Januari 01, 2020

Banjir di Awal Tahun 2020

Selamat Tahun Baru🥳🥳🥳! Tidak terasa sudah 2020, tahun dengan angka cantik. Pasti tahun ini banyak yang menikah di tanggal 20 Februari 2020, biar bagus dan mudah diingat tanggalnya. Hmm, biasanya saya bakalan menuliskan refleksi di tahun sebelumnya dan resolusi di tahun baru. Sekarang saya akan menuliskan sesuatu yang berbeda karena di awal tahun 2020 ini, JABODETABEK dilanda banjir sangat parah. Katanya hampir sama parahnya dengan banjir 2007 (saya tidak berada di Jakarta di tahun itu).

Saya akan bercerita bagaimana ketika banjir melanda rumah saya. Tahun baru ini pertama kalinya saya merayakan di Depok, tempat saya tinggal. Biasanya saya pasti berada dimana-mana, bukan di Depok. Saya mengajak beberapa teman untuk BBQ di rumah dan kami sudah merencanakan hal ini dari 3 hari sebelum malam tahun baru. Kita bahkan sudah berbagi tugas, siapa bawa apa, supaya bisa seru-seruan bareng. Sebenarnya sejak sore tanggal 31 Desember 2019 sudah hujan deras, tapi saya masih menganggap hal ini biasa karena di Depok memang sering hujan deras dan air tidak tergenang. Mungkin karena Jawa Barat termasuk daratan tinggi.
Ayam bakar🍗
Semula kita ingin BBQan dengan menyalakan arang dan kipas-kipas di halaman rumah saya. Sayangnya hujan begitu deras, lalu reda, deras lagi, reda lagi, membuat kita nggak mungkin main di luar. Jadilah pakai panggangan Happycall dan dipanggang di atas kompor saja. Kita masak-masak bareng sambil tertawa, membuat suasana jadi meriah. Saya pun akhirnya bisa membuat sambal matah yang enak, yeay! Kondisi di luar masih hujan, tapi tidak terlalu deras. Sambil menyalakan tv untuk melihat suasana Jakarta yang diguyur hujan juga.
Siap disantap
Main Jenga Stack
Untuk menunggu jam 12 malam, kami mengobrol dan bermain Jenga. Sudah lama sekali tidak bermain Stack begini dan tetap seru banget. Seolah waktu berjalan begitu cepat, jam 12 teng, dengan memakai payung☔, saya dan para keponakan mencari kembang api. Saking banyaknya kembang api, kita bisa melihat hanya dari depan rumah. Hujan pun tinggal gerimis saja dan tidak ada tanda-tanda bakalan hujan deras. Setelah nggak ada lagi kembang api, kita masuk kamar dan tidur.

Ketika adzan Shubuh, kita bangun dan mendengar hujan turun begitu deras⛈️⛈️⛈️. Saya awalnya biasa aja karena memang sering hujan deras di kala Shubuh. Tapi Kak Juny bilang kalau hujan sederas ini sudah sejak jam 2 malam (dia baru tidur jam 2 lebih). Saya mengecek jalanan di depan rumah dan ternyata sudah tergenang air lumayan tinggi. Tapi saya pernah juga mengalami hal ini dan biasanya memang hanya banjir di jalan saja. Paling sampai garasi saja sedikit. Mobil kak Juny yang terparkir di jalan sudah hampir terendam, sehingga harus dipindahkan ke garasi tetangga depan rumah. Di garasi saya sudah ada mobil Nopy.

