah kenapa saya selalu takut kalau buka jahitan walaupun sebenarnya luka pasca operasi tulang gusi sudah sembuh total. Untuk buka jahitan harus ke dokter Spesialis Bedah Mulut (Sp.BM) langsung atau dokter umum gigi. Kalau ke Sp.BM nggak ada tambahan biaya lagi, tapi kalau ke dokter umum ada biaya Rp.149,000.

Proses lepas jahitan sama sekali tidak sakit dan sangat cepat. Bahkan kurang dari 5 menit. Akhirnya saya melakukan scalling gigi sekalian karena sudah 6 bulan tidak scalling. Kawat indikator behel gigi saya dilepas terlebih dahulu untuk memudahkan scalling, termasuk karet gigi juga dilepas. Duh, rasanya enak banget kalau gigi tanpa kawat gigi sama sekali. Semoga permasalahan gigi segera berlalu ya Allah. Amin🤲!

Gigi tanpa kawat
Selesai lepas jahitan dan scalling gigi, saya kontrol gigi ke Orthodentist seperti biasa. Kali ini dr. Chandra hanya memasang kawat indikator dan karet gigi tanpa mengencangkan gigi kembali. Walaupun sebenarnya gigi mulai terlihat jarang karena pergerakan setelah gusi dioperasi. Hal ini dilakukan dokter karena gusi saya masih bengkak pasca operasi, jadi jangan dipaksa untuk dikencangkan giginya. Dokter juga meresepkan Cataflam untuk mengurangi peradangan dan bengkak.

Sejak dioperasi dua minggu yang lalu, sebenarnya kawat indikator di gigi saya mulai lebih lurus. Sepertinya memang biang kerok yang menyebabkan gigi atas masih miring ke bawah adalah penebalan tulang gusi. Alhamdulillah sudah selesai dikikis tulangnya. Tinggal satu sisa permasalahan gigi, yaitu gigi bungsu pojok sebelah kanan yang terus menendang-nendang gigi depannya. Nanti saya mau operasi juga gigi tersebut di Banda Aceh.

  • Lepas Jahitan Rp. 149,000
  • Scalling Rp. 449,000
  • APD Rp. 110,000
  • Charge Pasien Lama Rp. 40,000
  • Kontrol Orthodentist Rp. 275,000
  • Cataflam Rp. 90,000

November 29, 2020

Alveolectomy di OMDC

Kemarin saya keluar rumah untuk ke dokter gigi hanya karena besi pengait behel yang dipojok sebelah kiri copot. Gara-gara makan ayam geprek terlalu keras😅, jadilah behel copot. Kenapaaa saya makannya terlalu bersemangat? 🤭Huff! Sebelum ke OMDC seperti biasa, saya teringat kalau harus melakukan Cone Beam Computed Tomograpy (CBCT) Scan di OKDental terlebih dahulu. Ya udahlah sekalian keluar, jadi saya mengurutkan ke OKDental dulu naik KRL sampai halte Sudirman, kemudian lanjut MRT turun di Blok A. Setelah itu saya tinggal naik Grab aja ke OKDental. Oh iya, enak juga bisa naik MRT ke daerah Dharmawangsa (Blok A). Teringat dulu saya sering ke Natasha disana, tapi sekarang sudah tidak pernah lagi sejak Natasha buka di Depok.

Menunggu

OK Dental Clinic berada di Wijaya Grand Centre, Blok C, Jl. Wijaya II No. 38. Cuma 5 menit naik Grab/Gojek. Sebelumnya saya sudah melakukan reservasi pada pukul 13:30, tapi baru sampai disana pukul 14:00, hehehe🤭. Soalnya tadi makan dulu yang banyak biar sekalian sikat giginya. OK Dental ini milik Dr. Kim, dokter gigi dari Korea. Saya baru sadar ternyata pasiennya banyak banget orang China, Korea, dan Jepang. Saya mendengar beliau berbicara fasih bahasa Jepang kepada pasien.

CBCT Scan

Tanpa menunggu lama, saya langsung dibawa ke ruang CBCT. Alat scannya mirip rotgen Cephalometri, tapi CBCT bisa sekalian melihat otot yang menyangga tulang-tulang. Jadi kalau ada tumor, bisa langsung diketahui. Semua perhiasan harus dilepas ketika di scan, termasuk jam tangan. Kemudian kepala saya ditaruh pada alat scan sambil gigi mengigit indikatornya. Bibir juga harus dikatupkan. Tidak sampai 1 menit, scan selesai. Saya sedikit melihat hasil scan 3Dnya dan saya tidak melihat ada kelainan. Mungkin saya memang tidak pintar untuk membaca beginian.

Selesai CBCT, saya membayar Rp. 500,000 di kasir. Sebenarnya harga aslinya Rp. 1,6 juta, tapi karena Dr. Kim kenal dengan Dr. Chandra (Orthodentist yang membuatkan surat pengantar untuk scan), jadi dapat diskon Rp. 1,100,000. Lumayan banget kan?🥳🥳🥳

Saya kembali ke OMDC dan menunggu antrian dokter Chandra. Sekitar 30 menit kemudian, saya dipanggil masuk ke ruangan. Saya menyerahkan hasil scan yang berupa CD kepada dokter, kemudian saya duduk di kursi praktek. Sekitar 5 menit menunggu, saya melihat dr. Chandra masih di depan laptop. Saya jadi ketakutan, apa ada yang salah dengan rongga mulut saya? Ternyata, CDnya nggak bisa dibuka. Fiuh, kirain kenapa🥲. Jadi beliau memasang behel saya yang copot dulu, baru balik melihat laptop lagi. Masih belum bisa dibuka. Wah, apa jangan-jangan OKDental salah ngasih CD?🤔 Pikiran saya mulai terusik.

Dr. Chandra kemudian mengatakan kalau hari ini sedang ada Dr. Arbi Wijaya, Spesialis Bedah Mulut.

"Saya langsung rujuk aja ya ke dokter Arbi, baru masuk hari ini. Nanti beliau bisa membaca lebih detail dan menjelaskan ke kamu secara terperinci."

Saya langsung deg-degan. Haduh, kenapa nih?🤔 Ada apa nih?🤔 Perawat Dr. Chandra memanggil bagian reservasi dan langsung merujuk saya ke dr. Arbi. Saya harus menunggu 2 pasien yang masing-masing 45 menit untuk bisa konsultasi dengan dokter. Saya juga melihat dr. Chandra masuk ke ruangan dr. Arbi dan menyebut-nyebut nama saya. Saya jadi deg-degan sendiri, tapi mau gimana lagi? Mau kabur juga nggak bisa🤭.

1,5 jam kemudian, saya dipanggil masuk. Dr. Arbi menunjukkan laptop beliau pada saya dan menjelaskan kondisi rahang. Alhamdulillah tidak ada kelainan, tumor, atau kanker, atau apa pun yang menyeramkan. Kondisi tulang semuanya baik, tapiiii memang tulang diatas gigi sebelah kanan ini lebih tebal. Orthodentist bakalan lebih sulit mengkondisikan gigi dibawahnya karena tulang yang tebal itu.

Solusinya bagaimana? "Saya akan memotong gusi dan mengikis tulang didalamnya. Nama perawatannya Alveolectomy. Nggak seram kok, masih lebih seram operasi gigi di pojok (Odontektomi). Pekerjaannya juga cepat, dan saya akan bius yang banyak supaya nggak kesakitan. Harganya juga cuma Rp. 1,000,000, berbeda dengan Odontektomi yang sampai diatas 3 juta. Bagaimana, mau dikerjakan sekarang?"

Saya langsung pusing 🤯🤯🤯membayangkan gusi dibuka, tulang dikikis, OMG😱😱😱! Saya bilang ke dokter, saya mau keluar dulu untuk 'mikir dan bertanya pada keluarga. Dokter mempersilahkan saya keluar dulu untuk pikir-pikir. Saya sempat tanya pada bagian reservasi kalau dr. Arbi jadwalnya cuma seminggu sekali di hari Sabtu dan jadwal saya sudah penuh di weekend selama bulan Desember. Saya menelepon Mama, dan Mama juga keheranan kenapa saya tiba-tiba mau bedah? Saya jelaskan permasalahannya, baru Mama mengerti. Mama bilang, lakukan saja, "nanti Mama berdoa dari sini".

Saya kembali ke bagian reservasi dan minta dijadwalkan kembali hari ini ke dokter Arbi. Dan saya mendapat jadwal jam 8 malam, dan sekarang masih pukul 17:15, oh tidak😱! Mau makan, nggak boleh. Akhirnya minum teh aja. Bayangkan saya harus menunggu 2,5 jam dalam kondisi deg-degan dan lapar. Mau pesan gofood, tapi nggak boleh makan. Saya akhirnya googling aja tentang operasi yang akan saya hadapi sebentar lagi.

Apa itu Alveolectomy? Menurut docdoc.com, Alveolectomy adalah prosedur bedah gigi yang bertujuan untuk mengangkat sebagian atau seluruh tulang alveolar di sekitar gigi serta merubah bentuk dan permukaan tulang rahang agar siap untuk prosedur berikutnya. Ini merupakan salah satu bedah gigi paling efektif untuk mengangkat gigi infeksi langsung dari akarnya. Selain itu, tingkat kesuksesannya tinggi dan resiko terhaadap komplikasi parah sangat kecil. Prosedur ini, basanya dilakukan sebagai persiapan sebelum pemasangan prostetik gigi.