Setelah shalat, saya mencoba tidur lagi karena memang masih ngantuk berat. Sebelumnya sempat baca twitter dan keheranan melihat sudah banjir dimana-mana, bahkan sampai tinggi sekali. Saya masih berpikiran positif kalau nggak akan kebanjiran, jadi saya tidur lagi. Sekitar jam 7.30 pagi, hujan masih sangatt deras⛈️⛈️⛈️. Teman-teman saya sampai bertanya berkali-kali, "Pernah banjir nggak disini?" Dan saya menjawab nggak pernah.
Air mulai naik ke garasi
Saya masih agak santai dan memasak sarapan buat teman-teman. Sampai ketika air sudah naik ke teras dan mengintip-intip pintu rumah, baru saya deg-degan😨. Hujan pun tidak ada tanda-tanda akan reda. Terus deras, bahkan lebih deras lagi. Sampai akhirnya air meluap dari kamar mandi dan yang dari teras depan pun masuk dengan sangat kencang. Kita semua langsung buru-buru menaikkan kasur, barang elektronik, dan dokumen. Untung ada cowok-cowok, jadi mereka bisa membantu mengangkat kasur yang lumayan berat. Air masuk dan dengan cepat meninggi. Anak-anak yang lagi tidur sampai kaget karena banyak air masuk rumah. 
Air masuk
Melihat air tergenang dirumah, saya mendadak stres🤯🤯🤯. Tapi mencoba tarik napas dan buang napas, seperti ritme napas ketika yoga🧘🏼‍♀️. Langsung berdoa agar banjir cepat surut. Teringat dulu di tahun 2003 dimana efek lumpur setelah banjir susah sekali dibersihkan. Belum lagi perabotan kayu seperti lemari dan meja pasti setelah ini bakalan rusak. Saya jadi terdiam sendiri memikirkannya sambil duduk di sofa dan melihat air terus meninggi. Untungnya air banjir masih bening dan tidak berlumpur.
Kondisi di dalam rumah
Para tetangga kemudian datang mengecek, takut kalau saya hanya sendirian. Grup Whatsapp komplek pun sudah heboh karena sudah masuk rumah. Komplek saya ini sebenarnya bukan daerah banjir karena masih tinggi. Hanya saja karena ada pembuatan parit di jalan Kalimulya membuat air hujan dari jalan yang lebih tinggi masuk semua ke dalam komplek. Warga komplek saya sudah memprotes pengerjaan proyek ini sejak parit tersebut belum selesai, tapi tidak ada tanggapan dari pemerintah.

Bapak-bapak komplek kembali berkumpul mengecek kondisi warga (termasuk saya) dan mencoba menutup persimpangan air yang menuju komplek. Alhasil, hanya dalam 30 menit air berangsur surut. Hujan pun mulai sedikit reda. Saya langsung mengambil berbagai peralatan untuk mengeluarkan air seperti sapu, ember, sodokan, dan serokan. Dibantu dengan teman-teman secara bergantian, bahkan anak-anak pun sangat bersemangat untuk membantu agar rumah cepat bersih. Saat itu saya kasihan dengan teman-teman. Mereka semula ingin liburan, malah jadi bersih-bersih rumah saya yang kebanjiran. Walaupun mereka sangat mengerti kalau hal ini diluar kuasa manusia, tapi tetap terbersit perasaan tidak enak😔.

Karena dibantu oleh teman-teman yang sangat rajin bekerja silih berganti, air dirumah saya dengan cepat langsung bersih. Kita bahkan masih sempat untuk makan nasi goreng bersama setelah air di dalam rumah sudah tidak ada lagi. Walaupun lantai masih basah dan agak kotor, paling tidak saya sudah senang karena tidak ada lumpur. Tinggal di pel bersih aja.

Sekitar pukul 10:30 pagi, teman-teman berpamitan pulang karena mereka juga khawatir dengan kondisi rumah masing-masing. Apalagi setelah melihat berita kalau hampir seluruh JABODETABEK banjir. Mereka sebenarnya berat meninggalkan saya sendiri, apalagi dalam kondisi banjir. Tapi saya sudah meyakinkan mereka kalau saya akan baik-baik saja. Saya merasa sangat bersyukur ketika banjir mereka sedang ada di rumah dan bisa membantu saya tanpa diminta. Alhamdulillah. Seandainya saya sedang sendiri, mungkin saya harus pasrah melihat perabotan yang berat seperti kasur jadi basah dan air di dalam rumah yang harus dibersihkan sendiri. 
Banjir
Saat itu sempat ada himbauan dari pengurus komplek kalau tidak boleh ada mobil keluar masuk untuk menghindari ombak dari genangan air yang dilalui mobil. Jadi saya menyuruh teman-teman bersabar sejenak menunggu instruksi dari pengurus komplek dulu baru bisa pulang. Oh ya jadi teringat ketika banjir lagi tinggi, eh ada mobil melintas di jalan dekat rumah saya dengan kencang dan membuat semua pot bunga terguling. Duhh, untung nggak keluar tanahnya atau hilang mengapung.

Sewaktu teman-teman sudah pulang, saya langsung mengepel sendiri dimulai dari kamar-kamar, ruang tv, dan dapur. Mungkin saya ngepel air bersih sekitar 2-3 kali dulu, sekalian membersihkan sudut-sudut rumah dimana biasa kotoran menumpuk. Setelah dengan air bersih, baru saya menggunakan pembersih lantai dimulai dari kamar duluan. Agar lemari tidak 'mekar', setelah di pel bersih, langsung nyalakan AC dan diamkan saja beberapa jam agar bisa mengering sampai ke dalam serbuk kayu perabotan tersebut. Baru setelah itu saya pel bersih ruang tv dan dapur sampai semua sudut. Hikmahnya, mungkin rumah saya jadi super duper bersih tanpa debu sedikit pun di lantai dan sudut ruangan.

Saya beristirahat sejenak untuk makan siang dan mengecek hp yang terus berbunyi tapi tidak saya gubris sama sekali. Udah adzan Zuhur tapi kalau mau shalat juga harus mandi dulu karena saya banyak terpercik air banjir. Sewaktu mau cuci piring, saya melihat air PAM mengecil. Sebelum benar-benar mati, saya tampung dulu di ember besar agar bisa mandi. Saya memutuskan untuk mandi baru cuci piring karena takut nanti semakin lama menunda shalat. Setelah mandi dan shalat, air PAM mati sepenuhnya. Alhamdulillah masih nyala listrik. Saya akhirnya tidur siang dulu untuk mengisi tenaga karena sudah sangat capek🥱.

Setelah bangun, saya shalat Ashar dan cuci piring karena air PAM sudah nyala. Selagi cuci piring, sepupu saya datang membawakan makanan bubur jagung hangat yang enak banget. Alhamdulillah, seolah rezeki datang terus. Sepupu saya memang sempat menelepon tadi siang dan menanyakan 'gimana kondisi di rumah. Saya bilang kalau rumah memang banjir tapi semua keadaan sudah terkendali karena banyak teman yang membantu. Malam itu saya jadi ada teman mengobrol. Sepupu-sepupu nongkrong di rumah sampai jam 10 malam sampai kami kedinginan di ruang tengah dimana AC nyala full, nggak dikecilin, demi perabot rumah supaya cepat kering. Alhamdulillah jadi nggak kesepian.

Walaupun banjir merupakan musibah, tapi kita tetap berprasangka baik pada Allah subhanahu wata'ala kalau semua ini pasti ada hikmahnya. Semula saya sempat stres, tapi bersabar dan terus berusaha untuk mengeluarkan air yang bening dan tidak bercampur lumpur dari rumah dibantu oleh teman-teman. Tetangga pun datang silih berganti untuk memastikan kalau saya yang tinggal sendirian tetap dalam kondisi baik-baik saja. Belum lagi sepupu yang datang membawa makanan dan menemani mengobrol. Rumah saya juga sekarang dalam kondisi lebih bersih dari biasanya. Alhamdulillah. Oh iya, keluarga kak Juny dan Nopy (teman-teman saya yang menginap di malam tahun baru) alhamdulillah sampai di rumah dengan selamat. Rumah mereka baik-baik saja. Kak Juny bisa pulang ke Tebet dengan lancar, sedangkan Nopy baru sampai rumah jam 9 malam karena banyaknya titik air di Bekasi yang mengakibatkan penutupan jalan. Yang penting kondisi rumah baik-baik saja dan bisa beristirahat dengan tenang😊.

Menurut berita di tv, memang sekarang belum memasuki puncak musim hujan. Hujan akan terus turun dalam intensitas sedang dan tinggi. Walaupun daerah saya tidak terlalu berdampak pada banjir, tapi saya mulai bersiaga dengan mengecas lampu emergency, memastikan powerbank dan batre laptop terisi penuh, menutup saluran pembuangan agar air tidak masuk dari dalam, juga menampung air di ember besar untuk berjaga apabila air PAM mati. Jangan lupa untuk selalu berdoa karena kita tidak mengetahui hikmah atau rencana Allah dibalik semua ini. Walaupun ketika baca twitter banyak sekali artikel yang menyalahkan para pemimpin, tapi menurut saya lebih baik kita memulai hal positif dari diri kita sendiri dulu. Mungkin bisa membantu meringankan beban saudara-saudara di pengungsian dengan mengirimkan makanan atau memberikan sumbangan. Hal ini jauh lebih penting daripada menaikkan hashtag kebencian supaya trending di twitter. Hati-hati lho, semua perbuatan baik atau buruk pasti ada balasannya.
Lebih baik berdoa🤲
Baiklah, ke depannya saya tetap akan menuliskan postingan yang masih tertunda. Doakan saja semoga tidak ada banjir lagi ya. Aminnn ya Rabb🤲. Sampai jumpa!
Reactions:

2 comments:

Claude C Kenni mengatakan...

Wah, untung banjirnya terjadi sewaktu ada banyak orang di rumah ya, jadi ada orang yang bisa membantu memindahkan barang dll. Teman saya ada yang kostnya kebanjiran sewaktu dia sedang tidak ada di tempat, jadi barang elektronik dan surat-surat berharga semuanya rusak terendam air.

Meutia Halida Khairani mengatakan...

Iyaaa banyak yg begitu.. Temen2ku ada yg 2 laptop kerendam banjir. Kamar kos uda kaya kapal pecah

Follow me

My Trip