Kalau dari baca artikel di google sih nggak seseram itu, tapi nggak tau nanti pada kenyataannya bagaimana. Sudah bosan buka google, social media, whatsapp, akhirnya saya dipanggil juga. Dr. Arbi langsung bilang, "Udah siap kan? Yuk kita mulai aja biar nggak lama." Saya semakin deg-degan, "Pokoknya jangan sakit ya, dok!" Dokter jawab, "Siap! Nanti saya bius yang banyak."
Siap-siap
Bismillah

Saya di tensi dulu dan hasilnya agak tinggi, 127. Biasa saya di 105-110. Dokter bilang, "Kamu takut ya? Nggak usah takut, saya bakalan bikin nggak sakit". Dokter menyuruh saya menarik napas, lalu saya dibius. Duh, jarum suntik masuk ke gusi berkali-kali itu rasanyaaaaa... 😭😭😭Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dokter menunggu bius mulai bekerja, saya disuntik lagi. Kali ini udah nggak begitu ngilu, jadi dokter menyuntik bius berkali-kali. Dokter terus bertanya, "Sakit? Kalau sakit, bilang." Kalau saya merintih sedikit, pasti dokter berhenti, lalu menambah bius.

Bedah gusi, seram 😭
Saya sempat mengambil foto dimana dokter sedang membuka gusi saya. Duhhh betapa seramnya melihat darah sebanyak itu. Cara memotongnya agak seram dan menekan kepala, jadi saya terus-menerus ketakutan. Selesai gusi dipotong, lalu dikikis tulangnya pakai bor yang airnya heboh mengenai seluruh wajah. Saya sampai berpikir mau pakai masker snorkeling aja biar bisa bernapas karena air dari bor juga masuk ke hidung. Sebenarnya proses bedah ini nggak sakit sama sekali, tapi karena tulang yang ada di kepala, jadi ya seram😭. Kalau saya mulai ngilu, disuntik bius lagi. Sampai-sampai hidung saya sebelah kanan jadi mampet, karena biusnya kena saraf hidung.
Belah lagi😭
Selesai proses pemotongan, dilanjutkan penjahitan😭. Dokter menyuntikkan bius lagi dirongga langit-langit dan rasanya adududududuh😭😭😭! Saya melihat jarum jahit berkali-kali masuk ke mulut, keluar lagi, masuk lagi, dipotong, masuk lagi, begitu seterusnya😭😭😭. Sampai-sampai untuk menjahit langit-langit, dokter harus berdiri. Saya udah nggak bisa terlalu buka mulut lagi karena sudah kebas dan lemas. Untung dokter tetap menenangkan kalau semua baik-baik saja.

1 jam lebih kemudian, gusi saya selesai dijahit. Saya jadi nggak bisa buka mulut. Dokter bilang, saya harus lebih banyak diam, nggak boleh banyak ngomong. Nggak boleh ketawa ngakak, kalau nguap dijaga-jaga. Malam ini nggak boleh sikat gigi dulu, besok aja. Harus dijaga makannya, nggak boleh makan keripik, kerupuk, kacang, semua yang keras-keras. Jangan sampai jahitan sobek yang bikin bisa berdarah. OMG!🤯
Hasil jahitan
Selesai semua proses pembedahan, saya bayar dikasir. Berikut rinciannya.

  • TOST001 - OSTEOTOMY / ALVEOLECTOMY / TINDAKAN - SPESIALIS drg. Arbi Wijaya Sp.BM Rp. 1.000.000
  • FCOA001 - CO-AMOCYCLAV 625 MG Rp. 95.000
  • FMIN001 - MINOSEP MERAH GARGLE 150MLRp. 56.700
  • FARC010 - ARCOXIA 90 MGRp. 75.000
  • APD004 - APD 95.000 (Kontrol) Rp. 95.000
  • SCPL - Charge Pasien Lama Rp. 40.000
  • TBUC001 - BUCAL TUBE Rp. 65.000

Setelah nggak terlalu pusing, saya pulang. Karena sudah terlalu malam, susah banget nyari yang jualan bubur. Untung masih ada dan abang Grab mau 'nungguin saya beli bubur untuk alas lambung minum obat. Mana saya baru boleh makan sejam lagi agar luka sudah mengering terlebih dahulu. Padahal udah lapar banget dan lemas.

Minimal satu minggu kemudian, saya sudah boleh lepas jahitan. Tapi saya takut juga mau lepas jahitan terlalu cepat karena pasti sakitttt😭. Nanti saja 2 minggu lagi sewaktu saya harus kontrol behel. Doakan semoga saya sehat wal'afiat ya, aminn 🤲. Sampai jumpa!

November 15, 2020

Benjolan di Gusi

Sepulang dari Medan kemarin adalah jadwal kontrol gigi berikutnya. Sebelumnya saya pernah menuliskan kalau indikator metal di gigi saya masih miring secara horizontal yang berarti behel di gigi saya belum bisa dicopot. Padahal sudah dicoba ubah susunannya oleh Orthodentist tapi kurang menunjukkan hasilnya. Yang jadi masalah adalah susunan gigi atas. Bahkan sampai kembali merenggang.

Pada kontrol kali ini, dokter sampai diam berpikir sambil memperhatikan gigi saya. Mau diapain lagi ya ini? Saya bilang pada dokter kalau gigi geraham saya yang paling pojok susunannya agak naik, tapi gigi disebelahnya turun banget. Akhirnya dokter mengambil keputusan untuk menempelkan besi kembali ke geraham pojok (beberapa bulan yang lalu sempat dibuka karena gigi sudah rapat), sebagai pengaitnya. Saya juga harus memakai karet elastis di 4-5 gigi kiri agar cepet turun.

Pakai karet elastis
Nah yang jadi masalah adalah dokter mendeteksi ada benjolan di gusi saya yang menyebabkan gigi sebelah kanan nggak bisa naik ke atas. Benjolan tersebut menghambat gigi naik ke atas. Jujur aja mendengar hal itu saya langsung deg-degan, waduh kenapa ini😱? Saya sempat menunjukkan hasil rotgen setahun yang lalu kepada dokter dan nggak ada apa-apa digusi. Dokter juga jadi heran.
Terlihat ada benjolan
Terlihat jelas kalau bibir diangkat
Akhirnya dokter memberikan surat pengantar untuk melakukan Cone Beam Computed Tomograpy (CBCT) Scan atau bahasa lainnya rotgen 3D untuk kepala. Dokter menenangkan saya kalau scan ini hanya untuk memastikan kalau tidak ada apa-apa di gusi saya. Kalaupun ada sesuatu bisa langsung cepat ditangani (mendengar ini jadi deg-degan lagi😣).

Doakan semoga tidak ada hasil yang mengerikan ya. Semoga semuanya baik-baik saja. Amin ya Allah🤲.

  • Kontrol Sapphire Orthodentist Rp. 275,000
  • Karet Elastis Rp. 40,000
  • APD Rp. 95,000

November 12, 2020

Perjalanan ke Medan

Tanggal 11 November kemarin, saya berangkat ke Medan setelah ntah berapa tahun tidak merencanakan perjalanan kesana. Sebenarnya saya berangkat tanggal 12, tapi Abang saya bilang tanggal 11 aja biar bisa jalan-jalan lebih lama. Lagian, saya juga menginap di rumah Abang, jadi nggak perlu memikirkan harus menambah membayar hotel satu malam lagi.

Sayangnya pagi itu saya tidak menonton berita terlebih dahulu. Saya naik Grab ke terminal seperti biasa sekitar pukul 8 pagi (penerbangan pukul 14:15), lalu agak heran karena tidak satu pun bus ke bandara sedang menunggu penumpang. Saya turun dari Grab dengan masih terheran-heran, lalu disamperin sama Abang preman yang biasa sering ngobrol dengan saya di depan stasiun KRL Depok. Si abang bilang, "Kak, Habib Riziq pulang dari Arab Saudi. Tol di blokir. Ini udah dari jam 2 pagi bus belum pulang dari bandara." Saya langsung kaget😱, "Hah? Beneran?" Si abang bersikeras, "Beneran kakk! Percaya sama saya."

Saya berpikir keras, 'gimana nih mau ke bandara😨. "Naik kereta aja Kak. Dari Stasiun Depok Baru sampai ke Manggarai, trus lanjut ke Bandara." Oh iya saya baru teringat kalau ada kereta bandara di Manggarai. Saya sama sekali tidak berpikir untuk naik kereta bandara karena memang lebih enak naik bus. Biasanya saya kan bawa koper dan agak sulit kalau harus menggerek koper naik kereta. Tapi kali ini karena terpaksa, saya harus naik kereta. Setelah mengucapkan terima kasih ke abang preman yang baik hati, saya ke card vending machine untuk membeli kartu perjalanan (nggak bawa kartu KRL karena nggak ada rencana naik kereta sebelumnya). Untung saya bawa koper kecil dan ringan, jadi enak dijinjing. Lagipula, saya tidak perlu melewati tangga kebawah karena peron ke arah stasiun Manggarai langsung di depan pintu masuk. Ketika masuk kereta, walaupun harus berdiri, saya bisa bersandar di pojokan sehingga ransel bisa disangkutkan di pegangan koper. Alhamdulillah semua mudah.

Naik kereta
Sesampai di stasiun Manggarai, saya berjalan menuju stasiun Airport Railink. Satpam di pintu masuk mengatakan kalau kereta selanjutnya baru ada pukul 10:40 (sekarang masih jam 9). Saya kira bisa dapat yang jam 9an tapi ternyata memang jadwalnya digeser. Sempat berpikir apakah keretanya penuh? Tapi ternyata enggak juga. Saya lalu mengantri untuk membeli tiket di vending machine. Untuk ke Bandara Soekarno Hatta akan dikenakan tarif Rp. 70,000 dengan waktu tempuh 50 menit. Hmm, masih sempatlah ya karena penerbangan saya kan pukul 14:15.

Tiket Vending Machine

Ruang tunggu
Saya duduk menunggu sambil mencuri dengar orang-orang membahas kalau banyak yang ketinggalan pesawat. Kasian banget karena tiket bisa hangus. Memang sih ada beberapa maskapai yang memberikan kompensasi refund tiket 100% atau reschedule jadwal penerbangan. Tapi kan ada beberapa orang memang harus menghadiri rapat di suatu tempat hari itu dan jam itu, sehingga mereka memang harus tiba disana on-time. Sedih rasanya melihat bapak-bapak yang masih pakai baju kerja terlihat panik karena takut ketinggalan pesawat, dan ngos-ngosan karena mungkin beliau baru saja berlari untuk mendapatkan kereta dengan jadwal keberangkatan sekarang. Kemudian kecewa lagi karena kereta belum ada. Ya Allah, sedihnya saya melihat hal itu🥺🥺🥺.
Mengantri masuk kereta
Setelah satu jam menunggu, tiba waktunya untuk naik kereta. Saya sangat antusias. Teringat saat-saat mau naik kereta bandara di Kuala Lumpur deh. Haduuuh kangen jalan-jalan ke luar negri ya Allah😩. Pandemi menghalangi semuanya tapi kita memang harus bersabar. Karena Railink sepi, saya jadi bebas duduk dimana saja. Nyaman banget di kereta, ACnya dingin, sepi, wangi, bersih, dan jalannya kenceng banget🥰.
Suasana di dalam kereta
Sesampai di bandara, ternyata kereta antar terminal tidak beroperasi karena pandemi. Ini yang agak menyusahkan karena kita harus mencari kendaraan menuju terminal. Kata petugas, biasanya ada shuttle bus. Tapi hari ini bandara lagi crowded karena massa yang menjemput Habib Rizziq, jadilah semua bus tertahan di terminal 3. Petugas lalu menawarkan kami untuk naik mobil polisi. Haduh, saya susah kalau harus naik mobil polisi karena terlalu tinggi😩. Mana saya nenteng koper dan orang-orang pada rebutan untuk naik karena semuanya berharap tidak terlambat. Saya hanya diam memantau, sambil sesekali ngecek harga gojek. Apa naik gojek aja ya? Saya lihat ada beberapa orang sudah memesan gojek.
Naik mobil polisi

Tim nggak naik mobil polisi
Mobil satpol PP
Akhirnya setelah menunggu, saya naik mobil satpol PP bandara😬. Paling nggak mobil ini lebih rendah daripada mobil polisi. Di dalam mobil saya terombang-ambing karena kencang banget jalannya. Nggak sampai 5 menit, saya tiba di terminal 2. Saya sedikit berlari menuju petugas KKP untuk cek dokumen rapid test, lalu check in. Setelah itu saya nyari makan dulu karena udah lapar berat, baru masuk ke Gate. Pesawat boarding jam 2 siang dan ontime, tidak ada delay sama sekali, Alhamdulillah. Oh iya, Airasia menerapkan protokol kesehatan banget. Dari naik dan turun penumpang, juga di dalam pesawat, benar-benar dijaga social distancing (kursi tengah dikosongkan), bahkan harus mengantri berdasarkan nomor agar tidak naik/turun pesawat secara berbarengan. Beda banget dengan Batik Air dan Sriwijaya Air yang pernah saya naiki selama pandemi. Duduk di kursi penumpang aja tidak ada social distancing.
AirAsia favoritku
Bandara Kuala Namu
Sesampai di Bandara Kualanamu, saya memutuskan untuk naik kereta lagi agar kakak ipar dapat menjemput saya di tengah kota. Saya jadi ketagihan naik kereta deh, karena memang nyaman banget. Dari bandara Kualanamu ke kota Medan hanya membutuhkan waktu 28 menit dengan tarif Rp. 50,000 saja. Ntah karena harga promo. Alhamdulillah saya masih mendapatkan kereta (terakhir) karena ternyata jadwal Airport Railink di Kualanamu tidak sebanyak di Jakarta. Oh iya kalau mau naik kereta, kalian harus nyebrang dulu dari bandara, baru ketemu stasiun Railink.
Kereta di bandara Kualanamu
Selama di dalam kereta, saya jadi teringat perjalanan dari KLIA ke kota Kuala Lumpur☹️. Pemandangannya sama, banyak kebun sawit. Ya Allah, semoga pandemi segera berakhir biar bisa ke Malaysia lagi☹️. 28 menit kemudian, saya tiba di stasiun kota Medan. Posisi stasiun sangat strategis, pas di depan Centre Point. Saya berjalan ke luar stasiun dan menemukan kakak ipar sudah menjemput. Kami lalu pergi ke Sun Plaza, Mall tempat saya bermain sejak kecil. Sebenarnya ke Sun Plaza cuma mau makan dimsum🥟 di Resto Jala-jala aja sih, karena di Jakarta semua Resto Nelayan (jala-jala) berdampak karena pandemi dan sudah tutup permanen.
Centre Point

Dimsum favoritkuuu🥟🥟🥟
Demikian cerita perjalanan saya ke Medan. Nanti saya cerita lagi kegiatan apa saja yang saya lakukan selama di Medan. Sampai jumpa!

November 05, 2020

Menghilangkan Spider Veins dan Freckles Bandel di ZAP Premiere

Perawatan terakhir yang saya lakukan di tahun 2020 dalam rangkaian menghilangkan noda hitam dan freckles. Kali ini saya mau laser ND:YAG dan KTP terakhir agar mulus, dilanjutkan mencoba menghilangkan Spider Vein. Mungkin beberapa dari kalian agak bingung apa itu Spider Veins? Menurut Hellosehat.com dan dari konsultasi dengan dokter Nessya, beberapa orang bisa memiliki pembuluh darah yang terlihat sangat jelas di permukaan kulit wajahnya. Penampilan “serat-serat” pembuluh darah ini tampak seperti cabang-cabang pohon atau sarang laba-laba yang berwarna merah, ungu, atau biru. Mirip dengan pola varises, tetapi lebih kecil dan lebih dekat ke permukaan kulit. Kondisi hadirnya pembuluh darah di wajah dikenal dengan istilah Spider Veins
Spider Veins di wajah saya
Penyebab munculnya Spider Veins ini bermacam-macam. Biasanya memang terdapat pada orang yang cenderung memiliki banyak alergi seperti saya (karena asma). Saya memang sudah memiliki Spider Veins sejak remaja. Awalnya saya bilang ke dokter Nessya mau menghilangkan Spider Veins menggunakan laser Pro Yellow, tapi dokter bilang Pro Yellow sebenarnya sama bagusnya dengan Laser Long Pulse, tapi Pro Yellow harganya lebih mahal. Sekali perawatan bisa 3 juta. Akhirnya saya mengikuti saran dokter untuk dilaser menggunakan Long Pulse saja.
Pro Yellow Laser
Long Pulse Laser
Seperti biasa sebelum segala macam perawatan dilakukan, wajah saya di anastesi terlebih dahulu. Setelah menunggu 20 menit, dimulailah laser ND:YAG dan KTP untuk menghilangkan noda hitam karena fokus gelombang laser-laser tersebut untuk mendeteksi warna hitam di wajah. Memang ada sisa sedikit lagi noda hitam yang membandel di wajah yang ditembak berkali-kali oleh dokter Nessya. 
Anastesi dulu
Berbeda dengan Laser Long Pulse yang fokus pada warna seperti merah, ungu, dan biru. Dokter Nessya sempat bilang kalau wajah dilaser sampai tiga kali seperti ini bakalan terlalu banyak luka. Tapi saya bersikukuh untuk tetap minta di laser aja dan saya akan menuruti semua saran dokter untuk nggak terpapar matahari dan rajin mengoleskan krim. Akhirnya dokter Nessya mau melakukan laser Long Pulse tapi hanya dibagian-bagian dimana urat-urat di wajah sangat terlihat. Setiap laser ditembakkan, bunyinya seperti sedang main game tembak-tembakan. Rasanya agak nyeri karena memang laser yang ditembak lebih dalam lagi. Setelah melihat kondisi kulit wajah saya yang sudah sangat terluka, akhirnya dokter menyudahi menembakkan laser dan wajah saya di kompres NaCL.
Kompres NaCL
Dokter Nessya bilang kalau wajah saya kali ini lebih banyak luka, sehingga pengolesan krim wajib setelah cuci muka. Walaupun setelah berwudhu pun, harus dioleskan krim. Saya sempat penasaran se-luka apa sih wajah ini, tapi karena sudah tertutupi krim, jadi nggak bisa terlihat jelas deh. Mungkin nanti di rumah setelah cuci muka lagi baru bisa terlihat jelas.
Setelah dioles krim
Wajah saya mulai terasa cenat-cenutnya, mungkin karena krim anastesi sudah mulai memudar. Bahkan ketika pakai masker pun agak perih. Saya pulang ke rumah, mandi, cuci muka (digosok perlahan karena masih pedih banget), baru deh bisa melihat secara jelas betapa banyak luka di wajah. Hiii serem sekali ternyata😩😩😩. Saya menuruti saran dokter untuk mengoleskan krim, mengompres dengan NaCL sebanyak tiga kali sehari, dan konsumsi banyak buah juga sayur, ditambah vitamin C supaya bekas lukanya cepat sembuh. Saya jadi menunda waktu weekly meeting agar teman-teman kantor tidak melihat betapa banyak luka di wajah saya.
Banyak luka
Setelah tiga hari, saya harus melaporkan kondisi kulit ke dokter Nessya. Bekas luka sudah lumayan membaik tapi masih banyak kecoklatan yang bikin gemes untuk dikelupas (kopek). Tapi saya tetap bertahan, demi kecantikan paripurna, ya enggak di kopek-kopek. Alhamdulillah setelah 7 hari, baru deh bekas luka jadi bersih. Di foto bawah bisa dilihat kalau Spider Veins sudah berkurang jauh, tapi memang minimal harus 3 kali laser baru terlihat sempurna. Kalau menurut saya, walaupun baru satu kali laser, Spider Veins sudah terlihat menghilang secara signifikan.
Mulai mulus
Baiklah, demikian cerita perawatan saya di ZAP Premiere di tahun 2020. Kalau di ZAP Clinic biasa, saya masih melakukan rangkaian Photo Facial, Laser Underarm, dan Laser Brazilian sekali-kali saja. Semoga tulisan ini bisa menjadi referensi kalian yang mau mencoba menghilangkan Spider Veins. Sampai jumpa lagi!

  • Dermatologist - Consultation 2. Rp150.000
  • Dermatologist - Laser KTP Nd:Yag I Rp1.000.000
  • Dermatologist - Q Switch Nd:Yag 1 Rp1.000.000
  • Dermatologist - Long Pulse Nd:YAG Laser II Rp2.000.000
  • Dermatologist - KIL Acne 1 - Rp300.000

Oktober 31, 2020

Foto-foto di Bandung

Sekitar 2 minggu yang lalu saya baru saja membeli kamera Fujifilm XT3 dan saya merasa sangat puas bisa sekalian eksplorasi teknik foto. Berikut saya posting foto-fotonya menggunakan Lensa Fujifilm Fujinon XF 56mm F1.2 R tanpa edit. Saya bakalan sering mengambil foto dan mempostingnya di blog. 











Oktober 24, 2020

Curug Malela

Curug Malela adalah air terjun yang ingin saya kunjungi sejak jaman kuliah. Dulu kalau mendengar teman di Geologi ITB cerita betapa kerennya curug ini😍, rasanya ingin sekali kesana. Sayangnya 10 tahun yang lalu akses ke curug ini sangat sulit. Kita harus naik ojek sampai ke desa (lupa namanya), dan dilanjutkan trekking lebih dari 6 jam. Memikirkan usaha kesana aja udah membuat saya mundur teratur. Belum lagi kalau teman-teman cewek biasanya malas kalau harus bercapek-capek kesana. Masa' pergi dengan cowok-cowok? Pasti susah ijinnya ke Papa. Ya sudah, mungkin suatu hari nanti saya bisa kesana dan ternyata baru punya kesempatan di tahun 2020.

Lokasi salah satu curug terbesar di Pulau Jawa ini berada di Kampung Manglid, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Curug Malela terkenal karena bentuknya yang lebar mirip Air Terjun Niagara di perbatasan Amerika-Kanada, bahkan membuat curug ini populer dengan sebutan The Little Niagara. Walaupun Curug Niagara mungkin puluhan kali lipat lebih besar dari Curug Malela.

Waktu tempuh

Perjalanan saya dimulai dari Bandung. Kalau dilihat dari peta sih, lokasi Curug Malela bisa ditempuh dalam waktu 3 jam. Jauh juga yaaa😧😧😧. Tapi karena kami sudah berniat untuk kesana, jadi tetap pergi walaupun jaraknya jauh sekali. Kita keluar tol lalu diarahkan masuk ke Kota Baru Parahyangan (KBP). Sempat 'nyasar di KBP karena ternyata pintu keluar yang diarahkan Google Maps belum ada, jadi terpaksa memutar balik dan bertanya pada satpam KBP. Baru deh diarahkan ke jalan yang benar.
Jalan yang harus dilalui
Perjalanan pun dimulai. Awalnya sih jalannya masih lebar. Setelah satu jam kemudian, mulai deh kita masuk ke jalanan yang sepertinya baru beberapa bulan ini di aspal. Jalanannya lumayan seram, karena kiri kanan jurang😧. Mana teman saya yang nyetir cewek pulak, tapi dia berani banget dan tak gentar sama sekali. Setiap saya tanya, "Berani nggak?" Dia selalu jawab dengan tegas, "BERANI!" Oke, kalau dia sePeDe itu, saya jadi yakin juga. Sepanjang jalan pemandangan sangat indah karena kita masuk ke kampung-kampung antah berantah. Kayaknya memang Google Maps salah mengarahkan kita sampai masuk ke waduk yang sudah 5 tahun tutup. Terpaksa tanya satpam yang menjaga waduk dan akhirnya diarahkan ke jalan yang benar. Biasanya kalau udah ketemu Alfamart atau Indomaret, saya jadi yakin kalau kita berada di jalan besar yang sering dilalui orang-orang. Daritadi masuk ke jalan yang hanya bisa dilalui satu mobil saja. Kalau tiba-tiba ada mobil dari arah berlawanan, saya pasti deg-degan😨. Teman saya tetap santai aja karena katanya kalau orang sini lebih pinter mengelak minggir dan nggak ragu-ragu, sehingga kita bisa jalan pelan-pelan tapi nggak menabrak.

Cuma bisa dilewati satu mobil
Pemandangan indah

Saat melihat plang bertuliskan arah ke Curug Malela, disitu kami baru lega. Huff, akhirnya hampir tiba. Semakin mendekat ke curug, jalan juga semakin sempit. Alhamdulillah akhirnya tiba. Kami parkir mobil, lalu mulai trekking menuju curug. Sebenarnya kalian bisa naik ojek ke bawah, tapi mending jalan kaki aja karena kalau perjalanan turun 'kan seharusnya gampang. Memang agak licin karena Jawa Barat sering banget hujan.
Mulai trekking

Jalan licin

Trekking ke Curug Malela dari parkiran membutuhkan waktu sekitar 20 menit karena saya membawa anak-anak dan orang tua. Mungkin kalau saya jalan sendiri bisa memangkas setengah waktu. Dari kejauhan sudah terdengar suara air terjun sangat deras dan kami jadi sangat antusias, ingin cepat sampai jadinya. Kalau sudah mau dekat ke curug, jalanan jadi lebih bagus. Jadi bisa sekalian mempercepat langkah.

Curug semakin terlihat

Alhamdulillah akhirnya kami tiba di Curug Malela. Terlihat tulisan nama curug yang tampak baru dibuat dalam beberapa bulan belakangan ini. Saya langsung menyetel kamera dan melangkah menaiki jembatan untuk mendekat ke curug. Ternyata jembatan menuju curug sangat-sangat licin! Kalian harus super berhati-hati karena saya saja sampai melangkah sambil jongkok. Takut tiba-tiba terpeleset jatuh ke curug. Arus curug sangat deras, apalagi di musim hujan seperti ini. Kalian jangan coba-coba berenang, kecuali mau nama kalian tinggal kenangan.

Curug Malela
Licin banget

Saya mengambil beberapa foto di dua jembatan. Jembatan yang lebih tinggi tidak terlalu licin sih, tapi tetap harus hati-hati. Maunya bahan pembuat jembatan jangan kayu seperti ini karena rawan sekali terjadi kecelakaan. Pokoknya kalian harus hati-hati ya, kecuali kalian pergi di musim panas.
Pose dulu
Hati-hati ya berfoto disini

Setelah puas berfoto, kami pulang. Kali ini mau naik ojek aja ke atas karena anak-anak dan orang tua pasti tidak kuat menanjak. Kami memesan 3 ojek seharga Rp. 100rb. Jangan salah, naik ojek disini juga ada tantangan tersendiri. Ternyata seram sekali😱😱😱!! Bayangkan kalian harus naik ojek dengan jalan berlumpur dimana kiri dan kanan jurang😱. Roda sepeda motor saja sampai dipasangkan tali tambang agar menambah gesekan dan meminimalisir licin. Saya rasa naik ojek di jalan menanjak ini lebih seram dari rollercoaster. Saya sampai terdiam tak sanggup berteriak. Anak-anak malah senang, huff!
Roda sepeda motor dipasang tali
Menaiki tebing
Serammm 😱
Jalannya😱

Akhirnya sampai juga ke parkiran😮‍💨. Saya merasa encok karena mempertahankan badan agar tetap lurus. Kami pun akhirnya kembali ke mobil untuk pulang. Kali ini kita memutuskan untuk mengikuti plang hijau di jalan yang mengarahkan ke Bandung. Ternyata jelas-jelas jalannya sudah berbeda dari tadi pas pergi. Kami melewati jalan besar terus, bahkan tidak ada jalan kecil sama sekali. Saya dan teman-teman sempat makan di warung padang dan shalat di mesjid, baru melanjutkan perjalanan ke Bandung. Walaupun waktu yang ditempuh ketika pulang tetap 3 jam, tapi kita merasa lebih aman karena melewati jalan utama sampai tembus ke tol.

Desa tempat kami shalat

Semoga cerita perjalanan saya ke Curug Malela bisa menjadi pedoman kalian agar tidak nyasar ketika jalan-jalan kesana. Lebih baik bertanya pada "akamsi" (anak kampung situ) daripada ikut Google Maps. Beneran deh! Saya sudah membuktikannya.

Baiklah, sampai jumpa di cerita seru lainnya.

Follow me

My Trip